Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Ku lepaskan



Tangan Alfandi semakin bergerilya kemana-mana mengusap paha Sukma yang halus nan lembut.


Naik ke atas bermain di kedua puncak yang menggoda dan sesekali ia sesap penuh ga-ir-ah.


"Ahk ..." Sukma memejamkan kedua manik matanya dan terhanyut dengan suasana yang syahdu dan memabukkan.


Bibir keduanya menyatu, Mengemnuskan nafas yang saling bersahutan. Terdengar berat di akibatkan hasrat yang sudah naik ke ubun-ubun.


"Sayang, aku mencintai mu?" Alfandi melepaskan kata-kata yang mematikan buat seorang wanita agar jatuh ke dalam pelukannya.


"Apa benar kau mencintai ku?" Sukma membuka manik matanya dan menatap kedua netra Alfandi seakan mencari kebenaran nya di sana.


Tanpa menjawab. Alfandi mengecup lembut wanita muda yang berada dalam kungkungan nya itu, dalam beberapa saat dia cumbu dan dia manjakan dengan segala kelembutannya.


Dan pada akhirnya tangan Alfandi membuka gerbang agar dia dapat memasukan pesawat yang mambawa satu teng cairan yang akan menghangatkan dingin nya kutub es yang lama tak tersentuh matahari.


Alfandi bergerak teratur memberi ritme yang santai namun mematikan. Hingga lawan merasa tidak berdaya untuk melawan dan bertekuk di hadapan pria yang sudah memiliki dua putra tersebut.


"Al ..." Sukma menggigit bibir bawahnya dan menelan saliva nya yang merasa tercekat di tenggorokan juga bibirnya terasa kering dari cairan.


"Apa sayang hem? aku membutuhkan mu sayang, selalu! dan akan selalu membutuhkan dirimu di sisi ku. Sampai kapan pun!" bisik Alfandi tepat di telinganya.


Kedua tangan Sukma melingkar di punggung dan di pundak. Bergerak lembut mengusap dan sesekali menariknya agar lebih merapat. Dan tidak ada celah sekalipun semut mau lewat menggangu kesenangan mereka.


Di malam yang syahdu ini mereka berdua, benar-benar memadu kasih dan menumpahkan segala rasa yang terpendam di dada.


"Apa kau nyaman dengan posisi seperti ini sayang? bilang padaku bila kau inginkan sesuatu!" ucapnya Alfandi dengan sangat pelan dan nyaris tidak terdengar.


Membayangkan apa yang dilakukan Vaula dengan Yudi. Membuat Alfandi semakin bernafsu untuk melakukan nya. Dia marah dan kecewa pada Vaula yang mengkhianatinya selama ini, dia yang haus kasih sayang dan sentuhan. Malah dibiarkan begitu saja.


Sementara dia malah melakukannya dengan pria lain yang bukan hak nya. Alfandi semakin bersemangat sehingga ritme yang terjadi semakin cepat dan tempat tidurpun seolah sedang berdangdut ria.


"Uuh ... sayang!" Alfandi kembali meraup bibir Sukma dengan penuh rasa cinta dan penuh damba.


Menimbulkan sensasi yang lebih mengairahkan.


Alfandi merubah posisinya, menjadi duduk dan membawa Sukma ikut serta ke dalam pangkuannya. Tanpa menghentikan aktifitasnya yang sangat menyenangkan tersebut.


Keduanya terhanyut dalam suasana yang penuh sensasi. Antara kebutuhan dan ingin melupakan bayang-bayang Vaula yang melakukannya dengan orang lain. Membuat Alfandi seakan tidak mudah capek untuk melakukan nya dengan Sukma.


Sudah berjam-jam mereka melakukannya, Sukma pun tampak lelah. Tetapi Alfandi masih saja bersemangat dan tidak henti untuk terus membobol gawang lawan. Hingga beberapa kali terciptanya kemenangan yang sangat amat membanggakan.


Hingga pada akhirnya. Alfandi menyudahi aktifitas yang teramat istimewa dan mengasyikan, tidak mudah untuk digambarkan dengan kata-kata.


Alfandi tumbang di atas tubuhnya Sukma, dan jemari Sukma membelai rambut sang suami yang menyusupkan wajah lehernya dengan sangat lembut dibarengi dengan manik mata yang terpejam.


Sementara waktu, suasana hening yang terdengar hanya suara deru nafas saja yang bersahutan.


Tidak ada bicara selain bahasa tubuh yang berkata. Tangan Sukma mengusap dan membelai, punggung juga rambut Alfandi yang sedang ngplay buntut dari nikmatnya pelepasan barusan.


