
"Oke. Aku mandi dulu!" Alfandi melonjak bangun dengan hati yang merasakan kesal.
"Ya!" Sukma pun bangun dan merapikan pakaian yang tampak kusut tersebut. Lalu mendekati pintu yang terus di ketuk oleh Fikri dikarenakan tidak ada respon dari dalam.
"Iya, sayang ... sebentar?" Sukma membuka pintu kamar sembari memegangi botol parfum yang dia semprotkan ke tubuhnya membuat semerbak baunya memenuhi ruang kamar tersebut.
Fikri mendengus mencium baunya yang semerbak. "Hem ... baunya ... wangi!" anak itu sampai-sampai memejamkan kedua matanya.
Manik mata Sukma hanya memandangi ekspresi Fikri yang terhanyut dengan aroma parfumnya.
"Eeh, lupa! he he he ... Mommy jadi gak berangkatnya? kita sudah menunggu sedari tadi lho." Tanya Fikri yang hampir saja lupa dengan niatnya yang datang ke sana.
Sukma menunjukkan senyumnya yang hangat. "Iya jadi! tunggu sebentar, papanya lagi mandi."
"Tapi lama ... dari tadi ditungguin nggak nongol-nongol, dari tadi lho ... heran, Papa ngapain aja sih di dalam?" selidik anak itu sambil celingukan ke dalam kamar.
"Sayang ... papa kan capek baru pulang kerja, masa Mommy harus paksa berangkat cepat-cepat sih? kasihan dong papanya." Lirihnya Sukma sembari mengusap pucuk kepala Fikri.
"Uuh ... lelet! papa jam karet," gerutu Fikri sambil melipat tangannya di dada.
Sorot mata Sukma, terus mengarah ke arah anak itu yang kini berjalan masuk dan melihat-lihat suasana kamar mandar-mandir menunggui papanya keluar dari kamar mandi.
"Duduklah sayang, jangan mondar-mandir kayak gitu, menunggunya sambil duduk saja. Papa dan Mommy pasti segera turun kok, bilang aja sama kakak-kakak nya. Tunggu sebentar!" pesan Sukma sambil menyiapkan pakaian buat Alfandi.
"Nggak, aku mau nunggu di sini saja. Nanti papa nya menghilang lagi!" Fikri duduk di sofa sembari nyalakan televisi.
Tidak lama kemudian Alfandi muncul dari balik pintu dengan handuk di pinggang dan netra nya langsung mendapati Fikri yang duduk di sofa, lalu mengalihkan pandangannya ke arah sang istri.
Dengan cepat, Sukma memberikan pakaian Alfandi agar segera bisa pergi.
"Ih, Papa ... kok itu Papa bangun sih? keinginan ya?" secara tiba-tiba Fikri berkata demikian setelah netra nya melihat junior sang ayah tampak sekali bangunnya dari balik celana pendek.
Bikin Alfandi dan Sukma menoleh dan terkesiap mendengarnya. Dan buru-baru menutupinya dengan ujung kemeja serta menaikan celana panjangnya ke atas.
"Ya ampun ... jelas bangun. Tadi itu belum apa-apa! baru saja pemanasan. Sudah kau ganggu Nak ... jadi papa gak bisa manjain si kecil namun perkasa ini." Batinnya Alfandi sambil menatap sang istri yang tampak malu-malu sambil membantunya berpakaian.
"I-iya, Papa barusan kedinginan. jadinya bangun nih." Alfandi nyengir ke arah Fikri yang menatap intens ke arah sang ayah.
"Papa manja, masa pakai baju saja di nanti sama Mommy! gak bagus itu. Papa harus mandiri. Seperti Abang dong ..." Fikri menepuk dadanya sendiri. Ohok- ohok.
"Hi hi hi ..." Sukma berusaha menyembunyikan tawa nya atas ucapan dan tingkah Fikri, hingga sampai terbatuk-batuk
"Ohok, ohok. Minum Mommy minum? ohok-ohok!" Fikri terbatuk-batuk setelah menepuk dadanya barusan.
Sukma buru-buru mengambilkan air minum yang memang tersedia di meja, lalu dia berikan kepada anak sambungnya tersebut. "Buat apa sih ... menepuk dada segala Hem? ayo buruan minum?"
Alfandi tertawa yang tidak bersuara sembari menggerakkan kepalanya, melihat ke arah anak itu yang terus terbatuk-batuk dengan mata yang merah.
"Sudah minumnya?" tanya Sukma sambil mengusap dadanya Fikri dengan lembut.
Fikri menganggukkan kepalnya pelan. "Sudah. Mom!"
Setelah beberapa saat, mereka pun sudah berada di dalam mobil Alphard hitam mengkilat dan yang nyetir pak Luky. Dengan alasan Alfandi capek dan ingin bersantai saja di belakang bersama sang istri.
