Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Season 2



Jihan masih tampak kebingungan, ia tidak menyangka kalau sesungguhnya Excel datang ke sana untuk membaca perhiasan untuknya.


Rasa shock, bahagia. Rasa tidak percaya berkecamuk dalam dirinya. Apalagi mengingat perkataan dari Firza yangembuat Jihan kebingungan.


"Kamu bener suka kan?" tanyanya Excel yang langsung mendapatkan anggukan dari Jihan.


Kemudian Excel pun meraih tangan Jihan dan memakaikan cincin di jarinya. "Cantik! sangat sempurna." Excel mengamati cincin yang berada di jari tangannya Jihan.


Jihan masih juga bengong sembari menatap cincin yang ada di jarinya tersebut. Perasaannya masih di antara percaya dan tidak dengan harga cincin yang Excel berikan.


"Nah ... sekarang kita beli pakaian ya? kamu pasti membutuhkannya kan?" ucap Excel sembari menarik tangan Jihan keluar dari konter tersebut dan mengajaknya ke toko pakaian.


dan setibanya di toko pakaian, Excel langsung memilihkan pakaian panjang, gamis anak muda! kerudung paris dengan warna senada pakaian yang dibeli.


Jihan hanya diam saja tanpa memilih ataupun menunjuk, dia aja kebingungan sama pacarnya. Baru kali ini diajak belanja di mall malah yang harganya lebih mahal ketimbang di toko-toko biasa.


"Kamu ini kenapa sih, dari tadi bengong aja, kayak ayam kena racun! ngomong deh milih ke. Emang sih pilihan aku juga bagus-bagus kan ... kamu juga suka kan?" Excel menggeleng melihat tingkah lakunya Jihan yang bengong dan ujung-ujungnya menunjukan rasa percaya diri kalau apa yang dia mau, dia pilih Jihan suka.


"Aah nggak, aku cuman bingung aja ... kamu sering belikan ku barang mahal, sekarang ngajak aku langsung berbelanja. Apa Nggak sayang uangnya? sementara kamu kan belum bekerja!" ungkapnya Jihan kepada Excel.


Excel terdiam lalu menoleh dengan tatapan tanpa ekspresi. "Aku memang tidak bekerja! karena aku masih kuliah dan aku tidak harus capek-capek mencari uang, karena aku tinggal minta sama orang tua yang kaya raya buat apa aku capek-capek cari duit! harta orang tuaku banyak dan anaknya cuma aku satu-satunya. Seharusnya kamu bangga mempunyai kekasih seperti aku," kalimat dari mulut Excel bernada kesal tersinggung dengan perkataan Jihan barusan.


"Em, maaf. Aku tidak bermaksud untuk menyinggung perasaan mu." Jihan menundukkan kepalanya dalam-dalam yang merasa jadi tidak enak hati.


Sementara waktu Excel menunjukkan ekspresi wajah yang kesal dan marah, rahangnya mengeras. Pemuda tampan dan berambut pirang itu terus kepikiran, bisa-bisanya Jihan bicara seperti itu! bukannya bersyukur dengan apa yang dia berikan.


"Tidak bersyukur banget! berterima kasih kek, kasih ciuman kek sebagai tanda terima kasih! bukannya ngomong kayak gitu!" gerutunya Excel sembari menempelkan kedua tangan di etalase.


Bagaimanapun Jihan mendengar gurunya Excel sehingga Jihan minta maaf. "Aku minta maaf dan aku tidak bermaksud kayak gitu kok!" pada akhirnya wajah polos Jihan diangkat memberanikan diri untuk menatap wajah Excel yang ditekuk.


"Ya sudah semuanya ambil," ucapnya Excel setelah dia membayar semua belanjaannya.


"Makasih ya dan sekarang aku harus pulang, sudah terlalu malam!" ucapnya Jihan sembari menantang beberapa paper bag di tangan.


Excel melirik jarum jam yang berada di tangannya. "Oke ku antar pulang!"


Kemudian mereka pun berjalan hendak meninggalkan Mall tersebut. Tangan Excel pun menarik tangannya Jihan.


Jihan terbengong-bangong memandangi tangannya yang ditarik oleh Excel, namun sama sekali dia tidak menarik kembali dan tentu saja terus berjalan mengikuti langkahnya Excel.


Dari kejauhan, tentunya Firza memperhatikan Jihan yang keluar dari mall bersama Excel Sebenarnya dia baru saja datang dengan Puspa.


Tatapan matanya yang tajam terus mengarah kepada Excel dan Jihan yang memasuki mobilnya. Mau terus diikuti nggak enak sama Puspa.


"Rrrgh ... sial, seharusnya aku nggak jalan sama Puspa. Kalau saja aku tahu dia sedang jalan sama si fackboy itu."


Tetapi sebelum mobil Excel melaju, Firza buru-buru berlari menghampiri mereka berdua dan langsung mengetuk pintu jendela yang ada Jihan nya.


Excel memandangi ke arah Firza yang kini berdiri dan membungkuk seraya mengintip ke jendela mobil yang bertepatan Jihan duduk di sana seraya mengetuk-ngetuk.


