Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Kangen Mommy



Setelah selesai membersihkan diri Alfandi keluar dari kamar mandi, dan netra nya menangkap pakaian gantinya sudah siap di atas tempat tidur. Lalu mengitari ruangan tersebut mencari keberadaan Sukma yang tidak ada di tempat tidur.


Sukma baru saja masuk dari pintu balkon. Lalu menghampiri ke arah Alfandi yang mengenakan pakaiannya, Sukma pun membantu merapikan.


"Sudah pagi, apa kau tidak akan kesiangan pulang?" tanya Sukma seraya merapikan kerah kemeja Alfandi.


"Tidak pa-pa. Itu urusan ku," Alfandi hendak mencium pipi Sukma, namun segera Sukma menghindar dengan alasan Alfandi pasti sudah wudu.


"Salat dulu, aku mau mandi dulu!" Sukma menjauhi Alfandi yang bengong menatap ke arah dirinya.


Sukma bergegas berjalan ke kamar mandi, untuk membersihkan diri, sementara Alfandi menunaikan subuh.


Selepas itu Alfandi bersiap pulang namun mau pamit dulu pada sang istri yang masih berada di kamar mandi.


Detik kemudian Sukma keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan handuk, berdiri di depan pintu dengan penglihatan ke arah Alfandi yang mendekati.


"Jangan mendekat? aku sudah wudu." Pinta Sukma sambil merentangkan tangan ke depan.


Namun Alfandi tidak perduli dan terus saja berjalan mendekat, memeluk tubuh sang istri. "Aku pulang dulu ya? dan aku pasti sering pulang ke sini juga kok. Jaga dirimu baik-baik, jangan nakal ya?"


"Hem ..." gumamnya Sukma mengangguk pelan sambil membalas pelukan dari Alfandi.


Rasanya berat-berat gimana. Bila Alfandi pamit untuk pulang itu, rasanya ingin sekali bilang. Cepat kembali ya? dan jangan lama-lama! namun bibirnya terlalu gengsi untuk mengatakan itu.


"Ayo dong katakan sesuatu? bilang kalau kau tidak ingin jauh dariku sayang!" batinnya Alfandi sambil mengeratkan pelukannya seakan tidak ingin dilepas lagi.


Sukma menyembunyikan wajahnya di dada bidang Alfandi yang membuatnya nyaman. Sesaat kemudian. Alfandi memudarkan rangkulannya itu.


"Aku pulang dulu ya?" tangan Alfandi membingkai wajah Sukma lalu mengecup mesra bibirnya yang terakhir kali ini.


Kali ini Sukma hanya mengangguk pelan. Menatap sendu keprgian Alfandi yang bergehas menyambar kunci mobil.


"Assalamu'alaikum, sayang?" Alfandi sebelum melintasi pintu.


"Wa'alaikum salam," balas Sukma lalu buru-buru masuk kembali ke kamar mandi untuk mengambil air wudu.


Saat ini Sukma tengah menuruni anak tangga untuk menyiapkan sarapan, di sambut oleh Mimy.


"Ma, tadi gue melihat pak Alfandi. Kapan datang kesini?" selidik Mimy.


"Ha? semalam!" jawab nya Sukma pelan.


"Ooh, untuk melepas kangen ya? he he he ..." Mimy terkekeh sendiri.


"Emangnya kenapa, wajarlah kalau dia meminta sesuatu dari gue. Masa gue cuma mau di kasih saja sementara gue gak mau ngasih apa-apa," Sukma mengambil gelas dan menuangkan air untuknya minum.


"Iya sih, Oya hari ini lu ada kuliah?" Mimy pun mendudukan dirinya di kursi meja makan.


"Kuliah, Oya! sudah nyapu belum nih?" Sukma mengedarkan pandangan ke lantai.


"Sudah, lanatas bawah sudah geu sapu dan mau gue pel! tenang saja. Gue pengen duduk bentar," sahutnya Mimy.


"Bibi mana? datang belum?" Sukma mencari keberadaan bibi. Namun di meja agar potongan sayur yang sepertinya baru saja di potong.


"Keluar kali." Mimy menaikan bahunya.


Lantas bibi masuk membawa bawang daun yang masih segar, sepertinya habis baru metik.


"Pagi, Bi?" sapa Sukma sambil tersenyum pada Bi Lasmi.


"Non, kolamnya sudah selesai. Mau langsung di tanam ikan atau gimana?" Bi Lasmi langsung bertanya. Soal kolam yang ada di belakang rumah.


"Em ... gimana baiknya saja, Bi. tapi ikan nya yang siap panen lho. Buat kalau mau tinggal ngambil gitu." Balas Sukma sambil mengintip ke arah kolam ikan yang berdampingan dengan kolam renang.


"Iya, ikan yang besar-besar. Kata tuan juga dan Marwan seperti itu." Bi Lasmi mengangguk sambil memasak buat sarapan.


"Uangnya nanti aku ngambil sekalian sekalian kuliah. Sebab saat ini hanya ada buat ongkos anak-anak." Timpalnya Sukma.


"Baik, Non." Bibi mengangguk pelan sambil meneruskan


Sementara Mimy menjalankan tugasnya yang mau ngepel lantai bawah. Biar lantai atas nanti bibi saja yang kerjakan.


Sukma bersama bibi menyiapkan sarapan. Tiba-tiba bibi berbicara pada Sukma.


"Nona, Apa tuan tadi dari sini? tadi Bibi melihat mobilnya keluar dari pekarangan. Tadi sebelum bibi memasuki ruangan dapur." Selidik bi Lasmi.


"Benar, Bi. semalam pulang ke sini!" jawabnya Sukma.


