
"Mimy? kamu itu ngomong apa sih?" Sukma meneguk minumnya untuk menghilangkan rasa gatal yang mendadak itu.
Begitupun dengan Alfandi, dia terus meneguk minumnya sampai habis satu kelas lebih.
Mimy bengong sambil senyum-senyum ke arah Sukma dan Alfandi yang berbarengan batuk-batuk. "Kalian kenapa bisa batuk berjamaah begitu," tanya Mimy tanpa merasa berdosa.
"Kak Mimy biasa aja, Papa iri. kalau iri kan tinggal minta saja sama Tante, minta disuapin gitu." Jawab Fikri sambil melirik kepada sang ayah.
Selesai sarapan, Alfandi langsung pamitan untuk pulang bersama putra bungsunya, Fikri.
Sementara, jemputan Jihan dan Marwan pun sudah datang. Yaitu sopir kantor yang Alfandi tugaskan untuk antar jemput kedua anak itu.
Dan sekalian saja Sukma juga Mimy ikut mobil yang ditumpangi oleh Jihan dan Marwan.
"Aduh, Tante ... sebentar lagi akan punya anak tiri," sinis Mimy pada Sukma, namun dibarengi dengan senyuman yang menyeringai.
"Apaan sih ... jangan begitu? nanti di dengar orang gak enak, kan? sedikitpun gue gak kepikiran tuh menjadi istri Om-Om yang sudah punya anak dan istri!" Sukma menggelengkan kepalanya seraya tersenyum.
"Iya sih ... nggak ada niat. Tetapi kalau takdir menentukan seperti itu! gimana hayo? tidak bisa di tolak juga, kalau gue sih ... ya terima saja! sayang, kan ... kesempatan nggak akan datang dua kali," timpalnya Mimy.
"Kalian ini ngomongin apa sih?" tanya Jihan sambil melirik pada sang kakak dan Mimy.
"Entah nih, ribut!" celetuknya Marwan.
Di tengah perjalanan Sukma dan Mimy pun turun. Walaupun masih harus berjalan kaki berapa kilometer untuk ke tempat tujuan.
Mimy melirik Sukma yang sambil berjalan, senyum-senyum sendiri.
"Hei, kenapa senyum-senyum sendiri? kesambet lu?" tanya Mimy sambil menepuk bahunya Sukma.
"Ha? Enggak kenapa-napa!" jawabnya Sukma sambil mengedarkan pandangan ke lain arah, dengan bibir tetap tersenyum merekah.
"Cerita dong ... jangan bikin gue penasaran! bagi-bagi kek," pinta Mimy sambil berjalan di depan Sukma.
"Emang lu mau tahu?" tanya Sukma dengan tetap tersenyum.
"Mau dong, mau tahu ceritanya dong ... jangan disimpan sendiri kebahagiaannya?" tambahnya Mimy.
"Nggak, ini cuma masalah sedikit saja, dengar candaan nya 0ak Alfandi sama gue," ucapnya sambil menundukkan pandangannya ke arah jalan yang dia lewati.
"Candaan apa? emangnya?" Mimy tambah penasaran.
"Ya ... cuma bercanda sih, dia bilang ke gue, istri muda--"
"Lu, istri muda dia? gitu maksudnya?" Mimy mengerutkan keningnya.
Sukma menggelengkan kepalanya sembari berkata. "he'em."
"Waah ... jangan-jangan memang dia itu sengaja deketin lu, tapi kalau buat nikahin sih nggak apa-apa, biarpun menikah sirih yang penting kamu dapat semuanya, jangan sampai lu cuma dia emek-emek saja. Tanda kutip simpanan Om-om kesepian gitu," sambung Mimy.
"Iih ... amit-amit kalau cuman di digituin! di mana harga diri gue?kalau sampai seperti itu, amit-amit sekalipun aku banyak hutang sama dia! ogah gue kalau cuma di digituin tanpa ikatan." Sukma menggeleng dan bergidik geli.
"Nah gitu? sekalian aja lu minta diikat, biar jelas dia ngebiayain lu. Dan lu tinggal timbal balik diri lu sama dia, tentunya terkurung dalam ikatan pernikahan." Timpal Mimy.
"Sudah sampai, masuk yu? kita mulai bekerja obrolannya sampai di sini dulu. Nanti kedengaran orang, nggak enak. Apalagi kan di sini orang-orang pada mengenal beliau," pintanya Sukma kepada Mimy.
Mimy pun mengangguk setuju. "Oke."
Keduanya langsung saja menjalankan tugasnya masing-masing, dengan semangat 45 untuk menghasilkan uang yang sebentar lagi akan gajian.
