Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Season 2



Sudah seminggu ini Jihan berada di rumahnya Sukma dan selama itu ... dia jarang keluar dari kamar. Dia lebih suka menyendiri dan tidak ada yang dia lakukan selain melamun dan melamun juga menangis.


Jelas keadaan itu membuat Sukma bersedih hati, dia tidak tega melihat sang adik seperti itu dan tidak ingin kehidupannya terpuruk.


Kini Sukma sedang berada di dalam kamar Jihan yang tampak melamun menatap kosong keluar jendela. Yang sesekali air matanya pun lolos membasahi pipi.


Dan Sukma pun mengajak Syakila bermain di sana. Yang terkadang lari-lari, melompat-lompat di atas kasur nya milik Jihan tetapi sang empu tidak merespon sama sekali.


"Jihan ... tidak baik kamu mengurung diri terus di kamar, kalau soal kuliah tidak apa-apa jika kamu belum siap! tapi bukan berarti harus seperti ini, kakak sedih kalau melihat kamu seperti ini! ayo come on bangkit. Jangan terpuruk dengan keadaan. Bagaimanapun harus bersyukur kalau kesucian mu masih terjaga sampai saat ini." Suara lirihnya Sukma.


Jihan yang sedang berpangku tangan di dekat jendela hanya melirik dingin pada sang kakak, apa yang dia rasakan memang nggak akan pernah ada yang tahu dan mengerti. Kejadian itu masih lekat dalam ingatan jihan! terbayang-bayang di setiap saat, membuat hatinya merasa hancur dan hancur. Sehingga buliran air bening pun selalu menghiasi dan berjatuhan dengan deras.


"Mbak tidak ingin kamu terus mengurung diri di kamar, Jihan bangkitlah dan lupakan. Lagian dia sudah berada di tangan yang berwajib untuk mempertanggung jawabkan apa yang sudah dia lakukan, cukup kamu seperti ini dan lanjutkan hidupmu. Bersosialisasi dengan teman-teman dan juga melanjutkan usaha online mu itu." Ujar Sukma sembari semakin mendekati sang adik.


Sukma mengusap air mata yang mengalir di pipi Jihan. "Kakak tahu yang kamu rasakan saat ini dan Kakak juga ngerti seandainya Kakak berada di posisi itu. Akan tetapi bukan berarti kita harus meratapi ataupun menjadi depresi seperti ini! kita tidak boleh kalah dengan keadaan!"


Tangis Jihan kembali 0ecah, dia menangis tersedu dalam pelukan sang kakak. Tiada tempat lagi atau bahu untuk bersandar dan mengadu kecuali bahunya Sukma sang kakak satu-satunya.


"Menangislah sepuasnya! sampai kamu benar-benar merasa tenang dan lega, hilangkan semua beban yang ada di hati dan pikiranmu. Kamu harus bangkit tidak boleh seperti ini adik kakak yang cantik dan pintar ini harus penuh dengan semangat! berjuang untuk masa depan. Agar punya masa depan yang bagus dan cemerlang! bukankah kamu punya cita-cita yang tinggi tidak ingin hidup seperti dulu lagi, di mana Kita mengalami hidup susah!" Sukma memeluk sang adik seraya tangannya mengusap punggung dengan lembut.


Syakila yang masih polos hanya melihat dan memperhatikan mommy dan tantenya! apalagi melihat tantenya yang menangis dia cuma bengong saja tidak alam kemudian kembali bermain dengan mainannya boneka Barbie.


"Terkadang aku merasa jijik dengan diriku sendiri kak. Aku benci! bila aku ingat kejadian itu, Kak hik-hik-hiks." Jihan sembari terisak.


"Sabar ... kan kamu tidak sampai--"


"Nggak kak, aku tidak sampai itu. Dan hanya bagian atas saja yang kelihatan karena sempat terbuka." Akunya Jihan. Dia tidak bilang kalau bibir juga bagian wajah lainnya. Sempat di sentuh oleh Excel dan itu biar hanya mereka saja yang tahu itu.


