
"Mommy, tuh kan ... Kaka Wawan selalu godain aku!" dengan nada manja nya menunjuk pada Marwan yang kian menjadi dengan menjulurkan lidahnya.
Semua pun ikut tersenyum pada Fikri yang baru saja bilang gak manja lagi.
"Ini anak kampret suka benar-benar bikin suasana riuh, bikin selera makan ku turun saja!" kini Firza pun turut bersuara.
"Oya, Za. Nanti sore Papa dan mommy mau pergi berziarah. Mau ikut gak? Marwan dan Jihan mau ikut." Alfandi mengarahkan tatapannya pada putra sulung nya.
Firza mengangkat wajahnya. "Em ... berziarah ke makam siapa, Pah. Emang?'' selidik Firza.
“Em ... itu makam nya orang tua mommy. Dan kita mau ke sana, Firza mau ikut gak?” tambah sang ayah.
“Oh ... ikut,” ucap Firza sembari menoleh pada marwan dan Jihan.
“Nanti pulang sekolah, siapa yang mau ikut belanja sama oma dan opa juga?” tanya Sukma sambil mengedarkan pandangan ke arah anak-anak. Kebetulan ini hari Sabtu dan sekolah pulang lebih awal.
“Ikut-ikut, kami ikut.” Balas semuanya kecuali Firza dengan gayanya yang tetap dingin.
“Oke, nanti kita belanja.” Tambahnya Sukma.
“Sayang, kau tidak boleh menyetir mulai sekarang kalau mau pergi kemanapun. Ajak Pak Luky, oke?” pesan Alfandi.
“Tapi Al ... kenapa? kemarin nyuruh aku belajar bawa mobil, sekarang malah gak boleh bawa. Gimana sih?” protes Sukma sambil mengunyah makanan di mulutnya.
“Mungkin untuk kebaikan mu Neng ...” kata bu Puji. Dan Mimy pun mengangguk setuju.
“Bukan kah Mommy itu tengah hamil? Nurut saja sama suami,” pada akhirnya Firza berkomentar juga tentang kehamilan nya Sukma.
“Nah ... itu, aku aku gak mau kecapean sayang ... kecuali mentok atau darurat, baru boleh. Kalau gak darurat sih ada supir yang akan siap mengantar mu.” Tambah Alfandi sambil menyentuh punggung tangan sang istri.
“Ya sudah. Aku nurut saja,” Sukma mengangguk pelan sambil menghabiskan sarapannya.
Selesai makan, Alfandi berpamitan kepada kedua orang tua nya. “Bu, Pa. Aku berangkat kerja dulu?” lantas mencium tangannya bergantian.
“Iya, hati-hati. Jangan ngebut kalau membawa mobil? Dan semoga rejeki yang kau dapatkan itu senantiasa berkah,” ucap sang ayah dengan lirih dan mengusap bahunya Alfandi.
Sang ibu pun mengiyakan perkataan sang suami lalu berkata dengan lembut juga. “Pergi dan pulanglah dengan selamat.”
“Aamiin ... ya Allah ...” balas semuanya yang ada di sana.
Dan kemudian Alfandi dan Sukma berjalan ke keluar untuk pergi bekerja, Sukma sekedar mengantar suaminya saja ke depan.
“Sayang, jaga kesehatan ya? jangan terlalu capek-capek juga.” Pesan Alfandi sambil mengecup pucuk kepala Sukma.
Sukma meraih tangan suaminya dan lantas mencium punggung tangannya penuh hormat.
“Hati-hati dan cepat pulang ya sayang? aku akan merindukan mu,” pinta Sukma dengan senyuman di bibir lalu memeluk punggung Alfandi sejenak.
Alfandi membalas peukan sang istri dengan erat lalu mengusap kepalanya dengan lembut. Beberapa saat kemudian rangkulan pun memudar, tangan Alfandi membelai anak rambutnya Sukma yang dekat kening. Ditatapnya sangat dalam. “Hi. Aku Cuma kerja sayang, nanti sore bertemu lagi dan akan pergi bersama.”
“Emangnya gak boleh kangen gitu? biar Cuma kerja juga?” Sukma tersipu.
“Boleh, apa aku gak usah bekerja kali ya? aku diam saja di rumah biar dilihat sang istri selalu?” gumamnya Alfandi sambil tersenyum.
“Nggak-gak. Justru bila kau di rumah terus, aku akan merasa bosan. He he he ...."
"Hem tega nian kau bilang seperti itu." Kemudian Alfandi berangkat kerja diiringi dengan lambaian tangannya Sukma.
Kini Sukma dan anak-anak juga kedu mertua nya sedang belanja, di pusat swalayan.
Seperti biasa mereka memburu makanan atau cemilan. Sesekali mereka menunjukan kekonyolannya, menaiki troli dan bergantian dan mendorongnya juga bergantian. Setelahnya tertawa penuh dengan kebahagiaan.
