
Di sepanjang perjalanan, kepala Sukma lebih sering bersandar di bahunya sang suami dan banyak bermanja. Sesekali tangan Alfandi pun mengusap kepala sang istri.
“Sekarang istri ku lebih manja nih ... bikin gemes dan ...” Alfandi menggantungkan kata-kata nya dengan fokusnya melihat ke depan.
“Dan apa?” tanya Sukma sambil mendongak.
“Dan bikin aku tambah ingin terus, he he he ....”
“Hem ...ingin apa nih? Makan nambah gitu?” gumamnya Sukma sambil menegakkan duduknya.
“Bener, makan kamu sayang!” Alfandi mesem-mesem.
“Mulai-mulai mesum,” ucap Sukma sambil menunjukan senyumnya.
“Biarin, sama istri sendiri kok. Bukan sama wanita lain, kalau sama wanita lain ... barulah gak boleh! kata kamu juga begitu, iya kan?” Alfandi memutar kemudinya untuk belok dan masuk ke parkiran klinik.
“Sudah sampai sayang,” lirihnya Alfandi sambil membuka pintu mobilnya lalu turun lebih dulu, lanjut mengitari mobilnya untuk menjangkau dan membukakan pintu buat sang istri yang melongo melihat bangunan klinik tersebut.
“Sayang ... mau turun gak?” lagi-lagi suara Alfandi terdengar, membuat Sukma menoleh lantas menurunkan kakinya untuk masuk ke klinik tersebut.
Selanjut nya Alfandi membawa sang istri ke seorang dokter wanita yang masih temannya. Dan dia kaget siapa nih? bukan istri yang dulu, Vaula.
Kemudian Alfandi mengenalkan Sukma pada dokter itu serta mengatakan kalau Vaula bukan istri nya lagi.
Dokter mengangguk mengerti dengan penjelasan Alfandi.
Untuk mempersingkat waktu, Sukma langsung konsultasi dengan dokter sebut, lalu dilakukan pemeriksaan. Namun sebelum melakukan pemeriksaan, dokter bertanya kepada pasiennya itu.
“Apakah sudah telat datang bulan?” selidik dokter. Sejenak Sukma terdiam sambil melirik ke arah suaminya itu. “Em ... telat sih iya, tapi aku pakai kontrasepsi dok. Yang bulanan, apakah mungkin bila aku hamil dok?”
"Ya, meski pakai alat kontrasepsi saat melakukan hubungan intim tetap bisa hamil jika tidak memperhatikan beberapa hal. Ada banyak jenis alat kontrasepsi yang tersedia. Namun, satu-satunya cara yang paling efektif untuk mencegah kehamilan tentunya hanya dengan tidak berhubungan seksual.
“Ha, ada-ada saja dok. Buat apa punya istri kalau tidak digunakan mubazir dong ha ha ha ...” Alfandi tertawa renyah.
“Nah, itu sayang kan bila gak di gunakan? mubazir dan buang-buang sesuatu yang berarti hi hi hi ... itu benar sekali. Jadi dipergunakan saja dengan baik,” ungkap dokter sambil mesem.
“Terus, gimana dok dok?” tanya Sukma dengan wajah yang harap-harap cemas.
“Adakalanya kontrasepsi gagal dan kemungkinan besar bisa hamil, seperti tadi jangan berhubungan intim bila tidak inginkan hamil.” Dokter menjelaskan kepada Sukma.
Sukma melirik ke arah Alfandi yang justru tampak happy sambil menatap ke arah dirinya.
Lalu kemudian Sukma mulai diperiksa termasuk memakai tast pack. Dan Alfandi menunggu dengan setia dan sesekali menyibukkan diri dengan ponselnya.
Setelah melewati beberapa pemeriksaan dan akhirnya rampung juga dan ... Sukma dinyatakan hamil dua bulan.
Alfandi kegirangan mendengarnya dan betapa bahagia hatinya! ternyata miliknya masih tajam dan masih bisa memproduksi keturunan.
Sementara Sukma sendiri terdiam dan melamun ada rasa bahagia dan rasa was-was yang menghantui hatinya saat ini. “ Em ... dok, kira-kira ... janinnya tidak apa-apa kan? ma-maksud ku sehat-sehat saja kan? sementara saya sedang masa KB?”
Dokter menunjukan senyumnya dengan ramah dan manis.” Insya Allah tidak, baik-baik saja. Dan ... masa KB nya pun kalau menurut tanggal itu sebentar lagi berakhir. Banyak-banyak minum vitamin dan makanan yang bergizi saja ya? jangan terlalu capek juga perhatikan kesehatan. Jangan terlalu stres.” Ujar dokter tersebut sambil memberi beberapa resep obat dan vitamin.
“Selamat ya Al? mau kembali menjadi bapak dari anka ke tiga ya?” dokter memberikan selamat beriringan dengan tangan yang di ulurkan.
