
Lalu kepala Sukma pun mengangguk pelan. "Baiklah, akan aku bikinkan. Dan sebaiknya kau duduk di sana saja, sambil istirahat." Sukma menunjuk ke arah tempat tadi Alfandi duduk.
"Tidak mau. Aku ingin di sini saja, melihat istriku sedang memasak," ucapnya Alfandi sambil tersenyum tipis pada Sukma yang sedang menyiapkan perbawangan.
Sukma tersenyum simpul dan tampak malu-malu. "Justru kalau akunya diliatin jadi grogi, sudah sana pergi?" tangan Sukma sedikit mendorong bahu Alfandi supaya pergi dari sana.
Namun Alfandi kekeh berdiri di sana yang hanya berjarak lima langkah saja itu dari sukma.
Lalu Sukma mengerjakan tugasnya sambil menunduk, tidak mau melihat ke arah Alfandi yang terus memperhatikan ke arah dirinya.
"Gimana jawabannya? bisa nggak jangan lama-lama gitu mikirnya?" tanya Affandi tampak serius.
Sukma tertegun sesaat. Lalu menghela nafas lantas menoleh ke arah Affandi. "Aku ... aku butuh waktu untuk memikirkannya, apalagi anda mempunyai istri dan anak! bagi aku sih soal aku nggak jadi masalah! justru statusmu yang mempunyai istri itu yang mengharuskan Aku siap dengan konsekuensinya," lagi-lagi Sukma hembuskan napas dengan kasar.
"Ya sudah, lain kali kita bicarakan lagi soal ini di tempat yang lebih tepat, sekarang aku pengen sarapan dulu. Setelah itu aku pulang dan mau berobat," ungkap Alfandi sambil ngeloyor ke tempat dia duduk semula.
Sukma menatap punggung pria itu dengan tatapan yang dia sendiri pun bingung untuk menafsirkannya.
Nasi goreng permintaan Alfandi pun sudah siap dan Sukma segera memberikannya pada Alfandi.
"Ini nasi gorengnya sudah siap ... silahkan sarapan?" Sukma menunjukan senyumnya pada Alfandi yang sudah menunggu sarapannya itu.
Alfandi celingukan ke kanan-kiri seraya berkata. "Terima kasih istri ku.
"Apaan sih?" Sukma tersipu malu.
Kemudian, Sukma menyiapkan sarapan buat sang adik yang mau berangkat sekolah dan sebentar lagi akan datang jemputan.
"Ooh iya, anak-anak sekarang sudah mulai hapal jalan, dan bisa naik angkot sendiri. Jadi nggak perlu repot-repot ada jemput lagi dari kantor," ucap Sukma yang di tujukan pada Alfandi yang sedang asyik menikmati makannya.
"Iya, nanti naik angkot saja bila rumahnya sudah pindah," sahutnya Alfandi setelah menelan makanan yang berada di mulutnya itu.
Sukma terkesiap. "Pindah kemana? disini sudah enak kok! lagian kalau pindah ke kontrakan yang lebih besar atau maju ke kota, otomatis bayarnya juga lebih mahal, di sini saja aku kelabakan dibantu terus," Sukma mengungkapkan pemikirannya.
"Nggak usah khawatir, soal rumah yang baru! saya sudah menyiapkannya dari lama. jadi atau gak jadi kau menjadi istri saya. Kau tetap akan mendapatkannya. Itu janji saya." Alfandi tampak tidak main-main dengan ucapannya.
Dan Sukma merasa diingatkan bahwa hari ini Ibu kos akan datang untuk menagih sewaan bulan ini. Insya Allah ada uangnya dari gajian kemarin, yang tadinya buat bayar rumah sakit bekas Marwan di rawat.
Kebetulan, kan semuanya sudah di lunasi oleh Alfandi. Sehingga uang itu bisa Sukma bawa pulang.
"Memikirkan apa?" selidik Alfandi ketika melihat Sukma melamun.
Sukma menoleh seraya menggelengkan kepalanya. "Ooh, tidak apa-apa oh ya semalam kan kau pulang? kenapa tiba-tiba subuh-subuh sudah berada di sini?" Sukma masih merasa heran dengan pertanyaan itu belum juga terjawab kan.
"Entah, mungkin karena kangen kali," jawaban Alfandi begitu datar. dan membuat Sukma semakin dibuat heran.
Jihan dan Marwan duduk di hadapan Alfandi dan bersiap sarapan, sementara Sukma beranjak dari duduknya. Untuk bersih-bersih.
