
"Ibu itu tidak tau apa-apa dan tidak merasakan gimana sakitnya hati ku ini!" Vaula mengusap pipinya nya yang tidak terasa basah.
"Semua ibarat nasi sudah menjadi bubur dan tidak perlu di sesali lagi. Jalani saja dengan baik, hidup akan terus berjalan meski dengan jalan lain. Dan tidak perlu salahkan orang lain, itu pesan bapak." Ujar pak Sardi dengan mata yang berkaca-kaca.
Vaula melirik ke arah Firza yang berada di dekat pintu. "Yo. Pulang sama Mama?"
Firza tetap menggeleng. "Aku gak mau. Sekarang, masih mau di sini sama papa."
Kemudian. Vaula beranjak dan meninggalkan tempat tersebut, tampak berpamitan pada kedua mertuanya. Dia terus berjalan menuju mobilnya yang berada supirnya di sana.
Vaula pergi membawa hati yang kecewa. Ternyata kedua putranya lebih memilih tinggal bersama ibu sambung ketimbang ikut dia sebagai mama kandung.
Manik Vaula melihat ke arah belakang rumah, di sana ada Fikri yang tampak happy bersama kedua yang lebih seusia dengan Firza.
"Jalan?" gumamnya Vaula sambil menghela nafas panjang.
Mobil pun merayap. Setelah sang supir mendapat instruksi dari sang majikan.
"Aku akan pastikan. Kalau anak-anak akan menjadi hal asih ku." Dalam hati Vaula bermonolog dan di matanya penuh dendam.
...----...
Sukma tengah berada di pusat pembelanjaan. Dan tidak lama kemudian kedua adik dan dua putra sambungnya juga.
Sesungguhnya, Sukma sempat berpikir. Kalau kedua putra sambung itu ikut pulang dengan mamanya. Tetapi ... ternyata tidak.
"Mommy, boleh belanja apa aja kan?" suara Fikri memecah lamunan Sukma.
"Ha? boleh. Beli saja," sahut Sukma sambil mendorong troli.
Kemudian. Semua menyebar mencari yang mereka mau. Begitupun Sukma mencari keperluan mingguan seperti sabun dll nya.
Sekilas Firza melihat barang-barang yang berada di atas kepala Sukma bergeser dan kemungkinan besar akan menimpa kepalanya Sukma jika terjatuh.
Namun semakin lama, barang itu semakin bergeser. Membuat Firza berlari dan mendorong bahu Sukma. "Awas, Mom?"
Sukma panik dan langsung terjatuh.
Gubragh ... brak-brak. Brak ....
Beberapa barang-barang terjatuh berantakan dari atas, ke lantai berserakan.
Hampir saja menimpa kepala Sukma, kalau tubuhnya tidak di dorong Firza.
"Astagfirullah ... Ya Allah ..." Sukma tampak shock memandangi barang-barang tersebut.
Firza yang juga terjatuh di sampingnya Sukma, berdiri dan menoleh pada Sukma. "Mommy, tidak apa-apa?"
Sukma mengalihkan pandangan nya ke arah Firza yang menatapnya dengan cemas. "Tidak."
Kemudian, Sukma mandiri yang dibantu oleh Jihan dan Marwan. Fikri pun sudah tampak di sana dengan wajah yang terheran-heran ada apa ini?
"Mommy kenapa? terjatuh bukan?" tanya anak itu dengan tatapan yang penuh rasa penasaran.
"Nggak, sayang. Mommy tidak kenapa-kenapa." Sukma sembari menggeleng.
Sukma sedikit meringis. Karena bokongnya terasa sedikit sakit. Semua penjaga swalayan tersebut berkumpul dan segera membereskan barang yang berserakan.
Ini, sebuah kelalaian pekerja yang sepertinya kurang teliti dalam membereskan semua barang. Sehingga terjatuh begitu saja dan hampir menimpa orang yang berada di sana.
"Em ... makasih, Za? berkata Firza kepala Mommy tidak tertimpa barang yang jatuh tersebut." Sukma berterima kasih kepada Firza yang sudah menyelamatkan dirinya.
"Apa yang sakit Mommy. Pinggang atau tangan ada yang lecet?" selidik Firza sambil menatap intens ke arah Sukma.
