Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Season 2



Sebelum pulang ke kosan. Firza dan Jihan nongkrong di sebuah danau yang tampak indah dan pengunjungnya pun lumayan ada tapi tidak terlalu banyak dan riuh, menjadikan suasana tersebut menjadi tentram, tenang dan damai.


"Ngomong-ngomong. Emangnya Puspa nggak marah kalau kamu ngajak jalan aku?" gumamnya Jihan sembari melirik ke arah Firza yang duduk di sampingnya dan menikmati air danau yang tampak tenang.


"Marah lah, kalau saja dia tahu!" jawabnya Firza tanpa menoleh ke arah samping.


Jihan terdiam dan mengatupkan bibirnya, menatap wajah tampan sosok Firza yang selalu tampak cool, jutek namun di balik itu baik dan perhatian.


Ditatapnya dalam-dalam, Jihan harus mengakui kalau sesungguhnya dia suka sama Firza sejak dulu, ketika baru mengenal cinta monyet! namun perasaan itu sampai sekarang tidak pernah hilang. Mungkinkah dirinya memang mencintai Firza? seorang pemuda yang hadir dalam kehidupannya menjadi saudara karena dia anak dari Abang iparnya.


Lantas Jihan mengalihkan pandangan seraya menghela nafas dalam-dalam, yang dia hembuskan dengan kasar.


"Kenapa kau menatap ku seperti itu? suka ya ... apa baru mengakui kalau aku memang tampan?" ucapnya Firza dengan tetap tidak menoleh kanan dan kiri.


Jihan langsung menoleh. "Ha, apa? aku suka sama kamu? oh no ... No way, because we're one family!"


"Emangnya kenapa kalau kita satu keluarga? memangnya ... ada larangan untuk saling mencintai?" kini barulah kepala Firza, dia menoleh ke arah samping yaitu dimana Jihan berada.


Jihan yang sedang menatap dirinya langsung menundukkan pandangan ke bawah. Bertatapan dengannya jantung berasa berdegup sangat kencang, bahkan ingin melompat dari tempatnya.


Jihan menggigit bibir bawahnya, kenapa Firza mengatakan hal seperti itu? yang sekiranya akan sulit untuk dia jawab.


"Kenapa kamu terdiam? kan aku tanya, memangnya kenapa kalau satu keluarga? sementara kita mulainya tidak ada hubungan darah! hanya terkait sekarang oleh ponakan saja!" Firza sedikit merubah posisi duduknya dan lebih berhadapan dengan Jihan.


"Kamu bicara apa sih? aku nggak ngerti deh!" Jihan tampak gugup dan kebingungan.


"Aku tanya ... seandainya kita saling mencintai, memangnya ada larangan ya? karena kita satu keluarga? sepertinya tidak!" Firza mengulang lagi pertanyaannya lalu sedikit memberi pandangan.


"Emangnya siapa yang saling mencintai? kita kan keluarga! saudara, jadi kita saling menyayangi seperti saudara, makanya kamu selalu melindungi aku. Oh ya, makasih ya? kalau saja waktu itu kamu tidak datang dengan tepat waktu ... nggak tahu nasib ku kayak gimana!" Jihan menjadi terkenang akan kejadian itu. Sehingga pembicaraan pun teralihkan.


"Tidak usah berterima kasih, bukannya sudah kewajibanku untuk menolong mu dan melindungi mu! dipikir-pikir gue berasa superhero ya? ha ha ha ... gue mencari-cari dirimu yang entah di mana! namun dengan tepat waktu dapat di temui!" Firza menarik kedua sudut bibirnya menerbitkan sebuah senyuman yang manis, kebetulan terkena sinar cahaya lampu yang berada di sekitar sana.


"Jujur aku tidak bisa membayangkan! jika kamu tidak datang dengan tepat waktu, pada detik-detik terakhir!" kenangnya kembali Jihan.


"Ji, gua masih penasaran dan pertanyaan gue belum lu jawab. Memangnya kenapa kalau kita satu keluarga dan seandainya ada cinta?" sepertinya Firza kekeh dengan pertanyaan itu yang belum juga terpecahkan karena belum mendapat jawaban dari sudut pandangan Jihan.


Jihan menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu, dan kenapa sih kamu nanya itu terus? kita ini kan bagaimanapun bersaudara. Lagian siapa juga yang mencintai mu?"


"Iya, emangnya siapa yang mencintai mu? aku cuma tanya doang!" suara Firza dengan nada tinggi.


Tatapan kedua pasang mata mereka pun bertemu, dengan tatapan yang begitu dalam seakan-akan ingin menyelami perasaan hati masing-masing.


Serrrr ...


Darah yang mengalir di tubuh keduanya berasa mengalir semakin deras dan pertemuan mata yang terkunci di antara mereka berasa menimbulkan rasa yang menggetarkan hati. Bak ibarat ada aliran listrik yang menyengat kedua tubuh keduanya.


Rrrtttt ....


Rrrtttt ....


Getaran ponsel membuyarkan lamunan keduanya, tatapan mata mereka pun berakhir seketika. Dengan adanya suara notif dari ponselnya Firza.


Membuat Jihan tersadar kalau waktu semakin bergulir dan 10 menit lagi tepat pukul 09.00 malam. Sehingga gadis berkerudung berwarna coklat muda tersebut berdiri, beranjak dari duduknya.


