Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Pergulatan



Mimy dan Beben tampak akrab dan betah mengobrol berdua sehingga berlangsung sampai malam.


Sementara Sukma yang berada di kontrakannya sedang sibuk memasak buat makan malam.


"Kak, katanya om Alfandi mau datang malam ini," ucap Jihan dari tempatnya belajar.


"Iya, Kak. Kali saja bawa makanan," timpal Marwan.


"Huuh ... kamu ini, makanan mulu yang di ingat!" celetuk Jihan menatap tidak suka pada Marwan, adiknya.


"Kakak? kalau ada makanan di meja pasti juga kau makan." Marwan malah bernyanyi.


"Tidak punya malu, berharap di beri orang mulu!" manik mata Jihan mendelik sempurna pada sang adik.


"Yey ... Kakak! kalau nggak berharap dikasih? terus dari mana orang? aku belum bisa kerja, aneh deh." Marwan menunjukkan sang Kakak.


"Bodo, ahk." Jihan dingin.


"Sudah-sudah ... makan malamnya dah siap!" Sukma menengahi kedua adiknya.


"Kak Mimy mana ya? kok dari tadi aku belum lihat kemana dia? biasanya nongol lagi nongol lagi." Marwan celingukan.


"Kak Mimy ada temennya, teman pria," sahutnya Jihan sambil melihat ke arah Sukma.


"Iya, itu temennya, Kakak. Jihan, kan pernah beberapa kali ketemu sama kamu dulu, waktu Kakak masih kuliah." Kata Sukma sambil mengambil piring.


"Ooh ... iya, Kak Beben iya-iya aku ingat pantesan aku merasa kenal, tambah ganteng aja ya, Kak?" Jihan mengangguk-anggukkan kepalanya.


Sukma hanya tersenyum dengan perkataan Jihan barusan, 6ang bilang Beben ganteng.


"Emang temennya kak Mimy juga?" tanya Marwan penasaran.


"Nggak, bukan. Mereka baru kenal tadi, Kakak kenalkan. Mungkin mereka langsung cocok, makanya mereka ngobrol." Tambahnya Sukma.


Kemudian ... mereka langsung menyantap makan malamnya dengan lahap, walaupun makan seadanya namun tetap terasa nikmat. Jika kita bersyukur dengan apa yang ada.


Begitupun dengan Sukma dan kedua adiknya, biarpun makan sama telur ceplok, tahu dan oseng toge, cukup membuat mereka makan begitu nambah.


Sekitar pukul sembilan malam. Sukma dan adik-adiknya sudah bersiap-siap untuk tidur.


"Kak, kok om Alfandi nggak datang ya? padahal dia bilang mau datang malam ini." Jihan melirik pada sang kakak yang mencoba untuk tidur.


"Emangnya kenapa? kalau gak datang kenapa?" Sukma malah bertanya pada sang adik.


"Nggak tahu sih, tapi kan katanya dia mau datang," timpal nya Jihan sambil menarik selimutnya.


Sukma menggeleng sembari melihat ke arah sang adik, yang mulai memejamkan kedua matanya. "Mungkin dia lagi sibuk!"


Namun tidak ada sahutan ataupun pergerakan lagi dari Jihan, anak itu sudah ngorok dengan begitu cepat.


Tidak lama kemudian, terdengar suara mesin mobil yang berhenti di depan kontrakan. Sukma yang baru saja mau memejamkan mata pun langsung terbangun, mengingat kata Jihan kalau Alfandi mau datang malam ini.


Sukma mengayunkan langkahnya, mendekati jendela dekat pintu untuk mengintip. Apa benar itu Alfandi yang datang?


Benar saja, itu Alfandi baru keluar dari mobilnya, mendongak ke langit-langit yang sepertinya sedang gerimis menghiasi. Berjalan mendekati ke arah pintu kontrakan Sukma.


Kedua manik mata Sukma melihat ke arah kontrakan Mimy yang sudah tampak sepi itu. Hati Sukma dag-dig-dug tak menentu, mana malam-malam yang lain sudah pada tidur.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


"Assalamu'alaikum ..." Alfandi mengetuk pintu juga.


Sukma menghela napas lalu ia hembuskan berkali-kali. Detik kemudian tangan Sukma memutar kenop pintu dan membukanya.


"Wa'alaikumus salam ..." jawabnya Sukma sembari mengayunkan langkahnya keluar, dengan niat biar duduk-duduk di teras aja, ngobrol di sana! nggak enak bila diajak masuk.


Alfandi tersenyum ke arah Sukma. "Kau belum tidur?" sapa Alfandi.


"Belum, kalau anak-anak ya ... sudah tidur," Sukma menunjuk ke arah dalam rumah.


