
Mobil Alfandi melesat begitu cepat. Di sebuah jalan raya menuju kediamannya bersama Sukma. Sesekali kepalanya menggeleng mengingat pertemuannya dengan Vaula barusan.
Sesampainya di rumah, Alfandi langsung bersih-bersih dan waktu pun sudah menunjukkan pukul 09.00 malam.
"Kamu kenapa? kok sepertinya di tekuk begitu wajahnya." Sukma mengusap punggung tangan suaminya setelah berada di atas tempat tidur yang sama.
"Syakila sudah bobo ya?" Alfandi mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan putri bungsunya.
"Syakila, sudah. Oya, besok ... Jihan mau kembali ke kampus. Katanya dia sudah siap untuk melanjutkan kembali hidupnya." Ujar Sukma.
Alfandi menarik kepala Sukma ke dalam pelukannya. "Kalau dia sudah siap sih tidak apa, lagian buat apa juga meratapi yang sudah terjadi. Anggap saja itu sebuah ... apa ya? jadikan pengalaman dan ... agar lebih dewasa dan juga pandai memilih mana yang tulus dan tidak."
"Aku sih was-was memang. Takut terulang lagi. Tapi aku percaya kalau Jihan akan lebih hati-hati dalam melih teman." Tambahnya Sukma sambil menyembunyikan wajahnya di dada Alfandi yang bidang.
Setelah beberapa saat mengobrol akhirnya rasa kantuk pun menyerang keduanya. Sehingga tubuh mereka merosot berbaring, tidur saling berpelukan.
...----------------...
Jihan sudah mulai menjalani hari-hari nya dengan seperti biasa, walaupun ... dia masih kurang bersemangat. Dan masih banyak menyendiri.
Seperti saat ini, Jihan sedang duduk menyendiri dengan menyibukkan tangannya di layar ponsel.
"Ji, ke mall yu?" ajaknya Sri pada Jihan yang sedang duduk menyendiri di bawah pohon beringin besar, tempatnya terasa sejuk dan tidak terlalu panas.
"Aku lagi ada stok, jadi gak perlu belanja." Jawabnya Jihan sambil melirik sekilas.
"Yah ... padahal gue mau belanja!" ucapnya Sri dengan nada lesu.
“Sendiri saja lah ... aku masih malas keluar, Sri,” ucapnya Jihan sambil menyimpan ponselnya dan membuka buku nya dengan ukuran besar.
“Iya, sudah ... gak pa-pa kok ... lain kali saja kita sama-sama perginya.” Sri sambil memegang tas nya.
“Permisi ... ini ada kiriman bunga dari seseorang yang tidak mau di sebutkan namanya.” Kata seorang pria yang juga mahasiswa di universitas tersebut, yang lalu diberikan pada Jihan yang terdiam.
“Dari siapa?” tanya Jihan mengambil sambil bengong dan bertanya-tanya siapa yang sudah mengirim buket bunga tersebut. Dan kebetulan tidak ada nama pengirimnya.
Jihan bukannya bahagia. Melainkan was-was, takut kalau bunga tersebut dari Excel. Biarpun dia di penjara kan bisa saja menyuruh orang.
“Jangan-jangan itu dari elu ya?” Sri menatap curiga pada seorang pemuda itu.
“Bukan, tapi dari seseorang yang menitipkan padaku dan menyuruhnya memberikannya pada Jihan.” Jawabnya sambil bergegas pergi meninggalkan mereka berdua.
“Dari siapa sih? ada nama pengirimnya gak?” selidiknya Sri pada Jihan sambil melihat buket tersebut dari tangan nya Jihan.
“Nggak ada, gak ada nama pengirimnya.” Jihan pun penasaran siapa yang mengirim bunga tersebut.
“Mungkin penggemar rahasia mu, Ji. Terima saja lah, kamu juga suka bukan dengan bunga? tapi kalau kamu tidak suka aku pun mau, he he he ... tapi nggak ah itu kan milik kamu.” Sri meralat omongannya.
