Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Doakan saja



Kini keduanya tengah berbaring di balik selimut yang tebal. Saling berpelukan dan memberi kehangatan satu sama lain.


"Alangkah bahagianya aku saat ini sayang. Makasih ya? kau sudah mengubah hidup ku!" ucap Alfandi seraya memberi kecupan pada sang istri.


Tangan Sukma memegang dagu sang suami dan ia geser ke kanan dan ke kiri. "Apanya yang berubah? sama saja! tidak ada yang aneh tuh."


"Sayang-sayang, bukan berubah pisiknya bukan sayang. Tetapi kehidupan ku, kau sudah memberi warna di hidup ku! masa gak mengerti?" sambung Alfandi sambil mengunci hidung Sukma yang bangir tersebut.


"Ooh ... tapi apaan? he he he ..."


"Sudah, ngantuk berat nih." Cuph! kembali kecupan mendarat di kening sang istri dengan mesra.


Malam terlewati dengan penuh kehangatan. Keduanya tertidur dengan sangat lelap dan melayangi mimpinya yang indah. Malam yang semakin larut membawa penghuni di muka bumi ini dengan pagi yang insya Allah akan indah dan lebih baik dari sebelumnya.


Saat ini Sukma sudah berdiri di balkon menghirup udara yang masih sangat segar dan belum tercemar dengan udara atau asap kendaraan. Sebelumnya Sukma beberes di kamarnya terlebih dahulu, dan Alfandi sedang berolah raga dengan anak-anak seperti Marwan, Fikri dan sang kakak Firza.


Beberapa kali Sukma menghirup udara yang segar tersebut sebanyak-banyaknya. “Hem segar sekali udaranya, ya Allah ... begitu banyak nikmat yang telah engkau limpahkan padaku, sekalipun tidak aku sadari bahkan mungkin aku lupa untuk mensyukuri nya,” Sukma bergumam sendiri sembari mendongak ke langit menatap langit yang masih terlihat gelap.


“Ya Allah ... wahai Tuhan ku, semoga aku kuat dalma menjalani kehamilan ini. Sesuatu yang belum pernah aku alami sebelum nya.” gumamnya Sukma sembari menyentuh perutnya yang masih rata itu.


“Neng? Sedang apa di dalam? Boleh Ibu masuk?” suara bu Puji sedikit memekik.


Sukma menoleh ke arah pintu kamar yang masih tertutup tersebut. “Iya sebentar, Bu ...” Sukma membawa langkahnya mendekati pintu.


Blak ... pintu terbuka dan muncullah sang mertua membawa sebuah nampan berisi sebuah gelas berisi susu.


“Iya, Bu ... ada apa? aku juga mau mau memasak kok buat sarapan,” sapa Sukma sambil berdiri di hadapan bu Puji.


“Ini, Ibu bawakan susu untuk mu.” Bu Puji menyerahkan segelas susu buat sang mantu.


“Aduh ... Ibu, makasih? tetapi jangan repot-repot. Aku bisa sendiri lho ... lagian aku juga mau turun.” Sukma mengambil gelas yang sang mertua serahkan.


“Tidak apa, diminum ya? mulai hari ini Neng jangan terlalu capek dan stres. Agar janinnya tumbuh dengan sehat.” Lirihnya bu Puji.


“Iya, Bu ... tapi Ibu jangan khawatir. Karena apa yang sering aku lakukan atau aku kerjakan itu tidak capek kok. Biasa saja! justru ... bukankah ibu hamil itu lebih baik banyak gerak?” sambung Sukma sembari memegang tangan sang ibu mertua.


“Ibu hanya tidak ingin kamu kecapean, ataupun stres.” Tambah bu Puji kembali.


“Nggak, Bu ... doa kan saja semoga aku baik-baik saja dan kehamilan ini tidak menganggu aktifitas ku apa pun itu!” sukma pun meneguk susu tersebut mumpung masih hangat.


Bu Puji melihat dengan senyuman yang merekah melihat mantunya yang masih muda itu dan kini tengah hamil muda.


Wanita paruh baya itu merasa bangga punya mantu yang lembut dan baik juga sayang pada cucu nya sebagai putra sambung. Bu Puji berharap kalau janin yang Sukma kandung sekarang ini anak perempuan sebagai pelengkap, karena yang sudah ada. Adalah anak laki-laki.


“Ibu dan juga yang lain, sangat berharap kalau yang di kandung Neng ini anak perempuan, yang gendut dan cantik. Kalau kata Fikri sih ... menggemaskan seperti boneka,” ungkap bu Puji dengan penuh harap.


“Em ... doa kan saja ya, Bu. Semoga terkabulkan,” timpal Sukma.