Namun pada suatu hari. Marwan demam tinggi bahkan dibarengi dengan muntaber,
membuat Sukma panik.
Setelah dua hari panasnya Marwan yang tidak kunjung turun, membuat Sukma buat keputusan bahwa dia akan membawa Marwan ke rumah sakit.
Ketika Sukma kebingungan, dengan cara apa membawa Marwan ke rumah sakit? datanglah Alfandi, dia tau Marwan sakit dari supir kantornya yang cerita kalau Marwan sakit dan tidak masuk sekolah.
"Kita bawa ke Rumah sakit terdekat saja," ucap Alfandi sambil menggendong Marwan di bawanya ke dalam mobil yang dibukakan oleh Mimy.
Setelah itu, Sukma dan Mimy pun ikut masuk. Duduk bersama Marwan yang tampak lemah dan pucat itu.
"Jihan tunggu di rumah saja ya? nanti juga kak Mimy akan pulang." Sukma melihat ke arah Jihan yang berdiri tidak jauh dari mobil Alfandi.
"Iya Kak!" Jihan menatap cemas ke arah Marwan.
Mobil Alfandi pun segera melaju dengan cepat, biar segera sampai ke tempat yang menjadi tujuan.
"Dari kapan Marwan sakitnya?" tanya Alfandi sambil nyetir.
"Sudah dua hari, sakitnya!" sahut Sukma sambil memeluk kepala sang adik, Marwan.
"Kenapa baru sekarang di bawanya ke rumah sakit? berobat gak?" tanya kembali Alfandi dengan mata melirik ke arah Sukma dari kaca spion. Gadis itu tampak lesu sekali.
"Di kasih obat warung!" jawab Mimy menggantikan Sukma yang sibuk mengurus Marwan yang muntah-muntah kembali.
"Kenapa gak bilang saya? dari kemarin, bukan dibiarkan begini?" Alfandi tampak kesal.
"Aku pikir Marwan akan segera sembuh dengan obat warung, biasanya juga gak pernah begini." Sukma mengusap pipinya yang basah.
"Gimana mau bilang? kan gak punya ponsel, Sukma nya, Pak ... saya pun gak punya nomor bapak." Ungkap Mimy.
"Sekarang tau kan? gimana pentingnya mempunyai ponsel? kemarin saya mau belikan gak mau!" Alfandi berucap dengan nada sedikit marah.
Sukma terus saja mengusap air matanya yang terus berjatuhan. Sudah kalut, shock. Panik dan cemas, di tambah dengan omelan dari Alfandi terhadap dirinya.
"Pak, please jangan ngomel? kasihan Sukma." Mimy berkata pelan sambil melihat ke arah Alfandi dan Sukma bergantian.
Alfandi menghela nafas, menghembuskan nya dengan kasar. Berusaha mengontrol emosinya. "Beberapa hari, saya sibuk di luar kota. Ini juga saya baru pulang dan mendapat kabar dari supir kantor, kalau Marwan tidak masuk sekolah karena sakit."
"Berarti bapak belum pulang ke rumah ya?" Mimy malah bertanya begitu.
"Belum," singkat Alfandi.
Setibanya di rumah sakit, Marwan langsung di tangani oleh dokter. Dan Marwan di anjurkan untuk di rawat inap saja, tidak nanggung-nanggung. Dirawatnya pun di ruangan VIP, bikin Sukma dan Mimy melongo.
"Mimy ... gimana bayarnya? kamar ini semalam saja pasti mahal ..." suara Sukma pelan dan tampak cemas.
Mimy hanya menggoyang bahunya, tanda tidak tahu.
Marwan pun dirawat sampai beberapa hari di sana, Sukma dengan telaten menunggui dan merawat Marwan.
Membuat Sukma absen dari kerjaan, biarpun Marwan dirawatnya di rumah sakit tempat Sukma bekerja.
Tagihan rumah sakit pun mencapai 4,5 juta dalam berapa hari Marwan dirawat dan itu sudah di beri kebijakan, karena yang membawanya adalah salah satu orang penting di rumah sakit tersebut.
"Ya Allah ... aku bayarnya gimana? uang gaji ku saja nggak mencapai segitu!" liriknya Sukma sambil mendongak menatap langit-langit, dengan mata yang berkaca-kaca.
Tetapi pihak rumah sakit tidak dapat memberi keringanan kepada Sukma, nominal segitu harus dibayar hari ini juga barulah pasien bisa diajak pulang. Administrasi nggak bisa dilakukan bila uang tagihannya masih kurang.
Jelas, Sukma kelimpungan, biarpun Mimy pinjamkan satu juta. Tetap saja tidak bisa mencapai pada biaya tagihan rumah sakit.