"Ooh ... sayang ya? padahal saya bawakan makanan." Alfandi menyerahkan kantong yang dia jinjing kepada Sukma.


"Makasih? padahal jangan repot-repot. Gak enak!" ucap Sukma sembari melihat kantong tersebut.


"Nggak pa-pa! nggak repot kok sekalian lewat," sahutnya Alfandi sembari mendudukkan dirinya di kursi.


Lalu Sukma pun duduk di kursi yang satu lagi. Sukma menautkan kedua tangan nya di atas pangkuan, dia tidak tahu harus mulai berkata apa selain kata ucapan terima kasih. Karena Alfandi sudah memasukkan adik-adiknya sekolah.


"Em .. saya--" suara Alfandi dan Sukma berbarengan.


Membuat alfandi dan Sukma saling melempar senyuman, merasa lucu dengan suara mereka yang berbarengan dan kata-kata yang sama,


"Ya sudah, kau saja yang duluan bicara." Lirihnya Alfandi menyilakan Sukma untuk bicara duluan.


Sukma menunjukan senyumnya pada Alfandi sebelum melanjutkan perkataannya.


"Saya mengucapkan terima kasih? kepada anda yang sudah sudah masukkan Jihan dan Marwan sekolah, semoga kebaikan anda Allah yang membalas. Sebenarnya ... aku merasa tidak enak, baru saja kita kenal sudah banyak merepotkan mu," jelas Sukma sekilas melirik lalu menunduk kembali.


"Nah ... itu yang tadi saya mau katakan, adik-adikmu sudah masuk sekolah dan semoga mereka betah, rajin juga belajarnya! jujur saya akan merasa sedih kalau mereka benar-benar terputus sekolah, apalagi saya melihat mereka begitu semangat dan ingin bersekolah! masa sih saya tega membiarkan mereka?" ujar Alfandi.


"Iya, mereka sangat senang bisa kembali bersekolah dan aku pun terharu, sebab aku sendiri gak bisa berbuat apa-apa untuk mereka." Sukma menghela nafas panjang membuang rasa sedih yang sudah berada di tenggorokan.


"Kau tidak perlu bersedih, insya Allah akan banyak jalan untuk sebuah kebaikan," Alfandi menatap ke arah gadis itu yang menunduk dalam memainkan jari-jarinya. Serta terlihat ada linangan yang jatuh ke pangkuannya.


"Saya ke sini untuk memberikan uang bulanan buat mereka, maksud saya buat bekal sehari-hari. Karena untuk bayaran sekolah sudah full saya bayar sampai akhir semester atau kenaikan kelas nanti." Lanjut Alfandi.


Sukma mendongak. "Ya ampun ... bagaimana aku bisa membalasnya?" Sukma bukannya bahagia malah kebingungan.


"Ini uangnya, diterima ya? insya Allah tiap bulan pun akan saya kirimkan! oh iya, untuk pulang pergi mereka sekolah, sebelum mereka hapal jalan. Jadi akan ada orang kantor yang mengantar jemput mereka. Sampai mereka bisa mandiri naik angkutan umum dan pulang dengan selamat."


Sukma menatap lembaran uang itu dengan tatapan nanar. Merasa haru, sedih bercampur bahagia.


"Atau kamu punya rekening?" tanya Alfandi pada Sukma.


Sukma menoleh sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak punya rekening, dulu pernah ada, tapi sekarang sudah mati. Terblokir."


"Hem ... ya sudah, mana kartunya? beserta data-datanya juga? nanti saya suruh orang untuk menghidupkannya kembali, biar saya lebih gampang untuk mengirimkan uang padamu." Sambung Alfandi.


"Buat apa? ini juga cukup!" Sukma mengambil uang yang ada di meja.


"Buat nanti, kalau uang itu habis sebelum waktunya. Kau bisa ngomong dan saya akan dengan mudah mengirimkannya ke rekening mu." Lanjut Alfandi lagi.


Sukma menggeleng. "Tidak usahlah, buat apa juga? nanti nggak guna lagi." Sukma menunjukkan senyumnya kepada Alfandi.


Alfandi tertegun menatap senyuman Sukma yang manis itu, dan jelas-jelas di arahkan padanya.


"Nggak pa-pa ke sini kan saja? sekalian juga datanya yang lengkap." Pinta Alfandi pada akhirnya bersuara setelah beberapa saat hening.


"Jangan memikirkan hal itu dulu, yang penting kehidupan kalian tidak susah seperti kemarin lagi, jujur saya sedih mendengar cerita Marwan, walaupun tidak lama namun cukup membuat saya terharu," kenang Alfandi.


"Emangnya dia cerita apa sama anda?" Sukma melirik sekilas lalu mengalihkan kembali pandangannya dari Alfandi.


