Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Dari terigu



Sukma kini tengah mondar-mandir di dekat jendela. Dan waktu sudah menunjukan pukul 17.00, sementara Alfandi belum juga terlihat batang hidungnya.


Mau telepon takut ganggu. Gak di telepon. Penasaran masih dimana? yang akhirnya dia menjadi delima dan mondar-mandir tidak beraturan.


"Kemana sih? katanya pulang cepat? tapi belum nongol juga! mana kepala terasa pusing, lagi." Sukma berjalan beberapa langkah lalu menjatuhkan bokongnya ke di tepi tempat tidur.


Melirik ke arah jarum jam yang terus berputar. Hatinya dibuat semakin gelisah, inginnya itu adalah berdekatan dengan suami. Pengennya dekat-dekat dan bermanja.


"Gila ya! gue sekarang ini, jadi pengen Deket dia Mulu, kalau berani sih ... pengennya protektif gitu! ada apa dengan gue? bucin-bucin." Sukma mengetuk-ngetuk telapak tangannya ke kepala.


"Iih ... mana sih? lama amat?" gumamnya Sukma lagi sambil memijat keningnya.


Kemudian Sukma merangkak naik dan menarik selimutnya untuk tiduran serta memejamkan kedua matanya. "Oo! em ... mual, tapi gak mau muntah."


Tangan Sukma menutup mulutnya sesaat. Lalu kembali memejamkan kelopak matanya dengan posisi miring.


Setelah beberapa saat Sukma memejamkan mata. Terasa ada pergerakan dan memeluk tubuh Sukma. Membuat Sukma terkesiap dan langsung membuka matanya.


Tampak wajah suaminya yang sedang menunjukan senyuman yang manis terhadap dirinya. Sukma menggerakan manik matanya yang indah ke arah pintu, kemudian kembali ke arah sang suami yang terus tersenyum dan memeluk nya erat.


"Sejak kapan? berada di sini? kapan pulang nya?" tanya Sukma dengan tangan menyentuh rahang nya Alfandi dengan lembut.


"Batu saja sayang!" jawabnya Alfandi sembari mengecup tangan Sukma yang barusan menyentuh rahangnya.


"Kenapa gak ucap salam dulu? bikin aku jantungan saja! tiba-tiba kau ada di sini. Al, kaya jin saja langsung berada dihadapan ku!" ujar Sukma sambil menarik dua ujung bibirnya ke samping.


"Sudah sayang ... tadi. Tetapi kau tidak menjawab ku!" jelas Alfandi seraya menyentuhkan hidungnya ke bagian wajahnya Sukma dengan lembut serta hembusan nafasnya menyapu hangat ke permukaan wajah Sukma.


"Oya, kok aku gak dengar ya?" Sukma seolah mengingat sesuatu.


"Sayang?" panggil Alfandi dengan wajah yang begitu dekat.


"Hem! apa?" sahurnya dengan tatapan penasaran.


"Tadi di bawah, aku bertemu sama Fikri, tiba-tiba dia bilang gini! papa-papa. Aku minta adek baby dong? temen aku juga ada beberapa, mamanya sedang hamil dan itu berarti mau punya adek kan Pah? mau dong! ayo g dong Pah ... bikin sama mommy! gitu katanya. Lah aku mesem saja, emang dia tau bikinnya gimana ya? he he he ..." Alfandi tertawa kecil.


"Hi hi hi ... terus-terus, dijawab apa sama kamu Al?" selidik Sukma sembari membelai rambut Alfandi yang di atas telinganya serta tatapan yang penuh kasih sayang.


"Aku bilang gini, iya, nanti papa bikinkan dari terigu biar cepat. Eh ... pengen tau gak jawabannya apa?"


"Apa emang?" Sukma seraya mengangguk dengan posisi yang masih sama, Sukma berada di bawah tubuh Alfandi yang menindihnya.


"Dia bilang, gak mau Pah. Kalau dari terigu! itukan paling menjadi roti, aku maunya baby yang hidup. ada mata, telinga. Tangan dan kaki juga nanti ya bisa berceloteh, pah!" sambungnya Alfandi.


"Oya, terus?"


"Ayo dong Pah ... bikin sama mommy. Biar nanti mommy Jamil 9 bulan terus melahirkan adek baby deh, Fikri janji ... gak akan nakal atau manja lagi Sam mommy! gitu katanya sayang." Alfandi menyudahi ceritanya dengan memberi kecupan di pipi sang istri.


"Hem ... iya lah. Kalau dari terigu, ya roti. He he he! ya sudah, mandi dulu gih? aku tunggu!" Sukma menaikan tubuhnya, namun tidak bisa karena di tangan oleh tubuh Alfandi.


