Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Kurang sehat



"Baru ya? Bang. Berkeliaran di sekitar sini?" tanya seorang wanita yang berdiri di pinggir jalan dengan pakaian yang kurang bahan tersebut.


Di sana ada beberapa wanita yang sedang berdiri, ada yang merokok ada juga yang memainkan ponselnya namun mata elangnya dengan gesit mencari-cari mangsa.


Rupanya tempat itu tempatnya menjajakan kue basah yang membuat candu bagi penikmatnya.


Netra nya Alfandi menyisir suasana tersebut dengan intens. "Iya, saya baru ke tempat ini!"


"Pantas, berasa asing? di tempat transaksi seperti ini, Abang ganteng mau pilih yang mana? murah-murah lho." Kata salah satu wanita yang berada di sana.


Alfandi menatap datar pada beberapa wanita yang ada di sana.


"Murah lho, Bang ... satu kali main cuma Rp 500.000--"


"Kalau satu jam?" tanya Alfandi memotong perkataan dari wanita tersebut.


"Tergantung, Om ... kalau cuma ngobrol dan raba-raba dikit. Satu jutaan lah, tapi kalau main sampai puas, itu ... bisa mencapai dua jutaan, bahkan lebih." Kata salah satu wanita yang usianya lebih muda dengan nada dan ekspresi nakal.


"Ooh," gumamnya Alfandi dengan nada dingin dan tanpa ekspresi.


"Ayo dong, Om? mau pilih yang mana nih? kami menunggu giliran nih," ucap wanita tadi sambil menggigit bibir bawahnya, memandangi dengan intens wajah Alfandi yang tampan walau terlihat dalam remang-remang.


"Masuk?" pinta Alfandi sembari menoleh sekilas ke arah seorang wanita yang hanya memakai tanktop dan rok satu jengkal dari pusatnya.


Salah satu dari wanita yang Alfandi tunjuk, masuk ke dalam mobil Alfandi lalu duduk di samping Alfandi dengan sedikit menghadap. Penampilannya yang seksi dan sikapnya yang genit dan menggoda.


Mungkin bagi pria lain pemandangan itu sangat memanjakan mata, menggairahkan dan menggoda! tapi lain lagi dengan Alfandi. Dia malah merasa geli dan risih berhadapan dengan wanita seperti itu, masalahnya bukan pasangan halal baginya.


Alfandi hanya terdiam tanpa melakukan apapun, sesekali netra nya melihat ke arah wanita tersebut yang senyum-senyum simpul dan siap untuk memulai permainan.


"Abang mau bermain di sini saja?tanpa melajukan mobilnya gitu?" wanita tersebut mengajukan pertanyaan seraya mendekati dan menyodorkan dari bagian tubuhnya yang menyembul ke depan.


"Iya," sahut Alfandi dengan singkat serta netra nya memicing ke arah buah yang besar-besar yang tentu bebas jadi di pegang-pegang tangan jahil.


"Kalau begitu, ayolah, Bang? aku sudah siap nih, mau mulai dari mana sekiranya?" tangan wanita tersebut membelai rahang Alfandi dan tangan yang satunya mengusap-usap paha pria yang nampak kaku tersebut.


Alfandi bingung harus melakukan apa? ini kali pertama dia mendatangi tempat remang-remang begini, tempat transaksi pemuas naf-su sesaat.


Sebagai lelaki normal, tak ayal netra nya Alfandi memicing dan bergerak melihat bagian-bagian tubuh tertentu wanita itu, yang diantaranya paha mulus yang terekspos dengan bebas, sebab hanya menggunakan rok anak tiga tahun.


Karena Alfandi cuma diam saja. Wanita itu berinisiatif sendiri untuk mencoba memuaskan pria yang datang membooking dirinya itu, sebab setiap pria yang datang ke tempat itu tentunya hanya untuk bermain-main dan memuaskan dirinya dengan servis yang terbaik.


"Abang kenapa diam saja? apa aku perlu yang memulai Hem ..." ucapnya wanita tersebut dengan gaya yang manja dan tangannya mengelus sana sini.


Membuat Alfandi panik, semakin merasa geli dan risih. Dia memejamkan mata sejenak, sekilas bayangan wajah Sukma membayang di matanya. Menari-nari di pikirannya seolah melambaikan tangan agar dirinya menghampiri. Dan juga bayangan anak-anak yang begitu jelas di ruang mata.


