
"Met siang Ibu? saya yang ditugaskan pak Alfandi untuk mengambil hasil raport nya Fikri." Sukma membungkuk hormat dan memotong perkataan dari Fikri.
"Oh ... begitu. Kebetulan saya baru melihat anda di sini!" sambung Bu guru kembali.
"Iya, Bu. Kebetulan sekali memang saya baru ke sini!" Jawabnya Sukma dengan ramah.
Setelah menerima raport nya Fikri. Sukma dan Fikri berjalan dengan hati gembira.
"Mommy bangga banget deh, ternyata Fikri pintar dan semoga kedepannya lebih hebat lagi atau mengembangkan diri lebih pintar lagi oke?" ucapnya Sukma setelah mengecek hasil nilai dari raportnya Fikri.
"Iya dong Mommy ... Fikri kan harus jadi anak yang pintar biar papa, mama bangga! mommy juga!" jawaban anak itu.
"Iya benar, Fikri harus jadi kebanggaan orang tua, ngomong-ngomong mamanya Fikri ke mana? kalau nggak bisa gantiin papa untuk ke sekolah?" selidiknya Sukma sambil terus berjalan.
"Entah, yang jelas mama nggak ada. Katanya sih ada urusan ke luar kota jawabnya Fikri dengan nada yang sedikit tidak peduli.
"Luar kota? apa mungkin bersama papa perginya?" tanya Sukma sembari berpikir, apa mungkin mereka barengan keluar kotanya? tapi Alfandi nggak bilang seperti itu.
"Sepertinya nggak Mommy. Papa ya Papa perginya, Mama? ya Mama, gak barengan ahk!" kata Fikri.
"Iya sih papa pergi sama temennya, masalah kerjaan." gumamnya Sukma seraya terus kepikiran, apa mungkin mereka barengan? hati Sukma di sapa rasa cemburu.
"Iya, mama juga sama temennya kali, entah lah. Mommy-Mommy ... boleh kan aku ikut Mommy ya? pulang ke tempat Mommy saja! lagian kan nanti mau liburan, biar papa langsung pulang ke rumah Mommy!" anak itu menghentikan langkahnya dan mendongak menatap wajah Sukma.
"Ikut ke rumah Mommy ... boleh dong! tapi nggak ada pakaian gimana dong? mau belanja dulu ya? beli baju untuk ganti. Biar gak harus pulang dulu ngambil baju!" Sukma menyetujui kalau Fikri ikut ke rumahnya.
"Begitu juga boleh. Itu ide bagus tuh, yang penting Fikri bisa ikut saja sama mommy." Lanjutnya Fikri dengan wajah yang sumringah.
"Terus, orang rumah nyari nggak nantinya?" selidik Sukma sebelum melanjutkan langkahnya.
"Orang rumah siapa, Mommy, papa nanti Mommy kasih tahu saja kalau kita ke rumah Mommy! dan mama nggak tahu pulangnya kapan?" sambungnya Fikri sambil menarik tangannya Sukma agar terus berjalan.
"Oke baiklah, kalau begitu!" Sukma berjalan menuju mobilnya berada, dimana yang lainnya menunggu di sana.
"Kak Firza? Kak Firza? Fikri mau pulangnya ke rumah mommy saja, biar sekalian nanti liburannya berangkat dari rumah mommy." Fikri menghampiri sang kakak dengan langkah yang cepat.
"Iya terserah, gimana kamu saja jawabnya Firza.
"Awas-awas-awas? aku mau duduknya sama Mommy." Suara Fikri sembari masuk ke dalam mobil, duduk di dekat Jihan sementara Marwan duduk masih di depan bersama supir.
"Ini anak manja datang lagu? Fik, dapat rangking gak?" Marwan menoleh ke belakang, menyapa Fikri.
"Dapat dong, Kak Wawan ... Fikri." Jawabnya dengan bangga.
"Hebat!" Marwan mengacungkan jempolnya kepada Fikri.
Jihan pun ikut tersenyum pada Fikri sudah tidak canggung lagi pada dirinya. Buktinya anak itu langsung berani menyandarkan kepala di bahunya.
Setelah Sukma menyimpan map raport Fikri bersama punya Firza. Barulah dia memasuki mobil dan menyuruh supirnya untuk jalan.
