Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Bidadari ku



Sekarang ini, Alfandi dan Sukma juga Fikri sudah berada di meja makan. Dan Fikri heboh menanyakan apa benar nasi goreng yang tersaji itu mommy yang bikin?


"Nasi goreng itu dan sup nya juga, buatan mommy dan yang lainnya bibi yang buatkan!" jelas Bi Lasmi.


"Ooh, Fikri lagi pengen makan buatan Mommy. Kalau buat bibi sih, gak usah jauh-jauh ke sini kali." Fikri mengambil sendiri dengan ukuran banyak.


"Sayang ... awas gak habis lho." Alfandi khawatir gak abis makanan yang di piring Fikri.


"Habis Papa, lihat saja pasti habis. Mommy. Ambilkan ayam sama telor nya tolong?" Fikri meminta tolong pada Sukma.


Sukma tersenyum lalu mengambilkan yang Fikri minta. "Oke, yang habis ya?"


"Oke Mommy." Fikri mengangguk.


"Jihan, Marwan. Makan?" Alfandi memanggil kedua adiknya.


"Kami baru saja makan, Abang." Jawabnya Marwan dan Jihan pun mengangguk.


"Jihan dan Marwan sudah makan sama bibi dan Mimy." Timpal Bi Lasmi.


"Ooh, ya gak papa kalau mau makan lagi. Sini?" ajak Alfandi pada kedua adik iparnya.


Jihan menggeleng dan Marwan pun sama. Mereka sedang belajar sambil menonton.


Akhirnya yang makan saat ini cuma bertiga saja. Sukma pun sesekali menyuapi Fikri dan Alfandi bergantian.


"Mommy-Mommy! kak Firza nakal gak?" Fikri bertanya soal makanya.


Sukma menggeleng pelan seraya berkata. "Nggak. Gak nakal kok."


"Em ... kalau kalau nakal jewer saja ya Mommy," sambungnya Fikri.


Sukma hanya mengulas senyum nya mendengar itu dari Fikri.


Kemudian mereka pun begitu menikmati makan malamnya. Dan Sukma lebih dulu selesai dan bibi pun berpamitan pulang.


"Hati-hati, Bi?" ucap Sukma pada bibi yang meninggalkan tempat tersebut.


"Oya, Bi. Apa sudah menerima gaji bulan ini?" tanya Alfandi hentikan langkah Bi Lasmi.


Bi Lasmi menoleh pada Alfandi dengan raut wajah yang ramah. "Sudah, Tuan. Non sudah memberi Bibi uang gaji. Terima kasih?"


"Bagus lah, Bi. Ya sudah, nanti pulngnya terlalu malam." Alfandi menyilakan bi Lasmi untuk pulang.


Bi Lasmi pun melanjutkan langkahnya tuk keluar dari rumah tersebut.


"Oya, emang Mimy kemana?" tanya Alfandi menatap ke arah Sukma yang sedang membasuh tangannya.


"Ha? di kamar kali." Kemudian Sukma menoleh pada kedua adiknya.


"Kak Mimy ada di kamarnya." tambah Jihan.


"Oya, Minggu depan kita liburan ya? kalian ikut!" Alfandi menuju kan kata-katanya pada Jihan dan Marwan.


"Hore ... iya Bang. Kamu mau! sama kak Sukma juga kan?" Marwan menyambut senang akan tawaran itu.


"Iya dong ... kak Sukma juga ikut, masa saya tinggalin ya?" Alfandi melirikkan matanya ke arah Sukma yang masih berdiri di dekat wastafel.


"Asik ... kita liburan bareng-bareng!" timpalnya Fikri sambil bersendawa kekenyangan.


"Tambah lagi gak!" tawar Alfandi.


"Nggak. Pah, aku dah kekenyangan benget nih." Fikri mengusap perutnya yang terlihat buncit itu.


"Ya sudah, membaca doa nya dong jangan lupa!" pinta Sukma pada Fikri.


Kemudian Fikri pun membaca doa dengan lantang, membuat Sukma dan Alfandi tersenyum.


Lalu Alfandi bergegas ke kamarnya mau mandi terlebih dahulu, kebetulan sepulang dari kerja tadi belum sempat mandi.


Sukma selesai mencuci bekas makan langsung naik ke lantai dua.


"Mau kemana, Ma?" tanya Mimy yang berjalan menuju ruang televisi.


"Mau ke kamar," Sukma menunjuk ke atas.


Mimy melihat di ruang televisi ada Fikri, oh berarti ada Alfandi juga. Mimy langsung mengangguk dan Sukma melanjutkan langkahnya.


Sukma baru saja masuk kamar. Dan menemukan Alfandi masih duduk di sofa dengan bersandar.


"Lho, kok belum mandi? katanya mau mandi bukan?" Sukma menatap ke arah Alfandi yang langsung menoleh ke arah Sukma.


"Istirahat sebentar sayang. Sini?" tangan Alfandi melambai agar Sukma mendekatinya.


Sukma pun meneruskan jalannya dan mendatangi suaminya. Setelah dekat, tangan Sukma diraihnya Alfandi, di tarik agar duduk di atas pahanya.


Tangan Alfandi satunya lagi. Merangkul pinggang Sukma dengan erat. "Sebentar lagi sayang!"


Alfandi menciumi pipi Sukma dengan hidungnya. "Makasih ya atas perhatiannya pada anak-anak?"


Sukma menatap datar pada sang suami yang wajahnya begitu amat dekat. "Sama-sama."


"Em ... jadi, datang bulannya?" suara Alfandi pelan sambil terus menciumi bahu Sukma.


"Iya, jadi lah." Sukma mengangguk.


