
Di rumah mewah itu terdengar hiruk pikuk yang tidak beraturan dan berubah menjadi seperti kapal pecah.
Setelah puas mengamuk dan menghancurkan ruang tengah, Vaula pergi entah kemana dan para asisten pun segera membersihkan nya.
Bu Nunung berdiri melihat suasana ruang keluarga yang bukan cuma berantakan saja namun berhias dengan barang-barang mewah yang rusak dan hancur.
Bu Nunung menghela napas dengan panjang, sudah saatnya dia pergi dari sini meninggalkan sebagian kenangan. Kalau saja Alfandi berada di sana, pasti dirinya tidak mungkin di pecat begitu saja.
“Saya tidak mengerti apa yang sudah terjadi di antara mereka? namun dengan jelas, ketara dari perubahan sikap dari Vaula sendiri, wajar kalau tuan Alfandi menikah lagi juga,” begitu gumamnya bu Nunung saat ini.
“Bi. Jangan pergi? biar saja Nyonya bilang apa? Bibi tinggal di sini saja?” harap asisten lainnya.
“Tidak mungkin. Saya harus pergi, mau apa juga di sini? sementara saya mau apa di sini? tenaga saya sudah tidak di butuhkan lagi, maafkan saya? yang selama ini menjadi atasan kalian!” ucap bu Nunung.
Yang lain memeluk bu Nunung dengan erat. Mereka saling berpelukan dan tidak kuasa menahan tangis haru. Mewarnai suasana perpisahan antara bu Nunung.
...----...
Di rumah Sukma yang tampak ramai dengan adanya Fikri yang menambah ramai. Seperti sekarang ini sedang berenang bersama Firza dan Marwan di kolam renang juga menangkap ikan dari kolam nya.
Sementara jihan di pinggir menunggui embernya yang sudah berisi beberapa ikan mas jaga nila.
“Eh. Jangan banyak-banyak nanti mubazir lho ... sudah aja ini juga cukup.” Kata Jihan sambil melihat isi ember.
“Alah ... baru berapa itu? baru dikit juga dan emangnya kau tidak suka? Jadi bar saja tangkap yang banyak,” timpalnya Firza.
“Iya benar, biar saja yang banyak, Kak jihan buat mommy masak dan di bakar sebagian. Iya kan Kak Wawan dan kak Iza?” tambahnya Fikri sambil merayap ke pinggiran kolam dan langsung menangkap ikan mas kecil.
“Ya ... cemen, dapat yang kecil. Yang besar dong ... seperti yang Kak Wawan.” Cibir Marwan kepada Fikri.
“Ih ... biar saja yang penting kan dapat, dan halal. Karena ikan yang aku dapat adalah ikan yang ikhlas, bukan terpaksa.” Akunya Fikri.
“Ahk dasar. Ada-ada saja, bilang saja gak becus! Nih Kak Za, dapet yang besar nih lihat dong ... bisa kan Kak Za pintar bukan kak Za?” Firza menunjukan pendapatan dia yang memeluk ikan mas yang lumayan besar.
“Nanti habis gimana?” tanya Jihan sambil melongo dan takut abis ikannya.
“Aduh Ka Jihan ... kalau habis? Ya beli lagi dan minta uang sama mommy,” sahutnya Fikri dan Marwan mengangguk pelan.
Sukma yang baru saja pulang kuliah, turun dari mobil yang dikemudikan oleh Pak Luky. Sukma berjalan dan langsung menuju kolam ikan yang berada di belakang rumah tersebut.
“Hi ... anak-anak? Lagi apa nih? tampak happy nih?” sapa Sukma sambil tersenyum dan mendekati mereka.
“Kak, baru pulang ya?” Jihan menoleh pada sang kakak yang kini berdiri di dekatnya itu.
“He’em, ambil ikan bukan?” Sukma mengangguk sambil celingukan.
“Mommy? Mommy? Lihat di ember sudah dapat banyak ikan dan aku dah tangkap beberapa ikan lho ... hebat bukan aku, Mom?” ucap Fikri dengan bangganya.
“Oya, hebat dong, jangan dibikin terlalu keruh banget dong ... air nya, nanti ikannya pada mabuk lho, kasiah dan nanti mubazir kan sayang,” ucap Sukma sambil melihat ke arah ember.
“Mommy sayang lebih ke ikan atau ke papa dan kita semua?” timpal Firza yang lagi-lagi mendapatkan ikan lagi.
“Em ... sayang semuanya, sama kalian sayang dan ikan juga sayang, sebab ikan-ikan itu kan bisa kita makan.” jawabnya Sukma.
“Mommy? Mommy? kalau harus memilih antara kita semua dan ikan-ikan itu. Mommy akan lebih memilih mana?” selidik Fikri sambil menatap ke arah mommy nya.