Sukma menangis di pojokan, kebingungan harus kemana mencari pinjaman. Bahkan uang bulanan buat anak-anak sekolahnya dari Alfandi pun sudah menipis, tidak bisa mencukupi biarpun dia pakai untuk biaya rumah sakit sekalipun.
Dan bila Marwan tidak segera pulang, otomatis biaya pun akan semakin bertambah. Itu yang bikin Sukma merasa kacau balau.
"Ma ... itu Ibu kepala, memanggil mu?" suarakan Mimy memecah lamunan Sukma.
Sukma menoleh seraya mengusap wajahnya yang basah dengan air mata. "Ada apa ya, My? kira-kira!" suaranya lirih.
Mimy menggeleng. "Entah. Aku pun tidak tahu, yu aku antar ke sana nya?" ajaknya Mimy yang bersedia mengantar Sukma menemui Ibu kepala cleaning service.
Pada akhirnya Sukma pun berjalan, diikuti oleh Mimy ke ruangan ibu kepala cleaning service yang sudah menunggu.
"Selamat malam, Bu ... ada apa ya?" Sukma mengangguk hormat pada ibu kepala setelah berada di depan pintu, langkahnya yang terasa mengambang. Perasaannya nggak enak, dadanya dag-dig-dug tak menentu.
"Silakan masuk? Duduk!" ibu kepala menyilakan Sukma untuk masuk dan duduk di hadapannya.
"To the point saja ya? begini Sukma, karena kamu sudah lebih dari satu minggu tidak masuk kerja, jadi pihak rumah sakit memecat kamu dengan tidak hormat, sebab kami juga membutuhkan pekerja yang selalu on time, sedangkan dirimu beberapa hari ini zong. Tidak masuk sama sekali," ujar ibu kepala.
Sukma kaget bukan main, shock. Seakan tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Gara-gara sekitar
seminggu lebih gak masuk kerja! dia kehilangan kerjaan untuk selamanya.
"Tapi. Bu, saya gak masuk kerja karena ada alasannya. Adik saya sakit bahkan di rawatnya pun di rumah sakit ini, Bu. Dan saya sudah membuat laporan, Bu. Bukan tanpa laporan sama sekali." Belanya Sukma yang tidak terima dengan sikap ibu kepala.
"Iya, Bu. Sukma sudah bikin laporan, kalau adiknya sakit, masa sih gak kebijakan? kalau saja adiknya nggak sakit, nggak mungkin juga Sukma gak masuk kerja." Mimy pun membela Sukma yang memang menurut dia benar.
"Maaf, ini sudah menjadi keputusan rumah sakit, memang seperti itu sistemnya. Dan saya tidak bisa apa-apa," kata ibu kepala. "Silakan kalian keluar?"
Sukma mematung dan menangis di tempat tersebut, sungguh dia tidak pernah menyangka akan terjadi seperti ini. Sudah dapat musibah dengan cara adiknya sakit, pekerjaan ikutan pun hilang.
"Bu? saya mohon, Bu. Jangan pecat saya? saya membutuhkan pekerjaan itu, Bu?" Sukma mohon-mohon kepada ibu kepala.
"Maaf, saya tidak bisa apa-apa ataupun membantu mu! karena ini sudah kebijakan rumah sakit." Kata ibu kepala tersebut.
Sukma menghela nafas panjang sambil menghapus air mata di pipinya dengan kasar, lalu menoleh pada Mimy. Menatapnya dengan tatapan kosong, membuat Mimy terenyuh dan merasa kasihan pada sahabatnya itu.
"Ayo, Ma ... kita pergi dari sini?" Mimy merangkul bahunya Sukma, diajaknya pergi dari tempat tersebut.
Langkah Sukma yang berasa mengembang tersebut, terus diayunkan ke ruangan VIP tempatnya Marwan dirawat. Kemudian Sukma duduk termenung di sofa yang ada di sana.
"Kak Mimy, kak Sukma kenapa?" tanya Marwan dengan suara lemahnya menatap sang kakak yang tampak shock.
"Kak Sukma dipecat dari kerjaan, gara-gara nggak masuk satu minggu lebih," jawabnya Mimy yang menoleh ke arah Marwan.
"Dipecat Kak? beneran dipecat?" tanya Marwan seolah tidak percaya dengan omongan Mimy barusan.
"Iya, bener dipecat. Gara-gara nggak masuk kerja selama itu, gara-gara dia menemui kamu di sini," sahutnya Mimy dengan nada sedih.
"Ya, ampun ... Kak, maafin aku ya Kak? gara-gara aku, Kakak di pecat, gara-gara Kakak jagain aku yang sakit, Kakak jadi--"
"Nggak pa-pa Marwan, soal kerjaan! Kakak bisa nyari lagi di tempat lain, jangan khawatir! yang penting ... sekarang kamu sehat dan segera bisa pulang," Sukma menghampiri Marwan dan memotong perkataannya.
