
"Selamat pagi? maaf saya ... ganggu waktunya sebentar?" ucap Rosa setelah berada di hadapan pria yang terlihat sangat tampan, berwibawa dan penyayang. Dia adalah suami dari atasannya itu, yang tiada lain Dan tiada bukan adalah Alfandi.
"Hi ... pagi juga, tumben! ada apa ya?" Alfandi menaikan alisnya sebelah, yang merasa heran atas kedatangan wanita itu yang selama ini dia kenal sebagai asisten pribadinya sang istri.
Sejenak mereka berdua saling menatap dan terdiam. Detik kemudian Rosa menunduk ke lantai.
"Ooh iya, silakan duduk?" Alfandi menunjuk ke arah kursi yang berada di depan nya itu.
"Terima kasih, Pak?" Rosa mengangguk seraya menoleh ke arah kursi yang akan dia duduki.
"Jujur, saya merasa aneh tumben-tumbenan kau datang kemari, apakah ada sesuatu yang ingin kau bicarakan atau gimana?" selidiknya Alfandi setelah menelpon seseorang untuk membawakan nya minum.
"Em ... saya memang sengaja datang ke sini. Sebab ... ada yang ingin saya sampaikan pada anda. Tetapi, masalah ini terlalu pribadi, dan rasanya kurang pantas bila diobrolkan di sini ... secara ini tempat kerjaan." Rosa berkata dengan hati-hati.
Alfandi semakin dibuat penasaran dengan maksud yang ingin Rosa sampaikan. Dia kian mengerutkan keningnya.
"Tidak apa-apa! obrolkan saja di sini, daripada harus ngomong di luar buang-buang waktu dan ... kata mu ini mungkin terlalu pribadi. Jadi mungkin bicara di ruangan seperti ini akan lebih aman, ketimbang bicara di luar akan kedengaran orang serta mengundang pertanyaan mereka, ada apa kita?" ujar Alfandi sambil menatap lekat pada wanita tersebut dan bibirnya sedikit menyungging.
Rosa menelan saliva nya. Dia menjadi salah tingkah menerima tatapan tajam dari pria tampan tersebut. Tatapannya itu seolah ingin menghujam jantung, menelisik ke dalam hati. Bikin deg-degan.
"Bego sekali Vaula, menyia-nyiakan suaminya yang tampan seperti dia? semua orang juga tahu kalau dia pria kaya dan baik. Perhatian, berwibawa dan ... hanya wanita bodoh saja yang tidak mau pada pria seperti ini!" batinnya Rosa.
"Hei, kok malah bengong. Bukannya kau mau bicara? bicara lah sebelum bicara itu di larang oleh sariawan, he he he ..." Alfandi menunjukan senyumnya yang bikin hati Rosa bergetar dan kikuk.
"Em ... em iya." Rosa mengangguk sambil mesem.
"Oya, kenapa kau tidak bekerja? apa memang kau di utus bos mu itu untuk menemui saya--"
"Ooh, tidak-tidak. Saya tidak di utus oleh ibu, ini kehendak saya sendiri. Dan hari ini saya sedang mengambil cuti, karena ingin menemui keluarga ku yang sedang di rawat." Rosa memotong perkataan dari Alfandi.
"Di rawat? siapa yang sakit?" tanya Alfandi sambil menggeser kan map agar dapat menyimpan gelas minuman yang baru saja datang di antar ovis.
Rosa melirik ke arah ovis yang langsung mengundur diri. "Adik saya yang sakit, Pak!"
"Sakit apa sampai harus di rawat segala?" selidik Alfandi penasaran.
"Dia kena leukimia akut," jawabnya Rosa.
"Oya, baiknya kita ngobrol di sana saja biar lebih santai." Alfandi beranjak dan membawa dua gelas ke arah sofa yang akan dia pakai mengobrol.
Wanita itu pun membuntuti dari belakang. Kemudian keduanya duduk di sofa panjang saling berhadapan.
"Silakan diminum dulu?" ucap Alfandi sambil dia pun meneguk minumnya. "Ooh ... jadi adik mu di rawat, keran sakit demikian?"
"Iya, Pak." Rosa mengangguk dan menunjukan wajah sedihnya, lalu mengambil gelas minumannya.
"Oya, terus maksud kau datang ke sini untuk apa? to the point saja." Tanya Alfandi sembari menyimpan gelas di meja.
"Em ... gimana ya? jadi bingung harus mulai dari mana?" Rosa tersenyum getir.
"Terserah, mau mulai dari mana? mau dari atas, bawah. Bebas lah." Canda Alfandi.
"Hi hi hi ... anda bisa saja!" Rosa tersipu malu sambil menurunkan roknya yang terangkat ke atas.
Alfandi terdiam dan jadi ingat sama istri mudanya. Dan rasanya ingin bertemu dia! padahal tadi malam bersama.