"Terima kasih sayang? kau sudah memberikan segalanya! padaku." Pada akhirnya Alfandi bersuara juga.


Sukma mengangguk seraya berkata. "Sama-sama," dengan tutur yang lembut dan jemarinya terus membelai rambut sang suami dengan halus serta tatapan yang lembut dan menenangkan.


Alfandi berbaring, menatap langit-langit dengan bibir tersenyum puas.


Sukma bangun dan duduk sembari menjepit selimut di ketiaknya hendak mengambil pakaiannya yang berada disamping tempat tidur.


Namun Alfandi ikut bangun dan menciumi punggung Sukma yang halus mulus berwarna kuning Langsat tersebut, dia hujani dengan kecupan kecil.


Sukma terus terpejam merasakan nadinya berdenyut merdu. Desiran-desiran aneh menjalar ke seluruh tubuhnya.


Alfandi terus saja memberikan rangsangan dengan sentuhan-sentuhan lembutnya di punggung, tengkuknya belakang dan samping di babat habis tidak ada yang ketinggalan. Dia menyingkirkan rambut Sukma ke samping.


Cuph! cuph! cuph! cuph! kecupan kecil terus mendarat di bagian-bagian tubuh Sukma yang tampak menggigil itu.


Tangan Alfandi menarik bahu Sukma dengan lembut agar dia berbaring kembali seperti semula, tanpa membuang-buang waktu.


Pria yang sudah mulai mengontrol pikiran dan hati nya itu memulai lagi melepas hasratnya yang lagi-lagi menggebu, dorongan-dorongan dari dalam dirinya menyeruak memerintahkan untuk melakukan sesuatu yang bikin happy.


Tubuh Sukma yang kini berada di dalam kungkungan Alfandi tampak pasrah dengan apa yang ingin suaminya lakukan tersebut.


Sekitar satu jam kemudian, barulah Alfandi benar melepaskan sang istri dari lingkungannya. Dan melepaskan penyatuannya.


Dengan nafas yang masih memburu, Alfandi menjatuhkan tubuhnya ke bantal dan berbaring di sana.


Sukma menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya dengan benar.


Cuph! Alfandi mengecup kening Sukma dengan mesra dan menarik bahunya agar meletakkan kepala di dadanya. Ia peluk dengan amat mesra.


Beberapa saat suasana begitu hening dan hanya suara nafas saja berembus mulai teratur.


Alfandi menatap langit-langit, dia belum bisa tidur meskipun mata ngantuk dan capek.


"Sayang?" panggil Alfandi dengan lirih.


"Hem!" gumamnya Sukma dengan pelan juga dan dia ... hampir saja tertidur dan memejamkan kedua manik matanya.


"Aku--"


"Oh iya, aku ingat sesuatu. Besok itu pergi liburan! emangnya tidak pulang dulu ke rumah utama. Istrinya pasti menunggu, kan?" Sukma mendongak dan menempelkan dagunya di dada Alfandi.


Kedua netra mata Alfandi menatap ke arah wajah sang istri. "Aku akan mengurus cepat perceraian ku!"


"Ha?" Sukma terkaget-kaget mendengarnya dan jelas dia akan merasa berdosa bila itu terjadi, karena apa? dia akan di cap merebut suami orang. Sehingga menggeser posisinya segala.


"Aku, sudah menceraikannya secara lisan. Tinggal ke pengadilan agama saja!" sambung Alfandi.


"Tidak, tidak boleh. Kau tidak boleh melakukannya, kasihan anak-anak." Sukma menggeleng serta melonjak bangun.


Sukma menjepit selimut di ketiaknya. Dia tidak ingin Alfandi menceraikan istrinya dan gimana nasib anak-anak? bila orang tua nya berpisah.


Bukan dia tidak ingin Alfandi membawa anak-anak! karena sekarang juga anak-anak bersama dirinya. Tetapi setidaknya orang tuanya masih bersatu dan lengkap.


"Aku, sudah menceraikannya sayang ... dan itu tidak bisa di ulang kembali. Talak ku sudah habis, tiga talak sudah ku lepaskan hari ini," ucap Alfandi dengan jelas.


Sukma menatap dengan rasa tidak percaya, serta terus menggeleng menyesali kenapa ini harus terjadi? tidak terasa air mata Sukma menetes.


Dia bisa membayangkan gimana sakitnya hati istri Alfandi bila tahu penyebab perceraiannya itu karena Alfandi sudah menikah lagi ....


.


...bersambung!...


Mana dukungannya nih, like komen dan vote nya agar aku tambah semangat nih🙏