Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Baby Junior



“Em ... sudah ,Bi. Makasih ya?” ucap Sukma sambil masih berbaring telungkup.


“Sama-sama, Non. Kalau begitu Bibi mau masak dulu ya?” bi Lasmi mengundur diri dari tempat tersebut.


“Iya, Bi. Aku nanti saja turun nya cape nih.” Kata Sukma dengan tetap telungkup.


“Iya, Non. Istirahat saja,” lantas bi Lasmi pun segera turun untuk memasak buat makan malam.


Di tangga, bi Lasmi berpapasan dengan alfandi yang baru saja datang dan sempat berbincang sebentar dengan kedua orang tuanya.


“Met sore, Tuan?” bi Lasmi melanjutkan langkahnya menuju dapur.


“Istri saya dimana, Bi?” tanya Alfandi sambil terus berjalan.


Bi Lasmi menoleh ke belakang dan seraya berkata. “Ada di kamarnya. Tuan.”


“Hem ...” gumamnya sambil terus berjalan menuju kamar.


Setelah berada di depan pintu, Alfandi mendorong handle pintu dengan sangat pelan. Tampak sang istri sedang telungkup dengan menghadapkan wajahnya ke arah sana dan sepertinya tidak melihat dan mendengar kedatangannya tersebut.


Dan Alfandi terus berjalan mendekati sang istri sambil mengendap-ngendap yang sebelumnya menutup pintu dengan pelan juga.


Alfandi membuka jas dan sepatunya di simpan di tempat, lantas membuka kaos kaki terlebih dahulu sebelum mendatangi sang istri tampak tidak memakai baju. Dan sepertinya habis di urut.


Tangan Alfandi menyentuh kedua bahu Sukma dengan sangat lembut seraya berkata. “Sayang?”


Sukma yang memejamkan kedua manik matanya, mendengar suara yang tidak asing lagi dan tentunya pria yang selalu memeluknya setiap malam. Kemudian berbalik sambil berusaha menutupi tubuhnya bagian depan dangan kimono nya.


Kedua netra Alfandi tidak berkedip melihat sekilas keindahan yang berada di depan mata itu.“Katanya tadi di swalayan kau jatuh, apa yang sakit sayang?” tanya Alfandi sembari menarik kimono yang sukma pakai untuk menutupi dada nya tersebut.


Namun pegangan Sukma begitu kuat. Sehingga sulit untuk Alfandi untuk membukanya.


“Ham ... kata siapa?” selidik sukma sambil mendudukan tubuhnya dan sedikit bersandar ke bantal.


“Kata anak-anak, mereka bilang. Kalau mommy nya terjatuh karena di dorong Firza, karena takut mommy nya tertimpa barang yang terjatuh.” Sambung Alfandi dengan tatapan sangat lekat terhadap sang istri.


“Oh, tidak apa. Aku tidak apa-apa kok, lagian aku juga berterima kasih pada Firza. Karena dia, aku tidak tertimpa barang-barang yang jatuh tadi.” Ungkap Sukma.


“Terus, apa yang sakit? katanya tadi meringis, hem?” selidik Alfandi kembali, sembari memegang tangan Sukma.


“Cuma pinggang saja yang sedikit sakit. Tapi sekarang sudah agak baikan sudah bibi urut barusan.” Sukma menegakkan duduknya dan hendak mengenakan pakaiannya.


Namun dengan nakalnya Alfandi tarik kimono yang berada di pelukan Sukma sehingga tubuh Sukma yang bagian atas terekspos dengan sangat sempurna.


Membuat Al menatap tak berkedip, melihat pemandangan tersebut dan tak ayal langsung menyentuhnya dengan gemas. Padahal mau Sukma tutupi kembali. Dan Sukma membiarkan saja seraya berkata. “Mandi dulu sana?”


“Nanti ahc,” sembari mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir sang istri dengan lembut serta tangan tidak juga beranjak dari tempat semula.


Sukma hanya memejamkan kedua maniknya ketika kedua pasang benda tipis itu bertemu, dan akhirnya bergerak halus saling menyapu satu sama lain.


Tangan Alfandi sebelahnya membuka kancing kemeja yang masih melekat di tubuh nya itu, di bantu dengan jari-jemari Sukma yang lentik serta lihai membuka kancing kemeja Alfandi satu persatu. Kemudian dengan perlahan tubuh Alfandi mendorong tubuhnya Sukma ke belakang dan menindihnya.


Lama-lama mereka berdua terbawa perasaan dan terhanyut dengan suasana yang menuntut lebih dari sekedar sentuhan bibir.


Kehadiran Sukma membawa Alfandi ke ruang rileks setelah seharian lelah berkerja. Walau kegiatan ini harus menguras tenaga juga, namun sangat mengasyikan dan meregang kan otot-otot serta mengumpulkan pikiran yang kacau. Menciptakan rasa happy yang menyelinap ke dalam otak.