Setelah sarapannya selesai, Alfandi berpamitan untuk pulang segera, karena dia mau berobat. Katanya mau mampir ke dokter.
"Pak mau ditemenin nggak? kali saja mau ditemenin sama Sukma gitu, ke dokternya?" tanya Mimy sambil tersenyum ke arah Alfandi.
Alfandi beralih menetap ke arah Sukma yang menunduk. Seraya berkata nggak. "Nggak usah, saya bisa sendiri, oh iya. Makasih atas sarapannya? atas tehnya? saya mau pulang dulu. Assalamualaikum?
"Wa'alaikumus salam ..." jawab yang lain dengan serempak.
"Ooh iya, anak-anak yang rajin belajarnya ya? jangan nakal juga! kasihan kakaknya," kata Alfandi yang ditujukan pada Jihan dan Marwan.
Lalu Alfandi melirik ke arah Sukma yang kebetulan juga melihat ke arah dirinya dan pertemuan mata pun terjadi sesaat terkunci.
"Kami pasti semangat dalam belajar," jawabnya Jihan dan Marwan mengangguk.
Alfandi berjalan dengan gontai mendekati mobilnya, kepalanya memang masih terasa pusing, badan nggak enak dan berasa menggigil.
Mungkin karena hasrat yang tidak disalurkan? membuatnya demam atau mungkin memang sudah waktunya dia diserang penyakit.
"Aah dasar ... ada-ada saja harus demam segala?" gumamnya Alfandi sambil memutar kemudinya untuk menuju tempat kawannya yang seorang dokter.
Tidak lama di perjalanan. Alfandi sudah sampai di depan sebuah rumah yang sederhana namun asri. Alfandi membawa langkahnya masuk yang langsung di sambut oleh sahabatnya itu, seorang dokter perempuan nan cantik.
"Tumben pagi-pagi sudah ke sini? ada angin apa nih?" sapa sahabatnya itu yang bernama dokter Miranda.
"Iya nih, kangen sudah lama nggak ketemu." Jawabnya Alfandi sambil mendudukkan dirinya di sofa.
"Ciee ... kangen? kemana aja selama ini? baru bilang kangen sekarang!" timpal dokter Miranda. "Apa sibuk?"
"Ada lah, sibuk!" jawabnya Alfandi sambil mengedarkan pandangan ke ruangan tersebut.
"Ngomong-ngomong, kamu sakit apa?" tanya Miranda sambil mengambil alat kerjanya.
"Mana saya tahu? kalau saya tahu nggak mungkin saya ke sini!" jawabnya Alfandi menyunggingkan bibirnya. "Ngapain saya ke dokter kalau bisa ngobatin diri sendiri?"
"Aah ... sialan lu, ngomong selalu bener." Miranda menganggukkan kepalanya sambil mesem.
"Suaminya ke mana?" tanya Alfandi sembari celingukan.
"Ada, sedang sarapan di dalam! sarapan sana?" sahut Miranda menunjuk ke arah dapur.
"Sudah, ayo buruan lah periksa saya dan minta obatnya yang bagus," pinta Alfandi pada Miranda.
"Iih, maksa-maksa! berani bayar berapa lu?" kata Miranda kembali.
"Emang mau dibayarin berapa Bu dokter?" tanya Affandi sambil bercanda.
"Lah sama kamu sih ... nggak usah bayar lah, gratis! asalkan temani aku semalaman. Hi hi hi ..." Miranda terkekeh.
"Nemenin apa, Bu? karaokean? suami ingat suami, jangan ditinggalin. Kasihan nanti cari madu lain baru tahu rasa nih. Ha ha ha ...."
Selanjutnya Alfandi diperiksa oleh dokter Miranda. Dan setelah melalui prosesnya.
Miranda memberi resep obat yang kebetulan ada di dirinya. "Alah ... manja! cuman demam begini juga, kurang belaian ini mah."
"Ha? bisa saja ngomong nya?" Alfandi senyum tipis. Kemudian berpamitan.
Namun sebelum Alfandi pergi, suami dokter Miranda menghampiri seraya berkata. "Hi, kemana saja baru lihat nih? punya yang baru apa?"
"Ha? yang baru apaan nih? gak jelas banget," kepala Alfandi menggeleng sembari menyambut tangan Azad.
Azad ini adalah seorang dosen di salah satu universitas. Dan dia sumi dari dokter Miranda sahabat nya Alfandi.
"Sakit apa nih?" tanya Azad.
Alfandi menunjuk pada obat yang di tangan. "Sakit meriang."