“Terima kasih dok. Oya ada yang ingin aku tanyakan nih padamu dok?” Alfandi menatap ke arah dokter tersebut.
“Apa tuh? apa yang ingin ditanyakan silakan, nanti saya akan jawab semampunya.” Dokter menatap penasaran.
“Begini, kalau lagi pengen gitu. Tidak apa-apa kan bila berhubungan dalam masa durasi yang panjang? atau seumpama sering melakukan nya misalnya? soalnya ... saya suka tidak tahan kalau sedang berdekatan.” Lanjut Alfandi tanpa ragu.
“Apa sih ... malu kok nanyain itu sih?” bisik Sukma sambil menepuk paha nya Alfandi.
“Nggak pa-pa sayang ... ini bukan hal yang tabu dan wajar bila dipertanyakan,” balas Alfandi.
Dokter lagi-lagi menunjukan senyumnya kepada keduanya. “Sepanjang tidak ada keluhan yang signifikan ... tidak ada masalah. Dan bila keinginan itu meningkat juga itu wajar-wajar saja sih, pertama. Kalian masih termasuk pengantin baru serta libido yang mengalami perubahan. Dengan semua peningkatan itu, tidak heran dorongan **** ibu hamil muda bisa melonjak di akhir trimester pertama dan ataupun pada trimester kedua. Sebaiknya, manfaatkan waktu yang ini dengan pasangan. Karena berhubungan intim selama kehamilan adalah cara yang baik untuk tatap terhubung secara mental, emosional dan fisik.”
“Intinya sering berhubungan intim, tidak berbahaya kan buat janin dok?” selidik Sukma dengan sedikit malu-malu.
“Aman, asal jangan sambil saing banting saja. tentunya lakukan dengan hati-hati, pelan dan penuh kasih sayang pastinya bukan seperti melakukan dengan musuh he he he ...” jelas dokter kembali.
Kemudian setelah merasa cukup konsultasinya, Alfandi dan Sukma pun berpamitan dan meninggalkan tempat tersebut setelah menebus obat dan vitamin dari apoteknya.
Alfandi menggandeng tangan sang istri, berjalan mendekati mobilnya. Setelah Sukma duduk di samping kemudi, Alfandi dengan cepat mengitari mobil tersebut lanjut duduk di belakang kemudi.
Sebelum menyalakan mesin, Alfandi menoleh pada sang istri sambil tersenyum. Wajahnya begitu sumringah menunjukan kebahagiaan yang sebentar lagi akan dapat baby dari istri mudanya tersebut.
“Aku sangat bahagia sayang, ternyata aku masih bisa memproduksi keturunan dengan mu, terima kasih sayang?” Alfandi memeluk sang istri sangat erat.
Sukma hanya mengangguk pelan dalam pelukan sang suami, dia masih setengah belum percaya kalau dia tengah hamil muda di saat dia memakai penjaganya. Dan dia ingin kuliah.
“Kamu harus menjaga kesehatan sayang, jangan terlalu capek dan stres, kuliah pun semampunya saja, bila malas pergi ambil kuliah dari rumah saja ya? sayang ya?” pesan Alfandi sambil memeluk sang istri nya itu.
Lagi-lagi Sukma mengangguk pelan dan tidak mampu berkata-kata selain meneteskan air matanya yang jatuh ke punggung sang suami, merasa haru. Sesuatu yang belum direncanakan, eh ... Allah sudah memberinya duluan.
“Ibu, Bapak. Kalian sebentar lagi akan mempunyai cucu dan maaf aku belum bisa membawa suami ku ke tempat peristirahatan kalian berdua.” Gumamnya Sukma dalam hati.
Alfandi memudarkan rangkulannya setelah mendengar istrinya terisak lalu di tatapnya lekat. “Kenapa menangis? Apa kau tidak bahagia hidup dengan ku atau mempunyai anak dari ku? kau tidak perlu khawatir, kuliah mu akan terus berjalan dan aku akan mendukung mu untuk itu.”
Sukma menunduk dan air matanya semakin deras, apalagi yang akan dia cari? Sementara Allah sudah memberikannya lebih. Suami yang baik dan perhatian bahkan mendukung dengan apa yang jadi cita-citanya. Keluarganya baik dan sayang sama dia, anak-anak juga sayang sama dirinya. Nikmat mana lagi yang akan Sukma dustakan?
Sukma kembali memeluk pundak suaminya untuk menyembunyikan wajahnya yang kusut dan tangisnya semakin terisak. Air mata semakin deras.
Alfandi hanya diam dan membiarkan sang istri menangis sampai puas. Tangannya mengusap punggung dan membelai rambutnya dengan lembut.
“Menangislah sampai kau puas, mungkin dengan menangis, semua beban mu akan berkurang dan akhirnya kau merasa lega, aku sangat mencintai mu. Sangat!” Alfandi bergumam dengan sangat lirih ....
.
...Bersambung!...