Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Berjanjilah



"Al ... kau oke? kau mendengarkan ku?" Sukma mengusap bahu sang suami yang sepertinya melamun.


"Hah? iya, bicara apa sayang?" Alfandi menggercapkan netra matanya.


"Em ... kok melamun sih? mikirin apa lagi?" lirihnya Sukma dengan masih berdiri di tempat.


"He'em ... emang bertanya apa tadi?" tanya balik Alfandi sambil menggenggam tangan Sukma.


"Sudah makan belum? aku mau siapkan dan mau makan di mana?" Sukma menatap lekat ke arah Alfandi.


Alfandi berdiri di hadapan Sukma sembari menggenggam kedua tangannya. "Aku sudah makan sayang, tadi bersama anak-anak."


"Ooh, ya sudah aku ambilkan air minum dulu, mau ku buatkan apa? kopi atau air jahe?" tawar Sukma sembari menarik tangan dari genggaman Alfandi yang kuat itu.


"Em ... boleh, aku minta minuman jahe saja. Kalau istri ku ini tidak keberatan!" Alfandi menarik tangan Sukma dan di cium punggungnya bergantian.


"Oke, aku turun dulu ya?" Sukma menarik kembali tangannya dan lantas mengayunkan kedua kaki mendekati pintu.


Bibir Alfandi mengulas senyumnya sambil membuka kancing kemejanya. Kemudian dia bertelanjang dada dan duduk di atas tempat tidur, menunggu sang istri yang membuatkan minuman hangat untuk nya.


Di dapur, Sukma sedang buatkan minuman hangat untuk sang suami. Dengan senang hati dia meracik minuman jahe tersebut.


Tidak lama kemudian minuman itu pun jadi, dan Sukma segera membawanya ke atas. Yaitu ke kamar.


"Hem ... wangi jahenya terasa banget! pastinya ini akan menghangatkan tubuh suami ku." Sukma mencium aromanya itu yang menyeruak ke dalam rongga hidung.


Langkah kaki Sukma terus berjalan menuju kamar yang dihuni oleh sang suami. Namun ketika sudah masuk ka dalam, kamar tersebut kosong tapi dari kamar mandi terdengar suara air keran yang mengalir.


Dan detik kemudian, Alfandi pun muncul dari balik pintu kamar mandi, dengan tidak memakai pakaian selain celana boxnya saja.


Dengan hati-hati, Sukma menyimpan gelas air jahe di atas nakas, kemudian dia duduk di tepi tempat tidur seraya pikirannya melayang-layang.


"Kalau hampir setiap malam dia bermalam di sini? kapan waktunya buat istri yang di sana?" pikir Sukma sembari menatap Alfandi yang berjalan mendekati dirinya dengan mengekspos dada bidang dan perut yang sixpack.


"Kau, sedang memikirkan apa sayang? bengong saja," tanya Alfandi lalu duduk di samping sang istri dengan tangan merangkul pinggangnya itu.


"Engga. Sebelumnya aku minta maaf, maaf ... sekali, kalau seandainya kau sering-sering atau setiap malam ke sini, bagaimana dengan istrimu? sementara dia tidak tahu kalau kau sudah punya istri lagi?"


Alfandi melawan nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan dari istri mudanya itu. "Tadi, aku makan malam sama anak-anak di restoran dan aku melihat dia bergandengan tangan dengan fotografer itu, ya. Laki-laki itu, dan ... kebetulan sekali kalau dia gak masuk ke restoran tempat kami berada! melainkan masuk cafe sebelah lagi dan Alhamdulillah anak-anak tidak melihat mamanya."


Sukma hanya terdiam melepas pandangan ke arah sang suami dengan tatapan kosong. "Apa kau yakin wanita itu istrimu? siapa tahu kau salah orang," lirihnya.


"Aku yakin sayang ... dia istriku! mama dari anak-anak ku," jawabnya Alfandi dengan yakinnya.


"Terus, kau melihat mereka keluar lagi?" selidik Sukma sembari menyampingkan rambut indahnya.


"Tidak! anak-anak meminta cepat-cepat untuk pulang, dan aku tidak melihatnya lagi." Jawabnya Alfandi, tangannya bergerak mengusap kepala Sukma.


"Terus, ketika kau ke sini! apakah istri mu sudah pulang?" Sukma kembali bertanya.


"Ketika aku pergi ke sini ... istriku belum juga pulang!" tambahnya Alfandi seraya menarik bahu sang istri agar masuk ke dalam pelukannya.


