Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Membuat ulah



Suatu hari, Alfandi di panggil oleh kepala sekolah putranya yang duduk di sekolah menengah. Mendapat panggilan itu, Al gegas keluar kantornya. Sembari menelpon sang istri kalau ada undangan dari sekolah.


^^^Vaula: "Papa saja yang datang. Aku sedang ada pemotretan, nanggung nih."^^^


^^^Al: "Tapi Mah, setiap ada undangan dari sekolah selalu aku yang datang. Aku juga sibuk, Mah kalau harus beralasan sibuk!"^^^


Vaula kembali berkata dengan ringannya seolah semua tidak masalah.


^^^Vaula: "Ya, sudah. Nggak usah datang saja, beres urusan."^^^


Al merasa kesal, dengan kata-dari sang istri yang menyepelekan sesuatu, langkahnya terhenti sejenak.


^^^Alfandi: "Mah, tidak bisa gitu dong ... ini menyangkut putra kita!"^^^


^^^Vaula: "Terus siapa yang bilang putra orang lain?"^^^


^^^Alfandi: "Mah?"^^^


Tut ... Tut ... Tut ... Tut ....


Sambungan telepon terputus. Alfandi akhirnya meneruskan kembali langkahnya menuju parkiran mobil dimana mobil dia terparkir cantik.


Mobil melaju dengan sangat cepat, pria tinggi dan tampan itu. Melepas pandangannya ke depan dengan sangat fokus. Dalam hatinya bertanya-tanya ada apa lagi? putra sulungnya berbuat ulah apa lagi sehingga orang tua murid di panggil lagi.


Tidak selang lama, mobil Al tiba di area sekolahan. Dia bergegas turun dari mobil memasuki gerbang sekolah.


Scurity di sana mengangguk hormat dan membukakan pintu gerbang yang kecil.


Langkah Al kian lebar dan netra nya tertuju ruang kepala sekolah.


"Met siang?" ucap Al sembari mengetuk pintu yang terbuka itu.


"Selamat siang, silakan masuk?" sambut ibu kepala sekolah dan menyilakan duduk.


"Makasih ya, Bu?" Al duduk di depan Bu kepala sekolah. "Saya merasa dag-dig-dug nih. Ada apa ya? penasaran."


"Begini, Tuan Alfandi. Saya mendapat pengaduan dari wali murid, kalau putra bapak membuat ulah lagi. Silakan ibu guru menjelaskan?" ucap ibu kepala sekolah melirik ke arah Bu guru yang menjadi wali murid putranya Alfandi.


"Begini. Putra Tuan membuat ulah lagi, dia merokok di dalam kelas dan mengajak temannya untuk merokok juga." Kata Bu guru nya Firza, memberi penjelasan.


Alfandi mengangguk-anggukan kepalanya. Ia merasa kesal dengan tingkah sang putra yang selalu membuat ulah, kemarin belum lama ini menonjok temannya. Sekarang sudah berbuat ulah lagi.


"Saya selaku orang tua meminta maaf dengan perilaku putra saya?" Al berucap dengan lirih.


Kemudian Firza di panggil kembali ke ruang kepala sekolah.


"Silakan duduk?" ucap ibu kepala.


Firza yang hanya diam melihat sang papa yang menatap tajam ke arahnya. Lantas ia duduk dengan kepala menunduk.


"Kenapa Firza selalu bikin Papa malu? Kalau Firza ingin menunjukan sesuatu, tunjukan hal-hal yang baik. Kepintaran, prestasi yang bagus! bukan kaya gini." Suara Alfandi jelas dan kena di hati. Tubuhnya sedikit menghadap ke arah putranya itu.


Firza terdiam sembari menunduk dalam tidak sepatah kata pun suara yang dia keluarkan.


"Papa kecewa sama kamu, Papa gak tau harus gimana lagi agar kamu mengerti omongan Papa ini." Alfandi berucap dengan lirih, dia tau dengan membentak atau marah-marah pun tidak ada gunanya.


"Saya harap, Firza bisa merubah sikap menjadi lebih baik lagi." Harap ibu kepala.


"Saya pun berharap, Firza bisa menghargai gurunya bila sedang memberi pelajaran." Tambah ibu gurunya Firza.


Tatapan Alfandi kembali ke arah sang putra yang tetap menunduk. "Apa yang ingin kamu banggakan hem? apa?" Dengan tetap lirih.


"Kami takut kalau sikap Firza ke depannya akan lebih brutal atau liar, sebenarnya Firza ini adalah anak yang sopan, pintar dan rajin. Tapi entah kenapa makin ke sini sikapnya berubah dan hasil belajar pun terus menurun." Tambah ibu gurunya.