“Kalau kamu mau ... ambil saja Sri, lagian aku juga tidak tau siapa yang mengirim.” Jihan memberikan buket bunganya pada Sri, namun Sri tolak.
“Nggak ah buat kamu saja dan itu kan milik kamu.” Sri menggeleng.
Jihan mencium wangi bunga mawar tersebut. “Eeh, ada kartu ucapannya. Dari siapa ya?”
Jihan mengambil lalu membaca kartunya yang bertuliskan. “Hi gadis aneh, lihat bahwa dunia itu luas bukan sebesar daun kelor. Dan tidak perlu kau murung setiap hari. Jangan buat hidup mu rugi!”
“Dari siapa itu, Jihan?” tanya Sri ikut penasaran dengan pengirimnya.
“Ya nggak tau lah ... orang nggak ada namanya.” Tapi Jihan ingat seseorang yang biasa memanggilnya dengan sebutan gadis aneh. Dan itu adalah Firza. Namun dia tidak ingin mengatakan pada Sri takutnya berpikiran yang aneh-aneh.
Lalu kemudian mereka masuk ke kampus untuk mengikuti jam pelajaran dari dosen pembimbingnya. Dan setelah satu jam kemudian mereka pun selesai, lalu berjalan menuju jalan raya.
“Kita mau langsung pulang aja kan?” Sri menoleh pada Jihan yang sedang berjalan menenteng tas, buku besar dan juga buket bunga yang tadi.
Firza yang melajukan sepeda motornya. Berhenti di dekat nya Jihan yang sedang berjalan dengan Sri.
“Kau mau pulang, naik?” Firza yang langsung menyuruh Jihan untuk naik.
“Pulang kemana?” jihan malah bertanya dengan tatapan yang dingin.
“Ke kosan, emang mau pulang ke mana?” Firza tak kalah dingin dengan masih menyalakan mesin motornya.
Sejenak Firza terdiam sambil melihat ke arah keduanya. Lalu menggeser posisi duduknya bergeser ke depan. “Ayolah naik. Buruan? mumpung gue lagi baik hati nih. Mau kerja juga nih.”
Sri lebih dulu naik dan duduk di dekatnya Firza. “Ayo lah ... lumayan dari pada harus naik angkutan umum.”
Jihan mematung melihat ke arah Sri yang sudah lebih dulu naik sepeda motornya Firza dan Jihan mengingat bunga yang kini berada di pelukannya itu. Buat apa dia mengirim bunga pada nya?
“Ck. Mau naik gak? malah bengong, aneh nih orang mau di antar aja susahnya minta ampun.” Firza dengan ketusnya dan melihat ke arah bunga yang ada di dalam pelukan nya Jihan. Bibirnya pun tersenyum dari balik helm yang dia kenakan.
Jihan mengembangkan kedua pipinya seakan membuang udara dari mulutnya tersebut. Lalu kemudian naik juga berdesakkan dengan Sri juga Firza.
Sepeda motornya Firza melesat dengan sangat cepat dan membawa Jihan dan Sri menuju kosan mereka. Sebelum Firza ke tempat magangnya. Yaitu berjualan mie baso.
Firza menghentikan motornya dan membiarkan Sri dan Jihan turun tepat di depan kost nya, membuka helemnya dan menatap ke arah Jihan. “Nanti malam aku jemput. Kita makam di luar.”
Jihan menatap lekat pada Firza yang tumben-tumbenan mengajaknya makan di luar.
“Jangan berpikir macam-macam ya! gue hanya ingin menghibur kamu saja sebagai saudara ku.” Firza dengan nada dingin.
Jihan hanya mengangguk kecil tanpa berkata-kata. Dan pikiran nya terus melayang entah kemana sambil melamun. Membuat Sri menyenggol tangannya Jihan yang tampak bengong itu.