"Ya ampun ... buat apa aku datang ke sini? yang jelas-jelas ini tidak benar?" batinnya Alfandi seraya membuka kedua matanya.


Manik mata ****** wanita itu bergerak dari wajah sampai ke bawah daerah inti yang Alfandi dimiliki, yang tampak bangun dan menggoda.


Wanita itu terlihat menggigit bibir bawahnya melototi bagian tertentu yang memang sedari rumah naik ke atas. Tangan wanita itu mengusap dada Alfandi menyusup ke dalam kemeja lalu turun mendekati sesuatu yang sudah menunggu belaian mesra dari seorang wanita.


"Eeh ..." dengan cepat Alfandi menepis tangan itu dan menjauhkan dari dirinya.


Wanita tersebut heran, kenapa malah menolak? bukannya datang ke sana untuk bersenang-senang? wajahnya mendekat dengan niat mencium pipi Affandi dan mencumbunya.


Tetapi kepala Alfandi menjauh dan menghindari wanita itu. Kemudian Alfandi mengeluarkan dompetnya dari saku celana, serta mengambil beberapa lembaran uang yang terhitung satu juta lebih.


"Ini ambillah! silakan keluar dari mobilku?" perintah Alfandi tanpa menoleh atau pun melihat karyawan tersebut.


Wanita itu bengong sebelum mengambil uang dari Alfandi. "Lho, Bang? kan aku belum bekerja, kita belum ngapa-ngapain. Kok sudah dibayar!"


"Ambillah? keluarlah dari mobil ku sekarang juga?" ucap kembali Alfandi dengan tatapan kosong ke arah lain.


"Gila! Abang baik banget saya belum bekerja, sudah dibayar saja cuma ... aku cuman nyentuh pipi doang, dan Abang sendiri belum apa-apain saya lho." Wanita tersebut menatap girang ke arah Alfandi.


Wanita tersebut malah meraih tangan Alfandi dan meletakkan di atas pahanya yang mulus itu.


Dengan cepat, lagi-lagi Alfandi menarik tangannya dan menyimpan uang itu di pangkuan wanita tersebut. "Sudah! keluar dari mobil ku!"


"Anda tidak jadi memakai jasa saya? saya sudah lihai lho ... anda belum merasakan kelihaian yang saya miliki. Gaya apa yang Abang suka? aku bisa!" celoteh wanita itu sambil terus mendekat dan tangan nakalnya meraba-raba perut six packs Alfandi.


"Keluar?" bentak Alfandi seraya yang menunjuk pintu.


Membuat wanita itu kaget, dengan bentakan Alfandi seraya menunjuk pintu. Lalu buru-buru membuka pintu lantas keluar dari mobil mewah tersebut.


Tugasnya kali ini cuma masuk dan keluar mobil Alfandi saja. Tanpa melakukan apapun, beda dengan biasanya yang harus capek dulu. Berkeringat dulu, baru dapat duit, lah ini cuma cuap-cuap dikit mengantongi duit, dengan nominal yang lumayan lagi. Cuma beberapa menit di dalam mobil mengelus pipi pria tersebut. Selesai.


"Coba sering-sering dapat yang kaya gini! gak harus berkeringat dulu," batin wanita tersebut.


Yang lain heran, kenapa wanita itu dengan cepat keluar dari mobil tersebut, dan mobil itu pun hanya diam di tempat saja tidak ada pergerakan yang signifikan. Jalan kek menjauh atau membawa jalan customernya.


Wanita itu terlihat menggelengkan kepalanya, seraya menunjukkan uang yang dia kibas-kibaskan seperti kipas.


Setelah wanita panggilan itu tak ada di mobil, Alfandi menghela nafas sangat panjang dan mendongak ke langit-langit, memejamkan kedua matanya seraya bergumam. "Ya Tuhan ... hampir saja ku melakukan yang tidak-tidak, sesuatu yang melenceng dari jalur mu."


Sesaat kemudian Alfandi Menyalakan mesin mobil, dan membawanya dari tempat tersebut, berlari entah kemana tujuan.


Beberapa saat kemudian mobil mewah milik Alfandi terparkir cantik di depan kontrakan Sukma.