"Kami harap bantuannya dari orang tua murid." Timpal ibu kepala sekolah.


"Iya, insya'Allah. Baiklah, saya akan pulang dulu. Permisi?" Alfandi beranjak.


"Terima kasih, Tuan atas perhatiannya!" mereka berjabat tangan.


"Iya, Tuan. Kami juga meminta maaf yang sebesar-besarnya belum mampu mengarahkan putra anda." Balas ibu kepala sekolah.


"Baiklah, Firza ayo minta maaf sama ibu guru?" pinta Alfandi pada sang putra.


Dengan malasnya Firza beranjak dan meraih tangan guru-guru di sana tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Baiklah, kami permisi dulu, Assalamu'alaikum ...."


"Wa'alaikumus salam ...."


Alfandi menggiring putranya keluar dari ruang kepala sekolah. Berjalan menuju mobil Alfandi yang terparkir di luar gerbang sekolah.


Lantas Alfandi membukakan pintu buat putranya yang menyoren tas punggung. Anak yang masih ABG itu memiliki wajah tampan berkulit bersih seperti papanya.


Memakai seragam putih biru panjang dan mengenakan jaket berwarna biru abu, hanya menuruti perintah dari sang ayah.


Alfandi menyetir dengan hati yang tidak karuan, sebenarnya ingin marah semarah-marahnya. Namun ia tetap tahan sebab dengan marah sepertinya tidak akan menyelesaikan masalah.


Kepala Alfandi sekilas menoleh ke arah Firza, seraya bertanya. "Buat apa kamu merokok?"


Anak itu bungkam seribu basa. Hanya memandang kosong ke depan.


"Jawab? Papa. Untuk apa kamu merokok apalagi mengajak-ngajak orang lain?" ulang Alfandi kini lebih tegas.


"Tidak untuk apa-apa, pengen saja." Pada akhirnya Firza menjawab dengan malasnya.


Alfandi mengangguk. "Pengen! apa pernah melihat Papa merokok, atau semacamnya?"


"Jangan samakan Firza sama Papa, Papa sudah matang dan aku masih masa-masa mencari jati diri." Firza menoleh pada sang ayah dia tidak suka di samakan.


"Papa bukan menyamakan, kalau kamu mencari jati diri. Pada hal-hal yang positif bukan ke hal-hal yang negatif. Banyak yang bisa kamu lakukan, sesuatu yang baik. Sesuatu yang bermanfaat." Sambung Alfandi.


Firza tidak menjawab lagi. Dia kembali menatap kosong ke depan.


"Mana tas nya? Papa pinjem?" Alfandi meminta tas Firza.


Sementara Firza hanya menatap tanpa ekspresi ke arah sang ayah yang asyik menyetir. Namun pada akhirnya ia melepas tas dari punggungnya. Lalu memberikan pada Alfandi.


Tangan Alfandi meraih dan dengan satu tangannya, Alfandi berusaha membuka tas tersebut. Ia mengeluarkan semua isinya sampai ia temukan sebungkus sempurna milk. Manik matanya melirik ke arah Firza yang tampak cemas.


Alfandi mengambil dan kebetulan sekali mobil itu melintasi tong sampah. Tidak segan-segan Alfandi melempar sebungkus rokok tersebut yang masih banyak isinya itu.


"Sekalipun Papa buang, aku bisa beli lagi," suara Firza dengan angkuhnya.


"Firza, dengerin Papa! banyak kegiatan yang akan membentuk jati diri Firza. Misalnya olah raga dan banyak kegiatan lainnya yang bermanfaat. Terus kegiatan apa yang Firza suka? Papa akan dukung!"


"Aku gak suka apapun." Dengan nada dingin.


"Katanya mau cari jati diri? tapi gitu, gimana sih?" sambung Alfandi seraya menggeleng.


"Pokonya aku tidak suka apapun!" suara Firza sedikit meninggi.


"Kalau Firza mau melakukan sesuatu yang bermanfaat! Papa pasti akan dukung, tapi bukan hal-hal yang sebaliknya. Papa bisa marah juga." Tambah Alfandi.


Firza tidak menjawab lagi, dia hanya menatap kosong keluar jendela.


Setibanya di sebuah rumah mewah tersebut. Mobil memasuki halaman dan Firza turun duluan.


Bugh!


Suara pintu mobil yang Firza banting. Hatinya dongkol, suasana jiwanya marah. Berontak namun entah karena apa?


Kepala Alfandi lagi-lagi menggeleng melihat putra sulungnya yang seperti itu, lalu bergegas berjalan memasuki rumah dengan melintasi pintu utama yang di sambut oleh wanita paruh baya, mengangguk hormat ....


.


...Bersambung!...