"Nggak deh, cuman ... sakit pinggang doang dikit, nanti juga sembuh kok!" jawab nya Sukma.
"Yakin. kakak tidak apa-apa?" adiknya Jihan melihat kakaknya sedikit meringis.
Lalu kemudian melanjutkan kembali belanjanya. Setelah merasa cukup dengan belanjaannya dan lantas membayar. Lanjut mereka pun berjalan menuju mobil yang terparkir tempat parkiran.
Belanjaan di bawa pak Luky dan anak-anak. Sukma hanya membawa diri saja.
"Ma? sedang apa di sini?" suara seseorang yang memanggil Sukma.
Sukma terkaget-kaget mendengar suara itu yang memang tidak asing di telinganya. Kemudian Sukma menoleh ke arah sumber suara. "Reno?" salam hati.
"Kau sedang apa di sini?" ulang Reno sambil menatap ke arah Sukma yang berjalan namun tampak meringis.
"Oh, ini. Habis belanja!" jawabnya sembari menunduk.
"Ooh, sama siapa? belanjanya?" selidik Reno sembari planga-plongo.
"Mommy, sama saya. Kenapa?" Firza menghadang dan berdiri di depan Sukma.
Membuat Sukma atau Reno kaget bukan main dengan keberanian Firza yang mengakui kalau Sukma adalah mommy nya. Padahal Firza tidak tahu siapa Reno.
"Oh, ini mommy kamu. Sejak kapan?" selidik Reno dengan tatapan yang tajam.
"Sejak jadi istri papa lah." Firza bertolak pinggang dan dan menatap tak kalah tajam pada Reno.
"Kenalkan? Om ini ... man--"
"Ehem. Za. Yo kita pulang ahc, itu adik dan yang lain sudah sampai mobil." Sukma sengaja memotong perkataan Reno yang pasti mau bilang mantan.
Sukma buru-baru mendorong kedua bahu nya Firza agar berjalan meninggalkan tempat tersebut dan Reno yang mematung.
Kini mereka sudah berada di mobil, Fikri sedang sibuk mengunyah makanan yang tadi dia beli. Begitupun dengan yang lain.
Sukma duduk bersandar serta merasakan sakit pinggang. Dan kepala sedikit pusing dan mual.
Sepanjang perjalanan. Semuanya sibuk dengan ngemil, mengunyah makanannya masing-masing.
Setibanya di rumah. Di sambut oleh ibu Puji dan suami. Sukma pun tidak lupa membeli cemilan buat kedua mertuanya itu.
"Bu, Bapak. Ini Sukma belikan kue buat kalau. berdua. Soga suka ya?" Sukma memberikan kue buat mertuanya tersebut.
"Aduh ... kenapa repot-repot, ibu sama bapak sudah makan siang tadi." Tuturnya Bu Puji sambil menerima kue tersebut.
"Tidak repot kok, kata anak-anak, Oma suka kue itu. Jadinya aku beli walaupun tidak meyakinkan itu kata anak-anak!" sambung Sukma.
Kemudian Sukma berpamitan untuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu.
Setibanya di kamar, Sukma menjatuhkan dirinya di sofa sambil memegangi pinggang nya. "Aduh ... katanya di urut enak kali ya?"
Kemudian melanjutkan niatnya untuk membersihkan dirinya. Setelah sekitar dua puluh menit berendam di bathube dengan air hangat. Sukma meminta bibi untuk mengurut tubuhnya di kamar ini.
Beberapa saat kemudian bibi pun datang sang menatap cemas terhadap majikannya. "Non kenapa katanya anak-anak, Non jatuh, apa yang sakit?"
"Ini, Bi. pinggan, tolong di urut ya, Bi," ucap Sukma sambil menunjuk ke arah pinggangnya yang terasa sakit.
"Oh, iya. Non baringan saja di atas kasur. Biar Bibi pijat sebisanya.
"Makasih ya, Bi? rasanya perih gimana ... gitu?" Sukma berbaring telungkup di atas tempat tidur tersebut.
Bibi langsung mengolesi minyak ke tubuh bagian punggung Sukma yang sudah berbaring di atas tempat tidur.
Tangan bi Lasmi yang cekatan itu menyentuh pinggang Sukma dan lantas di pikatnya dengan perlahan atau pelan-pelan ....
.
...Bersambung!...