Alfandi memandangi pintu tersebut dari dalam mobil, lalu Alfandi tertidur di dalam mobil sampai pagi menjelang.


Sukma membuka-buka jendela depan dan melihat mobil Alfandi berada di sana, Sukma pun terkesiap melihatnya.


"Lho, kok pak Alfandi ada di depan, subuh-subuh begini?" Sukma mengerutkan keningnya.


Lalu kembali menajamkan pandangannya ke arah mobil tersebut. "Beneran itu mobil pak Alfandi?"


Kemudian Sukma membuka kunci pintu lalu membuka pintu itu dengan lebar-lebar.


"Ada apa kak?" tanya Jihan pada sang Kakak yang celingukan ke arah luar.


"Itu, sepertinya mobil om Al, di luar." Sukma berdiri di dekat pintu.


"Om, Al. dari kapan tuh Kak? bertengkar kali dengan istrinya! makanya kabur, he he he ..." Jihan nyeleneh.


"Huus, jangan bicara seenaknya. Pamali." Sukma mengibaskan tangannya.


Pada akhirnya Sukma keluar, mau menghampiri Alfandi. Berbarengan dengan Mimy yang merasa aneh kenapa mobil Alfandi terparkir di depan subuh-subuh begini?


"Mana ada? justru aku heran juga, kenapa ada di sini?" Sukma membawa langkahnya menuju mobil yang tampak tidak ada orangnya itu.


"Ma, orangnya tidur." Mimy mengintip dari jendela mobil.


Sukma berdiri di dekat pintu yang ada Alfandi nya. "Pak sedang apa di sini?"


Mimy mengetuk pintu berkali-kali yang tidak mendapat respon dari sang pemilik mobil tersebut.


Sukma kembali bersuara yang di tujukan pada yang berada di dalam. "Pak? bangun? kenapa berada di sini?"


Akhirnya Alfandi bergerak dan membuka matanya yang terasa berat itu. "Hem ...."


Alfandi mengedarkan pandangannya ke sekitar. Lalu mendapati Sukma dan Mimy yang berdiri di dekat pintu samping nya itu.


"Halo Pak Alfandi." Mimy melambaikan tangan.


Pandangan Alfandi kini tertuju pada Sukma, seraya membuka kaca mobilnya tersebut. Wajah gadis itu yang semalam menari-nari di kelopak matanya sehingga menyadarkan dirinya, kalau semalam dia hampir saja melakukan sesuatu yang tak senonoh dengan wanita malam.


Yaitu kesenangan sesaat dan akan membawa dia ke lembah dosa yang akan membelenggunya.


"Ma, perhatikan. Wajah pak Al tampak pucat! mungkin dia sakit." Mimy berucap sembari mengamati ke arah Alfandi yang tampak pucat itu.


Sukma mendekati, lalu tangannya menyentuh pelipis Alfandi yang sedikit panas dan berkeringat dingin.


"Ya ampun, My. Sepertinya dia demam." Sukma melirik ke arah Mimy.


"Bawa saja ke dalam, Ma. Kasihan lho," ucap Mimy.


"Gimana caranya? orang segede gini," gumamnya Sukma sembari menatap ke arah Alfandi.


Perlahan Alfandi membuka pintunya dan berusaha keluar, Sukma pun merangkul pinggang Alfandi memboyong tubuhnya yang tinggi besar itu ke kontrakan nya.


Mimy pun menutup pintu mobil Alfandi lalu mencabut kuncinya lalu ia serahkan pada Sukma.


"Sudah, cukup ya? saya bisa jalan sendiri! bikinkan saya teh manis yang hangat," lirihnya Alfandi sembari berdiri tegak pas di depan pintu.


"Iih ... dari tadi kek? berat tahu tubuhmu itu." Sukma membiarkan Alfandi berdiri dan berjalan memasuki rumah.


Kemudian Alfandi duduk di atas tikar, bersandar ke dinding tubuhnya memang terasa panas dingin hingga terlihat menggigil.


"Iya sebentar, aku bikinkan teh hangat manis ya?" Sukma buru-buru beranjak ke dapur dan gegas menyiapkan teh manis hangat buat Alfandi.


Jihan sangat kaget melihat Alfandi terlihat pucat. "Kak Mimy, Om Alfandi kenapa?"