Kemudian mereka turun dan Sukma bersiap menyiapkan sarapan. Berkutat dengan perabotan dapur dengan tulus Sukma menyiapkan sarapan buat semuanya dan terutama untuk anak-anak yang mau sekolah dan suami yang mau bekerja.


Setibanya di kamar, Sukma segera mengambil pakaian buat Alfandi yang masih berada di kamar mandi, jas dan sepatu pun tidak lupa Sukma siapkan.


Tidak lama kemudian, Alfandi keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil di tangan. Melihat ke arah Sukma yang sedang membereskan pakaian di lemari.


“Sayang, aku pulang cepat nanti, siap-siap saja buat pergi nya, anak-anak ikut gak?” tanya Alfandi sambil mengambil kemejanya.


“Em ... kalau Marwan dan Jihan sih ikut, tapi kalaa Za dan Fikri ... aku belum tanya mau ikuta atau tidak? tapi kayanya sih ... kalau Fikri pasti ikut,” sahutnya Sukma sambil menutup pintu lemari.


“Oh ... ya ajak saja, perkenalkan mereka dengan orang tua mommy nya.” Kata Alfandi sambil mengancingkan lengan bajunya.


“Iya nanti aku ajak mereka, mau ikut atau tidaknya. Oya hari ini aku di rumah saja paling mau belanja mingguan, dan aku mau ajak ibu dan bapak. Boleh?” Sukma merapikan kerah kemeja dan memasangkan dasi nya.


“Boleh sayang ... boleh, oya nanti aku transfer uang nya. Kali saja mereka mau belanja apa-apa gitu, apa lagi kalau anak-anak ikut. jadi siap-siap dengan keuangan.” Balas Alfandi sembari menatap wajah wanita muda yang ada di hadapannya itu.


“Em ... uang yang kemarin masih ada kok Al,” timpal Sukma  lagi.


“Nggak pa-pa buat jaga-jaga. Lagian takut anak-anak beli yang aneh-aneh.” Sambung Alfandi sambil merangkul pinggang Sukma dan ditariknya ke depan. Hingga menempel ke tubuhnya.


“Tapi seingat ku, anak-anak bila belanjanya dengan ku. Gak pernah membeli sesuatu yang aneh-aneh kecuali makanan atau pakaian, nggak pernah mau membeli mainan apa begitu? karena sepertinya yang bawaan dari rumah mama nya pun jarang di mainin tuh. Mereka lebih banyak bermain biasa atau di kolam,” ujar Sukma sambil memberi jarak antara dadanya dengan dada Alfandi dengan kedua tangannya.


Entah kenapa dadanya kalau ke sentuh berasa sakit saja, ngeri. Mungkin ini yang di bilang sensitif itu.


“Kenapa?” Alfandi menaik turunkan alisnya.


“Nggak ... Cuma sakit saja bila tiba-tiba ketekan gitu, kau belum memakai sepatu.” Sukma menggerakkan manik matanya melihat wajah pria yang semakin terlihat segar dan tampak merona bahagia.


Namun wajah Alfandi semakin mendekat untuk menjangkau benda tipis milik sang istri. Untuk beberapa saat bibir mereka menyatu menikmati sensasi yang menyenangkan.


Selanjutnya Alfandi mengenakan sepatunya lalu keluar dari kamar membawa tas berisi laptop, carger. Ponsel, parfum. Ballpoint dan ada banyak lagi yang lainnya lagi.


Alfandi berjalan bersama sang istri yang memegang tangannya. Berjalan dengan teratur menuruni anak tangga. Sementara di meja makan sudah berkumpul untuk sarapan.


“Mommy, mulai hari ini. Fikri gak akan manja lagi sama Mommy atau mau di suapi lagi ahc, kan sebentar lagi. Aku akan menjadi abang ya Mommy?” Fiki menatap ke arah Sukma yang sejenak terdiam ada sedikit rasa haru mendengarnya.


“Ha? iya, beberapa bulan lagi Fikri akan menjadi abang. abang kan harus bisa menjaga adik dan memberi contoh yang baik terhadap adiknya.”


“Iya, Fikri janji tidak akan nakal lagi.” Tambah Fikri lagi.


“Ahc, palingan janjinya Cuma hari ini saja, nanti besok atau lusa juga lupa, anak manja ya anak manja ha ha ha ...” goda nya Marwan sambil makan.


Sukma menoleh pada sang adik yang paling suka menggoda anak sambungnya tersebut. Tapi biarpun Marwan suka usil akut sama Fikri, tapi dia sayang banget sama Fikri ....


.


...Bersambung!...