
Selesai makan, Alfandi bersiap untuk pergi ke tempat kerjaannya. "Ya sudah, aku pergi dulu ya? Oya, Minggu depan kita akan pergi liburan."
"Emang jadi ya pergi liburannya?" tanya Sukma sambil mengusap mulutnya dengan tisu.
"Jadi lah, selesai ulangan kan? emang kenapa?" Alfandi bertanya balik.
"Nggak, tadi Jihan sama Marwan nanyain, katanya Fikri mengajak mereka liburan jadi gak? aku bilang gak tau!" jawab Sukma.
"Bilang saja, jadi insya Allah." Alfandi meneguk minumnya.
"Istri kamu ikut gak?" selidik Sukma sambil memicingkan matanya pada Alfandi.
"Ha ha ha ... nggak lah sayang. Kalau dia ikut gak bakalan aku ajak kamu, paling Jihan dan Marwan saja yang ku ajak, lagian kalau dirimu ku ajak pisah tempat paling."
"Nah itu. Kalau dia ikut aku gak ikut!" sambung Sukma.
"Nggak sayang ... kita saja perginya. Ya sudah aku pergi dulu ya? hati-hati dan yang giat belajarnya." Alfandi berdiri dan merapikan pakaiannya.
"Iya! hati-hati juga," Sukma mengangguk.
"Assalamu'alaikum ...sayang?" Alfandi berlalu.
"Wa'alaikum salam ... hati-hati!"
Sukma berjalan sambil menatap kepergian Alfandi yang memasuki mobilnya, sampai mobil tersebut merayap dan tampak tangan Alfandi melambai.
Sukma mengayunkan langkahnya menuju ruang untuk mengikuti pelajaran dari dosen pembimbingnya. Setelah beberapa waktu jam pelajarannya. Sukma pun pulang dengan menggunakan taksi onlinenya.
Namun dia ma mampir dulu ke pusat pembelanjaan untuk belanja bulanan dan mau mengambil uang buat bayar yang ngerjain kolam dan membeli ikannya.
"Nanti berhenti di depan Alfamart ya, Mas? sebentar!" pinta Sukma pada sang supir taksi.
"Baik, Mbak." Supir mengangguk lalu melajukan mobilnya dengan cepat.
Sukma sesaat mengecek ponselnya. Lalu melepaskan pandangan keluar jendela melihat kuda-kuda besi yang berlalu lalang, cuaca pun begitu indah. Dimana langit tampak biru berhias awan putih nan bersih.
Taksi berhenti di depan Alfamart. Sukma gegas turun memasuki Alfamart setelah sebelumnya mengambil uang dari ATM yang berada tepat samping Alfamart tersebut.
Sukma berbelanja bulanan seperti sabun cuci. Sabun mandi, shampo beberapa merk. Beberapa makanan buat ngemil dan minuman kaleng nya juga, setelah merasa cukup. Akhirnya Sukma berjalan ke kasir membayar semua belanjaannya.
Detik kemudian, Sukma berjalan membawa belanjaannya ke taksi yang menunggu di depan sana.
Supir taksi pun segera mengamngambik belanjaan Sukma dimasukannya ke dalam mobil taksi.
"Makasih, Mas? langsung jalan saja ke jalan xx ya?" suara Sukma sambil mendudukan dirinya di jok belakang.
"Sama-sama Mbak." Balas sang supir sambil memutar kemudinya. melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Selang sekitar 20 menit kemudian taksi pun berhenti di depan kediaman Sukma dan sang supir kembali membantu menurunkan belanjaan Sukma. Sukma berdiri di dekat teras sambil menyerahkan uang buat ongkos transpor nya.
"Makasih ya, Mas?" Sukma dengan ramahnya.
"Sama-sama, Mbak. Permisi?" supir taksi mengundur diri dari hadapan Sukma.
Tampak Jihan dan Marwan berlarian menyambut kedatangan Sukma. "Kakak?"
"Assalamu'alaikum? ini belanjaan bawa ke dalam?" Sukma menunjuk belanjaan ke Jihan dan Marwan.
"Wa'alaikumus salam ... belanjaan apa Kak?" Jihan langsung mengintip belanjaan.
Kemudian mereka bertiga masuk ke dalam rumah, Sukma langsung menghampiri bibi yang sedang menyetrika dan memberikan uang buat yang kerja juga untuk membeli ikannya.
"Bi ini, uang buat membeli ikan dan buruh kerjanya." Sukma menyerahkan sejumlah uang pada bi Lasmi.
"Oh iya, Non makasih dan biar bibi anterin uang nya ke si mamang. Sekalian membeli ikannya juga," bi Lasmi mengambil uang dari tangan Sukma tersebut.
"Ikannya kapan datang, Bi?" tanya Marwan menatap ke arah bibi Lasmi.
"Sekarang juga datang, yu ikut bibi ke rumah mamang buat membelinya?" ajak bi Lasmi pada Marwan.
"Beneran, Bi aku boleh ikut? jauh gak?" Marwan begitu antusias.
"Nggak jauh, dekat saja sekalian ke rumah si mamang yang kemarin itu," bi Lasmi mencabut aliran listrik setrikaan yang kebetulan sudah selesai.
"Kak, aku boleh ya ikut bibi? biar nanti pulang membawa ikan untuk di tanam." Marwan menatap ke arah sang kakak.
"Boleh, jangan nakal ya bantuin bibinya?" pesan Sukma.
"Baik, Kak?" Marwan berjalan bersama mengikuti bi Lasmi melalui pintu belakang.