"Sepertinya Om Alfandi sedang kurang sehat deh, Jihan." jawabnya Mimy sambil mendudukkan dirinya tidak jauh dari Afandi.


"Kak Mimy, Om kenapa?" tanya Marwan yang keluar dari kamarnya. Menatap ke arah Alfandi.


"Sepertinya, Om. Kurang sehat, Wan. Lihat wajahnya sangat pucat dan keluar keringat dingin." Jihan menoleh pada sang adik.


"Yah ... Om. Jangan sakit dong?" Marwan duduk diantara Jihan dan Mimy memandangi ka arah Alfandi.


Alfandi mengedarkan senyumnya kepada Jihan dan Marwan. "Om tidak apa-apa, Om cuma demam biasa, sebentar juga sembuh, ini juga Om mau pulang."


"Iih, jangan pulang dulu, Pak. Kau sedang kurang sehat, nanti gimana di jalannya?" cegah Mimy.


"Iya, Om. Istirahat saja di sini, biar kakak yang merawat, Om. Kalau di rumah tidak ada yang merawat sih." Kata Marwan kepada Alfandi.


Sesaat kemudian Sukma kembali dengan segelas air teh hangat manis, seperti yang Alfandi minta. Ini diminum dulu teh hangatnya?"


"Ada jahe nggak?" tanya Alfandi pada Sukma.


Dan Sukma pun sontak menggeleng. "Tidak ada!"


"Kalau membutuhkan yang hangat? peluk aja nih orangnya, pasti hangat! he he he ...!" ucap Mimy sambil melirik ke arah Sukma, dalam keadaan seperti ini masih saja bisa bercanda.


Mata Sukma mendelik, sempurna kepada Mimy. "Apaan sih bercanda kayak gitu? nggak lucu."


"Siapa juga yang bikin lucu! ini mah asli kali ... upa!" Mimy menutup mulutnya dengan telapak tangan.


"Nanti saja, masih menunggu waktunya," suara Alfandi sambil melirik ke arah Sukma sesaat lalu menyesap teh nya.


Sukma menunduk dalam. Ia mengerti dengan maksud Alfandi tersebut. Kemudian Sukma berkata kepada Jihan dan Marwan.


"Kalian mandi dulu? kan mau sekolah, Kakak mau diapakan sarapan dulu." Sukma langsung kembali ke tempat memasaknya untuk menggoreng telur dan sayur bening untuk mereka sarapan.


"Emang Marwan mau sekolah hari ini? bukannya masih lemas?" tanya Mimy pada Marwan.


"Iya, emang Marwan kuat mau sekolah hari ini?" tambah Alfandi memandangi ke arah Marwan.


"Iya, Kak, Om. Sudah seminggu lebih, kan aku nggak sekolah, jadi aku mau sekolah saja hari ini. Pasti banyak ketinggalan pelajaran," sahut anak itu.


"Oke, bagus! kau harus semangat belajar. Dijaga makanannya ya? jangan sembarangan, jaga kesehatan?" pesan Alfandi pada Marwan.


"Iya, Om. Aku akan jaga kesehatan, Om juga cepat sembuh ya? aku jadi sedih melihat kayak gini," ucap Marwan menatap lekat pada Alfandi.


"Ya, nggak apa-apa. Doakan saja ya Alfandi mengulas senyumnya yang tipis.


Kemudian Mimy pun berpamitan, karena kebetulan belum mandi dan belum beres-beres.


Karena Jihan sudah selesai mandinya, kini giliran Marwan yang masuk ke dalam kamar mandi.


Dan dengan gontai Alfandi berjalan mendekati Sukma yang sedang masak, di tangannya gelas teh manis tadi yang masih tersisa setengahnya itu.


"Istriku sedang memasak apa?" suaranya Alfandi pelan.


Sukma menoleh. "Dalam keadaan kayak gitu saja masih bisa bercanda?"


"Boleh nggak, bikinkan saya nasi goreng dong ... sebelum saya pulang mau sarapan dulu." Alfandi menatap ke arah Sukma.


Keduanya saling tatap begitu lekat, dan tatapan Alfandi begitu mesra seolah mengatakan sesuatu yang penuh arti. Dada keduanya merasakan getaran-getaran yang aneh, jantung berdegup sangat kencang ....


.


.


...Bersambung!...