Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Ke tempat bibi



‘’Mas, Mas Luky ya?’’ sapa Sukma kepada pria yang berada di teras tersebut yang katanya bernama Luky.


‘’Iya, saya Luky. Suruhan tuan Alfandi, beliau menyuruh


saya untuk menjadi supir anda dan sekaligus mengajari anda menyetir,’’ jawabnya


Luky.


‘’Oh gitu ya? Kalau begitu tolong antarkan saya ke suatu tempat,


bisa kan?’’ Sukma menatap pria tersebut.


‘’Tentu bisa dong, Nona. Saya akan siap mengantar anda


kemanapun, karna itu sudah menjadi tugas saya.’’ Jelasnya Luky.


‘’Makasih Mas? Ini kunci mobilnya, kita harus menunggu


adik-adik saya dulu,’’ ucap Sukma sembari menunjuk ke arah mobil yang terparkir


cantik di samping depan rumah tersebut.


‘’Baik, Nona. Saya akan panaskan terlebih dahulu mobilnya.’’ Luky pun beranjak dari


duduknya dan menghampiri mobil Sukma yang masih terpasang pita yang indah


itu.


Kemudian Jihan dan marwan pun datang, dengan penampilan yang rapih. Menghampiri sang


kakak yang menunggu di teras.


‘’Ayo kak. Kita pergi sekarang?” Ajaknya marwan.


"Kalian sudah siap ya?" Sukma menatap ke arah keduanya.


Selanjutnya mereka pun pergi untuk berbelanja setelah Sukma berpamitan pada bi Lasmi.


Mobil tersebut melaju ke sebuah Alfamart, dan berbelanja untuk oleh-oleh ke rumah Bi Lilian.


Ketiganya memilih apa yang layak buat oleh-oleh.


"Kak, kita mau langsung saja pergi atau pulang dulu?" tanya Jihan kepada suami yang sedang mendorong troli belanjaan.


"Em ... langsung aja deh, daripada pulang dulu berabe dan Kita jemput Kak Mimy dulu." jawabnya Sukma.


Sementara Marwan yang milih-milih snack yang buat dia bawa pulang.


"Oh iya, kalian mau makan dulu nggak? sebelum pergi? tawarnya Sukma melihat ke arah kedua adiknya.


"Iya dong Kak makan dulu, laper nih." Sambutnya Marwan sembari menoleh ke arah kakaknya.


"Baiklah, kalau begitu. Kita bayar dulu ini." Sukma terus mendorong troli belanjaannya ke kasir.


"Kak, makanan kita simpan di mana?" tanya Jihan dan Marwan ketika belanjaannya Sukma dimasukan ke dalam bagasi oleh Luky.


"Ya simpan saja di situ. Asal jangan dikeluarin saja." Balasnya Sukma sambil masuk ke dalam mobilnya.


"Iya, Kak jangan dikeluarin belanjaan kita!" Marwan menyimpan barangnya di pojokan bagasi.


"Ya udah, satuan dengan barang kamu Wan." Kemudian Jihan menyusul kakaknya yang sudah masuk ke dalam mobil.


Saat ini mobil sudah melaju ke arah rumah sakit dimana Mimy bekerja dan diperkirakan sudah keluar.


"Lho kak, katanya mau makan?" Marwan heran sama kakaknya.


"Iya, jemput kak Mimy dulu, Wan ..." Sukma menoleh ke belakang.


"Kalau boleh tau, siapa dia, Non?" tanya Luky, pria sekitar 45 tahun itu merasa penasaran, siapa yang bernama Mimy tersebut.


"Dia, sahabat dan dia tinggal bersama ku juga." Jawab Sukma sambil melihat ke arah luar dimana jalanan begitu ramai.


Sembari melaju, Luky sambil menunjukan dan menjelaskan gimana caranya menyetir mobil. Dan Sukma mengamati dengan serius.


Tampak Mimy berdiri dan menunggu, mobil pun berhenti di dekat Mimy. Dengan senyuman yang merekah! Mimy langsung masuk.


"Akhirnya gue naik juga mobil bagus lu, Ma ..." mata Mimy mengitari suasana di dalam mobil yang adem.


"Kak Mimy bagaikan baru saja naik mobil? kita sering naik mobil Abang yang lebih bagus kan?" Marwan menoleh ke belakang yaitu ke arah Mimy.


Jihan mengangguk. "Iya, Kak Mimy kerja setengah hari ya?"


"He'em, Oya belanjaannya mana? gak mungkin kalian gak membawa apa-apa ke sana?" Mimy celingukan.


"Ada di bagasi!" Sukma menunjuk ke arah belakang.


