
Sukma mengusap wajahnya dengan kasar, mengeringkan air mata yang sedari tadi membasahi pipi. Alfandi yang baru saja keluar dari kamar mandi menatap heran dengan sikap Sukma yang agak aneh dan sendu.
"Sayang kamu kenapa? kok agak aneh apa kamu sakit! dari sepulang aku dari kerja kamu nampak nggak bergairah seperti itu!" kata Alfandi pada Sukma yang sedang menyiapkan pakaiannya dari lemari.
Sukma menggeleng sembari berkata tidak apa-apa! namun tidak menampakkan wajahnya yang jelas di hadapan sang suami, dia lebih banyak menunduk.
"Beneran tidak apa-apa? Kalau seandainya sakit atau ada apa-apa yang mengganggu pikiran ngomong aja jangan sungkan-sungkan biar aku mengerti, jangan suruh aku menjadi dukun yang harus menerka apa yang kau pikirkan dan apa yang kamu rasakan!" Tambahnya Alfandi.
Sukma kembali terdiam di atas sofa yang berada di kamar tersebut, sesekali memandangi pada suaminya yang sedang berpakaian. Dalam hatinya terus bergejolak antara percaya dan tidak dengan omongannya Vaula yang mencoba meracuni hati dan pikirannya dengan perkataan-perkataan yang membuat dia merasa sakit hati dan hancur.
Alfandi menatap aneh pada sang istri yang tetap dalam pandangannya tampak tidak biasa. Wajahnya yang sendu dan ditekuk kedua manik matanya agak sembab dan bibirnya pun tampak pucat.
Setelah makan malam dan Syakila pun sudah tertidur di kamarnya.
Alfandi kembali mendekati sang istri dan bertanya. "Sayang, kalau ada yang sedang yang tidak kamu mengerti dan menganggu pikiran ... coba bilang jangan dipendam sendiri. Agar aku tahu dan tidak menerka-nerka."
Sukma yang tengah membereskan pakaian ke dalam lemari menjadi teringat lagi dan tertenang lagi apa yang menjadi beban pikirannya.
Kemudian menoleh pada sang suami seraya menghela nafas dalam-dalam dan kemudian ia hembuskan dengan sangat kasar. "Aku hanya ingin kamu jujur sama aku dan tak ada yang kamu tutupi sedikit pun!"
Kening Alfandi mengerut dan dia kurang mengerti apa yang menjadi maksud dan tujuan sang istri sehingga berkata demikian, seolah-olah dirinya sering membohongi dia ataupun berbuat tidak jujur.
"Maksudnya apa nih? Seakan-akan aku ini sering tidak jujur padamu, Terus kapan aku tidak jujur padamu atau membohongi mu?" Al menyentuh tangan Sukma yang menghindar.
"Aku nggak tahu, hanya kamu juga yang tahu. Hanya dirimu sendiri yang faham apakah kamu sudah jujur sama aku atau kebalikannya?" Sukma menaikkan kedua bahunya seraya menundukkan pandangan ke lantai.
Membuat Alfandi semakin tidak mengerti dengan sikap sang istri yang biasanya bersikap ramah, ceria! namun sudah sedari tadi dia pulang kerja sikapnya berasa aneh.
Al merubah posisi duduknya dan menaikkan sebelah kakinya ke atas sofa! kemudian mengarahkan tubuhnya sehingga menghadap kepada sang istri.
"Seingat aku, aku selalu berusaha untuk jujur dan terbuka, dalam hal apapun. Tidak pernah ada yang aku tutup-tutupi dari kamu." Alfandi dengan nada lirih.
"Kamu merasa seperti itu! tapi buktinya apa? di luar kota khususnya di Balikpapan kamu berduaan dengan Vaula! kamu melakukan sesuatu yang tidak senonoh dengan wanita yang bukan istrimu! melainkan mantan. Kalau kamu ingin kembali, kembali aja aku gak akan melarang jika kamu mau! dan anak-anak senang. Silahkan!" Suara Sukma agak meninggi nadanya.
"Maksudmu apa? aku dengan Vaula ada apa? nggak ada apa-apa! dan siapa yang berduaan di sana juga melakukan yang tidak-tidak apa? kita di sana bertemu secara tidak disengaja. Kami pun tidak melakukan apa-apa! kan sudah aku ceritakan sama kamu kalau dia datang pada aku untuk membincangkan tentang sekolahnya Fikri." Al semakin tidak habis pikir dengan kecurigaan sang istri yang menurut dia tidak beralasan dan semakin membingungkan.
"Akan tetapi kalian melakukan nya juga kan? kalian sudah melakukan hal yang menjijikan, kalian sudah seli--" Sukma menggantungkan kalimatnya.
