
Setelah menghabiskan waktu weekend bersama, Firza pun bersiap kembali ke tempat kosannya dengan menggunakan motor besar yang dia dapatkan dari sang ayah.
begitupun dengan Jihan dia sudah memesan taksi untuk dia kembali ke kotanya tempat dia kuliah.
"Abang Firza memangnya nggak ke rumah mama dulu? kasihan lho Mama pasti ingin ketemu!" lirihnya Sukma pada Firza.
"Nggak mau sepertinya Mama nggak lagi di rumah, kayaknya dia sedang berada di luar kota lain kali aja!" jawabnya Firza sembari memakai sepatunya.
"Emangnya sudah ditanyain kabarnya gimana?" selidiknya kembali Sukma, dia tidak ingin dibilang tidak mengingatkan anak sambungnya untuk mengingat atau mengunjungi sang ibu kandung.
"Sudahlah Mom ... nggak usah nanya itu lagi, aku tahu kok!" Firza berdiri sembari meraih tas punggungnya.
"Bukan gitu Firza ... Mommy cuman nggak mau nanti dibilang Mama kamu nggak ngingetin kalian, untuk menemui mereka. Fikri pun malah belum mau mengantar kau ke sana!" tambahnya Sukma sembari melarikan Fikri yang sedang mengganggu adiknya bermain.
"Iya nanti Firza telepon dia lah, sekarang Firza mau balik aja ke kosan," Firza seraya menghela nafasnya yang panjang. Kemudian meraih tangan sang bumi dan juga papanya yang bergantian.
"Ya sudah, kalau gitu hati-hati ya bawa motornya jangan ngebut-ngebut!" pada akhirnya Sukma mengalah dan tidak ingin berdebat lagi, soal perhatian anak-anak sambungnya kepada sang mama. Terutama dengan Firza.
"Pah aku pergi dulu!" Firza mengalihkan pandangannya kepada sang ayah, lalu mencium tangan dan memeluknya sebentar.
"Oke! hati-hati, belajar yang serius ya? oh ya emangnya kalian nggak bareng aja nih? kan satu arah!" Alfandi menunjuk ke arah Jihan.
"Nggak-nggak, Bang kosan kamu kan jauh!" timpalnya Jihan sembari menggerakkan tangan penuh penolakan.
"Lagian ... siapa juga yang membawa kamu? males amat mendingan naik taksi saja sana!" celetuknya Firza dengan nada sinis.
"Yeyyy. Siapa juga yang mau boncengan sama kamu? aku sudah pesan taksi kok. Sebentar lagi juga datang!" Jihan sembari menegakkan berdirinya.
"Sudahlah Pah ... jangan suruh mereka untuk barengan, nanti malah berkobar lagi apinya. Biar masing-masing aja!" ucapnya Sukma kepada sang suami.
Alfandi nyengir mendengar perkataan dari istrinya tersebut.
"Sebenarnya sih ... kalau dipikir-pikir nih ya? apa salahnya juga? kan memang satu arah biarpun beda kosan! heran deh aku sama kalian berdua, kalian itu kan jadi saudara'an. Kenapa seperti orang yang bermusuhan sih?" Marwan menatap keduanya sambil memasukan kedua tangan ke saku.
Alfandi menganggukan kepalanya, menyetujui perkataan dari Marwan.
"Sudahlah jangan banyak omong, lagian siapa juga yang musuhan nggak!" Firza menaiki motornya besarnya.
"Siapa juga yang musuhan kita nggak musuhan!" tambahnya Jihan yang langsung menghampiri sang kakak dan memeluknya mencium tangannya.
Kemudian ke Alfandi berpamitan, sebab kebetulan taksi yang dia pesan sudah datang.
"Jati-hati ya Jihan, belajar yang benar. Jangan pacaran dulu ... Apalagi berlebihan." Pesan sang kakak. Sukma seraya merapikan kerudungnya Jihan dari belakang.
"Iya Kak. Aku akan selalu ingat pesan Kakak," Jihan mengangguk. Lalu setelah itu mendatangi Syakila, lantas dipeluk dan diciumnya.
Motornya Firza sudah lebih dulu melesat meninggalkan tempat tersebut, tidak lama kemudian taksi yang mau Jihan pun merayap meninggalkan kediaman Sukma dan apa nih.
Lambaian tangan Mereka pun mengiringi kepergian Jihan dan juga Firza.
Waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 dan sebentar lagi pun akan terdengar adzan maghrib. Sukma bergegas mengajak Syakila untuk masuk ke dalam dan anak itu pun langsung berlari mendahului orang tuanya.
"Wan, itu kursinya beresin dulu deh. Biar agak rapi!" titahnya Sukma kepada Marwan agar merapikan kursi yang ada di teras yang agak tampak berantakan.
