Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Service yang cukup



"Firza? kau dari mana? jangan bilang kau baru pulang dari sejak sekolah?" suara Alfandi begitu tegas sehingga menghentikan langkahnya Firza.


"Pah, A-aku."biar dia tampak panik dan bicaranya gelagapan dia tidak menyangka kalau papanya akan keburu pulang.


"Bi jawab? apa Firza baru pulang dari sekolah tadi?" tanyanya Alfandi pada bibi.


Bibi pun panik dia hanya melihat ke arah Firza yang tampak kebingungan harus menjawab apa? kerena memang benar, kalau dia baru pulang saat ini ke rumah. Setalah sekolah dia ikutan belajar musik lalu menongkrong di mall.


"Saya harap, Bibi bisa jawab? apa Firza baru pulang sekolah sekarang ini? sedari pagi?" tanya kembali Alfandi menatap lekat pada bibi dengan nada agak tinggi.


"I-iya, Tuan. Den Firza baru pulang sekarang ini," Bibi menunduk dalam, dia marasa bingung! bohong salah. Jujur juga gak enak hati?


Fikri yang berdiri dekat sang ayah hanya tertegun melihat kakaknya dan sang ayah bergantian.


Alfandi mendekati ke arah Virza di mana dia mandiri, tertegun atau diam seribu kata. "Apa kau mengikuti pelajaran kurikulum? dan juga belajar musik?" tanya Alfandi menatap lekat ke arah putra sulungnya tersebut.


Dan Firza hanya mengganggu pelan, merespon pertanyaannya dari sang ayah.


Alfandi sedikit membungkuk dan mengarahkan tangannya ke wajah Virza, jemarinya yang panjang menjepit kedua pipi Virza. Sehingga membuat mulut Firza sedikit terbuka dan Alfandi dapat mencium bau rokok dari mulut Firza, putranya.


Sang ayah menggelengkan kepalanya dan menatap sangat tajam. "Kau merokok lagi? kemarin papa sudah tidak menemukan kamu merokok? sekarang kenapa kamu merokok lagi ha?"


Firza hanya terdiam, tidak menjawab dan terus menunduk.


"Harus berapa kali Papa bilang? merokok tidak baik untuk kesehatan, apalagi di usia seperti mu! mana sisanya rokoknya?" pinta sang ayah.


Namun Firza menggeleng, karena memang rokok itu tidak bersisa. Dia beli dan menghisapnya cuman dua batang saja, yang sisanya dikasihkan kepada teman-teman Firza semuanya.


"Mana sisanya? jangan menunggu Papa marah Firza? kenapa kau tidak belajar dengan baik? terus barusan kamu dari mana?" Alfandi sedikit menghentak kedua bahu Virza dan emosinya mulai tersulut.


""A-aku habis nongkrong di mall sama teman!" jawabnya Virza sambil menunduk tidak berani mengangkat wajahnya.


Affandi menghela nafas panjang, lalu ia hembuskan dengan pelan, dia berusaha mengontrol amarahnya agar tidak meledak-ledak! karena itu juga tidak baik dan tidak akan menyelesaikan masalah.


"Nongkrong Mall? sama siapa?" tanya Alfandi seraya menurunkan nada suaranya.


"Teman," sahutnya Firza singkat.


Terus rokoknya mana? tidak mungkin kan kamu membeli batangan?" Alfandi kembali bertanya dan menadahkan tangannya meminta rokok dari Firza.


"Tidak ada, sisanya ... sudah aku berikan kepada teman-temanku!" jawabnya Firza dengan tetap menunduk tanpa menatap wajah sang ayah.


Helaan nafas dari Alfandi tampak begitu sangat berat. Lalu dikeluarkan dari mulut. "Huuh ...."


Sesaat kemudian, Alfandi menoleh pada Fikri yang masih berdiri di tempat. "Fikri, masuk kamar? dan segera tidur! agar besok tidak kesiangan untuk sekolah."


Anak itu mengangguk seraya berkata. "Baik, Pah." Kemudian Fikri mengayunkan langkahnya untuk menuju kamar sambil menggusur tas punggungnya itu.


Firza menatap ke arah sang adik yang tampak tanpa beban dan dai malah happy dengan kehadiran ibu sambungnya. Yaitu istri muda dari papanya.


Kemudian Alfandi kembali mengalihkan pandangan ke arah Firza yang masih mematung di hadapannya.


"Ehem. Sesungguhnya ... Papa tidak melarang Firza nongkrong di mall atau bermain, silahkan! tidak apa-apa! hanya ... Papa harap Alfandi tidak pernah sambil merokok ataupun membuat sesuatu yang merugikan orang, mengganggu orang lain. Misalnya berantem dan hal yang tidak terpuji, Papa nggak izinkan itu--"


Alfandi menjeda omongannya sambil terus mengontrol emosinya tersebut.


