
"Aku gak bisa membayangkan gimana perasaan istri mu itu--"
"Dia bukan istri ku lagi. Jangan berpikiran yang macam-macam ya sayang?" cuph! Alfandi bangun dan mengecup bahu sang istri.
Sukma mengusap ujung matanya. "Apa tidak bisa memaafkan dia? mungkin yang kau lihat waktu itu hanya sebagai akting?"
"Sayang, itu benar. Dan aku sudah menangkap basah yang sesungguhnya. Aku pergoki dia dari mulai masuk kamar hotel, sampai ... melakukan itu, sayang, gak cukup kah bukti yang ku dapat itu hem?" Alfandi dan Sukma saling bertukar pandangan.
Sukma menatap ke arah wajah tampan sang suami yang tampak sedih, mungkin saat ini dia sedang mengalami luka batin.
Atas masalah yang dia hadapi, dan siapa yang tidak akan sakit hati? bila orang yang mempunyai ikatan pernikahan menorehkan luka di rongga dada.
"Aku gak sanggup sayang, untuk mempertahankan nya! sekalipun tidak ada kata perceraian dalam hidup ku, tapi ini sudah keterlaluan dan ini bukan khilaf sayang ... bukan!" Alfandi merangkul dan menyusup di leher sang istri.
"Bukannya aku tidak ingat anak-anak, sayang. Aku juga memikirkan mereka! tapi gimana dengan perasaan ku? dan buat apa dipertahankan? bila hubungan kami tidak akan sehat lagi." Suara Alfandi bergetar dalam pelukan sang istri.
Sukma terdiam sejenak, tak mampu berkata-kata lagi. Selain membalas pelukan sang suami dan mengusap lembut punggungnya itu.
"Jangan pernah merasa bersalah sayang, perceraian ku dengan dia karena murni kesalahannya. Dan aku juga gak mungkin menikahi mu kalau saja aku tedak ditelantarkan!" sambung Alfandi dengan lirih.
"Tapi."
"Sayang, kau tahu kan? alasan apa aku menikahi mu? dan kau juga ingin menolong ku terutama hal dalam hal itu?" Alfandi memudarkan rangkulannya dan menatap ke arah wajah sang istri lekat-lekat.
Sukma mengangguk pelan sembari melihat sorot mata Alfandi yang tajam namun diliputi luka yang mendalam.
"Aku beruntung bertemu dengan mu dan bila tidak, mungkin aku sudah terjerumus pada hal-hal yang membuat aku belok juga!" Alfandi kembali menyembunyikan wajah di leher sang istri.
Dan dasar koplak. Dalam keadaan yang seperti ini pun Alfandi masih saja mengambil kesempatan, Tangannya bermain-main di puncak bukit miliknya Sukma.
Membuat Sukma melongo dan mesem-mesem. Dan menghindarkan tangan Alfandi dari tempatnya, namun kembali lagi ke tempat semula.
"Sebenarnya ... niat ku bukan cuma untuk ini saja sih, apalagi sekarang. Aku ingin membina rumah tangga yang bahagia dengan mu bersama anak-anak kita." Ucapnya Alfandi kembali.
"Tapi, aku tetap merasa bersalah. Aku sudah mengambil alih posisi dia yang seharusnya satu-satunya itu." Gumamnya Sukma.
Alfandi memberi jarak di antara mereka dan menghentikan tangannya yang bermain-main dengan balon alami itu.
"Sudah ku bilang, kau itu bukan penyebab nya dan kita tidak akan seperti ini bila dia tidak berbuat semacam itu. Sudah, sekarang kita bobo? sudah larut malam nih!" ajak Alfandi sambil menarik tubuh sang istri supaya berbaring.
Benar saja. waktu sudah menunjukan pukul 00.00 wib. Lalu Sukma berbaring dan sembari mengusap pipinya, lalu beberapa kali menguap.
Suasana yang dingin ini menyelimuti setiap tubuh yang sedang melewati malam. Dan akhirnya, malam pun mereka lalui dengan tidur nikmat sambil saling berpelukan dan memberi kehangatan pada diri masing-masing.
Menjelang subuh. Alfandi terbangun duluan menggeliat nikmat dan memicingkan matanya ke samping. Dimana sang istri masih tampak lelap.
Cuph! dia kecup bahu sang istri yang yang terbuka dan menghadap ke arah tembok. Sesaat Alfandi memeluk sang istri dengan erat.