Sukma terus mengusap punggung sang adik seakan memberikan kekuatan. "Kamu jangan khawatir, orang itu kini sudah di tangani oleh pihak yang berwajib. Abang pun turun tangan untuk mengurusnya, bila perlu kita menyewa pengacara."


"Kak, aku tidak mau berurusan langsung. Aku malu Kak." Jihan memudarkan rangkulan nya dan menatap wajah sang kakak dengan tatapan yang berkaca-kaca.


"Iya, berarti harus ada juru bicaranya. Dan itu akan Abang usahakan. Sekarang kamu harus bangkit tidak boleh terpuruk ataupun meratapi nasib. Lanjutkan hidup mu, kamu harus semangat demi masa depan!" Sukma terus memberikan dorongan dan semangat pada sang adik.


"Makasih ya Kak ... Kakak memang segalanya buat aku! Maaf Kak ... aku selalu merepotkan Kakak?" Jihan sambil mengusap dan mengeringkan bekas air mata nya.


"Jangan bicara seperti itu Jihan ... kamu itu adik ku dan siapa lagi yang akan mendukung kalau bukan Kakak juga. Kamu cukup melihat ke depan raih masa depan. Oke?" Sukma memegang kedua tangan sang adik.


"Iya, Kak ... aku akan semangat lagi ... kuliah dan melanjutkan hidup." Jihan menghela nafas dalam-dalam lalu ia hembuskan membuang semua beban yang ada.


"Kamu berserah pada yang maha kuasa, bismillah dan kamu pasti bisa." Sukma terus memberi kekuatan.


Setelah itu mereka pun bubar seiring suara adzan Maghrib yang begitu nyaring terdengar, menyebarkan undangan untuk umat Islam.


...----...


Di meja besar yang barusan di pakai meeting dan makan malam, berangsur orangnya beranjak meninggalkan tempat.


Alfandi berjalan keluar dari gedung tersebut dan dengan beberapa staf dan berpisah dengan menuju kendaraannya masing-masing.


"Yo, sampai jumpa lagi!" Alfandi mengangkat tangannya kemudian memasuki mobil dengan pintu yang sudah terbuka.


"Hi, kebetulan sekali kita ketemu di sini!" suara itu membuat Alfandi menoleh dan mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam mobil.


Alfandi menoleh ke arah sumber suara! di mana Vaula sedang berdiri dan tidak jauh darinya seorang asisten pribadi.


"Bisa kita bicara sebentar aja? dan aku ingin bicara empat mata saja!" ucapnya Vaula pada Alfandi sembari melirik ke arah sang asisten memberi isyarat kalau dia ingin ditinggalkan.


Dan asistennya pun segera meninggalkan tempat tersebut.


Alfandi mengerutkan keningnya lalu menoleh ke kanan dan kiri. Tidak ada tempat duduk di sana namanya juga di parkiran.


"Ada apa, dan apa yang mau dibicarakan? memang sangat kebetulan sekali kita bertemu! saya pun ingin bicara sesuatu!"


"Oh ya, kebetulan sekali dong ya? gimana kalau kita ngobrolnya di dalam saja," sambutnya Vaula sembari menunjuk ke arah sebuah restoran yang tidak jauh dari tempat tersebut. Yaitu restoran yang tadi Alfandi pakai untuk meeting.


Lalu keduanya pun berjalan memasuki restoran tersebut, memilih tempat duduk yang berdekatan dengan dinding kaca.


Vaula pun memesan dua gelas minuman buah. Yang kemudian mengalihkan pandangan kembali kepada Alfandi yang duduk begitu tegak dengan kedua tangan bertaut di bibir meja.


