
Pagi-pagi, Sukma sudah bangun dan bersih-bersih. Begitupun dengan suaminya yang tampak segar, mereka baru saja selesai menjalankan subuh.
Sukma memulai aktifitasnya dengan membukakan gorden dan bersih-bersih kamar tersebut.
"Sayang, jangan terlalu capek. Nanti baby kita kelelahan!" suara Alfandi pelan sambil memeluk perut istrinya dari belakang dan mengusap dengan lembut.
"Aku cuma membereskan kamar saja, tidak capek-capek." Balas Sukma sembari melirik ke samping. Dimana wajah suaminya berada.
Alfandi menempelkan dagunya di bahu sang istri. "Semalam, kau begitu agresif. Bikin aku candu sayang."
Sukma tersipu malu. "Apaan sih?"
"Beneran sayang ... nanti begitu lagi ya?" pinta Alfandi sambil dengan nakalnya mencolek sesuatu yang menggantung di bagian dada Sukma.
"Eeh, apaan sih?" Sukma langsung berbalik dan mengalungkan kedua tangan di pundak suaminya.
Cuph! kecupan penuh kehangatan mendarat di kening Sukma. "Hari ini mau kuliah?"
"Mau, tapi gak lama kayanya. Sebab rencananya hari ini pelajarannya sedikit." Sukma mengangguk.
"Nanti pulangnya ku jemput ya!" Alfandi lagi-lagi mengecup kening dan pipi kanan dan kiri.
"Aku mau lanjutkan kerjaan ku!" Sukma mengedarkan pandangannya sekitar ruang tersebut.
"Nanti saja, aku yang bereskan! sayang duduk di sini, oke?" Alfandi menuntun kedua tangan sang istri di suruh nya duduk.
Kemudian Alfandi, meneruskan pekerjaan sang istri. Seperti membereskan tempat tidur dan pakaian kotor.
Sukma menarik sudut bibirnya melihat sang suami yang menggantikan tugasnya itu.
"Itu tuh, kurang rapi. Yang itu juga!" Sukma menunjuk ke arah selimut yang masih kusut dan bantal yang kurang tertata.
"Hem ... sayang ... malah ngerjain aku nih!" gumamnya Alfandi.
"Kerja itu jangan setengah-setengah yang ... hi hi hi ..." sambung Sukma.
"Oke-oke. Demi istri dan calon baby ku!" Alfandi kembali merapikan yang katanya Sukma masih kusut tersebut.
Setelah semuanya rapi dan Sukma, hanya melihat dan memerintah saja. Kemudian dia turun untuk menyiapkan sarapan.
...---...
Setelah sekitar dua Minggu dari tragedi tersebut. Vaula sudah mulai pulih, walaupun kepala masih di perban. Dia sudah bisa dibawa pulang.
Yudi yang membuat Vaula masuk rumah sakit. Sudah ditangkap oleh pihak yang berwajib, mulanya hati Vaula sangat hancur. Laki-laki yang sudah menghamili nya tidak mau bertanggung jawab.
Namun setelah kejadian ini. Yudi memohon maaf dengan sebesar-besarnya dan bersiap menikahi Vaula dan bertanggung jawab atas anak yang Vaula kandung tersebut.
Hingga akhirnya Vaula mencabut laporan dan memaafkan Yudi sebagai calon suaminya.
Dan setelah kejadian tersebut. Firza dan Fikri sering datang mengunjungi Vaula walau tidak mau menginap. Namun setidaknya sudah membuat hati Vaula merasa lebih baik.
Seperti sekarang ini, Firza dan Fikri sedang berada di rumah Vaula di antar Sukma, ibu sambungnya.
"Mama cepat sembuh ya?" kata Fikri sambil memeluk sang bunda.
Begitupun dengan Firza, dia berjongkok, menggenggam tangan mamanya. "Mama, aku pulang dulu ya?"
"Iya, kalian menginap ya? di sini mama masih kangen kalian!" ucap Vaula dengan lirih.
"Nggak ah, mau pulang saja!" Fikri menggeleng kan kepalanya.
"Kami pulang dulu ya? sudah hampir Maghrib nih--"
"Iya, Mommy kan sedang hamil muda. Kata Oma juga jangan sembarangan jalan! pamali." Timpal Firza sembari melirik ke arah Sukma.
Vaula menatap ke arah Firza begitu perhatian pada ibu sambung nya, bikin Vaula menghela nafas panjang. Dan ada rasa cemburu di dalam hati.
"Janji ya? kalian akan sering-sering ke sini kan?" ucap Vaula sambil memeluk kedua putranya bergantian.
"Iya, Mama ... kami akan sering datang ke sini!" balas Fikri sambil mencium pipi mamanya.