Sebelum masuk, Marwan pun membereskannya terlebih dahulu. Lantas mengikuti sang kakak dan abangnya yang sudah lebih dulu masuk ke dalam.
Sekitar pukul 21.00. Sukma dan Alfandi sudah bersiap untuk beristirahat. Dan shakila sudah ditidurkan di kamarnya sendiri, karena anak itu memang sudah dipisah tidurnya kecuali kalau dia lagi rewel dan kurang sehat.
"Gimana sayang mau ikut nggak keluar kotanya!" Alfandi membelai rambut sang istri yang berada dalam pelukannya.
"Entahlah, aku bingung. Kalau ikut gimana sekolahnya Syakila?" Sukma mendongak dan menempelkan dagunya di atas dada Alfandi. "Lagian kenapa sih, pengen banget aku ikut?"
"Kok sayang nggak ngerti sih? kalau ikut kan aku nggak kesepian. Kalau tidur ada yang meluk ada yang perhatiin, kalau sendiri siapa yang mau merhatiin aku? melukin aku!" tambahnya Alfandi saya mengucapkannya Sukma.
"Tapi kan di luar kota juga nggak akan lama! paling lama juga seminggu!" Sukma menempelkan kembali pipinya di tempat semula.
"Iya sih ... tapi kan sayang tahu, kalau aku paling gak tahan jauh-jauh dari kamu!" lagi-lagi Alfandi menempelkan bibirnya di kening sang istri.
Hening.
Sejenak keduanya terdiam, Sukma mengatupkan bibirnya. Sementara tangan Al terus membelai rambutnya Sukma yang panjang bergelombang tersebut.
"Sayang?" panggilnya Alfandi.
"Hem ..." Sukma lirih.
Alfandi tidak lagi berucap dengan kata. Melainkan tangan yang berbicara bermain-main di tempat bikin naik turun atau dataran tinggi nan empuk.
Sukma tidak memberi penolakan sedikitpun. Malah justru ikut menikmatinya hingga terlepas suara yang halus nan merdu terdengar di telinganya Alfandi.
"Aku ingin bekal yang cukup. Malam ini, sebab besok siang aku pergi." pintanya Alfandi sambil merubah posisi nya tengkurep di atas tubuh Sukma sambil menempelkan kedua bibir mereka berdua.
Meng*s** nya dengan lembut ... mel***t dengan mesra. Turun menelusuri bagian lehernya yang jenjang dan mulus itu.
Mendaratkan kiss mart nya di bagian dada bikin Sukma menggeliat geli dan meremas rambutnya Alfandi yang terus melancarkan aksinya.
"Emmmm ..." Sukma kembali melas suaranya.
"Ayo sayang. Jangan sungkan untuk mengeluarkan suara merdu mu! sebab aku suka, yang tampak mengundang jiwa lelaki ku kian meronta." Alfandi mengulum senyumnya menatap wajah sendu sama istri yang juga tampak berhiaskan kabut rasa yang ingin segera.
Ritualnya pun di mulai membuat jiwa melayang tinggi ke luar angkasa dan menjelajah alam nirwana, yang terasa betapa indahnya.
Sesekali tubuhnya Sukma, berubah menggelinjang naik ke atas bergantian. Bak naik ke atas kuda dan memecut kudanya agar lebih cepat, dan segera menuju puncaknya yang penuh dengan gairah.
Malam yang semakin dingin, mencelam menyelimuti tubuh tubuh yang kepanasan. Sehingga keduanya bermandikan keringat yang membasahi tubuh yang tampak lelah, Alfandi sedang menyiapkan bekal yang harus cukup untuk beberapa hari selama di luar kota.
Setelah merasa kenyang dengan bekal yang Sukma berikan malam ini. Alfandi pun berbaring capek dengan suara nafas yang tidak beraturan. Memburu begitu cepat.
"Cuph, makasih sayang atas bekal yang kau berikan! aku cukup kenyang da kewalahan." Alfandi mengecup keningnya dengan durasi yang lama sebagai tanda ucapan terima kasih.
Sukma tidak berkata-kata, selain melepaskan tatapannya kepada pria yang sudah bertahun tahun ini bersamanya. Bibirnya tertarik ke samping merasa bahagia sudah melepaskan sesuatu yang seharusnya di lepaskan.
"Sayang, doa kan aku ya! biar lancar di sana dan bisa segera pulang, demi kita dapat berkumpul kembali!" ucap Alfandi seraya berbisik.
"Tentu, aku akan mendoakan mu semoga dilancarkan setiap urusannya, dan segera pulang kembali ke sini." Sukma memeluk tubuhnya Alfandi m dengan erat seakan tidak ingin terpisah ....
.
Jangan lupa tinggalkan jejak, agar aku tambah semangat. Makasih.