
Saat ini mereka sedang berada di sebuah masjid untuk melaksanakan salat bersama dan kebetulan di sana ternyata kemalaman.
"Pah, lapar! kita makan dulu dong?" celetuk Fikri, padahal baru saja selesai salam.
"Ih, nanti dong ... lihat itu orang-orang pada lihat kita!" bisik Marwan sambil mendekati telinga Fikri.
"Tapi kan lapar, Kak. Nggak dengar ini perut pada demo?" lanjut Fikri dengan suara yang tetap terdengar sama orang-orang yang berada di sana.
"Sama saja! kita juga lapar tapi gak perlu kenceng-kenceng ngomongnya, Abang juga pasti akan mengajak kita makan kalau sudah selesai salatnya!" Marwan kembali berbisik seraya mengangkat kedua tangan nya mengaminkan doa.
Selepas Aamiin, mereka pun bubar. Keluar dari masjid tersebut. Sukma yang berjalan dengan sang suami yang kini mengenakan sepatunya terlebih dahulu.
"Sayang ... kita cari makan dulu deh! kasian anak-anak lagian aku juga lapar nih!" Sukma mengusap perutnya yang sudah keroncongan.
"Iya, memang mau kok sayang ..." Alfandi mengangguk.
Setelah beberapa meter perjalannya, mobil kembali berhenti di depan sebuah restoran dan mereka semu pun turun memasuki restoran tersebut.
...----...
Di pengadilan, sudah ketuk palu bahwa Vaula dan Alfandi hari ini resmi bercerai. Dan hak asuh Fikri dan Firza itu jatuh pada Alfandi. Betapa lega nya hati Alfandi saat ini, karena semua urusan dengan Vaula selesai termasuk harta gono-gini.
"Aku sangat berharap, bahwa kamu akan bisa merubah diri. Dan bertobatlah karena apa yang sudah kau lakukan itu salah," ungkap Alfandi sembari menatap ke arah Vaula yang bersama pengacaranya itu.
"Tidak usah mengajari ku, karena aku tau itu. Dan aku akan segera menikah lagi, Oya! jangan senang dulu. Karena aku akan mengajukan naik banding tentang hak asuh anak-anak." Balas Vaula dengan nada tegas.
"Kau tidak perlu naik banding, kalau kau mau silakan kapan saja bertemu dan membawa mereka kok, karena bagaimana pun kau adalah mamanya dan aku ataupun istri ku akan mengijinkan dirimu dengan bebas membawa mereka." Tambahnya Alfandi yang menyilakan Vaula bertemu kapan saja dengan anak-anak.
"Bagus kalau begitu," gumamnya Vaula dengan tatapan datar ke arah Alfandi yang menatapnya dengan tatapan tajam dan wajahnya menggambarkan penuh kemenangan.
"Hanya ... aku ingatkan ya sama kamu! kalau lagi mengasuh mereka itu harus konsisten! jangan lupa begitu saja, jangan mentang-mentang mereka sudah pada gede. Mereka pun ingin diperhatikan dan pedulikan." Alfandi memberi peringatan, jangan sampai seperti waktu itu.
"Aku itu ibunya. Yang mengandung dia--"
"Iya, kau ibunya! tapi kenapa kamu, seolah tidak perduli." Lanjut Alfandi kembali. Memotong perkataan dari Vaula.
"Saya, saya waktu itu sibuk dan--"
"Sudah, tidak perlu kau beri alasan! aku tidak ingin mendengarnya. Sampai jumpa lagi." Lagi-lagi Alfandi memutar tubuhnya dan meninggalkan tempat tersebut.
Vaula mendelikkan matanya pada Alfandi yang berlalu. Hatinya yang membatu itu tentunya tetap merasa benar.
Alfandi memasuki mobil pribadinya dan sebelum itu berbincang sebentar dengan pengacara yang menangani kasusnya tersebut selanjutnya mereka tampak berjabat tangan dan berpelukan.
Setelah itu Alfandi segera menyalakan mesin dengan tujuan ke lapangan untuk mengecek kerjaan di sana.
Setibanya di lapangan, Alfandi di sambut oleh Rijal dan Arman yang sedang mengatur pembangunan sebuah gedung.
"Bagai mana bro?" tanya Arman dan Rijal pun mengangguk penasaran.
Dengan wajah yang yang sumringah dan menggambarkan kebahagiannya. Alfandi tersenyum seraya berkata. "Alhamdulillah ...semua dah rampung, gak asuh pun jatuh ke tangan ku!"
"Alhamdulillah ..." Rijal dan Arman mengusap wajahnya. Sebagai syukur atas keberhasilan teman sekaligus bos nya tersebut.