Setelah itu Firza sendiri kembali melajukan motornya dengan sangat cepat menuju ke kosan untuk mengganti kostum saja sebelum bertempur dengan kerjaan. Beberapa saat kemudian Firza pun tiba di tempat kost nya dan langsung masuk untuk berganti pakaian dengan bibir yang senyum-senyum sendiri.
Detik kemudian langsung kembali membawa lari sepeda motor dengan dengan kecepatan sangat kencang bak anak panah keluar dari busur nya. Sehingga dalam waktu sekejap dia sudah sampai lagi di tempatnya pekerjaan.
Firza langsung berkutat dengan kerjaannya dengan semangat empat lima. Sehingga saking sibuknya melayani costumer. Sampai-sampai Firza tidak mengetahui kalau kedatangan mamanya.
“Firza ...kau sedang apa di sini?” suara itu mengagetkan Firza yang sedang meracik mie bakso.
Firza langsung menoleh pada sumber suara yang ternyata adalah mamanya. “Mah?”
“Kamu sedang apa di sini sayang?” tanya kembali Vaula sambil mendekati putranya.
“Aku sedang bekerja Mah.” Perasaan Firza mendadak tidak enak. Ia merasa kalau mamanya itu akan menentang aktifitasnya selain kuliah.
Kemudian Firza meminta ijin dulu pada bosnya meminta di gantikan dulu tugasnya dengan yang lain. Sebab dia mau berbicara dengan sang bunda.
Mereka pun menjauh dari tempat tersebut. Dan Firza menatap bundanya. “Ada apa Mah? Tumben ke sini?”
“Mama kangen sama kamu kan ... habis kamu tidak pernah temui Mama kalau tidak di suruh, di suruh pun sulitnya minta ampun.” Vaula memeluk putra sulungnya tersebut.
“Aku sibuk Mah,” Firza melepas rangkulan mamanya.
“Ehem, kamu kenapa harus capek-cepek bekerja sih sayang ... apa kurang uang saku dari Mama atau dari papa mu kurang, hem? sehingga kamu mencari uang saku sendiri?” Vaula menatap lembut putranya.
“Buka. Karena itu kok ... uang dari kalian cukup kok ... Cuma aku ingin mandiri saja dan ak senang bisa menghasilkan uang sendiri.” Jawabnya Firza merasa bangga kalau dia bisa menghasilkan uang berapa pun itu.
“Tapi kan sayang ... kamu itu harus fokus kuliah, Mama tidak mau kuliah mu terganggu hanya karena jualan seperti ini ach. Mama kurang setuju sebenarnya, Za ...” ungkap sang mama.
“Aku bisa mengatur waktu kok dan kalau aku sibuk kuliah ... tidak harus masuk bekerja kok.” Jawabnya Firza kembali.
“Atau ... kamu pindah saja kuliah nya ke luar Negri ya?” tawar Vaula pada Firza. “Mama juga maunya Fikri sekolahnya nanti di luar Negeri.”
“Aku tidak mau, dan belum mau. Di sini juga cukup berkualitas kok buat apa jauh-jauh kau di Negeri sendiri pun masih banyak yang bagus. Kecuali kebutuhan dan aku belum butuh.” Tolak nya Firza yang tidak mau di atur kuliah di mana.
“Sayang ... biaya semua Mama yang akan tanggung, biarpun papa mu tidak setuju—“
“Aku yang tidak mau, Mah ... aku tidak mau kuliah di luar Negeri.” Jelasnya Firza dengan nada bicaranya yang semakin dingin.
“Em ... sayang, Mama ingin keluarga kita utuh kembali dan ... gimana kalau Mama dan papa menikah lagi?” Vaula menatap pada sang putra dan berharap persetujuan.
Degh.
Firza kaget bukan main mendengar ucapan mamanya yang ingin menikah lagi dengan papanya ....
.
Jangan lupa like komen dan hadiah lainnya, agar aku tetap semangat ... makasih ya.