Dengan tidak terasa air mata pun menetes membasahi pipi Vaula. Sungguh Vaula menyesali perbuatannya di masa lalu, sehingga kedua putra nya itu terasa jauh dari dirinya.
"Mari pulang? kita pulang? sebentar lagi Maghrib menjelang. Mari pulang, Yo mari pulang? sebelum malam pun datang!" nyanyian Fikri di dalam mobil.
"Mommy? Mommy? kok kak, Za. Sering lihatin kak Jihan ya? naksir kali ya?" Fikri mendongak pada Sukma yang sedang anteng melihat keluar jendela.
Sontak Firza membungkam mulut sang adik. "Apaan sih? ngapain bilang-bilang."
"Mmmm, lepas? tuh, Mommy. Kak, Za gak mau di bilangin ... malu tuh! malu! yey ... pipinya merah seperti tomat? ha ha ha ...."
Sukma memandangi keduanya dengan senyuman di bibir yang cukup merekah. "Kalau, kan bersaudara. Jadi harus saling menjaga dan menyayangi ya!"
"Iya, Mom. Kami saling menyayangi kok. Denger tuh Kak, Za ... dengerin Mommy." Fikri menjulurkan lidahnya kepada Firza.
"Iih, apa maksud mu? gak nyambung banget." Firza melipat tangan di dada dengan sikap dinginnya itu.
Sukma mesem-mesem melihat kedua putranya itu sembari mengusap perutnya, dan berharap kalau yang dia kadung saat ini adalah anak perempuan. Agar keluarganya lebih lengkap dengan hadirnya anak laki-laki dan perempuan.
...---...
Hari ini Sukma dan Alfandi, beserta keluarga juga sedang fitting gaun pengantin. Dan waktunya tinggal seminggu lagi menjelang hari H.
Anak-anak pun pada heboh ikutan fitting bajunya masing-masing.
"Mommy-Mommy? aku maunya warna ini, tapi kegedean! gimana dong?" suara Fikri dengan manja nya yang ditujuan pada Sukma
Sukma yang sedang fitting hanya tersenyum ke arah Fikri yang sedang di ajak berbincang oleh sala satu pihak butik.
"Sayang, kau terlihat sangat cantik. Dan nilainya plus-plus." Puji Alfandi pada sang istri dengan tatapan sangat lekat.
"Aish ... pujian mu bikin hidung ku melayang deh!" balas Sukma sambil memegangi hidungnya.
"Ha ha ha ... ada-ada saja sayang."
"Masya Allah ... cantik sekali." Kini giliran bu Puji yang mengagumi kecantikan sang mantu.
"Terima kasih Ibu." Balas Sukma dengan wajah yang mengguratkan kebahagiaan. Lalu netra nya mendapati Mimy yang datang bersama Beben.
"Wauw ... ternyata teman ku ini sangat cantik, suami yang tampan. Ooh ... kapan gue akan seperti kalian?" Mimy yang baru saja datang ke butik tersebut.
"Tenang dan sabar, siapa tau jodoh mu itu sudah ada di depan mata." Bisik Sukma dengan manik mata melirik ke arah Beben yang tersenyum padanya.
"Ooh, masa sih? gue iri sama kamu!" Mimy memeluk erat sahabat nya tersebut.
"Saya doakan deh, semoga kau segera menyusul dan mendapatkan suami yang baik dan sayang seperti kami, he he he ..." tambah Alfandi.
"Em ... aku makin terhura--"
"Terharu kak Mimy. Bukan terhura." Timpal Jihan.
"Iya aku salah, gak ada denda ini bila salah bicara." Akunya Mimy seraya memudarkan pelukannya pada Sukma.
"Semua mahluk yang hidup di dunia ini, berpasang-pasangan, bulan dan bintang. Laki-laki dan perempuan, ada malam dan ada siang. Dan Allah juga pasti sudah menyiapkan seseorang buat Mimy serta mendampingi dalam susah dan senang!" ucap pak Sardi.
Mimy mengangguk pelan. "Iya, Pak."
Setelah selesai fitting. Mereka pun pulang dengan menggunakan dua mobil. Sukma bersama suami dan juga Fikri, Jihan. Sementara kedua mertua, Firza. Marwan dan juga Mimy di mobil satunya.
"Sayang, aku sangat bahagia dengan dan sangat berharap kalau kita mempunyai anak perempuan ya? pasti akan terasa lebih lengkap keluarga kita ini." Alfandi melirik ke arah sang istri.
"He'em. Aku juga sangat berharap seperti itu, yang ...'' balas Sukma penuh harap.
Alfandi terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang ....
.
Terima kasih pada reader ku yang baik hati dan masih setia🙏