"Marwan dan Jihan cerita, ketika tinggal di tempat bibi. Makan pun susah jangankan jajan! mau makan saja cuma dikasih nasi, lauknya harus beli sendiri dan itu pun tidak kenyang," kenang Alfandi kembali mengingat cerita Marwan dan Jihan.


Sukma menarik nafas panjang sembari mendongak, dan tangannya mengusap sudut mata yang basah.


"Alhamdulillah keadaan itu tidak berlangsung lama, karena Mimy segera mencarikan kontrakan buat kami yaitu di sini, walaupun pada akhirnya dan kenyataannya aku tetap merepotkan orang lain. Merepotkan dirimu?" Sukma menatap menolah ke arah Alfandi.


Sebenarnya Alfandi merasa tidak tega, ingin sekali mengusap air matanya Sukma yang mengalir di sudut pipi.


"Sekarang kau nggak perlu khawatir, jika ada apa-apa! bilang saja padaku, oh iya. Mana nomor telepon mu?" Alfandi meminta nomor telepon.


Sukma nyengir, sembari menggeleng. "Tidak, aku tidak punya ponsel. Pas pindah ke tempat bibi, ponselku hilang entah ke mana!" jawabnya Sukma.


Huuuh ... Alfandi menghembuskan nafasnya lalu berkata. "Baiklah, besok jam makan siang! kau ikut denganku."


Sukma kaget. "Ngapain? mau ke mana?"


"Ke konter ponsel, membeli ponsel untuk mu," sahutnya Alfandi.


"Nggak-nggak, gak usah, terima kasih banyak? tidak perlu repot-repot." Sukma menggeleng.


Sudah di duga, kalau Sukma tidak seperti wanita lain yang dengan mudah menerima kebaikan dari orang lain. Dia sosok yang ingin mandiri namun terhalang dengan kondisi.


"Baiklah, saya pulang dulu sudah malam!" Alfandi beranjak dari duduknya.


"Neng, ngapain malam-malam berduaan? nanti diganggu setan lho!" sapa seorang bapak-bapak tetangga.


Sukma melirik ke arah Alfandi yang sudah siap untuk pergi.


"Saya dari tadi dilihat-lihat kalian berduaan mulu. Gak baik anak perawan malam-malam di luar du-duan! kecuali kalau udah nggak perawan," kata seorang perempuan yang diperkirakan istri si laki-laki tadi.


Sukma hanya tersenyum, dan mengangguk kepada dua orang tersebut.


Alfandi menatap kedua orang tersebut. "Beginilah bila hidup bertetangga," gumamnya sambil tersenyum, suaranya pelan karena ditujukan hanya untuk Sukma saja.


Sukma pun mengangguk pelan sambil mengalihkan pandangan dari tetangga tersebut ke Alfandi.


"Yah ... hujannya semakin lebat nih." Ucap Alfandi sambil menengadahkan tangan menyambut air hujan.


"Hujannya cuma satu, tapi temannya terlalu banyak," timpalnya Sukma sembari menatap ke arah tanama yang terkena air hujan.


"Iya, benar aja. Hujannya cuma satu namun temannya banyak yang akan menjadi penghalang untuk pulang," suara Alfandi seraya menunjukkan lengkungan bibir yang membentuk senyum tipis.


"Jangan bilang. Anda nggak bisa pulang ya? gak mungkin tidur di sini juga?" manik Sukma mendelik kepada Alfandi.


"He he he ... siapa juga yang nggak mau pulang? apalagi tinggal di sini? paling-paling tuh saya tinggal tidur di mobil he he he." Alfandi terkekeh.


"Gak enak dilihat orang!" tutur Sukma.


"Iya, saya tahu! saya bisa pulang kok, ya udah. Assalamualaikum?" Alfandi berjalan menuju mobilnya sebentar menyeruak membelah hujan.


Sukma berjalan masuk tidak lupa menjinjing kantong yang tadi disimpan di meja, setelah mobilnya Affandi hilang dari pandangan.


Sebelum tidur, Sukma melamun sambil duduk di atas tempat tidur yang ada Jihan yang sudah terlelap melayangi mimpi.


Sudah dua kebaikan yang Alfandi ditawarkan pada dirinya pribadi, pembaruan ATM dan ponsel baru. Namun dengan secara halus dia tolak tawaran itu, kemudian Sukma menggelengkan kepalanya kasar.


"Aku malu bila terus buat mu repot, sudah cukup adik-adikku yang mendapatkan perhatian. Kebaikan darimu! biarlah aku seperti ini," gumamnya Sukma.


...*****...


Di malam yang sama, di sebuah studio foto. Vaula dan fotografer sedang berduaan di sana, sehabis pemotretan! asisten Vaula pulang duluan, begitupun dengan asisten fotografer yang bernama Yudi.