Di dalam mobil, Fikri tidak berhenti berceloteh serta bermanja pada Sukma dan Jihan juga. Saling timpal omongan dengan Jihan juga Marwan.
Sementara Firza hanya tetap diam dan sesekali melihat ke arah Fikri yang begitu manja sama Sukma.
"Mas, berhenti di depan, mau beli baju ganti buat si ganteng ini!" pinta Sukma sembari mencubit pipi Fikri.
"Iih ... Mommy sakit!" Fikri mengusap pipinya yang di cubit oleh Sukma.
Luky mengangguk tanpa menoleh dan fokus saja melihat ke depan.
"Kak, belanja cemilan ya Kak?" pinta Marwan sambil melihat ke arah belakang dan mengarahkan pandangannya kepada Sukma.
"Iya, oke-oke!" Sukma mengangguk setuju.
Setibanya di toko, Sukma langsung memilih pakaian buat
Fikri ganti, selama di rumah nya Sukma nanti. Yang lainpun seperti Jihan dan Marwan juga memilih pakaian yang mereka suka.
Tapi tidak buat Firza, dianya hanya berpangku tangan melihat orang lain riweh berbelanja pakaian.
Sukma menoleh pada putra sambungnya itu seraya berkata.
“Kenapa gak pilih-pilih? Buat ganti nanti, kan?”
‘’Buat apa? Emangnya siapa yang mau ke sana?” ketusnya Firza.
“Emang nya Kakak gak mau ke tempatnya mommy? Di rumah
juga gak ada siapa-siapa, Kak? mendingan kita menginap di tempat mommy saja. Sekalian juga nanti mau liburan sama mommy, kan?” Fikri menatap ke arah sang kakak.
“Ogah, aku mau pulang saja!’’ jawabnya Firza dengan nada dingin dengan mata mengitari tempat tersebut yang penuh dengan pakaian.
“Yakin tidak mau ikut ke tempat kami, Za?" kini giliran Marwan yang bertanya kepada Firza.
“Nggak, aku mau pulang saja,” kekehnya Firza sambil celingukan.
Namun beberapa lama kemudian, tidak ayal Firza pun mengambil kaos santai dan celananya dengan warna yang dia sukai.
Jihan berbisik pada sang adik, Marwan. “Tuh lihat! katanya gak mau, tapi mengambil juga. Aneh juga tuh orang.’’
“Ahk ... sudah tidak aneh dia itu, memang kaya gitu kan? sok col, padahal mau juga gabung sama kita tuh!” timpalnya Marwan membalas bisikan dari sang kakak, Jihan.
“Kenapa kalian lihat-lihat? Suka-suka ku dong ... mau
gimana juga. Lagian uang yang kakak mu gunakan buat belanja ini dan itupun dari papa juga, bukan? Terserah dong aku mau beli apa juga.” Firza mendelik pada Marwan dan Jihan.
“Emang siapa yang melarang kau membeli apapun? hak kamu kok! ha ha ha ...” kata Marwan sambi tertawa.
‘’Kenapa nih? jangan suka ribut ahk ... apa lagi di tempat ramai seperti ini, yang rukun napa?” ucap Sukma sambil berdiri dengan Fikri yang tidak mau jauh-jauh dari dirinya.
“Emangnya kau gak mau pesan apa-apa lagi? barang kali kau mau tambah seperti pakaian dalamnya,
mungkin,” tanya Sukma kembali.
Firza menggeleng dan menatap ke arah yang lain yang masih melihat-lihat barang-barang.
Ketika sudah membayar belanjaan, mereka langsung ke alfamart yang tidak jauh dari tempat barusan. Untuk membeli cemilan ataupun snack.
“Kalian pilih saja apapun yang kalian suka ya? nanti biar aku yang bayar,” kata Sukma sambil
melihat ke arah kedua adik dan anak sambungnya tersebut.
“Hore ... kita mau belanja! aku mau coklat, beng-beng. Kalpa juga aku suka, Mommy-Mommy? boleh ya aku beli yang banyak? Boleh ya? Boleh?” Fikri setengah memohon.
“Boleh sayang, boleh!” jawabnya Sukma yang sedang memilih buah-buahan.
“Hore ... kita belanja banyak. Aku mau permen juga, dan minuman.” Fikri kembali kegirangan serta mengambil apa pun yang dia suka.
