Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Sebuah skandal



Alfandi bergegas keluar dari kamarnya Sukma dan sebelum pulang, Alfandi menemui adik-adik iparnya terlebih dahulu.


"Jihan sedang apa nih?" sapa Alfandi pada Jihan yang sedang menyapu ruang televisi.


"Eeh, Abang. Kapan datang? dan sekarang kayanya mau pergi lagi." Jihan menatap heran.


"Iya, Abang mau pulang. Ini uang jajan buat Jihan, sisanya di tabung ya! Marwan mana?" Alfandi memberikan beberapa beberapa lembar uang berwarna merah pada Jihan.


"Makasih banyak ya Bang!"Jihan menerima uang tersebut dan tidak lupa mencium tangan Alfandi.


"Marwan dimana? apa dia sedang berada di kamarnya?" ulang Alfandi sembari menatap kearah Jihan, gadis itu beda dengan Sukma. Dia lebih sering memakai kerudung.


Lalu Jihan memasukkan uang tersebut ke dalam sakunya. "Itu, Marwan ... kayanya dia berada di kolam sedang ngasih makan ikan!" jawabnya Jihan sembari menunjuk ke arah belakang.


"Ooh ya sudah. Abang ke sana dulu ya?" lantas Alfandi pun membawa langkahnya ke belakang rumah.


Dan di sana ada Marwan sedang memberi makan ikan, ditemani oleh Bi Lasmi yang langsung menoleh pada kedatangan Alfandi.


"Eh, Tuan mau ke mana lagi!" tanya bi Lasmi sambil menatap ke arah Alfandi yang tampak rapi sepertinya mau pergi lagi.


"Iya Bi. Saya mau pulang. Titip nyonya ya?" pesan Alfandi kepada Bi Lasmi.


"Ooh itu mah, nggak usah diomongin, Tuan ... lagian Nyonya mah nggak bakalan aneh-aneh orangnya."Jawabnya kembali sembari tersenyum.


"Abang mau ke mana lagi?" tanya Marwan sambil menatap ke arah Alfandi dengan tatapan intens.


"Abang, mau pulang dan ini buat jajan Marwan! jangan lupa ditabung sebagian ya!" Kini giliran Marwan yang mendapat uang saku dari Alfandi.


"Ye ... ye, makasih ya bang? makasih banyak? dan dengan refleks Marwan mencium tangan Alfandi penuh hormat dan ungkapan sebagai terima kasih.


"Iya sama-sama, diurus ikannya ya? biar pada gemuk! nanti kalau abang mau makan di sini, kapan-kapan kita bakar-bakaran kan, oke?" kata Alfandi sambil menepuk bahu Marwan.


"Iya, Bang! siap Marwan laksanakan." Marwan memasang tangan yang sedang hormat di dekat keningnya.


Alfandi hanya tersenyum ke arah Marwan yang tampak semangat dan ceria. "Ya sudah, Abang pulang dulu ya? dan Bibi jagain semuanya ya?" Alfandi melihat ke arah .Arwan dan bibi bergantian.


"Iya, Tuan ... dan hati-hati saja bawa mobilnya," balas Bu Lasmi kembali.


"Ooh iya, ini uang saku buat Bibi. Buat jajan anak-anaknya!" tidak lupa Alfandi memberikan sebagian uang pada Bi Lasmi juga.


"Aduh ... makasih, Tuan! bikin Bibi gak enak hati," bibi pun sangat berterima kasih pada sang majikan sembari mengambil berapa lembar uang tersebut dari tangan Alfandi.


Setelah itu Alfandi pun langsung berlalu, dengan menggunakan jalan samping untuk menuju dimana mobilnya terparkir.


Kini otaknya Alfandi sedang berputar, gimana caranya agar dia lebih banyak mendapatkan bukti tentang sang istri, benar apa tidaknya mereka berselingkuh! memang sih dengan video tersebut pun sudah membuktikan kalau itu adalah benar! sebuah skandal yang mereka lakukan itu salah, tapi Alfandi ingin lebih banyak lagi mempunyai bukti kalau sang istri selama ini mengkhianatinya.


Dan dia menikahi Sukma, karena sejak lama sudak tidak dilayani oleh sang istri, makanya dia nekat menikah lagi.


Alfandi harus menyiapkan penjelasan, kepada keluarga nya. Kenapa dia harus menikah lagi? dan dia pun harus tahu dengan pasti sejak kapan sang istri ada skandal dengan fotografer nya tersebut.