Jihan meninggalkan Firza yang sedang membaca notif pesan di ponselnya tersebut. "Huuh ... itu pasti pesan dari Puspa! jangan sampai dia tahu kalau kita sedang jalan berdua, bisa-bisa dia marah sama aku nanti."


Langkahnya Jihan berhenti di dekat sepeda motor Firza dan dia menunggu sang empu di sana, sementara pemiliknya masih di tempat yang tadi.


Di mana ada berapa Pemuda yang tengah memperhatikannya. Membuat Jihan merasa risih, kembali ke tempat yang tadi agak jauhan, mau berdiam diri di sana ada rasa was-was. Dan dia hanya memberikan senyuman tipisnya saja dengan wajah yang tampak pucat.


"Neng kenalan dong! pasti mahasiswi ya? nggak usah takut saya bukan penculik kok, apalagi gadis cantik seperti kamu! baling-baling penculik hati." Kata salah satu pemuda yang menghampiri Jihan.


Membuat jihan semakin kebingungan, dan tidak tahu harus menjawab apa. Apalagi melihat gelagat yang tidak enak dari ketiga pemuda tersebut.


"Tidak perlu takut Neng ... kita baik-baik kok! kita sudah jinak tidak mungkin menggigit cewek secantik kamu!" tambahnya pemuda satu lagi dan dia pun mendekati ke arah dimana Jihan berdiri.


"Aduh si Firza mana sih ... kok belum nongol juga? aku takut!" monolognya Jihan dalam hati sembari celingukan mencari siapa tahu saja Firza muncul di saat itu juga.


"Kok Neng diam saja. Neng mahasiswi mana dan sedang apa di sini? bersama pacarnya ya? atau sendirian saja, mau Abang anterin?" ucapnya pemuda satu lagi dengan menunjukkan senyuman yang sedikit menakutkan.


"Neng ini pasti bisa bicara kan? dan tidak bisu, kenapa diam terus apalagi sariawan?"


Jihan menggeleng dan sedikit mundur, karena tubuhnya sadar dikerumuni ketiga Pemuda yang membuat hatinya gelisah, sialnya ... tubuhnya mentok ke motor miliknya Firza sehingga dia merasa kesulitan untuk penggerak kecuali melompati motor besar Firza.


"Ma-maaf, permisi?" Jihan meminta ruang agarnya bisa keluar dari tempat tersebut dengan niat mau menyusul Firza.


"Adu-du-du-du-du-du-duh ... suaranya, merdu nian ... bikin hatiku klepek-klepek. Suara merdu mu itu ... memuat hatiku meleleh. Bagaikan es krim yang terkena panas sedikit saja, mudah mencair." kata ketiga pemuda tersebut bergantian.


Ketiga pemuda tersebut tetap saja di posisinya, tidak memberi ruang untuk Jihan lewat. Tangan salah satu pemuda itu dengan nakalnya mencolek dagu Jihan yang langsung ditepis gadis itu.


"Kalian jangan kurang ajar ya! dan kamu jangan colek-colek, emangnya kalian pikir aku sabun colek?" suara Jihan dan tatapan yang tidak suka.


"Kamu memang bukan sabun colek cantik, tetapi ... sesuatu yang bikin hati Abang nyess ... panas dingin serta jiwaku meronta-ronta! hasrat ku ingin--"


"Permisi. Aku pengen lewat!" lagi-lagi Jihan meminta jalan agar dia bisa keluar dari tempat tersebut.


Akan tetapi, lagi-lagi justru tangan pemuda-pemuda itu semakin nakal, dan berusaha agar dapat menyentuh tangan dan pipinya Jihan.


Jihan pun semakin marah dan berusaha melawan dengan menampar salah satu pipi Pemuda tersebut. Yang justru membuat amarah si Pemuda meluap dan mencengkeram kedua tangan Jihan! mendorongnya ke atas motor sehingga terduduk dan pemuda itu mencoba kurang ajar.


Dan Jihan langsung menjerit memanggil nama Firza. "Tolong ... Firza ... tolong?"


Sementara kedua teman pemuda tersebut hanya tersenyum melihat teman prianya berusaha mengganggu Jihan.


Jdugh.


Jihan menggunakan lututnya untuk menendang bagian tengah tubuh Pemuda tersebut.


Sehingga kedua tangan Jihan terlepas! dengan refleks menangkup bagian tubuh di antara kedua pahanya yang terasa sakit dan ngilu.


"Brengsek. Kurang ajar nih cewek jadi-jadian, tangkap dia! kita sekap dan kita nikmati bareng-bareng." Pekiknya si pemuda yang Jihan tendang anunya.


Sementara Jihan berhasil melangkah dari tempat semula. Namun dengan cepat kedua pemuda itu menangkap tangan Jihan kanan dan kiri.


"Lepas? lepaskan aku?" gadis itu berontak, menarik kedua tangannya yang di kunci oleh kedua pemuda.


Si pemuda tadi berdiri tegak biarpun anunya masih sakit dan ngilu, dia menjadi marah pada Jihan dan menyuruh kedua temannya menyeret Jihan keluar dari area tersebut.


Jihan siap berteriak sekerasnya. Namun Firza sudah berada tampak di tempat dengan tatapan yang sangat tajam ke arah tiga pemuda tersebut! dan sudah memasang kuda-kuda untuk menyerang mereka bertiga ....


.


Makasih atas yang sudah setia dengan karya ini.