Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Kangen nih



"Enak gak? aku takut kau gak suka," tanya Sukma sambil menggeser kan gelas Alfandi.


"Em ... aku suka sayang, suka sekali. Lain kali masakan lagi yang seperti ini ya?" Alfandi mengelus pipinya Sukma dengan lembut.


"Iya tentu, aku mau lain kali aku bikin lagi yang persis seperti itu, memang kau suka." Sukma tersenyum tipis serta memegangi tangan Alfandi yang barusan mengusap pipinya itu.


"Makasih sayang? makasih kau sudah membuatku tenang, nyaman. Bila berada di sini mu!" sambungnya Alfandi sambil menghabiskan makannya dan diakhiri dengan meneguk air putih yang tersedia di meja.


Lantas Sukma merapikan bekas makan Alfandi lalu disimpannya di bawah meja biar nanti dia bereskan ke bawah.


"Duduklah di sini! bersamaku? membereskan itunya biar nanti saja, aku yang bawa sekalian turun," Alfandi menepuk sofa yang ada di sisinya dan menyuruh Sukma untuk duduk bersama.


Sukma pun menggeser posisi duduknya agar lebih dekat dengan Alfandi. Alfandi yang merentangkan tangannya di bahu sofa dan dengan cepat merangkul pinggang Sukma yang samping tersebut. Sedikit menariknya agar lebih dekat dan merapat.


Sukma pun tak punya alasan untuk menolak dia menuruti kemauan Alfandi. Sementara tangan yang satunya Alfandi memegangi dagunya Sukma serta memberikan ciuman kecil di pipi dan kening.


Sejenak Alfandi melepaskan tatapannya yang lembut dan penuh kasih sayang terhadap istri mudanya ini. "Aku menyayangi mu tulus dari hati! apalagi sekarang kau sudah menjadi istriku, tetaplah bersamaku dan memberi kenyamanan di hatiku."


Sukma membalas tetapan sang suami dengan begitu sangat lekat menik matanya yang indah bergerak-gerak memandang wajah Alfandi yang sesungguhnya sangat tampan dan lebih tampan dari Reno.


Kedua manik Sukma terpejam ketika Alfandi menyatukan kembali bibirnya mereka, yang dia anggap sebagai hidangan penutup yang teristimewa.


"Masih datang bulan kah?" bisiknya Alfandi tepat di telinganya Sukma. Setelah melepaskan benda tipis tersebut.


Sukma mengangguk seraya berkata. "Iya, kan baru berapa hari. Mungkin masih berapa hari lagi selesai."Suaranya Sukma begitu lembut yang terdengar di telinga Alfandi.


"Lama juga ya? padahal aku sudah kangen nih!" ucap Alfandi dengan nada manja dan menghujani leher Sukma dengan kecupan kecil.


"Kalau kamu kangen! kan kamu bisa meluapkannya dengan istrimu, yaitu mamanya Fikri," ucapnya Sukma dengan polosnya berkata demikian.


Alfandi menatap lekat pada Sukma yang barusan bicara seperti itu. Ada rasa sedikit kecewa yang menyiksa batinnya kala ini.


"Ma-maafkan aku? bukan niat ku untung menyinggung perasaan mu," lirihnya Sukma sambil mengusap pipi Alfandi dengan sangat lembut jadi merasa bersalah karena sudah berkata seperti barusan.


Alfandi menangkap tangan Sukma dan mencium punggung nya. "Tidak apa-apa. Aku mengerti kok. Jangan merasa sungkan dengan apa yang ingin kau katakan. Ya ungkapkan saja. Jangan merasa gak enak."


"Aku minta maaf? aku tidak bermaksud apa-apa." Sukma merasa tidak enak hati." Lalu Sukma mencium pipi Alfandi sebagai permintaan maaf.


Bibir Alfandi merekah merasa senang mendapatkan kecupan dari sang istri. "Terima kasih sayang?" cuph! memberikan kecupan balik pada keningnya.


Sukma terus saja dihantui rasa bersalah yang telah berucap demikian kepada Alfandi.


"Gimana kuliahnya tadi? apakah lancar?" tanya Alfandi sembari menarik kepala Sukma agar berada dalam pelukan.


"Tadi itu ... aku masih ada satu mata pelajaran lagi, tapi karena kau menyuruh ku untuk pulang ... jadinya aku nggak ikut lagi," Sukma menaikkan kedua bahunya.


"Terus, kenapa nggak bilang kalau masih ada mata pelajaran?" Alfandi menempelkan lagunya di pucuk kepala Sukma.


"Buat apa aku bilang? emangnya kalau aku bilang dan buru-buru pulang! apa kau akan tetap pulang ke sini?" ucap Sukma seraya mengusap rahangnya Alfandi yang sedikit berbulu halus.


"Em ... bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Sukma seraya melihat wajah Alfandi dengan kepala masih di posisi yang sama.


Alfandi menempelkan punggungnya ke bau sofa. "Mau bertanya apa hem?"


"Apa kau ada masalah? sehingga sikapmu begitu aneh, pokoknya kayak ... kayak apa ya? kayak orang yang kekurangan duit misalkan aku dulu gitu? seperti itu lah," ucapnya Sukma sambil senyum-senyum mengenang kondisinya dulu yang kekurangan uang hingga makan aja susah.