Mobil merayap keluar dari halaman dan tampak Mimy baru saja turun dari angkutan umum serta matanya tertuju ke arah mobil yang di tumpangi keluarga Sukma.
"My, gue pergi dulu ya? titip rumah dan mertua gue, ingat ya jangan diculik he he he ..." suara Sukma sambil menurunkan kaca jendela.
"Iya, palingan gue congkel nih rumah. Gua pindahin ke tempat yang lebih strategis. He he he ..." balas Mimy sambil nongol ke arah dalam mobil.
"Kak Mimy, titip juga kamar aku ya? kali saja di curi sama semut." Timpal Jihan.
"Kak Mimy, aku titip ikan-ikan kubyang di kolam ya? tolong mandikan ikannya sampai bersih. Dan bila sudah waktunya tidurkan ya? wk-wk-Wak ..." suara Marwan seiring berjalannya mobil meluncur meninggalkan tempat tersebut.
"Iya, bawel, dasar kalian semua! eeh, masa iya gue harus mandikan ikan-ikan? kan hidup di air. Mana ada di mandikan dan di tidurkan?" ini siapa yang ngacok sih? dia apa gue?" Mimy bermonolog sendiri.
Mobil terus meluncur, menuju ke 1salah satu tempat dimana menjadi tempat terakhir orang tua Sukma di semayamkan.
"Mom, masih jauh ya? perjalannya?" tanya Fikri dari depan menoleh ke arah mommy nya yang duduk di jok belakang bersama sang suami.
Namun manik mata Fikri mendapati Sukma tampak tertidur di bahu papanya.
"Mommy nya bobo nih!" sahutnya Alfandi sambil menyandarkan kepalanya ke jok belakang.
"Em ... tidur!" keluh Fikri.
"Kayanya masih setengah perjalanan lagi deh." Jawabnya Jihan sambil menoleh pada Fikri.
"Ooh, gitu. Kak Jihan sering ke sana?" tanya Fikri sembari menatap Jihan dengan tatapan yang penasaran.
"Setalah pindah ke kota kita tinggal, belum pernah ke sana lagi!" kini Marwan yang menjawab pertanyaan dari Fikri.
"Kalian masih beruntung. Mempunyai orang tua yang masih lengkap, dari pada Jihan dan Marwan ini yang hanya memiliki kakak saja." Ungkap Luky yang sedang sibuk nyetir.
Fikri dan Firza saling bertukar pandangan.
Luky melirik ke arah anak-anak dari kaca spion di atas kepalanya. Mereka hanya terdiam dan memilih untuk sibuk dengan pemikirannya masing-masing.
Selang beberapa puluh menit kemudian. Mobil pun sampai di sebuah pemakaman yang menjadi tujuan Sukma dan kedua adik nya.
"Sayang dah sampai, yang mana makamnya?" Alfandi membangunkan sang istri yang tertidur sedari tadi.
"Em ..." Sukma membuka kedua matanya yang pertama dia lihat tentunya sang suami yang mengelus pipinya dengan lembut.
"Sudah sampai sayang." Ulang Alfandi sembari melirik ke arah luar. Dimana anak-anak pun sudah berada di luar.
Kemudian Sukma menegakkan duduknya, menggosok matanya yang terasa sepet banget dan barusan tidurnya terasa nikmat sekali.
Sukma turun dan berjalan mendekati jalannya air tuk mencuci muka dan mengambil air wudu terlebih dahulu.
Alfandi yang berada di samping pun turut mengambil air wudu. Di ikuti oleh anak-anak yang juga mengambil air wudu.
Kemudian Sukma berjalan duluan mengajak yang lain ke makam kedua orang tua nya.
Sukma membuka sandalnya yang diikuti oleh yang lain. Mengucap salam, istigfar. Membaca surah Al-fatihah, ikhlas. Alfalak, an-naas. Lanjut tahlil. Doa ziarah.
Setibanya mereka, di dua kuburan orang tua nya. Membaca doa untuk mayat dll nya.
Kepala Sukma menunduk dan begitu khusuk membaca doa. Lalu dalam hati bermonolog. "Bapak. Ibu! aku datang bersama adik-adik dan keluarga baru ku. Suami dan anak-anak sambung ku dan sebentar lagi aku mau kalian mau punya cucu, aku sedang mengandung. Bu ...."
Alfandi yang berjongkok di dekat sang istri tak luput, bibirnya komat-kamit membaca doa-doa yang dia bisa.
Fikri menatap ke arah mommy nya menunduk dalam dan menoleh ke arah Marwan juga Jihan, sama! menunduk sedih dan terdengar bacaan doa dari mulut mereka, pak Luky pun yang agak jauh tampak menunduk dan membaca doa.
Lanjut Jihan menaburkan bunga dan menuangkan air. Di atas pusara kedua orang tua nya dengan air mata yang mengalir di pipi.
Firza memandangi gadis itu dengan intens, hatinya merasa sedih melihat gadis itu menangis ....
.
...Bersambung!...