"Kenapa Papa ingin, Firza mengikuti olahraga. Belajar musik, karena Papa ingin putra-putra Papa menjadi orang yang lebih berguna dan terarah! lebih bisa menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya pada hal yang positif, sebenarnya nongkrong itu hanya buang-buang waktu saja Firza," ujar sang ayah.


Firza menautkan kedua tangannya satu sama lain, dan dalam ingatannya tetap terbayang sang Bunda yang memasuk kamar dengan laki-laki lain selain dari sang ayah.


"Sebenarnya apa sih yang Firza dapat dari nongkrong-nongkrong dan merokok itu hem?" tanya Alfandi kembali pada putranya dengan suara rendah.


"Huuh ... ya sudah! masuk sana? mandi terus makan? biar bibi yang menghangatkan masakannya." Titah Alfandi.


Tanpa bicara, Firza membalikan badannya dan meninggalkan sang ayah.


"Bi, hangatkan masakan? nanti Firza makan. Bila perlu antar ke kamarnya?" pinta Alfandi kepada sang asisten nya.


"Baik Tuan?" baby pun mengundur diri untuk ke belakang mengikuti arahan dari Alfandi yang menghangatkan masakan buat makan Virza.


Alfandi lanjut naik memasuki kamarnya yang masih kosong, dia langsung mengganti pakaian dengan pakaian tidur. Berbaring menghadap langit-langit membayang yang berada di rumah satu lagi yang membuat ia mencari candu dan merindukan kehadirannya.


Krettt ....


Alfandi menolah ke arah pintu yang barusan berdmsuara dan bergerak. Vaula tampak memasuki kamar tersebut dengan langkah gontainya dan wajah tampan lelah.


"Baru pulang?" sapa Alfandi tanpa merubah posisinya.


"Hem ... belum tidur?" tanya balik Vaula sambil mendudukan dirinya di depan cermin untuk melepas semua aksesoris yang dia kenakan.


Alfandi tidak menjawab, melainkan memejamkan kedua netra nya sembari mulut menguap.


Vaula sekilas menatap ke arah Alfandi yang tidak merespon. Dan sepertinya mulai tertidur, tatapannya begitu anteng. "Aku harus pandai menyembunyikan semuanya. Jangan terlalu cuek! nanti bisa-bisa dia curiga kalau saya punya pil."


Sesaat kemudian, Vaula mengambil pakaian malam yang berwarna merah. Lalu dikenakannya, berjalan ke dalam kamar mandi sebentar.


Saat ini Vaula sudah berada di di samping Alfandi yang sudah mulai terdengar suara ngorok akibat tidur nyenyak nya.


Jemari Vaula menjepit hidung Alfandi agar tidak mengorok. "Berisik tahu ...."


"Hem ..." Alfandi membalikan tubuhnya memunggungi Vaula dan ngorok nya pun berhenti.


"Fandi? apa kau tidak ingin menyentuh ku?" suara Vaula pelan sambil menatap punggung pria tersebut.


Netra nya Alfandi terbuka mendengar tawaran dari Vaula. Namun sayang si singa jantan miliknya tidak merespon.


"Ya ... kalau tidak mau sih sukur, aku juga capek dan malas untuk melakukannya." Tambah Vaula kembali.


Alfandi mencoba membalikan tubuhnya kembali dan menghadap ke arah Vaula.


"Ada apa?" suara parau Alfandi sambil tetap berbaring.


"Aku cuma menawari mu saja, kalau gak mau sih tidak apa-apa!" Vaula mulai menyentuh rahangnya dengan lembut.


"Tumben banget istri ku nawarin?" batin Alfandi dengan netra nya menatapi pemandangan indah dari sang istri.


Dengan malas, Vaula memulai duluan untuk menggoda suaminya itu. Dia cumbu di sekitar wajahnya dan dengan lihai mengusap-usap singa yang sedang tidur itu agar bangun dan keluar dari kandangnya.


Namun setelah beberapa saat Vaula berusaha mencumbu Alfandi dan berusaha keras untuk membangunkan singa yang anteng tidur itu. Tidak membawakan hasil yang signifikan.


Membuat Vaula merasa kesal, melihat suaminya yang tampak santai dan singa miliknya tidak bangun-bangun juga.


Memang, mau gimana bisa bangun? toh service dari istri muda lumayan cukup, dan langsung membuatnya kenyang kalau sekedar berhadapan dengan istri tua.


Vaula nyerah dan dalam hati kecilnya tersenyum. "Baguslah. Tidak bangun! jadi tidak harus repot-repot melayaninya."


Vaula menarik selimutnya. Dan memunggungi Alfandi yang terlentang menghadap langit-langit, bibirnya pun menyungging. Dalam ingatannya sekarang adalah istri muda, yaitu Sukma ....


.


...Bersambung!...