“Tetaplah menjadi milik ku, tidak boleh ada orang lain memiliki mu sayang!” ucap Alfandi dengan pelan dan suara yang bergetar.


Mendengar ucapan itu, Sukma teringat akan tadi pagi dimana sikap Alfandi sedikit cemberut karena kehadiran Reno di antara mereka.


“Tadi ketika belanja bertemu dengan pria itu lagi bukan? jangan buat aku cemburu sayang, aku tidak mampu menahannya. Aku tidak ingin kehilangan mu cinta ku, tidak mau!” racau Alfandi sambil terus berpacu dan memberikan ritme yang kadang teratur dan kadang tak beraturan saking tingginya hasrat yang dia miliki saat ini.


Sukma terdiam dan seakan pikiran nya pun terhenti denyut jantung rehat sesaat mendengar kata-kata itu. Sejenak mood nya pun menurun.


Membuat Alfandi pun menghentikan aktifitasnya sesaat dan menatap ke arah sang istri, di tatapnya dengan sangat lekat dan dalam. “Kenapa sayang?”


Sukma menggeleng pelan. Dan detik kemudian ... kembali normal, tangan Sukma bergerak dari punggung ke kepala membelai rambutnya dengan lembut, terkadang di jambak kalau Alfandi terlalu bersemangat dalam melakukan penetrasi yang kini sedang berlangsung.


Bibir Alfandi menyungging dan menjadikan dia lebih tertantang untuk menggoda sang istri dengan cara lebih disengaja. Serta berbuat nakal, membuat tangan Sukma dengan refleks menjambak dan menggigit bahu Alfandi.


“Aw ... sakit yang?” pekik Alfandi tanpa melepaskan mangsanya sedikit pun.


“Bodo! makanya jangan macam-macam, aku gak suka,” pekikan Sukma yang tertahan.


“Iya sayang, iya. Gitu saja marah! masa lagi begini saja marahan sih?” ucap Alfandi sambil tersenyum.


‘Siapa juga yang marah? gak mara—“ ucapan Sukma terpotong dengan ulah Al yang membungkam mulutnya dengan bibirnya itu.


tersebut.


Suana yang sejuk dengan suhu AC tidak membuat keduanya merasa sejuk. Dengan pergulatan yang semakin sengit membuat tubuh keduanya bercucuran peluh, bermandikan keringat.


“Sayang. Ibu menanyakan kapan kita akan punya baby junior? buah cinta kita! dan aku ingin putri yang cantik secantik mommy nya.”


Degh ....


Sementara Sukma sedang memakai kontrasepsi dan ingin menyelesaikan dulu kuliah, sudah ada saja kata-kata yang mengganggu pikirannya ini.


Alfandi menyudahi kegiatannya tersebut dengan memberikan kecupan mesra di bibir sang istri. Muaahc, lalu pipi dan kening pun tidak luput dari kecupannya. Membuat sang empu terpejam sejenak.


Alfandi berbaring miring menghadap ke arah sang istri yang menarik selimut untu menutupi tubuhnya dengan rapi.


“Sayang, kedepannya berhenti memakai kontrasepsi nya ya? biar kita secepatnya memberi adik pada Fikri.” Pinta Alfandi dengan tangan memainkan sesuatu benda bulat dan kenyal, apakah itu?


Tatapan Sukma tertuju pada wajahnya pria yang baru saja bermain gol-gol’an bersamanya.


“Gimana dengan kuliah ku? Aku tidak mau terganggu dan ingin bisa menyelesaikan nya terlebih dahulu.” Suara Sukma sangat pelan.


“Sayang, kuliah mu tidak akan terganggu! Sekalipun kau malas pergi kuliah, kan bisa dari rumah sayang ... asalkan ada niat untuk terus belajar dengan baik dan keinginan untuk menggapai cita-cita,” ungkap Alfandi dengan lembut dan tangan mengelus pipi Sukma yang halus nan mulus tersebut.


Sukma terdiam sambil meletakkan kepala di dada suaminya itu, rasanya masih ada yang mengganjal dan menjadi pertimbangan.


“Sayang, dengarkan aku! apa lagi yang harus kau pikirkan? Pendidikan kan mu itu sudah menjadi tanggung jawabku. Kau tinggal menjalankan nya saja, begitupun dengan anak-anak semuanya, dan satu lagi. Aku hanya beristrikan kamu saja, setelah nanti aku resmi bercerai, kita akan meresmikan pernikahan kita," ungkap Alfandi dengan menunjukan senyumnya.


Alfandi memeluk bahu sang istri dengan sangat erat, lalu mengecup keningnya dengan mesra ....


.


...Bersambung!...