"Iya, Kak. Ini shampo buat aku ya?" Jihan memegang shampo hijab.
"Boleh, Oya, kata abang. Minggu depan jadi liburannya," ucap Sukma sambil membereskan. belanjaannya.
"Beneran Kak? asik ... akhirnya bisa liburan juga kita! Marwan pasti senang dengarnya." Jihan tampak girang mendingan mau liburan sama Alfandi.
"Emang ulangannya sudah selesai ya?" tanya Sukma pada sang adik.
"Sudah, Kak. Dan hari Sabtu besok pengambilan raport, katanya harus orang tua yang mengambilnya," sahutnya Jihan.
"Ooh hari Sabtu ya? insya Allah nanti Kakak datang ke sana untuk mengambil raportnya." Sukma mengangguk.
"Kakak ikut kan liburan?" masa nggak ya!" selidiknya Jihan melirik ke arah sang kakak.
"Nggak tahu sih, Kakak ikut atau tidak. Lihat nanti saja," jawabnya Sukma sambil berdiri.
"Lho ... kenapa? ikut dong ... masa cuma kami berdua yang ikut. Abang juga pasti ngajak Kakak kok." Kata Jihan berekspresi sedih.
Sukma tersenyum seraya berkata. "Iya insya Allah, ya sudah. Kakak masuk kamar dulu ya? pengen mandi dah gerah nih. Dan itu sisanya belum dimasukkan nah." Sukma menunjuk makanan yang masih tergeletak di meja.
Jihan mengangguk sebagai respon perkataan dari sang kakak. Sukma berjalan menaiki anak tangga, untuk menuju kamar pribadinya dan setibanya di sana dia langsung menyimpan tas serta peralatan kuliahnya di atas nakas.
Langsung berjalan mendatangi kamar mandinya. Dengan membawa handuk yang dia gantung kan di daun pintu.
Ketika membuka pakaian bagian atas, manik mata Sukma menemukan tanda merah di bagian dada. Mungkin bekas semalam Alfandi membuat tanda kepemilikan nya di sana, perlahan tangan Sukma menyentuh dan mengusap lembut yang memerah tersebut dengan bibir mengulas senyuman.
Lantas terbayang wajah orang yang menjadi tersangka dalam hal ini. Yaitu Alfandi yang sudah memberi tanda di area sana.
Sukma bukannya bergegas mandi, melainkan duduk di bibir bathub sambil melamun.
"Seandainya saja kau Reno, datang disaat waktu yang tepat, dimana aku masih single, belum menikah akankah bahagianya aku, tapi sayang. Kau hadir di saat aku sudah menjadi istri orang." Gumamnya Sukma dalam hati teringat pada Reno.
Sangat disayangkan memang. Reno datang di saat Sukma sudah dipersunting oleh seorang pria yang berperan penting dalam kehidupannya. Alfandi datang sebagai dewa penolong biar Sukma dan kedua adiknya.
Siapa sih yang gak bahagia? bila orang yang dicintai nya lama menghilang, kembali dengan membawa parasan yang sama. Tapi sungguh di sayangkan, kehadiran Reno bukan pada waktu yang tepat. Saat ini Sukma sudah menyandang istri siri seorang Alfandi.
Kemudian, tangan Sukma kembali menyentuh dada nya itu. Mengelus tanda merah tersebut, lalu kedua manik matanya terpejam, membayangkan bilakah saat ini sosok Alfandi berada mencumbu dirinya.
"Coba seandainya dia ada di sini?" batinnya Sukma dengan mata tetap terpejam dan bibir mengulas senyuman.
"Aku merindukan mu ada di sini bersama ku!" ucap Sukma dengan lirih dengan mata tetap terpejam, membayang sosok Alfandi yang menari-nari di ruang mata.
Lalu Sukma membuka kedua manik matanya. "Aduh ... ngapain sih gue mengingat dia terus? tadi bertemu juga, gak ada kerjaan benget mikirin dia!" Sukma bermonolog sendiri.
Sukma sedikit menggelengkan kepalanya kasar, namun bibir tetap tertarik ke samping. Menenggelamkan tubuhnya di bathub, setelah menanggalkan semua yang melekat di tubuhnya.
...----...
Di kantor, Alfandi sedang berfantasi ria sambil menyambungkan laptopnya dengan cctv yang berada di rumahnya Sukma, tepatnya kamar mandi yang sedang digunakan oleh sukma saat ini.
Alfandi sedang menonton gerak gerik nya Sukma yang sedang berada di kamar mandi tersebut. Tepatnya berendam di dalam bathub, bibir Alfandi terus menyunggingkan sebuah senyuman. Singanya pun terasa bangun dan ingin menerkam mangsanya. Tetapi saat ini tidak mungkin juga, apalagi Sukma pun kayanya sedang kedatangan tamu bulanan.
"Uuhh ... bikin lemes!" gumamnya sesekali menggelengkan kepalnya yang mendadak sedikit pusing, jantungnya berdegup begitu kencang melihat pemandangan itu.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
Tampak Rijal datang dengan sebuah map di tangan, berdiri di depan pintu.
Buru-buru, Alfandi mematikan sambungan cctv nya bahkan ia menghapus rekaman tersebut.
"Masuk!" suruh Alfandi pada Rijal yang membawa langkahnya mendekati Alfandi .....
.
.
...Bersambung!...
.
Hem pagi-pagi dah dibikin jengkel alias kesal. Alias marah! gimana tidak? satu bab yang siap di update hilang begitu saja, benar-benar bikin dedek nih reader ku.