Bibir Alfandi tersungging dan membentuk senyuman yang merekah. Kemudian Alfandi bangun dan celingukan mencari pakaiannya yang ternyata berada di dalam selimut.
Lantas dia turun dan berjalan mendekati pintu kamar mandi.
Tubuh Sukma bergerak dan tangannya menepuk-nepuk kasur dengan mata yang tetap terpejam, dan telinganya mendengar sayap-sayup suara adzan, namun sebelahnya itu tampaknya kosong.
Sukma memutar memorinya, ingat-ingat kalau nggak salah. Semalam itu dia bersama suaminya bahkan melakukan sesuatu, sehingga tubuhnya yang kini dia rab-raba tersebut tidak memakai sehelai benang pun.
Sukma bangun dan tidak lupa menyebut selimut bagi tubuhnya dan memaksa agar kedua menikmatinya terbuka menjadi kalah samping yang memang sudah kosong dan pakaian mereka jajanan di lantai.
"Ooh, berarti dia sedang berada di kamar mandi." Gumamnya dengan suara parau.
"Ya ampun ... tubuhku berasa remuk begini sih?" Sukma menggerak-gerakan tubuhnya yang terasa sakit hampir semua sendi.
Namun di bibirnya Sukma terlintas sebuah senyuman, mengingat aktivitas semalam yang begitu panjang dan mengasyikkan walaupun saat ini tubuhnya berasa sakit akibatnya.
Terlihat daun pintu bergerak dan kaki Alfandi mulai melangkah. Keluar dari kamar mandi.
Sukma buru-buru mengenakan. semua pakaiannya dan dengan cepat juga mengambil pakaian buat sang suami.
"Met pagi sayang ...bau sudah bangun?" sapa Alfandi sembari menatap ka arah Sukma yang sedang menyediakan pakaian untuknya.
"Pagi juga!" balas Sukma dengan suara parau, seraya mengulas senyumnya.
Kemudian Sukma segera membawa langkahnya ke kamar mandi, untuk membersihkan diri. Takut kesiangan subuh nya.
Sekitar beberapa puluh menit kemudian Sukma beres-beres di kamar membuka semua gorden dan, sementara Alfandi sedang berolah raga di temani anak-anak.
Selepas beberes di kamar, barulah Sukma keluar dan turun dengan outpit santainya. Berjalan menuju dapur untuk menyediakan buat sarapan.
Di tengah sedang anteng membuat sarapan. Tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang.
"Iih, apaan sih ... malu sama bibi. Gimana sih?" Sukma menolehkan kepalanya ke samping, ke arah sang suami yang merangkulnya dari belakan.
Dan harus membungkuk untuk menjangkau bahu Sukma yang ia letakkan dagunya di sana.
"Biar saja, bibi juga mengerti dan sangat mengerti. Iya kan Bi?" Alfandi menoleh pada bi Lasmi yang mesem-mesem melihat kelakuan sang majikan yang bucin abis.
Kepala Sukma celingukan. "Anak-anak ... gak enak sama anak-anak, lagian lagi masak nih ...."
"Cuph! susah ya? ada aja alasannya? nanti bila sedang liburan gak ku kurung di kamar, tidak boleh keluar." Gumamnya Alfandi sambil mengecup tengkuk sambung sang istri.
"Lah, buat apa liburan? kalau di kurung saja di kamar, mendingan gak ikut dong!" balas Sukma sambil memajukan bibirnya yang bawah.
"Kau kau tidak ikut, aku juga tidak pergi sayang. Liburan di rumah saja." Alfandi mengeratkan pelukannya.
"Tidak masalah, paling putra bungsu mu yang merengek-rengek minta pergi, adik-adik aku gak akan jadi masalah," ungkap Sukma sembari tetap memasak.
"Iya-iya, pergi kok. Sayang ... pasti pergi." Alfandi melepaskan rangkulannya setelah melihat Firza datang ke tempat tersebut.
"Mommy. Energen mana? aku mau bikin sendiri." Firza celingukan mencari yang di tanyakan.
"Em ... ada, tuh di laci. Tapi aku sedang masak banyak, gak mau makan kah? ikan kesukaan kalian," Sukma menatap ke arah Firza.
Alfandi menatap ke arah Firza dan Alfandi sembari berdiri bersandar ke meja dan melipatkan tangan di dada ....
.
.
...Bersambung!...
.
Harap memberi dukungan untuk author recehan ini ya? reader ku tercinta 🙏