Setelah selesai belanja cemilan, Sukma pun mengajak
adik-adiknya dan kedua putra sambungnya untuk pulang.
Dan ketika di tanya mau pulang kemana? Firza hanya diam
dan membuat Sukma kebingungan harus berbuat apa? pada akhirnya ... Firza pun di
ajak ke rumahnya Sukma.
“Heleh ... gak mau-gak mau, tapi ikut juga. Kenapa gak
bilang saja mau,” ucapnya Marwan sambil turun dari mobil menjinjing belanjaan
nya.
“Huus ... jangan begitu, Wan ... nanti dia merajuk terus kabur? kanapa-napa? siapa yang susah kan kak Sukma yang akan disalahkan,” timpal nya Jihan yang berjalan di belakang nya Marwan.
“Habis suka jaim begitu! aku kan suka ilfil, ha ha ha ...” Marwan tertawa.
“Ngapain lu ngomongin gue? gak suka? Bodo amat gue gak
akan pikirin itu.” Firza ngeloyor pergi mendahului ke dalam dengan belanjaannya sendiri.
“Ih ... dasar, sok dingin lu,” Marwan mengulang kan tangan nya di udara.
Sementara Sukma dibelakang bersama Fikri yang terus mengintil dan tidak mau jauh-jauh dari Sukma. “Ini belanjaan Fikri bawa sendiri ya? Mommy mau bawa belanjaan Mommy sendiri.” Sukma menyerahkan belanjaan anak itu.
“Baik,Mommy ...” Fikri menjinjing nya ke dalam dalam rumah.
Selepas istirahat dan makan siang, Sukma belajar menyetir
dengan sang supir. Dan si bungsu tetap mengintil di belakang sambil terus mengunyah, tanpa henti.
Di berapa menit kemudian Sukma belajar menyetir, hampir saja menabrak pinggiran jalan.
“Astagfirullah ... hampir saja nyenggol pinggiran ya
Allah ... bikin spot jantung ini mah,” gumamnya Sukma sambil merem dan mengusap
dada nya, mengatur nafas yang naik turun dengan cepat.
“Harus tetap fokus dan hati-hati, perhatikan yang harus dilakukan.” Kata Luky yang terus mengarahkan Sukma agar bisa menyetir.
“Mommy tidak apa-apa?” tanya Fikri sambil mendekati ke arah Sukma yang duduk di belakang setir.
“Nggak, Mommy hanya terkesiap saja. Mommy gak pa-pa kok
sayang,” Sukma menggeleng.
“Hati-hati dong Mom ... kalau nabrak gimana? kita kan gak
punya nyawa cadangan kata papa juga, kalau kita celaka,” anak itu jadi tampak cemas dan khawatir.
“Tapi Mommy harus bisa, bisa menyetir Fikri ... agar suatu
hari nanti Mommy bisa bawa sendiri dan tidak menyusahkan orang lain, bagaimana kalau pada suatu saat mendadak dan ketika pak Luky tidak ada, gimana?” Sukma bertekad harus bisa menyetir sendiri.
“Tapi, Mom ... aku takut Mommy kenapa-napa,” keluhnya Fikri sambil memegangi tangan Sukma.
“Kalau Fikri takut! Fikri turun saja, sana duduk di pinggiran.” Sukma menyuruh Fikri untuk turun saja.
“Bukan begitu Mommy ... justru aku takut Mommy yang
kenapa-napa. Aku khawatir Mommy yang celaka,” sambungnya Fikri tampak tergurat
rasa kecemasan di wajahnya.
“Em ... jangan khawatir ya? doakan semoga Mommy baik-baik saja dan cepat bisa, oke?” Sukma kembali melanjutkan belajarnya menyetirnya dengan penuh ke hati-hatian, sebab di dalam mobil tersebut bukan cuma
membawa nyawanya saja. Tetapi ada supir dan Fikri juga.
Sukma belajar menyetir sampai sedikit bisa dan mengingat apa saja yang harus dilakukan.
Suasana sebentar lagi maghrib. Melirik ke arah Fikri yang sedang terlelap. "Fikri ... Fikri ... bangun, Nak," lirih nya Sukma membangunkan anak itu yang tampak lelap ....
.
...Bersambung!...