"Sayang, kayanya sahabat mu ini kurang belaian sehingga meriang seperti itu," Azad melirik pada sang istri.
"Mungkin. Kayanya seperti itu say." Miranda mengangguk.
"Akh kalian sok tahu." Alfandi kemudian berlalu gegas memasuki mobilnya yang terparkir cantik di depan.
"Dah ... hati-hati ya sehabis ini minta di belai lah. Pasti deh cepat sembuh di jamin alami." Teriak Azad sambil mengangkat tangannya di udara.
Alfandi hanya membalas dengan lambaian tangan sebelum melajukan mobilnya.
"Lho, Papa dari mana?" tanya Fikri menatap heran papanya yang menenteng sebuah kantong.
"Oh, ini Papa dari dokter." Alfandi menunjukan yang dia bawa itu.
"Papa sakit apa?" tanya anak itu kembali. Sementara Firza hanya menatap datar sang ayah.
"Papa cuma sakit demam saja!" jawabnya Alfandi sembari menyuruh bibi untuk mengambilkan air minun untuk minum obat.
"Tuan, belum sarapan! Bibi siapkan makan dulu ya, Tuan?" ucap bibi sambil menyodorkan segelas air minum yang Alfandi minta.
"Nggak usah, Bi. Saya sudah sarapan." Alfandi menggeleng.
Bibi hanya menatap ke arah sang majikan.
"Ya sudah, kami pergi dulu sekolah." Firza pamitan pada Alfandi seraya mencium tangannya.
"Fikri juga, papa cepat sembuh ya?" Fikri memeluk sang ayah sekilas.
"Ya, hati-hati ya? belajar yang rajin." Pesan Alfandi pada kedua putranya itu.
Yang langsung mendapatkan anggukan dari kedua putranya. Meraka akan di antar ke sekolah oleh supir.
Setelah meminum obat. Alfandi langsung menaiki anak tangga untuk ke kamar pribadinya bersama sang istri.
Beberapa langkah dan berada di tengah-tengah tangga. Alfandi berbalik turun kembali mengambil obat yang dia tinggalkan di meja.
Dengan langkah yang lebar, Alfandi kembali berjalan menuju kamarnya tersebut. Blak! pintu terbuka dan pandangannya menyisir ke seluruh ruangan yang tampak sepi.
"Huuh ..." Alfandi mengembuskan nafasnya. Dengan kasar, menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur sejenak sebelum mandi dan pergi ke kantor.
Tidak lama berbaring. Alfandi langsung memasuki kamar mandi untuk bersih-bersih. Walau gak enak badan, Alfandi memutuskan pergi ke kantor.
Apalagi hari ini Alfandi mau melunasi rumah yang akan di berikan pada Sukma dan adik-adiknya. Mau tidak Sukma menjadi istrinya rumah itu akan tetap di berikan.
"Tuan, apa tidak sebaiknya istirahat di rumah, bukankah Tuan sedang sakit?" bibi menatap ke arah Alfandi yang sudah bersiap memasuki mobilnya itu.
"Saya harus ke kantor, Bi. Nanti kalau anak-anak nanyain bilang saja saja gak kenapa-napa. Dan saya bawa obatnya kok!" Alfandi mengancingkan lengan bajunya.
"Apa tuan gak pulang, sehingga membawa obat?" selidik bibi merasa heran.
Alfandi mengulas senyumnya. "Buat siang. Sebelum saya pulang ke rumah."
Lanjut Alfandi menghidupkan kembali mobilnya. Lantas melaju dengan sangat cepat menuju kantor notaris. Sekalian mau balik namakan rumah tersebut dengan nama Sukma.
...---...
Suatu hari Sukma sedang berjalan untuk mencari pekerjaan baru setelah kehilangan di rumah sakit. Sudah beberapa hari ini ia berkeliaran mencari kerjaan namun belum juga mendapatkan yang ada sudah beberapa perusahan dan rumah sakit mengusirnya.
"Nasib gue gini amat sih? mencari kerja susah. Masa gue mau jadi pengangguran? ngandelin uang dari pak Alfandi, itukan buat biasa harian anak-anak sekolah. Bukan buat makan!" keluh Sukma sambil berjalan gontai.
Sukma merogoh tas nya. Mengambil dompet untuk mengecek isi nya, sisa belanja sayuran dan membayar kontrakan untuk bulan ini pada ibu kos.
"Satu, dua. Tinggal 1300 lagi, cukup gak ya buat sebulan ke depan? untuk makan sehari-hari." Sukma masukan kembali ke dalam tasnya. Berjalan menyusuri jalanan sambil melihat-lihat kali saja ada pengumuman lowongan kerja.
