
Kini Jihan semakin nekat apapun yang terjadi dia harus melawan, dia tidak mau dirinya menjadi korban kebiadaban sang kekasih, yaitu Excel.
Dengan sekuat tenaga Jihan menampar pipi Excel kanan dan kiri lalu menonjok dada Excel bertubi-tubi yang membuat laki-laki itu sedikit bergerak tubuhnya ke belakang. Merasakan sakitnya kena tamparan dan tonjokan dari Jihan yang tidak beraturan.
Excel semakin meluap emosinya, darahnya semakin mendidih antara nafsu bir-ahi dan marah. Brewekkkkh ... dia menarik baju bagian depannya Jihan sehingga beberapa kancing terlepas dari tempatnya dan mengekspos tubuh Jihan bagian atas yang tertutup dengan bra.
"Kau pikir akan. Bisa lepas dari ku, sebelum ku mendapatkan mu ha? no ... saya akan menikmati tubuh mu dulu dan baru kau bisa ku lepaskan ha ha ha ..." sergah Excel sambil menahan rasa sakit di dada dan pipi menjalar di tubuhnya.
"Kamu jangan kurang ajar sama aku, aku minta putus! aku tidak sudi punya kekasih seperti kamu dan semua yang sudah kau berikan akan ku kembalikan!" Jihan berteriak sekencangnya. Masih berharap kalau suaranya dapat terdengar ke luar serta ada dewa penolong untuknya di saat-saat yang benar-benar genting seperti ini.
"Saya tidak peduli kamu minta putus atau tidak. Dan saya juga tidak peduli dengan apa yang saya sudah berikan padamu dikembalikan atau tidak! yang penting saat ini kau harus membayarnya dengan tubuh mu!" suara itu terdengar sangat menakutkan di telinganya Jihan.
Pandangannya Excel pun semakin penuh gairah melihat pemandangan yang nyata di depan mata, walaupun ditutupi dengan kedua tangan Jihan yang menyilang.
Dengan cepat Excel menyingkirkan kedua tangan Jihan yang menutupi dadanya, namun walaupun terbuka tangan itu nampak dan menonjok lagi bagian-bagian tubuh dari Excel. Kedua kakinya pun bergantian menendang kaki dan lututnya Excel.
Excel sudah tidak tahan lagi menahan amarah kepada Jihan, yang terus berontak! melawan Di saat dia ada maunya beda dengan wanita-wanita lain, apalagi bila sudah disogok dengan belanjaan barang mahal! tidak diminta pun, memberikannya dirinya dengan sukarela.
Kesabaran Excel sudah habis dan kini dia kembali memanggul tubuhnya Jihan bak karung beras, tubuhnya yang sudah basah kuyup ke atas tempat tidur. Dia tidak memberikan lagi ruang untuk Jihan melawannya. Biarpun Jihan sekuat tenaga untuk bisa keluar dari lingkungan Pemuda bejat itu sembari terus berteriak meminta tolong.
"Tolong-tolong aku? aku mohon lepaskan aku? aku nggak sudih kamu buat kayak gini ..." Jihan berteriak dengan sekerasnya.
Kepala Jihan terus menggeleng kanan kiri melawan dan menghindari Exel yang berusaha menciumi nya. Kedua tangan nya pun di kunci di atas kepala dengan satu tangan excel yang kuat.
Bagian kaki sudah jelas di tindih tubuhnya yang terasa berat. Air mata jihan terus meleleh di sudut matanya yang terasa panas membasahi atas telinga. Apalagi ketika ciuman pertama yang sudah didapatkan oleh pemuda yang kini berubah bejat tersebut.
"Kumohon lepaskan aku Aku ingin pulang, hik-hik-hiks." Jihan terus memohon dan suaranya lebih rendah. Harga dirinya sudah tercabik-cabik dengan perbuatan Excel.
Excel itu memang minum, tapi dia tidak mabuk sama sekali dan dia melakukan ini dengan kesadaran! karena memang sudah ada niatan dari dulu untuk mengambil kesucian dari Jihan yang notabenenya adalah kekasih dia sendiri.
Sementara tangan satunya sudah berhasil membuka kaitan bra miliknya Jihan, benda itu menyingkap ke atas memperlihatkan benda yang sebelumnya di tutupi. Tampak begitu indah dan menjulang tinggi membuat mata excel semakin melotot dan ingin segera menikmatinya.
Jihan kembali menjerit dan juga memohon agar dia tidak diperlakukan seperti itu oleh Excel. Namun jeritan yang penuh permohonan dari Jihan tidak pernah dikabulkan oleh Excel.
Kedua manik mata Jihan terpejam kuat-kuat ketika Excel mendekatkan wajahnya ke bagian dua buah yang segar tersebut. Namun sebelum mendarat di tempat tujuannya.
Blak ....
Pintu kamar itu ada yang mendobrak dari luar dan dengan cepat kilat melompat ke arah tempat tidur. Menjambak rambut Excel yang tampak sangat kaget bukan main dengan kedatangan seseorang yang dengan berani-beraninya mendobrak pintu kamar seorang Excel.
Kepala Excel mendongak ke belakang dan terus di tarik oleh seseorang tersebut! sehingga tubuh Excel menjauh dan turun dari tempat tidur.
Jihan langsung terbangun dan menutupi dirinya dengan selimut. Kalau harga dirinya tidak benar-benar habis dengan kelakuannya Excel, atau masih bisa terselamatkan.
Jdughhhh.
Jedughhh.