"Em ... begini, saya ... kan sudah lama menjadi asisten bu Vaula--"
"Setidaknya saya tau kegiatan apa saja yang ibu lakukan di luaran."
"Iya, oke. Nex?" lagi-lagi Alfandi memotong perkataan Rosa.
"Jujur, saya tidak tahu perangai Ibu di rumah seperti apa dan di luar pun dia memang baik! cukup baik cuma--" Rosa menggantungkan perkataannya.
"Cuma kenapa?" Alfandi mengerutkan keningnya.
"Apakah anda tidak merasakan perubahan dari ibu Vaula? mungkin sedikit anda merasakan perubahan sikapnya atau apa lah?" Rosa malah bertanya seraya menaikkan bahunya.
Alfan terdiam, tatapannya kosong dan menerawang maksud yang dipertanyakan oleh Rosa, memang benar dalam berapa tahun ini dia merasakan keanehan dan perubahan dari sikap sang istri. Yang dulunya perhatian, perduli pada suami dan anak-anak berangsur-angsur semuanya berubah, dingin dan tidak peduli.
Lalu Alfandi menoleh kembali ke arah Rosa. "Maksud mu perubahan apa? sikap? perhatian?"
Dan Rosa langsung merespon dengan anggukan, sebelum melanjutkan perkataannya. Rosa meneguk minumnya terlebih dahulu untuk menghilangkan rasa dahaga yang menyiksa tenggorokannya itu.
"Emangnya saya harus bercerita sama kamu? gimana sikap istri saya di rumah? saya rasa itu terlalu pribadi," jawabnya Alfandi.
"Tapi, saya rasa apa salahnya? anda bercerita? karena yang saya ingin ungkapkan saat ini adalah kebenaran," ucap Rosa dengan nada serius.
"Ya, kalau kau mau cerita? ya cerita saja, saya dengarkan! mumpung saya belum sibuk," jelasnya Alfandi, karena dia merasa Rosa terlalu bertele-tele! sementara saat ini adalah jam kerja, bukan jam-jam santai.
"I-ibu ada skandal de-dengan fotografernya," ucapnya Rosa dengan sedikit terbata-bata.
Dan membuat Alfandi tersentak, kaget bukan main, bak mendengar suara guntur di tengah teriknya matahari. Tanpa hujan tiada angin, petir menyambar menghentak telinga.
Alfandi membelalakkan netra matanya ke arah Rosa. Antara percaya dan tidak dengan ujaran dari Rosa barusan yang mengatakan kebobrokan sang istri.
Masa iya istrinya ada main dengan pria lain di luar, sementara dia bersuamikan dirinya, rasanya nggak mungkin! wanita yang selama ini berumah tangga dengan dirinya, diberitakan selingkuh? oleh asistennya sendiri.
Tetapi bila mengingat sikap dia beberapa tahun terakhir ini memang mendekati, tapi selama ini dia pikir. Kalau sang istri hanya terlalu sibuk dengan pekerjaannya saja, bukan sibuk juga dengan pria lain.
Alfandi menghela nafas dalam-dalam, berusaha tenang dan berpikiran jernih dan tidak mudah terkecoh dengan omongan orang.
"Sebaiknya kau bicara itu ... hati-hati, jangan sampai mulutmu adalah harimau mu yang akan menghancurkan orang lain. Dan akhirnya mencelakai dirimu sendiri," ucapnya Alfandi dengan nada setenang mungkin.
"Saya bicara apa adanya, Pak. Saya bersumpah! kalau yang saya bicarakan ini adalah benar! ibu Vaula ada main dengan pria lain, yaitu fotografernya sendiri dan pria itu sebenarnya ..." Rosa menjeda ucapannya sejenak.
Helaan nafasnya tampak berat. "Sebenarnya ... dia kekasih saya yang rencananya tahun depan kami akan menikah! tapi karena sudah saya dapatkan bukti. Saya memutuskan dia, dan dia tidak ada usaha sama sekali untuk mempertahankan saya! karena mungkin dia memang lebih memilih istri anda!"
Lagi-lagi Alfandi menghela nafas panjang, lalu ia hembuskan dengan kasar. Dadanya yang terasa sesak sejak tadi, bagai tertimpa benda berat yang sulit dia singkirkan.
Pantas Vaula begitu dingin padanya bahkan malas-malsan melayani nya sebagai suaminya. Bahkan dalam setahun lebih pun tidak pernah berhubungan intim.
Sungguh miris. Seorang istri main seorang dengan pria lain di luar, sementara suaminya membutuhkan belai kasih sayang dari dirinya. Alfandi menggelengkan kepalanya kasar, yang mulanya dia kadang dihantui rasa bersalah karena sudah madu Vaula.
Namun kini rasa itu hilang dan bergantian dengan rasa puas! karena setidaknya dengan secara tidak langsung dia sudah membalas perbuatan sang istri yang keluar dari jalur tersebut ....
.
.
...Bersambung!...