"Jangan sedih, Non. Sudah resikonya mempunyai suami yang istrinya lebih dari satu, kita ini seolah bagai persinggahan." Kata bibi sambil sibuk dengan tugasnya.


Sukma hanya menoleh punggung bi Lasmi seraya menghela napas panjang.


"Yang penting suami sayang, dan bertanggung jawab sama Non. Bibi yakin kalau tuan itu memang pria baik! begitupun Non orangnya baik dan panut. Akan sangat beruntung pria yang mendapatkan, Non. Seperti tuan! Beruntung banget bertemu dan memiliki Non!" ujar bibi Lasmi.


Sukma menunduk dalam, hatinya merasa mencelos di omongin seperti oleh bi Lasmi.


"Non pasti sabar dan panut pada suami, tulus menyayangi anak-anaknya juga. Tidak mudah menjalani ini semua, Non harus siap ketika nanti berhadapan dengan istri tua nya tuan. Terima kenyataan kalau suami bukan milik kita sendiri."


"Ya, Bi." Suara Sukma bergetar menahan tangis.


Sukma menggeleng. "Tidak, Bibi tidak menyinggung ku sama sekali. Malakah aku berterima kasih pada Bibi yang selalu menasehati ku?" Sukma memeluk bi Lasmi dan air matanya pun berjatuhan.


Bi Lasmi mengusap punggung Sukma. "Jika berkenan. Anggap saja Bibi ini keluarganya, Non."


"Iya, Bi. Iya makasih!" Sukma mengusap air matanya yang membasahi pipi.


Sesaat kemudian Sukma melepaskan pelukannya. Lalu menyiapkan piring buat mereka sarapan.


"Kenapa sih? aku lihat dari tadi melo-melo begitu? sedih-sedihan begitu, gak lucu ahk orang dah senang kok." Mimy datang dan mengomentari yang sudah dia lihat.


"Gue punya keluarga baru, My." Sukma melirik Mimy dan bibi bergantian.


"Oya? bibi mau jadi keluarga dia? dia itu bawel lho. Harus hati-hati ya? he he he ... bercanda." Mimy memeluk bibi juga.


"Ya sudah, kita sarapan saja, itu anak-anak sudah siap!" Sukma duduk dan menuangkan nasi ke piringnya di tambah dengan sayurnya.


Namun Sukma malah melamun mengingat suaminya yang tidak sarapan dulu. Sudah beberapa hari ini ia tidak menyiapkan makannya.


Jihan dan Marwan langsung menyantap sarapannya dengan lahap.


"Kak, jadi gak Minggu depan kita liburannya? kata Fikri kita mau di ajak liburan ke pantai." Tanya Marwan.


"Em ... kurang tahu Kakak, Abang belum bilang itu," sahutnya Sukma sambil menoleh ke arah kedua adik nya tersebut.


"Abang gak ada ke sini ya? sudah beberapa hari ini, Kak?" tanya Marwan kembali.


"Wuih ... kalian gak tau ya ... kalau Abang kalian itu datang semalam, kalian gak tau aja sih?" Mimy memanyunkan bibirnya.


"Beneran, Kak? Anang semalam ke sini?" Jihan dan Marwan menatap penasaran.


"Iya, ada!" Sukma mengangguk pelan.


"Lihat saja wajah kakakmu merona kalau di datangi pangerannya hi hi hi ..." Mimy menimpali.


"Ooh ... tumben si manja gak datang ya ke sini? biasanya dikit-dikit mommy. Dikit-dikit mommy." Tambahnya Marwan.


"Palingan nanti sore ke sini, Wan. Mommy Fikri kangen mommy ... ha ha ha,'' Jihan menirukan Fikri.


Dreettt ....


Dreettt ....


Getaran dari dawai Sukma bergetar, dan Sukma langsung mengambilnya.


"Fikri? panjang umurnya lho!" Sukma menoleh pada Jihan dan Marwan.


"Tuh kan ... ci manja telepon." Marwan menggeleng sambil tersenyum.


Sukma menggeser ikon ijo menerima teleponnya dari Fikri.


^^^Sukma: "Halo?"^^^


^^^Fikri: "Mommy, papa dari sana ya? jahat sekali tidak ngajak-ngajak Fikri ke sana! gak tau apa Fikri kangen mommy. Ih papa jahat deh."^^^


^^^Sukma: " Em ... emang papa bilang apa?"^^^


^^^Fikri: "Katanya papa dari sana! iih sebel deh ... gak bilang-bilang."^^^


Bibir Sukma terlihat hanya menarik bibirnya tersenyum.


^^^Fikri: "Awas ya? nanti aku kabur!"^^^


^^^Sukma: "Eeh ... mau kabur kemana? jangan? nanti papa susah nyarinya lho!"^^^


^^^Fikri: "Mommy ini apa-apaan sih? orang aku mau kabur ke sana kok, biar papi juga nyusul ke sana gitu. Bagusksn ... ide aku?"^^^


^^^marwan: "Eh, manja. Lalu papamu ke sini mama mu gimana di sana?"^^^


^^^Fikri: "Biar saja, Kak Wawan ... mama banyak temannya gak akan kesepian tanpa papa."^^^


^^^Sukma: "Oke-oke ... Fikri pasti mau sekolah kan? sekarang mommy sedang sarapan, jadi sudahi dulu teleponnya?"^^^


^^^Fikri: "Oke mommy!"^^^


Sambungan telepon pun terputus. Dan Sukma menyimpan kembali ponselnya di meja.


Bi Lasmi yang baru duduk di sana. Ikut makan bareng, karena di rumah ini tidak ada asisten ataupun majikan.


Terdengar suara seseorang di depan mengetuk-ngetuk pintu, semua yang mendengar saling pandang dan bertanya-tanya siapa yang pagi-pagi bertamu ....


.


.


...Bersambung!...