Jihan pun kaget tiba-tiba melihat Firza di sana, bahkan mengejarnya segala.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


"Iya setannya elu," gumamnya Firza dengan sangat pelan, entah didengar entah enggak sama kedua orang yang berada di mobil tersebut.


"Kamu itu ada apa sih?" tanya Jihan sembari menghadapkan wajahnya pada Firza yang setengah membungkuk.


Firza mencondongkan wajahnya ke arah Jihan. "Kau ini mau ke mana sih? sudah malam nih, kelayapan aja anak cewek, bukannya pulang ke kosan. Pulang! nanti mommy dan papa ku marah. Aku aja yang cowok punya batasan apalagi kamu yang cewek! malam-malam begini masih di luar! bukannya pulang," ucapnya Firza yang merepet kayak suara petasan cabe dan bagai emak-emak yang sedang memarahi anaknya.


"Ck, kau ini merepet aja kayak ema-ema, aku juga mau pulang kok. Aku juga tahu batasannya jangan khawatir ... nggak usah bimbang apalagi ngadu." Ketusnya Jihan.


"Baguslah kalau gitu, cepetan pulang! jangan sampai dikeluarin dari tempat kost. Antarkan cewek keras kepala ini, jangan kelayapan lahi. Pulang secepatnya!" Firza menatap pada Jihan dan Excel bergantian.


"Lu ini lama-lama kaya emak-emak. Apa jangan-jangan ... lo emaknya Jihan? emak jadi-jadian ha ha ha ..." Excel tertawa lepas sehingga bahunya bergoyang.


Firza menatap kesal ke arah Excel, tangannya yang menggantung mengepal kuat, ingin rasanya menonjok pria fackboy tersebut.


Excel menggerakkan tangan dengan gemulai. "Ayo mari ... aku mau anterin Jihan pulang dulu ya!" Excel dengan gaya gemulai. Ha ha ha ...."


Kedua netra mata Firza mendelik dan melotot dengan sangat sempurna ke arah Excel. sementara Jihan terkekeh lucu Melihat tingkahnya Excel.


Detik kemudian, mobil Excel pun melaju sangat cepat meninggalkan Firza yang masih berdiri di tempatnya.


"Kau ini, kanapa sih ... saudara sih saudara, tapi gak terlalu otoriter gitu kali ..." Puspa yang baru saja sampai di tempat itu.


"Bukan urusan mu, dia itu cewe kesayangan keluarga ku, jadi dia harus pandai menjaga diri." Jawabnya Firza sambil mengenakan helmnya.


"Tapi ... cewe di Excel itu di mana-mana! banyak, mungkin karena dia banyak duit kali ya, cewek manapun mau sama dia. Termasuk saudara mu itu yang matre ... tapi nggak mungkin juga sih, seandainya dia nggak minta timbal balik dari kebaikan yang sudah diberikan gitu!" Puspa ngompori Firza.


Firza menatap tajam pada Puspa, dia pun memang sempat berpikir sejauh itu. Dan dia jadi tambah khawatir pada Jihan, bagaimana kalau Excel melakukan sesuatu yang tidak diinginkan kepada Jihan. Bagus-bagus kalau dia bisa menjaga Jihan, kalau tidak atau kebalikannya bagaimana?


"Huuh ..." Firza membuang nafas nya dari mulut, sehingga mulutnya tampak menggembung.


Kemudian mereka pun pergi meninggalkan area Mall. sebenarnya Firza sangat kepikiran tentang Jihan dengan Excel.


Sampai-sampai. Firza setengah sadar, yang seharusnya mengatakan Puspa ke rumahnya malah menuju ke kosannya Jihan.


"Eh kamu gimana sih? ini kan bukan jalan yang menuju rumahku, ini kan kosan. Emangnya aku mau diajak ke kosan mu? menginap boleh ... aku mau sih," protesnya Puspa namun ujung-ujungnya senyum juga dia pikir dia akan dibawa ke kosannya Firza dan menginap di sana.


Tapi dia tidak menjawab melainkan terus mengajukan motornya hingga mendekati kosannya Jihan dan sudah terlihat mobilnya Excel yang terparkir, juga menurunkan Jihan da hadapan kosannya.


Yang kemudian motor Firza berhenti sekitar 15 meter dari mobilnya Excel berada. Dari jauh terlihat Jihan keluar dari mobil Excel sambil menjinjing berapa paper bag


"Apa kau tidak ingin mengucapkan terima kasih dulu padaku?" ucapnya Excel setelah berdiri di depannya Jihan.


"Oh terima kasih!" ucapnya Jihan pada Excel dengan datar.


Excel menyeringai penuh arti namun tidak diketahui dan tidak dimengerti oleh Jihan. "Oke aku pulang dulu. Lain kali kita jalan lagi ya!"


Jihan mengangguk pelan sambil berdiri menenteng paper bag. Lalu masuk ke dalam kosannya.


Setelahemastikan Jihan sudah masuk dan mobil Excel pun pergi dengan menggunakan jalan ke arah lain. Firza pun pergi dari area tersebut ....