"Kurang ajar kau! dasar biadab. mau menghancurkan anak orang! Kau pikir siapa ha? sebelum kau menghancurkan dia langkahi dulu mayat ku!" suara itu dengan nada tinggi yang tiada lain tiada bukan adalah Firza yang seharian ini mencari keberadaan Jihan karena kata Sri, Jihan pergi sama Excel dan tidak tahu ke mana.
Firza berapa kali berhasil menghajar Excel sehingga dia tersungkur di lantai tanpa perlawanan hingga akhirnya berapa pihak yang berwajib dari kepolisian datang menangkap Excel dan yang lainnya, juga membubarkan acara yang berada di lantai bawah.
Karena bukan hanya pesta ulang tahun saja! akan tetapi di balik itu ada transaksi lainnya dan juga pergaulan bebas.
Jihan yang masih di atas tempat tidur terduduk di balut selimut, menangis sejadi-jadinya antara sedih, shock dan bahagia karena dia terselamatkan juga.
"Benar kan? kau itu memang bego! sudah kubilang kan ... dia itu bukan laki-laki baik, dia fackboy ceweknya di mana-mana! masih mending kalau cuma ceweknya di mana-mana. Ini apa yang terjadi menimpa sama kamu sekarang hah?" Firza malah marah-marah kepada Jihan yang sedang menangis tersedu.
Firza merasa geram kepada Jihan yang dianggap tidak pernah menganggap omongannya, apa yang dia katakan dianggap angin lalu sama Jihan, dan kini kenyataannya apa? Jihan sendiri yang hampir menjadi korban bahkan setidaknya dia sudah merasa dilecehkan.
Mendengar bentakan Firza yang marah-marah, Jihan semakin menjadi-jadi tangisannya. Dia semakin menyusupkan wajahnya dibalik selimut. Mana pakaiannya rusak kancing-kancingnya lepas. Kepalanya pun tidak berkerudung.
"Heh! gadis aneh, bukannya menangis! mau pulang tidak?" Firza kembali membentak Jihan.
"Hik-hik-hiks kau ini niat nggak sih menolong aku? bukannya ditolong malah dibentak-bentak! dimarahin udah tahu orang kena musibah." suara Jihan sambil terisak namun dia tetap berada di persembunyian nya dalam selimut.
"Iih dodol, emangnya gue di sini ngapain kalau bukan tolongin lu?" Firza kembali mengeluarkan suaranya dengan nada keras.
"Hik-hik-hiks ..." Jihan lagi-lagi menangis pilu.
"Sudah! keluar, kamu mau pulang apa mau di sini?" kini suara Firza agak menurun nadanya.
"Carikan kerudung ku ..." pinta nya Jihan.
Kemudian kepala Firza celingukan mencari kerudung Jihan di antara barang-barang yang berserakan di lantai.
Excel sudah diboyong polisi keluar dan di luar pun terdengar ramai dengan penggerebekan tersebut.
"Ini kerudung mu, ambil!" Firza menyodorkan kerudung parisnya Jihan.
Jihan pun mengambilnya tanpa menunjukkan wajahnya. Dan tampak di dalam selimut Jihan tampak grasak-grusuk karena memasang kaitan bra dan juga memakai kerudung. Setelah itu Jihan masih kebingungan karena pakaiannya kan rusak, nggak ada kancing-kancingnya.
"Sudah belum lama amat sih? nanti rumah ini keburu di segel polisi!" ucap Firza yang tidak sabaran.
Dengan perlahan Jihan menunjukkan wajahnya yang sembab, dan kini sudah mengenakan kerudungnya. Namun masih belum berani menyingkirkan selimut dari tubuhnya.
Kini Jihan baru bisa memandang ke arah Firza yang kebetulan pemuda itu memakai sweater hitam. "Aku pinjam sweater mu!"
"Apa pinjem sweater ku? aku cuma pakai kaos oblong doang, jalanan jauh juga!" Firza tidaknserta merta berikan sweater nya kepada Jihan.
"Terus aku gimana? bajuku rusak nggak ada kancingnya!" suara lirihnya Jihan kembali yang yang tampak malu-malu. "Apa kamu tega membiarkan seperti ini? kepala pakai kerudung tapi baju--"
"Iya-iya, ini ku pinjamkan!" potongnya Firza sambil membuka sweater-nya, lalu dia berikan kepada Jihan.
Jihan pun langsung menyembunyikan diri di balik selimut kembali dan memakai sweater miliknya Firza. Dan setelah itu dia baru merasa leluasa untuk keluar dari dalam selimut, turun dari tempat tidur walaupun tubuhnya terasa sakit dan pegal-pegal. Yang kemudian ia mencari tasnya yang tadi dia simpan di atas meja.
"Tas ku ... mana tasku? di dalam nya ada ponsel, dompet dan kartu penting lainnya!" Jihan terus celingukan mencari keberadaan tas punggungnya.
"Ck, ayo buruan lama amat sih?" Firza berdecak kesal yang sudah berdiri di dekat pintu dan memegangi tas yang diyakini adalah milik Jihan.
"Iih ... Sebentar. Aku mencari tas-ku!" Jihan langsung menghentikan kalimatnya karena melihat tas miliknya tersebut sudah ada di tangan Firza.
Lalu kemudian mereka pun keluar dari ruangan tersebut dan bertemu, berbincang berapa saat dengan pihak yang berwajib dan tentunya Jihan akan menjadi saksi sekaligus korban! tetapi Jihan tidak bersedia karena dia tidak mau terlibat lebih jauh. Setidaknya namanya tidak ingin dicantumkan! dengan berapa alasan tertentu ....
.
Ayo mana dukungannya nih agar aku tambah semangat. Makasih.