Untuk saat ini, Alfandi harus pandai berpura-pura tidak tahu dengan yang sang istri lakukan di luar sana. Dia harus bisa berakting agar tidak dicurigai oleh sang istri, bahwa dirinya sudah mengetahui perselingkuhan sang istri. Dan untuk kedepannya dia akan menyelidiki.


Pokoknya, sang istri juga tidak boleh dulu tahu kalau dirinya sudah menikah lagi, tapi ... kalau soal sudah menikah lagi itu ketauan terlebih dahulu juga. Gak terlalu jadi masalah buat Alfandi.


Saat ini Mobil Alfandi melaju dengan kecepatan sedang, dia tidak berani membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi mengingat pikirannya yang sedang kacau balau.


Serta karena khawatir terjadi sesuatu. Sedangkan Alfandi terus memutar otaknya sekeras mungkin. Dia bertekad akan mengusut tuntas kasus sang istri dengan secara diam-diam saja.


"Sepertinya aku harus bicara lagi dengan Rosa, untuk mengorek kebenaran tentang istriku. Sejak kapan mereka mulai punya hubungan khusus? masih baru? atau dari awal sikapnya berubah itu?" gumamnya Alfandi sambil fokus melihat ke depan.


Mobil Alfandi semakin menjauhi kediaman Sukma dan mobil tersebut melaju dengan cepat untuk menuju rumah yang dia tempati sama Vaula dan kedua putranya.


Setibanya di rumah mewah tersebut. Langsung saja ia bergegas masuk ke dalam dengan menggunakan pintu utama. Dan disambut oleh si bungsu Fikri.


"Papa-Papa? Papa baru pulang ya?" tanya Fikri samb berdiri dan memegangi mobil-mobil kesayangannya.


"Iya, kak Firza sudah pulang belum?" Alfandi duduk dan membuka sepatunya.


"Sudah, ada kok di kamarnya! Oya Papa kapan mau ke rumah mommy lagi? aku ikut ya?" anak itu menatap sang ayah. tidak tau dia, kalau sebenarnya papanya ini baru pulang dari rumah mommy nya.


Alfandi terdiam sejenak. Menatap kosong ke arah Fikri dan berkata dalam hati. "Papa baru pulang dari sana!"


"Em ... nanti aja sekalian kalau liburan kita berangkat dari sana saja, oke?" pada akhirnya Alfandi menjawab demikian.


"Ya ... padahal aku pengen banget ke sana lagi." Sambung anak itu dengan nada lesu.


"Bukankah. Tidak akan lama lagi kita berlibur? sabar saja. Nanti Papa ajak ke sana kok!" lalu Alfandi berdiri dan menjinjing sepatunya, mengayunkan langkah yang terasa mengambang untuk ke kamar dia dan Vaula. Lalu menoleh lagi pada Fikri. "Papa mau masuk kamar dulu ya?"


"Iya, Pah." Anak itu mengangguk tanpa menoleh kembali pada sang ayah.


Kini Alfandi baru saja memasuki kamarnya yang tampak sepi, iya mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan tersebut. Lalu mengarahkan ke atas tempat tidur yang dulu terasa hangat dan penuh kemesraan.


Alfandi menghela nafas panjang, terbayang jelas di ruang mata perkumpulan sang istri bersama laki-laki lain. Membuat hatinya kembali terasa sakit, sebab bagaimanapun Vaula masih sah istrinya dan sebelumnya tidak ada masalah internal apapun dalam keluarga.


Setelah Alfandi puas merenung di dalam kamar tersebut, dia memutuskan untuk menemui temannya yang bernama Arman.


Namun sebelum pergi, dia menemui Firza untuk memastikan anak itu ada apa tidak di kamarnya.


"Firza? Kau sedang apa?" suara Alfandi seraya menutup pintu kamar Firza.


Tidak lama kemudian daun pintu tersebut terbuka dan Firza berdiri sembari memegang gadgetnya. "Aku lagi main game aja."


"Papa mau pergi dulu ya? mau ketemu teman, nanti sebelum makan malam ... Papa pulang kembali kok! jaga adikmu ya?" Alfandi mengusap rambut Firza.


"Iya, Pah." Firza mengangguk lalu menatap lekat pada sang ayah. Rasanya ingin bercerita tentang apa yang dia lihat pada sang ayah, namun lidahnya begitu terasa kaku dan kelu.


Alfandi membalas tatapan sang putra yang tampak aneh dan mengandung rahasia ....


.


.


...Bersambung!...