Tinggallah Vaula dan Yudi, yaitu fotografer yang usianya lebih muda dari Vaula.


Tatapan mereka tampak mendambakan sesuatu, kedekatan mereka yang terlihat sangat intens seolah mengisyaratkan ada sesuatu di balik antara seorang model dan fotografer nya.


Saat ini mereka sedang duduk di atas sofa, saling mengobrol dan dibarengi dengan canda dan tawa. Posisi duduk mereka begitu dekat sesekali kontak fisik pun terjadi, memegang, mencolek. Bahkan berciuman singkat pun terjadi di saat itu.


"Sudah lama kita tidak berduaan seperti ini baby," ucap Vaula pada pria tersebut yang memegangi tangan Vaula sangat erat.


"Iya, baby. Aku juga kangen saat-saat seperti ini," jawabnya Yudi sambil menghujani Vaula dengan kecupan.


Keduanya saling memadu kasih di atas sofa panjang yang berada di sana. Vaula duduk di atas paha pria muda yang bernama Yudi tersebut. Saling cumbu layaknya sepasang pasutri.


"Baby, kau akan pulang telat gak apa-apa?" tanya Yudi di sela-sela mencumbu wanita cantik itu.


"Nggak apa-apa, kan kamu sudah tahu beb aku sering pulang telat, mau sama kamu apapun soal kerjaan aku sering lupa pulang! semuanya sangat melelahkan sahut Vaula sambil mengusap pipi lawan bicaranya itu.


"Iya sih, aku tahu sudah menjadi kebiasaan mu, tapi untuk apa kau lelah bekerja? suami mu pun sudah banyak duit! gak akan kekurangan," sambungnya Yudi kembali.


"Yang sebenarnya bukan cuman cari duit semata-mata sih, tapi aku bosan di rumah terus dan aku ingin mengembangkan hobi ku dan juga agar dapat bertemu dengan kamu beb." Kecupan mesra pun berapa kali mendarat di pipi dan bibirnya Yudi.


"Bosannya kenapa baby? kalau kamu bosan tinggal belanja, shopping. Kamu ada banyak uang. Apalagi yang dibikin bosan? lanjut Yudi sambil membelai rambut Vaula serta tatapan mesra.


"Aku bosan sama suamiku," jawabnya Vaula.


"Emangnya kau tidak bosan denganku! bidadari ku tiap hari bertemu denganku," tanya Yudi sambil memainkan mata genitnya dan bukan cuma mata saja yang Yudi berikan, tak ayal tangan pun genit, raba sana. Raba sini.


"Mana ada aku bosan sama kamu? sudah sering kita melakukannya, aku selalu rindu! ingin lagi dan ingin lagi," ekspresi wajah Vaula yang bikin gemas bagi lawan bicaranya itu.


"Beneran nih ... merindukanku?" selidik Yuda sambil menarik tubuh Vaula agar lebih merapat ke tubuhnya.


"Iya dong ... aku rindu sama kamu! rindu cumbuan dari mu, rindu sentuhan kamu baby." suara Vaula dengan nada manja, sepertinya diri Vaula sudah dipenuhi dengan gairah yang ingin segera diluapkan.


Yudi tersenyum dengan senyuman yang penuh arti. Kemudian melanjutkan cumbuan nya kepada wanita itu, serta tangan nakalnya membuka semua penghalang yang ada di tubuh mereka berdua.


Pergulatan pun tak dapat di elakan lagi, mereka berdua tak mampu menahan diri lagi, untuk memadu kasih. Di atas sofa tanpa selimut atau kain apapun, pergulatan yang penuh dengan gairah yang teramat menggelora.


Vaula terlena, hanyut dengan suasana. Lupa kalau di rumah ada yang menunggu suami dan juga anak-anak.


Saat itu Vaula melupakan perannya yang mempunyai seorang suami, yang lama ia biarkan dalam kerinduan akan belai kasih sayangnya sebagai istri.


Perlahan keibuannya pun menghilang, seakan tidak mempunyai anak-anak yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari seorang dirinya.


Vaula begitu terlena, keasyikan dengan kegiatan di luar. Lupa akan kewajibannya, lupa akan kodratnya sebagai istri.


Sekitar pukul 11 lewat pergulatan pun berakhir dengan kucuran keringat di tubuh kedua sejoli itu, mereka menyudahi itu karena mereka sadar waktu sudah terlalu malam. Untuk mereka kembali ke asal ataupun rumah.


Sebenarnya Yudi itu punya kekasih, yaitu adalah asisten pribadinya Vaula, sungguh miris memang! pagar makan tanaman. Mereka bermain di belakang pasangannya masing-masing ....


.


.


...Bersambung!...