"Hem ... gak bisa itu dong? kasihan-kasihan, kasihan." Alfandi berekspresi aneh di wajahnya.


Sukma cuma menunjukan senyumnya pada Alfandi yang semakin tidak mau diem, dia terus saja menciumi wajah Sukma dan mengecup bibirnya berkali-kali.


"Aku lagi datang bulan," suara Sukma pelan, khawatir Alfandi menuntut lebih.


"Nggak sayang, aku gak akan menuntut lebih kok! tenang saja," suara Alfandi pelan.


Alfandi terus mencumbu sang istri dengan lembut dan sangat menikmatinya. Tak ayal Sukma pun mengalungkan kedua tangannya di pundak Alfandi.


Setelah beberapa lama bersama di sofa. Akhirnya Alfandi menggendong tubuh Sukma ke tempat tidur.


Tubuh Sukma melayang dan perasaannya dihantui dengan rasa was-was, takut kebablasan. Tubuh Sukma di baringkan di atas tempat tidur yang ukuran king size itu. Alfandi pun melanjutkan cumbuan nya, tangannya menjamah setiap keindahan yang ada di depan matanya.


Dengan lihai Alfandi pun membuat Sukma sangat menikmatinya, sehingga dia meliuk-liuk kan tubuhnya dan tangan Alfandi meremas rambut pria itu seraya menariknya.


Deru nafas keduanya saling berembus dan bersahutan, sesekali Sukma menggigit bibir bawahnya ketika tangan kekar Alfandi me-re-mas kedua buah yang menggantung miliknya bergantian.


"Ooh, uhh ..." suara yang keluar dari bibir Alfandi dan Sukma. Walaupun di tahan-tahan tetap saja suara-suara itu terlepas juga.


"Aku sangat merindukan mu, membutuhkan mu. Oh sayang i love you." Kata-kata yang terlepas dari mulut Alfandi membuat bulu kuduk Sukma meremang.


Sukma mengeratkan rangkulan tangan di pundaknya Alfandi, nafas keduanya semakin nyaring memenuhi ruang kamar tersebut.


"Sayang, aku gak kuat! aku mohon jangan menolak ku? aku sangat membutuhkan dirimu sayang." Alfandi terus memberikan kecupan yang mematikan di setiap inci wajahnya Sukma serta turun ke bawah leher dan dada sehingga banyak terdapat tanda merah di area dada Sukma.


"Tapi aku lagi halangan, dan itu tidak diperbolehkan untuk hubungan!" suara Sukma nyaris tidak terdengar. Matanya pun tetap terpejam.


"Tapi, aku gak kuat sayang ... sangat menginginkan kamu sayang," Rajuk Alfandi, suaranya seperti menahan rasa sakit.


"Tidak, Al ... sabar ya? tidak akan lama kok. Paling beberapa hari saja!" bujuk Sukma pada lawan bicaranya itu.


Tangan Sukma membelai punggung Alfandi dengan lembut. Lagian kenapa tidak meminta saja pada istrinya yang lain? begitu pikirnya Sukma.


Alfandi mulai menye-s**p buah segar milik Sukma dengan semangat, membuat Sukma menjerit yang tak tertahan. Jeritan nikmat yang lepas dari bibir Sukma. Semakin membuat Alfandi semakin berhasrat untuk menikmatinya terus menerus buah ranum yang bikin Alfandi kian bergairah dan menjadi candu itu.


Jeritan kecil dari Sukma kian menambah gairahnya Alfandi yang memang menggebu-gebu itu dan kian melebarkan aksinya. Saat ini dia ingin benar-benar menikmati bidadari nya yang satu ini. Biarpun tidak melakukan sesuatu yang intim juga, yang penting hasratnya bisa terpenuhi.


"Jangan, Al. Jangan lakukan itu!" pinta Sukma, dia terkesiap ketika Alfandi menurunkan pakaian nya itu.


"Jangan khawatir, aku tidak akan melakukannya sayang ..." suara Alfandi dengan nafas yang terengah-engah.


Setelah durasi yang cukup lama, ber-cum-bu dengan pasangan halalnya tersebut. Akhirnya singa Alfandi mengeluarkan air liurnya juga dengan cukup banyak di paha Sukma yang mulus itu. "Akh ..." dan bisa bernafas lega.


Bak keluar dari kurungan tempat pengap. Kemudian berada di tempat yang lega dan dapat menghirup udara yang segar.


Alfandi membaringkan tubuhnya di sisi tubuh sang istri dengan menarik selimut tebalnya. Pandangan nya lepas ke langit-langit dan dada naik turun, dengan nafas yang masih memburu.


Sukma pun merasa lega, akhirnya Alfandi terlihat bisa pu-as mencapai puncaknya mesti tidak ada penetrasi di dalam tempat yang seharusnya. Meskipun sempat merengek-rengek tidak kuat, Tetapi Alfandi tidak berani melakukannya.


Bibir Sukma tersenyum merekah melihat ke arah Alfandi yang akhirnya menoleh juga dan tersenyum, mendekat lantas memberi kecupan yang hangat di kening Sukma. Kedua manik mata Sukma terpejam.


"Terima kasih sayang? sudah membuat ku bahagia." Alfandi menatap lekat dan mengelus pipinya Sukma dengan sangat lembut.


Sukma mengangguk pelan dengan sebuah senyuman di wajahnya. Dan menyentuh tangan Alfandi yang menempel di pipinya.


Waktu sudah menunjukan pukul 22.00 malam dan suasana terasa begitu hening dan sepi.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


Suara ketukan pintu membuat Alfandi dan Sukma terkesiap. Sukma memeluk selimutnya yang menutupi seluruh tubuh yang hanya menyisakan dalaman bagian bawah saja itu ....


.


.


...Bersambung!...