Sebelum berbicara, Alfandi menarik sudut bibirnya menunjukkan senyum yang mengembang kepada Sukma. "Nggak sayang, aku nggak kekurangan duit kok. Aku cuma ada masalah lain yang bikin aku benar-benar dan tidak menyangka." Alfandi memijat batang hidungnya.


Dengan posisi yang sama, yaitu berada dalam pelukan dan kepala menyusup di dalam dada bidangnya Alfandi. Sukma siap untuk mendengarkan keluh kesah dari sang suami.


"Selama ini ... aku begitu percaya dan tidak pernah curiga sedikitpun! karena aku pikir dia sibuk karena memang mengejar karir dan itu memang terbukti karirnya melesat dan sukses. Tapi ternyata di balik itu semua ada skandal yang membuat semuanya berubah dengan drastis!"


Sejenak Sukma mendongak menatap wajah itu dengan penuh perasaan, lalu dia kembali menyusupkan kepalanya dan mengeratkan pelukannya ke pinggang Alfandi. Entah kenapa? mungkin dengan seiringnya berjalan waktu, Sukma semakin terbiasa dan merasa nyaman berada dalam pelukan pria yang sudah mempunyai dua putra tersebut.


"Aku begitu percaya sama istriku, sehingga sikap dinginnya aku anggap hanya biasa. Karena capek dan lelah bekerja saja, tapi ternyata--" Alfandi digantungkan perkataannya.


"Ternyata apa?" tanya Sukma sambil semakin menenggelamkan wajahnya itu di ada bidang tersebut, seakan tidak ingin jauh sedikitpun.


"Iya selingkuh, selingkuh dengan fotografernya dan aku rasa ... bukan cuma hubungan biasa atau sekedar hubungan kekasih, tapi lebih dari itu mereka sampai berani berhubungan badan!" Alfandi menggelengkan kepalanya sungguh tidak menyangka.


Sontak Sukma terkesiap! bener-bener dibuat kaget. Apa iya istrinya Alfandi tega berbuat seperti itu? melakukannya dengan laki-laki lain yang bukan suaminya? sementara suaminya sendiri tidak dia pedulikan?


"Masa iya seperti itu? nggak mungkin kan mamanya Fikri sampai berbuat begitu! kamu jangan asal bicara, hati-hati lho nanti jadi fitnah. Kamu nggak boleh menuduhkan sesuatu yang tidak benar kepada istrimu sendiri. Sementara kan kenyataannya kau juga yang telah menduakan dia! kau yang sudah menikah lagi dengan ku! jadi berhati-hati lah dalam berbicara!" ujar Sukma penjang lebar.


Kedua manik mata Sukma begitu lekat menatap ke arah wajah Alfandi. Sukma tidak mau sampai suaminya di cap habis manis sepah dibuang, apalagi terhadap istrinya yang sudah memberikan dia dua anak laki-laki yang sangat tampan.


"Aku nggak fitnah sayang ... aku ngomong sesuai fakta--"


"Cukup! kamu nggak boleh macam-macam, sekalipun sikapnya berubah dingin dan tidak mau melayani kamu, ya anggap saja memang dia dalam fase seperti itu. Capek, lelah atau mungkin ada kesalahan kamu yang tidak kamu sadari dan dia sendiri pun enggan untuk membahasnya! jangan memfitnah orang, apalagi bagaimanapun dia istrimu bahkan sudah memberi mu dua putra," ucapnya Sukma dengan nada yang sangat lirih dan jarinya dia tempelkan ke bibirnya Alfandi.


Alfandi terdiam sejenak dan menangkap tangan Sukma lalu dia kecup berkali-kali. "Dengar dulu sayang ... dengarkan aku dulu!"


"Sebelumnya, iya. Aku gak pernah curiga aku benar-benar aku percaya sama dia, apapun dan bagaimanapun sikapnya. Sekalipun samasekali gak peduli sama aku dan anak-anak, sampai aku bertemu denganmu dan sampai saat ini kita menjadi suami istri gara-gara sikap nya itu," kata Alfandi dengan tatapan yang begitu tajam dan seakan ingin menghujam kedalam jantung.


"Terus? masalahnya apa?" Selidik Sukma seraya menarik tangannya dari genggaman Alfandi.


"Hari ini aku benar-benar dibuat tercengang, tidak percaya. Rasanya bagai petir yang menyambar ku di tengah panas terik nya matahari. Aku mendapat berita kalau selama ini istriku ada hubungan khusus dengan laki-laki lain--"


Lagi-lagi Sukma menempelkan jari telunjuknya di bibir sang suami dan memotong kalimatnya. "Denger ya? jangan dulu percaya omongan orang! tidak baik, siapa tahu orang itu emang nggak suka dengan kebahagiaan kalian berdua. Gak senang dengan rumah tangga kalian, jadi jangan dulu percaya sebelum kau mengetahui bukti dengan kepala sendiri faktanya yang akurat!"


Alfandi menghela nafas panjang. Istri nya ini pikirannya terlalu lurus dan tidak mau punya pikiran jelek terhadap orang lain, membuat dirinya semakin bangga dan merasa benar-benar tepat sudah memilih dia sebagai istrinya ....


.


.


...Bersambung!...