Sukma pun menoleh sambil menunjukan senyumnya kepada adik-adik dan kedua putra sambungnya.
"Ibu bahagia sekali melihat mereka akur dan bahagia. Sebab tidak jarang anak-anak yang bermusuhan atau apa? tapi mereka walau kadang usil dan akhirnya akur lagi," ujar Bu Puji sambil melihat ke arah mereka.
"Oya, kalian sudah bertemu sebelumnya?" Bu Puji bertanya pada sang mantu dan tertarik untuk mengetahui ceritanya.
Pak Sardi pun tampak penasaran. Melihat ke arah Sukma.
"Iya, kami sudah bertemu sebelum menikah. Aku bertemu dengan Fikri di jalan karena di sempat kabur dari rumah, lalu aku bawa ke kontrakan. Dan posisinya ... aku dan Al sudah kenal tapi biasa aja." Kenang Sukma sambil mengambil belanjaan dan dia masukan ke troli.
"Terus, bertemu dengan si sulung?" selidik pak Sardi seraya melirik ke arah anak-anak yang berada jauh dari mereka bertiga.
Sukma mengerutkan keningnya. "Em ... kalau si sulung, aku lupa awal mula bertemunya. Yang jelas ketika menikah mereka ada menjadi saksi."
"Em ... begitu cerita nya? jadi mereka sudah dekat dari awal!" Bu Puji dan suami mengangguk pelan.
"Kalau si sulung mungkin memang wataknya agak cuek dan aku maklumi itu, beda dengan Fikri yang lebih bawel dan manja. Dia tidak kagok padaku dan langsung menganggap aku ini mommy nya." Akunya Sukma dengan bibir tersenyum tipis.
"Iya, kan anak itu berbeda-beda. Tidak akan sama, biarlah! yang penting dia tetap menganggap kita mommy nya, menghormati kita. Meskipun dia cuek dan itu memang sifatnya, mau gimana lagi." Bu Puji menambahkan lagi.
"Iya, Bu ... aku tidak masalah kok tentang itu. Dan pada kenyataan nya si sulung pun betah tinggal dengan ku, Semenjak waktu itu dia gak pernah tinggal tanpa kita." Jelas Sukma.
"Lu kenapa sih, usil banget sama gue? itu makanan gue!" Firza merebut makanan yang ada di tangan Marwan.
"Ini kesukaan gue, Za. Lu ambil lagi. Lu kan tinggi dari gue." Marwan menunjuk ke atas.
"Apa sih ... gitu aja dipermasalahkan? ini ma Kakak ambilkan!" Jihan mengambilkan makanan yang sama.
"Makasih, Kakak ku tersayang!" sambut Marwan sambil menjulurkan lidahnya pada Firza sambil ngeloyor pergi.
Dan Firza pun mengangkat tangan di udara dengan wajah kesal.
"Za. Wajah lu kusut banget, kaya benang kusut. Gelap bagai bulan tertutup awan hitam yang pekat. Buram bagaikan kulit tanpa skincare! apa lagi ya perumpamaan nya? lupa lagi gue." Jihan mendirikan manik matanya seakan berpikir.
Firza mengulum senyumnya sembari menggeleng. "Berisik lu? mulut mu bagai suara rantang yang di pukul! be ... ri ... sik!" ucap Firza sembari berjalan mendorong troli yang berisi belanjaan.
mereka berempat.
"Rrrggh ... dasar kulkas, es batu. Manusia kutub. Apa lagi ya?" Jihan menggaruk kepala yang tertutup kerudung tersebut.
Sukma memindahkan belanjaan dari troli ke dalam bagasi membantu pak Luky. Namun di cegah oleh Firza yang langsung menarik tangan Sukma agar masuk mobil.
"Kata papa juga apa? jangan capek-capek! mommy itu lagi hamil!" jelas Firza.
Sukma pun masuk ke dalam mobil seraya berkata. "Apa sih yang capek, Za ... cuman gitu doang!"
"Tuh Oma ... mommy membantah terus, gak. Bisa di bilangin!" Firza keluh Firza pada Omanya.
Bu Puji dan pak Sardi hanya tersenyum melihat ke arah Sukma dan Firza bergantian.
"Jadi kan Kak? kita ke makam ibu dan bapak?" tanya Jihan dari depan.
"Insya Allah ..." Sukma mengangguk sembari menempelkan punggungnya ke jok mobil.
"Aku kangen ibu!" suara Marwan dengan nada sedih dan wajah pun tampak sendu.
Hening!
Semua melihat ke arah Marwan yang menunjukan rasa sedihnya ....
.
...Bersambung!...
Tidak lupa aku ingatkan ya pade raeder ku, klik subscribe di tiga titik di atas bagian kanan ya, like komen dan dukungan lainnya juga, agar aku tambah semangat berkarya lagi 🙏