
Semakin hari. Kedekatan Jihan dan Firza tercium juga oleh keluarga. Yaitu Sukma yang mengetahui kedekatan mereka dari Marwan.
Sukma menghela nafas dalam-dalam. Dia baru saja pulang dari luar Negeri setelah menemani suaminya Alfandi. Dengan urusan kerjaan dalam beberapa hari yang lalu.
Dia mendengar berita itu dari Marwan yang bercerita kedekatan sang kakak dan ponakan sambungnya. Bahkan memberi simbol keseriusan itu dengan sebuah cincin.
Meski Sukma percaya kalau kedekatan mereka masih di batas kewajaran dan tidak mungkin keduanya melakukan sesuatu yang aneh-aneh sebab kedua nya pasti punya batasan sendiri.
Namun tak ayal menjadi pikiran buat Sukma, apa iya atau cuma isu saja candaan anak-anak yang dibuat-buat.
Dan yang paling menganggu pikiran Sukma adalah ... ia merasa kalau Vaula akan menentang keras hubungan Jihan dan putra nya tersebut. Vaula tidak akan mungkin merestui hubungan hubungan mereka dengan alasan apapun.
Sehingga Sukma mengajak Alfandi untuk main ke tempat nya Jihan dan Firza dan Sukma ingin memastikan apa benar berita itu. Sementara mereka belum sempat pulang lagi setelah acara liburan waktu itu, karena sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.
"Yank, kita ke sana yo? aku penasaran dengan berita itu." Sukma menatap suaminya.
"Untuk apa sayang ... kita ke sana?" tanya Al sembari menatap lekat. "Bukan kah kamu sendiri yang bilang kalau seandainya ada jodoh ... tidak akan menjadi masalah ... sebab mereka itu saudara sambung."
"Memang benar, mereka itu hanya saudara sambung kalau sampai juga mereka ada jodoh tapi masalahnya ... aku khawatir kalau mamanya Firza itu gak akan merestui hubungan mereka!" Sukma tampak khawatir.
"Akan tetapi menurut aku ya ... biarlah mereka jalani apa adanya! mau direstui atau tidak sama Vaula tidak akan berarti apa-apa buat putra ku, aku yakin kok kalau putraku tidak akan mengikuti kata orang lain selain kata hatinya sendiri. Jadi untuk apa kita datang ke sana hanya untuk menyelidiki kedekatan mereka! hanya akan dianggap ikut campur saja!" ujarnya Alfandi.
Sukma terdiam mendengar perkataan dari suaminya tersebut memang benar sih apa yang dikatakannya! buat apa dia datang ke sana hanya untuk itu. Yang ada nanti mereka merasa sungkan, gak enak hati dan sebagainya.
Terlihat helaan nafas yang panjang dari Sukma. "Kamu memang benar sih, ya sudahlah nggak usah ke sana!" Sukma menjatuhkan bokongnya di atas tempat tidur tampak lesu. Apalagi baru saja pulang dan badan rasanya sangat capek.
Yang kemudian Alfandi berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan malam ini dia ada urusannya di luar, tentunya masalah pekerjaan.
Sekitar 15 menit kemudian Alfandi keluar dari kamar mandinya dengan mengenakan handuk yang melilit di pinggang! dengan tangan mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
Menoleh pada sang istri yang masih juga tampak bengong dan entah apa yang dia pikirkan saat ini? dan di tempat tidur pun yang biasanya kalau ia mandi Sukma menyimpan pakaiannya untuk ganti pun kosong.
"Sayang, baju ku mana? nanti malam kan ada meeting! kamu mau ikut nggak?" Alfandi memecah lamunan Sukma yang langsung mengerjapkan matanya.
"Ha? baju. Oh ya sebentar aku siapkan, aku lupa!" Sukma pun langsung beranjak dan berjalan mengayunkan langkahnya mendekati lemari, mengambil pakaian untuk Alfandi sekalian buat acara formal nanti malam.
"Nanti malam kau juga ikut menemaniku meeting, lagian kan sekarang Syakila bisa ditinggal. Dia bisa di rumah tunggu sama yang lain," ajakan Alfandi pada sang istri.
"Harus ikut? rasanya aku capek!" Sukma dengan nada malas.
"Nggak lama kok Sayang ... paling 1 jam saja. Setelah itu kita pulang lagi, lalu beristirahat." Alfandi sambil mengancingkan lengan bajunya yang dibantu sama sang istri.
"Baiklah kalau begitu nanti aku siap-siap!" kata Sukma yang lalu kemudian mengambil handuk bekasnya Alfandi yang tergeletak di lantai.
...-------------...
"Aku mau mengantar paket, ngapain kamu ke sini?" tanya Jihan kepada Firza yang datang menghampirinya.
"Ya sudah, aku antar sekalian! nggak usah banyak nanya!" jawabnya Firza sambil membuka helmnya.
"Kamu pulang kerja, belum pulang ke rumah ya?" Jihan mendengus kan hidungnya mencium bau tubuh Firza yang belum mandi.