"Terus kapan aku bisa pulang Kak?" tanya lagi Marwan.
"Insya Allah, besok kita pulang." Sukma memeluk adiknya itu dengan penuh kasih sayang, biarlah dia kehilangan kerjaan yang penting adiknya sembuh.
"Tetapi, Kak? bagaimana Kakak bisa mendapatkan uang? kalau Kakak sudah kehilangan pekerjaan?" Marwan tampak sedih.
"Sudah, kamu jangan memikirkan pekerjaan Kakak, Kakak bisa nyari lagi pekerjaan lain, sekarang kamu fokus saja dengan kesehatan mu itu ya? dan doa kan supaya Kakak dapat kerjaan dengan cepat." Lirihnya Sukma sambil mengusap punggung Marwan.
Marwan pun mengangguk walau dalam hatinya merasa sedih. Gara-gara dia dirawat di rumah sakit, kakaknya kehilangan pekerjaan! padahal mencari kerjaan itu tidak gampang.
Mimy menetap haru pada kedua adik dan kakak tersebut, ia pun turut menghampiri dan memeluk keduanya. "Yang sabar ya? aku yakin kok, kau akan dapat pekerjaan lagi, yang penting sekarang ... Marwan sembuh dulu ya, Ma?"
"Terima kasih ya, My? kau selalu ada buat aku, My." Ucap Sukma kepada sahabatnya, Mimy.
Di ruang administrasi, Alfandi sedang berada di sana dan mengurus administrasi pembayaran Marwan, selama rawat inap di rumah sakit tersebut.
"Surat tanda lunasnya Pak? terima kasih atas pelunasannya!" ungkap seorang wanita yang mengurus masalah administrasi.
"Iya sama-sama, dan biarkan saya membawa pasien untuk pulang saat ini juga," ucap Alfandi sambil belanjakan untuk pergi.
"Ya silakan, Pak? dan semoga pasien, ade Marwan cepat pulih dengan sempurna," ucap kembali wanita tersebut sambil menganggukkan kepalanya serta bersikap hormat kepada Alfandi.
Alfandi mengundur diri setelah berjabat tangan dengan wanita tersebut. Kemudian membawa langkahnya ke kamar Marwan.
Di sana ada Mimy dan Sukma yang sedang memberikan obat pada pasien. Yaitu sang adik, Marwan.
"Gimana? mau pulang sekarang atau besok?" tanya Alfandi sambil menghampiri Sukma.
Sukma berbalik dan hampir tabrakan dengan tubuh Alfandi yang terlalu dekat padanya. Sontak Sukma mundur dan yang ada malah tubuh Sukma oleng ke belakang. "Eeh."
"Oo!" untung saja tangan kekar Alfandi dengan gesit menangkap pinggang Sukma sehingga Sukma jatuh ke dalam pelukan Alfandi.
Keduanya sama-sama terkesiap, bikin dada dag-dig-dug, jantung berdegup begitu kencang seakan ingin melompat dari tempatnya.
Sejenak mereka saling bersitatap begitu dekat. Apalagi tubuh keduanya begitu menempel. Kedua tangan Sukma memegangi lengan Alfandi.
"Ehem-ehem!" Mimy berdehem sambil memandangi ke arah Sukma dan Alfandi yang begitu tampak mesra.
Dengan refleks keduanya saling menjauh dan melepaskan tangan masing-masing. Terlihat jelas Sukma dan Alfandi salah tingkah.
"Hati-hati, Kak?" ucap Marwan.
"Em ... Marwan, sudah bisa pulang. Mau sekarang atau ... besok?" Alfandi berusaha menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya.
"Beneran, Om? aku bisa pulang sekarang?" tanya Marwan meyakinkan dirinya.
"Iya, bisa dong ... karena administrasinya sudah, Om bayar dan sudah lunas." Kata Alfandi sambil tersenyum pada Marwan.
"Wah ... Om sangat baik banget, terima kasih ya, Om?" Marwan memeluk apanya dengan sangat erat dia bahagia, karena Alfandi selalu ada di setiap kesusahan yang menimpa kakaknya.
Sukma yang yang kini terduduk di sofa bersama Mimy. Belum bisa menetralkan perasaan, dadanya yang terus berdebar. Jantung yang terus berdegup dengan kencang. Membuat dia tertunduk dalam melihat lantai sambil mendengarkan obrolan Alfandi dan Marwan.
Lagi-lagi, Sukma dibuat terikat dengan kebaikan Alfandi pada keluarganya ....
.
.
...Bersambung!...