"Boleh gak? kita main dulu sebentar? bikin baby yang di pinta Fikri, hem?" Alfandi dengan lembut dan memainkan matanya.


"Apaan sih ... mau pergi juga!" Sukma tersenyum simpul seraya menggeleng.


"Bentar saja sayang? soal itu jangan khawatir. Aku sudah tahu harus membawa mu ke mana? ke Klinik langganan ku, Hem?" bujuk Alfandi sambil memberikan kecupan kecil di wajah Sukma.


Sukma kembali berusaha bangun, namun kini dua tangannya di kunci dengan tangan Alfandi di kedua sisi. Lalu Alfandi menghujani wajah dan leher Sukma dengan kecupan kecil.


Mereka sejenak memadu kasih, dan sebelum Maghrib mereka berdua sudah bersih-bersih dan bersiap untuk menunaikan salat bersama di bawah.


Pak Sardi sebagai imam di depan di dampingi oleh Alfandi dan anak-anak. Sementara perempuan berjejer di belakang dengan rapi.


Terasa tenang, tentram dan khusuk, bila salat berjamaah seperti ini. Anak-anak pun tidak bercanda dalam mengerjakannya.


Selepas salat, lanjut membaca doa dengan penuh rasa tawadhu. Tak terlupakan meminta agar keluarga Alfandi di beri kebahagiaan, keselamatan dan di hadirkan keturunan yang Sholeh dan Sholehah. Terutama keturunan yang akan datang.


Semua mengucap Aamiin ya Allah ... semoga terkabul doa setiap kepala yang berada di sana.


Setelah itu, Alfandi dan Sukma bersiap untuk ke Klinik untuk memeriksakan Sukma yang katanya sering mengalami pusing-pusing.


"Apa tidak, makan malam dulu. Fandi?" tanya sang bunda menatap ke arah putra dan mantunya itu.


"Em ... nggak ahc, Bu ... takut kemalaman." Sukma menyoren tas kecilnya itu.


Alfandi barusan balik lagi ke kamar untuk mengambil jam tangannya yang ketinggalan. "Yo, sayang? kita jalan sekarang!"


"Ayo?" Sukma mengangguk. Lalu mencium tangan kedua mertua nya.


"Assalamu'alaikum ... kami pergi dulu, Bu. Bapak?" Alfandi pun tidak luput mencium tangan kedua orang tua nya itu.


"Wa'alaikumus salam ... iya, hati-hati bawa mobilnya." Balas Bu Puji dengan lirih.


"Pah, ikut. Mommy ... ikut ya? please?" Rajuk Fikri sambil menatap keduanya.


"Sayang, jangan deh. Kita bukan mau jalan-jalan tapi mau periksakan mommy, jadi kalian di rumah saja oke?" cegah Alfandi sambil menuntun tangan sang istri.


"Aah ... papa pelit. Mau ikut juga." Fikri makin merajuk.


"Sayang, lain kali saja kita jalan sama-sama ya? sekarang biar papa dan Mommy saja yang jalan. Kalian belajar saja buat besok sekolah. Oh iya, apa kalian mau nitip sesuatu? biar nanti pulang di belikan?" tawar Sukma menatap kedua adik dan pintar sambungnya yang kini sedang duduk di sofa.


"Oh, iya. Kak, belikan aku cemilan ya? seperti ... martabak bulan gitu!" Jihan antusias ketika mendapat tawaran dari sang kakak.


"Iya, bener Kak. Itu saja martabak bulan, aku dah lama gak makan!" timpal Marwan.


"Oke, nanti Kakak belikan. Kalian mau apa?" Sukma menatap kedua putranya yang justru menggeleng.


"Itu saja lah ... pizza ya? pengen! jangan lupa ya Mom? yang waktu itu beli!" pada akhirnya Firza minta pizza.


"Ha ha ha ... gimana sih? barusan menggeleng? sekarang minta!" Alfandi tertawa sambil menarik tangan sang istri mendekati mobil.


"Jangan lupa ya Mom?" pekik Firza sambil berjalan mendekati pintu.


"Iya, nanti dibelikan!" balas Sukma sembari menolah ke arah Firza yang berdiri di dekat pintu.


Fikri pun berlari ke teras dan melambaikan tangan ke arah Alfandi dan Sukma yang mulai memasuki mobilnya.


"Ih ... kasian, ajak aj ya?" Sukma melirik pada sang suami, Alfandi.


"Sudah, biarkan saja sayang ... kita butuh quality time berdua." Kata Alfandi sambil menyalakan mesin mobilnya itu ....


.


Jangan bikin aku sedih ya? yang baca banyak yang like gak mau. Bikin aku sedih nih.