"Apalagi sayang? apa lagi yang ingin di bicarakan hem? nggak suka dengan mobilnya? atau nggak suka warnanya? gimana cara bawanya? kalau soal nggak bisa bawa ... kan nanti bisa belajar nyetir, dan aku akan siapkan sopir untukmu--"


"Nggak-nggak, gak usah! semakin banyak pekerja saja nggak usah, sebenarnya. Aku masih bisa naik taksi kok, sebelum aku bisa sendiri tapi seharusnya kamu itu ngomong dulu sama aku. Minta izin dulu! karena sesungguhnya aku nggak terlalu membutuhkan itu, masih banyak angkutan umum banyak taksi juga, ojeg online banyak, ngapain punya mobil sendiri--"


"Shutttt ..." Alfandi menempelkan jari telunjuknya di bibir Sukma agar berhenti ngoceh.


"Aku membelikan itu untukmu cash, bukan kredit yang satu waktu akan menagih kepadamu! dan aku pikir kamu membutuhkannya, untuk pergi kuliah. Untuk belanja ke Mall! iya aku tahu kendaraan lain banyak, online banyak. Tetapi apa salahnya aku memberikan hadiah itu untuk istriku yang cantik ini, hem?" ucap Alfandi menatap lekat.


Kata-kata yang terucap dari bibir Alfandi membuat hati Sukma berbunga-bunga, merasa di perhatikan dan di sanjung oleh pria yang berstatus suaminya tersebut.


"Nanti aku akan suruh orang untuk mengajari mu menyetir biar bisa bawa sendiri, karena kalau aku sendiri rasanya sulit ada waktu untuk mengajarimu. Dan aku yakin kau akan dengan mudahnya bisa belajar itu." Cuph! mengecup keningnya Sukma penuh kelembutan.


Kedua manik mata Sukma terpejam ketika bibir Alfandi mendarat lama ... di keningnya. Sesaat kemudian Sukma mengambil gelas minuman yang masih mengepul tersebut dan dikasihkan pada suaminya.


"Diminum dulu? mumpung hangat. Nanti kalau keburu dingin bukan minuman hangat lagi namanya, tapi cuma ... minuman jahe yang dingin," ucapnya Sukma tersenyum manis.


Alfandi menyesap minuman tersebut. "He he he ... bisa saja!"


"Kalau gitu makasih ya? atas mobilnya? tapi ikhlas, kan ngasih ke aku?" Sukma menatap curiga.


"Ikhlas dong sayang ... masa nggak ya Allah ... nggak percaya amat sih jadi istri? ngapain aku ngasih kalau aku nggak ikhlas? lagian kan, kau sendiri nggak minta! jadi itu inisiatif aku sendiri. Ini aneh, kalau kamu yang minta dan memaksa? terus aku ngasihnya ikhlas atau enggak? wajar bila dipertanyakan." Alfandi menggelengkan kepalanya seraya memegang gelas minumnya itu.


"Ya ... kali aja gitu, terpaksa ngasinya. Gak ikhlas karena inginkan sesuatu! he he he ..." timpal Sukma sambil mengulum senyumnya.


"Ha ha ha ... tentu dong, aku inginkan sesuatu dari istriku ini pengen tahu apa?" tanya Alfandi lulu menyesap kembali minumnya dengan nikmat.


"Apa itu, kalau boleh aku tahu?" Sukma menatap penasaran ke arah Alfandi yang memberikan gelas kosong padanya.


"Karena... aku, menginginkan tubuhmu," bisik Alfandi sembari nyengir.


Sukma yang mendengarnya bergidik geli dan menepuk paha Alfandi. "Apaan sih?"


"Ha ha ha ... bukan cuma itu sayang, aku mau kau itu menjadi istri yang baik untuk ku, ibu yang baik untuk anak-anakku!" ralat Alfandi.


Sukma hanya menatap kedua netra mata Alfandi dengan dalam-dalam. Membuat keduanya saling bertukar pandangan dan tatapan Alfandi begitu dalam seakan ingin menyelami perasaan Sukma saat ini.


Alfandi menyatukan tangan mereka berdua. "Berjanjilah padaku? kau akan menjadi istri yang baik dan untuk selama-lamanya. Kau akan mencintaiku seperti kau mencintai dirimu sendiri. Jadi ibu yang tulus menyayangi kedua putraku! apalagi nanti jika suatu saat kamu mempunyai keturunan dariku!" Alfandi begitu lirih dan penuh harapan kepada sosok Sukma.


Mendengar itu, kedua manik Sukma berkaca-kaca, kini tatapannya berubah nanar kepada Alfandi. Bibirnya bergetar lalu mengangguk seraya berkata. "Insya Allah, dan bantu aku untuk seperti yang kau mau. Walaupun tidak akan pernah bisa seperti yang kau inginkan! tetapi setidaknya aku akan berusaha menjadi yang terbaik untuk kalian semua."


Alfandi mengangguk dan lagi-lagi mengecup kening Sukma dengan sangat lembut nan mesra ....


.


.


...Bersambung!...