"Apa maksud kamu sayang? demi Tuhan aku tidak melakukan hal itu--"
Kepala Alfandi terus menggeleng bagaimanapun dia tidak mau mengakui sesuatu yang tidak pernah dia lakukan, waktu itu memang sempat berpelukan tapi kalau dia tidak jatuh tidak mungkin itu terjadi.
"Kita pulang dari sana sudah berhari-hari Sayang, dan kini kamu membahasnya. Ada apa? siapa yang meracuni pikiran mu sehingga mencurigai ku seperti itu? sesuatu yang tidak pernah ku lakukan." Alfandi terus membela diri yang tidak pernah dilakukan.
"Kalau kamu ingin kembali sama dia silakan! agar keluarga mu utuh kembali Aku ikhlas kok!" bibir Sukma semakin bergetar dan air matanya tidak dapat dia bendung lagi, sehingga mengalir deras membasahi pipi. Apa yang dia katakan memang tidak sesuai dengan apa yang dia rasakan! istri yang mana sih yang ikhlas melepas suaminya kembali kepada mantan.
"Siapa yang ingin kembali? sayang siapa? aku sudah cukup bahagia hidup denganmu! membina rumah tangga dengan mu, tidak pernah sedikitpun terbesit dalam hatiku untuk kembali kepadanya, tidak pernah sama sekali. Aku jelaskan sekali lagi sama kamu ... tidak pernah terbesit di pikiranku, di hatiku untuk kembali kepada Vaula." Ujarnya Alfandi kembali.
Alfandi menatap wajah sang istri yang banjir dengan air mata dan berusaha untuk menghapusnya, namun Sukma menghindar dan dia langsung naik mendekati lalu naik ke atas tempat tidurnya! dan berbaring menghadap ke dinding.
Sukma berusaha mengusap wajahnya yang basah, luapan dari perasaannya yang hancur. Sakit dan perih. Dia menempelkan kepalanya di atas bantal dan menghadap dinding! dadanya masih terasa sesak.
Alfandi pun beranjak dari duduknya dan menyusul sang istri yang sudah berada di tempat tidur. Ia merangkak naik dan berbaring di samping sang istri. Menghadap punggungnya dan mencoba untuk memeluk pinggangnya. Akan tetapi Sukma langsung menyingkirkan tangan Alfandi dari bagian tubuhnya tersebut.
Pria itu cukup tahu dan memahami perasaan nya Sukma saat ini, sehingga dia mencoba membiarkannya untuk sementara waktu dan dia berbaring terlentang menatap langit-langit dengan kedua tangan yang di bawah kepalanya.
"Sayang, harus percaya padaku kalau apa yang ku katakan itu semuanya benar dan aku sudah berusaha jujur padamu, aku tidak pernah mengkhianati ataupun ingin kembali kepada mamanya Fikri dan Firza tidak pernah ada niat itu!" Suara Alfandi begitu lirih, walau tak ada respon dari Sukma! dia yakin kalau sang istri mendengarkan perkataannya.
Suasana begitu hening tak ada yang mengeluarkan suaranya sepatah kata pun, yang terdengar hanya suara detaknya jantung dari masing-masing dan nafas yang teratur. Jam dinding yang terdengar dentingannya menghiasi heningnya suasana.
Alfandi menolehkan kepalanya ke arah sang istri, menggerakkan tangannya untuk membelai rambut sang istri dan mencium baunya.
"Sayang, aku tahu kamu belum tidur. Tadi kamu mengantar Fikri ke rumahnya Paula bukan? dan dia berkata apa saja sehingga kamu marah padaku dan mencurigai ku yang tidak-tidak, seharusnya kamu tidak percaya dia! tetapi percayalah pada suami mu ini yang setiap hari bersamamu." Ujar Alfandi sembari merubah posisinya yang kini menghadap kembali ke arah punggung Sukma yang bergeming.
Cuph. Alfandi mencium kepalanya Sukma dan tangannya mulai bergerak memeluk pinggangnya sang istri yang tetap bergeming Tak bergerak sedikit pun.
Sukma yang pura-pura tidur tetap bergeming dan tidak merespon perkataan atau pergerakan dari sang suami.
Dari sudut matanya tetap saja mengalir buliran air bening yang terasa hangat dan membasahi bantal berwarna putih.
Dadanya terasa sakit dan sesak dalam otaknya terus membayang suaminya melakukan hal itu dengan sang mantan. Hingga dia masa jijik dan rasanya tidak ingin disentuh oleh sang suami, tapi dia membiarkan tangan Alfandi di pinggangnya. Karena nanggung dia sudah berpura-pura tidur ....
.
Bersambung