Tiba-tiba bret! tasnya ada yang jambret. Sukma berteriak. "Jambret? tolong ... itu jambret! Tolong ...."
Sukma terus berteriak sambil berlari mengejar jambret tersebut yang begitu kencang larinya. Namun Sukma terus berlari mengejar orang tersebut.
Orang-orang yang ada di jalan hanya melirik tanpa berinisiatif membantu atau apa?
"Tolong ... itu jambret kembalikan tas saya? he ...."
Sukma terus berlari sambil manik matanya terus mengawasi orang yang tadi menjambret tasnya.
Tak ayal Sukma pun berkali-kali hampir menabrak orang atau dagangan yang berada di depannya. Sukma menangis di dalam hati. "Kok Nggak ada orang satu pun yang care sih sama gue?"
Setelah beberapa puluh meter Sukma berlari mengejar orang tersebut. Sukma menyerah juga lagian orang sudah tidak terlihat lagi bayang-bayang nya. Sehingga Sukma berhenti dan berjongkok dengan nafas yang ngos-ngosan.
Akibat capek, mana haus uang raib, di saku tak ada uang satu perak pun. "Huuh ... ya Allah ... kenapa nasib ku begini?" suara serak Sukma pelan tenggorokannya terasa kering dan sakit.
Menoleh ke samping sebelah kiri, manik matanya menemukan tasnya tergeletak namun rusak hingga tidak layak pake lagi.
Sukma dengan cepat mengambilnya dengan harapan masih ada isinya. Benar saja dompetnya masih ada!
"Alhamdulillah ... ya Allah ..." Sukma mendongak ke langit-langit seraya bersyukur kalau dompetnya sudah kembali.
Namun ketika di buka! yang ada cuma kartu tanda pengenal saja, dan uangnya raib tidak tersisa seribu rupiah pun, bikin hati Sukma kembali mencelos air mata tidak bisa di bendung lagi.
Sukma menangis sejadi-jadinya, dadanya yang begitu sesak sangat menyiksa, kesal. Marah, uang yang ia cadangkan cukup untuk satu bulan dalam seketika ludes.
"Ya Allah ... uang ku hilang," gumamnya Sukma sambil tersedu.
"Neng kenapa? menangis," tanya orang-orang di sana yang mulai menghampiri Sukma mengerubungi.
Sukma tetap menangis tanpa menjawab, dia sesenggukan menyembunyikan wajahnya di atas lutut.
Tuttttt ....
Tuttttt ....
Tuttttt ....
Suara klakson mobil berbunyi tidak jauh Sukma berjongkok dan di kelilingi orang-orang.
Rupanya Alfandi kebetulan lewat jalan daerah sana setelah dari lapangan. Alfandi bergegas turun dan mendekati Sukma.
"Permisi-permisi, permisi? saya mau lewat." Alfandi menyeruak diantara orang-orang yang riuh dan ramai, yang gak jelas bicara apa?
"Sukma, kau kenapa di sini?" Alfandi menatap heran sambil berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Sukma.
Sukma mengangkat wajahnya yang banjir dengan air mata, meratapi nasib nya yang sudah kehilangan uang.
"Pak Alfandi?" Gumamnya Sukma dengan penglihatan yang remang-remang karena maniknya penuh air mata.
"Iya saya! kenapa kau berada di sini? bukannya bekerja?" Alfandi belum mengetahui kalau sebenarnya Sukma sudah tidak bekerja lagi di rumah sakit.
"Sa-saya, dom-dompet di jambret orang, dan uangnya raib semua! hik-hik-hik." suara Sukma terbata-bata seraya menunjukkan dompetnya yang tinggal berisi KTP. Dan tasnya yang rusak.
Alfandi mengembuskan nafasnya, merasa terenyuh dengan keadaan Sukma yang seperti itu. Kemudian tangan Alfandi mengangkat bahu Sukma supaya berdiri dan membawanya ke mobil.
"Anda siapa nya gadis ini?" tanya orang-orang di sana, menatap heran pada Alfandi yang mengajak Sukma pergi.
"Dia calon istri saya! permisi?" Alfandi terus merangkul bahu Sukma diajak ke dalam mobil.
Mereka pun memberi jalan untuk Alfandi dan Sukma. detik kemudian Alfandi melarikan mobilnya setelah Sukma berada duduk di sampingnya. Tangannya yang satu memberikan kotak tisu pada Sukma ....
.
.
...Bersambung!...