Beberapa saat kemudian. Mobil berhenti di depan rumah makan dan merekapun turun.


Sukma berpapasan dengan Rosa, bahkan bahunya pun bertabrakan.


"Mbak, lihat-lihat jalan dong?" suara Rosa sambil mengusap bahunya.


Sukma menunjukan senyumnya seraya berkata. "Lho, Mbak sendiri bukan yang terburu-buru, Aku sih jalannya antai."


"Iya, anda yang terburu-buru jalannya dan menubruk kawan saya, Mbak." Bela Mimy sambil memandangi ke arah Rosa.


"Eh, ikutan nyolot! Saya tidak bicara sama kamu ya?" Risa melotot ke arah Mimy.


Sukma mengangkat tangan ke atas, agar Mimy tidak bicara lagi. "Maaf ya, Mbak? mungkin saya yang salah," Sukma menyatukan kedua tangannya di depan dagu.


Rosa tidak berkata lagi selain membawa langkahnya menjauhi tempat tersebut dengan bibir komat kamit.


Sukma dll pun memasuki rumah makan dan lantas memesan makanan dengan kesukaan masing-masing.


"Saya, biar makan di mobil saja?" Luky berucap lirih pada Sukma dengan membawa piringnya.


"Kenapa gak di sini saja, Mas makannya." Sukma menatap supirnya itu.


Kemudian mereka makan bersama di meja yang sama. Setelah menikmati makan siangnya. Semuanya bubar dan melanjutkan perjalanan menuju rumah bi Lilian.


"Berapa bulan ya kak kita gak ke sini? banyak perubahan ya?" Marwan mengeluarkan kepalanya di jendela.


"Selama kita pindah ... gak pernah ke sana lagi!" gumamnya Jihan sambil menoleh ke arah belakang yang sudah dilewati oleh mobil yang ditumpanginya.


"Hem, kita baru ke sini lagi." Sukma pun membenarkan kedua adiknya.


"Oya, Ma. Besok gue akan cuti seminggu dan gue mau pulang dulu, gue sudah kangen sama keluarga gue di kampung." Mimy melirik ke arah Sukma.


Sukma menatap ke arah Mimy. "Serius, My? tapi kau akan kembali kan?"


Mimy nyengir. "Iyalah, gue balik lagi, emangnya gue mau di kampung selamanya serta berpangku tangan. Gitu? gak lah!"


"Oh, iya. Gue takut gak kembali lagi." Sukma merangkul bahunya Mimy dengan mata berkaca-kaca.


"Lu takut gue gak balik lagi? dan tidak punya sahabat kaya gue lagi, kan? sahabat yang paling baik sedunia kan?" Mimy membalas pelukan Sukma.


Sukma mengangguk sambil memeluk Mimy, sahabat baru yang begitu baik dikala dirinya susah.


"Gue juga takut kehilangan lu, Ma. Lu juga sahabat gue yang paling baik! apalagi dikala elu senang, lu nggak lupa sama gue. Bahkan takut kehilangan gue, di kala lu senang gue pun ikut senang dan merasakannya, Ma!"


Keduanya saling merangkul dan saling meneteskan air mata haru.


"Dikala kau senang, bahagia dan dapat suami baik juga kaya! lu nggak lupa sama gue, bahkan gue lu ikut sertakan dalam rumah lu yang sekarang. Gue nggak akan lupakan kebaikanmu. Ma," sambungnya Mimy.


"Justru yang baik sama gue itu elu, My disaat-saat gue susah dan ... gue pun lu tahu punya tanggungan kedua adik gue, lu begitu baik dan selalu ada buat gue, terima kasih? mungkin kebaikan gue nggak seberapa dibanding kebaikan lu dulu," ujar Sukma.


Jihan, Marwan dan sopir hanya terdiam mendengar obrolan mereka berdua yang penuh dengan haru itu.


"Gue doakan, Ma. Elu sama pak Alfandi itu awet sampai kapan-kapan pun, kalian berdua tetap bersatu apapun halangan rintangannya, karena kalian berdua begitu baik sama gue," suara Mimy bergetar sembari terisak.


Sukma mengusap kedua pipinya yang basah. "Sudah, ah! kita nggak usah nangis-nangisan. Justru bukannya kita harus bahagia? jangan bikin gue nangis!" hik hik hik.


Mimy tersenyum getir dan melepaskan rangkulannya kepada Sukma. Jihan pun tak ayal mengusap sudut matanya yang basah. Mobil berhenti di dekat rumahnya Bi Lilian yang tampak sepi itu ...


.


.


...Bersambung!...


.


Jangan lupa mampir di karya ku yang baru yang berjudul "Istri Kontrak Ayah sahabatku" alias (Ikas)