“Em ... perlu di jawab nih?” Sukma sambil mesem pada si bungsu.
“Jawab dong Mih.” Tambah nya Firza.
“Tentunya ... Mommy ... pilih yang mana ya? pilih keduanya saja lah!” balasnya Sukma.
“Nggak bisa, gak bisa. Harus di jawab, dan pilih salah satu dong.” Protesnya Fikri.
“Aku sayang ... Mommy,” jawabnya Fikri sambil mau memeluk. Namun Sukma menghindar dengan alasan takut basah dan kotor.
Kini Marwan memegang serokan ikan dan mendapatkan ikan beberapa sekaligus, membuat Fikri yang bersorak.
“Hore ... kita akan pesta ikan Mom ... nanti Mommy masak ya dan kita mau bakar-bakar ikan nih, iya kan Kak Wawan?” Fikri bersorak di pinggir kolam dan Marwan pun mengangguk pelan.
“Ya sudah, nanti Mommy masakin, tapi kalau bakar-bakar Mommy gak tau ya?” ucapnya Sukma sambil menarik Fikri agar menyudahi main basah-basahan nya.
“Ih ... Mommy,bentar lagi ya? benta ... r, lagi oke?” Fikri memohon pada Sukma.
“Baiklah, kalau sakit. Jangan salah kan Mommy ya?” Sukma berjalan meninggalkan tempat tersebut.
Jihan menyusul sang kakak dan yang lain pada melongo dan saling bertukar pandangan, dan akhirnya yang masih betah pun bermain air dan menangkap ikan. Pada menyudahinya.
“Sudah ahk, ikannya dah cukup banyak kok,” ucap Marwan sambil mengusap wajahnya yang basah.
Begitupun dengan Firza yang naik dan meminta ditarik oleh Marwan. Sementara Fikri lebih dulu ngibrit ke dalam.
“Mommy? Aku sudah nih.” Suara Fikri yang menyusul Sukma dan Jihan.
Bersihkan dulu di kamar mandi umum dekat dapur nah ... nanti kak Jihan bawakan handuk punya kamu ya?” Sukma melirik ke arah Jihan yang langsung berlari ke kamar Fikri.
“Oke mom?” Fikri langsung masuk ke kamar mandi.
“Non. Kapan pulang? baru lihat sekarang?” tanya bibi yang sedang menyetrika.
“Ada setengah jam yang lalu lah, Bi. Langsung mendatangi anak-anak yang main di kolam, sampai-sampai airnya keruh tuh kolam ikan.” Sukma menunjuk ke arah Marwan dan Firza yang menggotong ember yang berisi ikan.
“Bi, kita pesta ikan, Bi. Di masak dan di bakar-bakar, yang masak biar kak sukma dan sebagian di bakar nanti malam,” ucapnya marwan sambil menunjukan ember yang ada banyak ikan tersebut.
“Baiklah ... Bibi yang bersih kan saja ya?” bi Lasmi menoleh ke arah yang Marwan tunjukan.
“Sip ... bibi baik deh, Kak sukma yang masak ya? jangan lupa dan bumbu balado.” Tambahnya Marwan sambil melihat kearah bi Lasmi dan Sukma bergantian.
“Iya, Kakak mau mandi dulu ya?” Sukma berlalu pergi ke kamarnya dan anak-anak rebutan kamar mandi untuk membersihkan yang kotornya saja.
Sukma yang sudah berada di tengah-tengah tangga pun menoleh ke arah mereka.
“Anak-anak ... jangan rebutan dong ... Mommy gak mau berisik ya? Mommy lagi capek dan yang penting jangan ribut! suka marah dan akhirnya bertengkar, Mommy tidak mau kalian bertengkar, ya?”
“Iya.” Firza mengangguk dan Marwan juga memberi setuju dan mereka bergantian masuk setelah Fikri keluar dan mau membersih kan nya di kamar madi yang di atas.
Sukma segera membawa langkahnya ke kamar pribadinya dan langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri di sana, dan beberapa kali ponsel nya bergetar pun Sukma keburu masuk ke dalam kamar mandi sehingga tidak ke angkat.
Drettttt ....
Drettttt ....
Ponsel Sukma bergetar hingga berulang-ulang.
Setelah sekitar 15 menit kemudian, Sukma keluar dengan handuk yang membalut tubuhnya, lantas mendengar getaran dawainya yang berada di dalam tas langsung ia ambil dan memijit ikon hijau.
Sukma: “Halo? apa, sama ibu dan bapak? Ikut ke sini bukan? oh iya. Hati-hati saja?
Sukma terdiam sembari mengerutkan keningnya ....
.
Bersambung!
Jangan lupa like komen dan dukungan lainnya.