"Kamu tahu aja kalau aku belum pulang! dan itu benar aku dari kedai langsung ke sini, jadi boro-boro mandi," jawabnya dengan jujur.
"Pantas aja bau, bau belum mandi. Kenapa sih nggak pulang aja dulu ke kosan! mandi dulu kek--"
"Eh gadis aneh. Tau nggak? kalau gue pulang ke kosan! terus mandi dulu, ngapain dulu, nanti keburu lama. Sudah nyampe sini jam 09.00 belum juga duduk! belum juga ngobrol langsung diusir aja, gimana sih?" Firza menggerak-gerakan tangannya.
"Malah ketawa lagi, sudah tahu kalau pulang. Gue pasti lama di kosan, yang akhirnya ke sini nya sebentar! ayo buruan lah mau diantar nggak?" Firza yang masih juga duduk di atas motornya.
Jihan yang sudah menenteng beberapa paper bag yang mau diantar sebagai paket. Menyimpan bawaannya itu di atas motor Firza dan dia buru-buru masuk ke kosannya sebentar. Detik kemudian Jihan kembali dengan membawa botol minyak wangi yang tanpa izin dulu langsung menyemprotkannya ke tubuh bagian belakang dan depan Firza.
"Eeh apa-apaan sih, gue nggak suka baunya. Lagian tubuh gue nggak bau kok biarpun belum mandi, nggak suka juga dengan wanginya?" protes Firza yang tidak suka dengan bau minyak wanginya Jihan.
"Jangan banyak bicara! aku yang menciumnya, kamu bau dan makanya aku kasih parfum." Jihan memasukkan minyak wangi ke dalam tasnya.
"Mendingan gue, bau parfum yang baunya bawaan cowok, daripada sekarang baunya parfum cewek!" gerutu nya Firza.
Dan setelah itu Jihan pun naik ke atas motornya Firza lantas menepuk pundaknya. "Ayo jalan! jangan menggerutu terus nanti keburu malam!"
Setelah mengantar paket, Mereka pun nongkrong dan membeli es krim di sebuah mall.
"Firza ... kebetulan kita ketemu di sini. Mama ingin bicara sama kamu." Suara Vaula mengagetkan Firza dan Jihan yang tengah nongkrong melihat band sambil menikmati eskrim.
Firza langsung menoleh dan menatap datar pada mama nya yang ia rasa dengan tiba-tiba hadir di antara mereka.
"Mama. Ada apa? maksud ku ... mau bicara apa?"
Vaula melihat ke arah Jihan dengan tatapan yang tidak suka, lalu kembali mengarahkan pandangannya ke arah Firza. "Kita baiknya bicara di sana. Restoran."
Firza menoleh pada Jihan seakan bertanya gimana dengan gadis itu.
"Temannya ajak saja." Vaula dengan nada dingin.
Jihan sudah merasakan jantungnya deg-degan tidak menentu melihat keberadaan Vaula apalagi dengan sikapnya yang dingin dan tak bersahabat.
Kini mereka sudah berada di sebuah restoran duduk berhadapan. Vaula menatap tajam ke arah putranya, Firza.
"Mama lihat kalian ini ... tampak begitu dekat, apa kalian ada sesuatu?" tanya Vaula sembari menatap keduanya bergantian.
Jihan menunduk dan di bawah meja tangannya menyatu. Manahan rasa gugup yang menyelimuti hatinya, keringat dingin pun keluar dari pori-pori kulitnya.
"Ehem, emangnya kenapa Mah? kita sudah sama-sama dewasa dan kami bukan saudara yang sebenarnya. Jadi tidak ada salahnya bila kami dekat atau punya tujuan hidup bersama." Jelas Firza pada mamanya.
Membuat Jihan mengangkat wajahnya melihat ke arah Firza dan Vaula yang justru semakin menunjukan wajah yang tidak suka pada dirinya.
"Em, oke ... kalian bukan saudara kandung. Tapi Mama tidak suka kamu dekat sama dia. Mama lebih suka kamu dekat dengan Puspa yang lebih jelas keturunan nya." Tegas Vaula kembali.
Firza dan Jihan dengan refleks menatap wanita dewasa itu yang tampak cantik dengan penampilannya yang selalu menarik.
"Mah, siapa bilang Jihan tidak jelas keturunannya? dia adik mommy. Dan aku tahu mommy dan dia gimana--"
"Bukan Mama yang bilang soal keturunan dia. Tapi kamu, Mama cuma bilang kalau Puspa itu lebih jelas ketu--"
"Itu sama saja Mah, sama saja Mama bilang kebalikannya, lagian dari mana Mama tahu kalau Puspa labih baik?" Firza menimpali perkataan dari mama nya yang menunjukan ketidak sukaan nya pada Jihan.
Jihan hanya menyimak obrolan anak dan ibu yang saling timpal dan berdebat tentang dirinya. Yang pada intinya Vaula tidak suka kalau putranya dan Jihan dekat satu sama lain ....
.
Bersambung.