"Saya tidak ingin tahu apa maksud dan tujuan kamu! sehingga meracuni pikiran istriku. Saya hanya berharap janganlah berbuat seperti itu lagi, kita berdua sudah sama-sama memilih jalan sendiri. Saya sudah bahagia bersama istri dan anak-anak jadi jangan ganggu kami apalagi berniat menghancurkan keluarga kami!" jelasnya Alfandi yang to the point sembari menatap tajam ke arah Vaula.


Sementara Vaula hanya menyunggingkan bibirnya sebelah. Dengan tatapan yang sulit diartikan oleh Alfandi.


"Dengan itu kamu pasti mengerti dengan tujuan ku apa kan?" Vaula memainkan gerak matanya yang kemudian menyesap minuman yang baru saja datang.


"Saya tidak mau tahu dan tidak akan mau tahu! oke, itu saja yang ingin saya bicarakan." Jelasnya Alfandi.


"Tapi kamu belum mendengar apa yang ingin aku katakan padamu, Fan ... yang sesungguhnya ada kaitannya dengan yang kamu omongin tadi." Ungkapnya Vaula tampak serius dengan ucapannya tersebut.


"Pentingkah itu?" tanya Alfandi sembari menautkan kedua alisnya.


"Aku rasa itu penting, untuk keluarga kita. Anak-anak yang sekarang sudah pada dewasa dan pasti mengerti--"


"Maksudnya?" potong Alfandi dia tidak mengerti apa maksudnya Vaula.


"Iya ... aku ingin keluarga kita utuh kembali, tidak seperti sekarang anak-anak jauh sama aku ... sama keluarga lainnya. Dan aku ingin kita menyatu, melupakan semua kejadian yang sudah pernah terjadi!" sambungnya Vaula sembari menggerak-gerakan tangannya.


"Sebentar-sebentar! menyatu dalam artian?"


"Iya, menyatu! bagaimana kalau kita kembali berumah tangga lagi seperti dulu? aku janji aku akan menjadi istri yang baik, em ... aku tahu kamu sudah punya istri dan punya anak lagi dan aku tidak minta kau untuk menceraikannya! cukup menikahi aku lagi dimadu pun aku rela!" ucapnya Vaula tampak sangat serius dengan keinginannya tersebut.


Membuat Alfandi merasa kaget dengan yang dia dengar barusan, setelah apa yang pernah dia lakukan untuk rumah tangganya dulu. Dan kini dengan gampangnya ingin kembali di saat dirinya sudah memiliki keluarga baru.


"Kamu tahu! nggak mungkin rumah tangga kita hancur kalau kamu tidak menghancurkannya dulu, dan belum tentu aku mencari wanita lain seandainya kamu tetap menjadi istri yang baik untukku. Ha? sekarang kamu ingin kembali padaku biarpun dimadu, ha! apakah tidak salah?" Alfandi menatap tajam ke arah Vaula dan tatapannya lebih tajam dari biasanya, kepalanya pun menggeleng-geleng pelan.


"Aku sudah mengakui kesalahan ku dan sudah berkali-kali meminta maaf! apakah tidak cukup? kita bukan cuma memikirkan kita berdua saja, tapi anak-anak juga. Biar mereka merasa utuh jika keluarga kita bersatu lagi!" ucap Vaula dengan nada memelas.


Kepala Afandi tidak berhenti menggeleng. "Hem, cukup kau bilang? kau berselingkuh dariku entah berapa lamanya. Dan sekarang kau ingin cukup dengan hanya minta maaf dan ingin kita kembali? jangan harap! karena anak-anak pun tidak akan menyetujui kita bersatu kembali. Sekalipun kita adalah orang tua kandungnya, camkan itu?"


Alfandi langsung berdiri dan meninggalkan tempat duduknya. Vaula terdiam begitu saja sembari menggigit Bibir bawahnya. Lalu kemudian mengejar Alfandi.


"Fan, tunggu?" panggilnya Vaula sambil mengajar Alfandi namun langkahnya terhalang oleh pelayanan yang minta untuk membayar pesanan minumannya barusan ....


.


Bersambung.