"Em ... jadi dong meresmikan pernikahan dengan istri muda?" Rijal menaik-turunkan alisnya pada Alfandi.
“Insya Allah. Akan di laksanakan dalam waktu dekat ini, mohon doa nya saja.” Pinta Alfandi agar kedua temannya mendoakan dirinya.
“Thank ya? oya gimana kerjaan kita? saya rasa ini kurang tepat di sini, coba geser ke sebelah sana,” Alfandi menunjuk sebuah barang yang dia rasa lebih baik di pindahkan saja.
Lalu arman menyuruh pekerja untuk memindahkannya, sesuai permintaan Alfandi.
Beberapa saat kemudian sudah waktunya jam makan siang dan Alfandi segera mengajak temannya makan dan juga pekerja lian di warteg terdekat.
Membuat para pekerja merasa senang bila ada Alfandi turun kelapangan, karena selalu di ajak makan enak dan sepuasnya.
Selesai makan, Alfandi beranjak dan sebelumnya mengeluarkan uang buang membayar semua makanan yang dia dan yang lain makan.
“Oke, bro. Saya duluan ya? sampai jumpa lagi dilain kesempatan,” ucap Alfandi sambil membawa langkah nya dan sembari sibuk bicara di telepon.
“Oke, hati-hati, nanti kita nyusul.” Balas Arman dan Rijal sambil makan yang belum selesai itu.
Alfandi sudah berada di dalam mobil dan menyalakan nya, dia memilih untuk ke kampus untuk menjemput sang istri yang hari ini ada kuliah.
Tangan Alfandi memutar kemudi dengan tatapan yang serius ke depan, disertai senyuman yang terus mengembang di bibirnya. Menunjukan betapa bahagianya yang dia rasakan saat ini.
Sepersekian waktu menyusuri jalanan. Akhirnya tiba juga di area kampus, dimana sang istri mengenyam pendidikan di sana.
Alfandi turun dari mobilnya dan mencari keberadaannya, dia sengaja tidak memberi tahu kalau dirinya akan menjemput. Biara menjadi suprise untuk sang istri, tidak lupa membeli sebuket bunga mawar merah untuknya.
Biasanya jam segini Sukma sedang berada di kantin dan Alfandi membawa langkahnya ke sana, tetapi tidak tampak berada di sana.
Kepala Alfandi celingukan tetapi karena yakin sang istri tidak berada di antara orang-orang yang sedang makan. Afandi memutuskan mencari di tempat lain.
Sementara Sukma, sedang berjalan menuju kantin dia baru saja keluar dari ruang dosen dengan beberapa teman.
“Gue paling malas bila mengikuti pelajaran dari dosen itu, bikin ngantuk.” Kata seorang wanita yang berjalan di sampingnya.
Sukma berjalan sambil tersenyum dan tangannya menenteng buku besar dan netbook yang sambil dia masukan ke dalam tas soren nya.
“Sama. Aku juga, tapi kalau nggak. Taku memperpanjang masa kuliah ku,” timpal yang lainnya.
Ketika yang lain sudah berjalan ke depan, Sukma masih berdiri untuk memasukan buku ke dalam tas yang nyangkut di dalamnya.
Dan ketika Sukma hendak mengayunkan kaki, dan mengangkat kepalanya hampir saja Sukma dibuat spot jantung. Kerena di hadapannya itu sudah ada Alfandi berlutut dan menyodorkan buket bunga mawar merah padanya.
Bibir Alfandi menunjukan senyumnya yang lebar dan berkata. “Mau kah menerima cinta ku?”
Sukma tersipu malu. “Apaan sih?” sambil planga-plongo melihat kanan dan kiri juga depan.belakang.
“Jawab dong, maukah menerima cinta ku yang setinggi gunung dan seluas lautan. Sepanjang jalan kenangan kita berdua! he he he ...” Alfandi tetap berlutut sebelum Sukma mengambil bunga yang dia pegang tersebut.
“Ih, sejak kapan jadi tukang gombal gitu. Malu dilihat orang.” Sukma kembali mengedarkan pandangan ke sekitar dan tangannya mengambil bunga dari tangan sang suami yang langsung berdiri.
Dan Alfandi dengan cepat merengkuh, memeluk Sukma dengan sangat erat. Dia ingin menumpahkan kebahagiaannya pada Sukma. "Sayang?"
Sukma terdiam dan kebingungan, kok tiba-tiba suaminya menjemput, bawa bunga dan memeluk erat. Tapi kalau dari roman-roman nya sih sedang di rundung kebahagiaan ....
.
...Bersambung!...
Ayo komen yang mau namanya di tulis dalam daftar undangan acaranya Sukma dan Alfandi nanti.