
“Ya ampun ... Wawan, kan ada Ibu. Anggap saja Ibu ini Ibunya Wawan juga, Ibunya kalian semua,” tutur bu Puji yang merasa iba kepada anak itu.
Anak itu mengusap sudut matanya yang terdapat buliran air bening yang mengalir ke pipi.
Suasana yang biasanya ceria berubah bermuram durja. Yang lain pun tidak berani membuat kegaduhan dia saat Marwan sedang bersedih.
Sukma hanya bisa menghela nafas dalam-dalam. Kemudian berkata dengan lirih. “Nanti kita ke sana. namun dimana pun kita berada ... berdoalah hadiahkan alfatihah untuk mereka, karena doa anak yang soleh akan lebih terkabulkan.”
Fikri yang tidak berhenti makan, mendongak melihat wajah nya Sukma yang juga tampak sendu. “Mommy, jangan sedih dong ... kan abang Fikri jadi sedih juga kalau Mommy sedih.”
“Mommy ... tidak apa-apa kok, gak sedih. Biasa saja,” balas Sukma sambil mengusap pucuk kepalanya Fikri.
Firza menoleh pada sang adik. “Sejak kapan kau menjadi abang? Abang itu aku kakak tertua!”
“Ih ... abang itu aku, Kakak kan Kakak. Bukan abang. Sejak sekarang, aku kan mau punya adek yang lucu dan menggemaskan, gendut. Pipi cabhi, pokonya mau ku cubit terus pipi nya nanti.” Fikri membayang kan kalau adiknya sudah lahir ke dunia.
Selang beberapa waktu kemudian, mobil sudah berada memasuki halaman rumah dan mereka langsung turun dan memasuki rumah tersebut.
Seperti biasa, Sukma berniat mengeluarkan belanjaan dan menjinjingnya ke dalam rumah, namun lagi-lagi si bodyguard Firza menjaga dan mencegah Sukma membawa apapun kecuali tasnya saja.
“Iya Neng ... biar pak supir saja yang membawanya ke dalam, Neng tidak usah membawa apapun.” Tambah bu Puji yang menjinjing kantong kecil dan pak Sardi pun sama.
“Tapi. Bu ...” kedua netra mata Sukma mengarah pada belanjaan yang bu Puji bawa.
“Sudah lah ...” bu Puji menyeret Sukma untuk masuk.
Di sambut oleh bi Lasmi yang langsung menjemput belanjaan, membantu pak Luky membawanya ke dapur.
Sukma duduk di kursi sambil menuangkan air ke dalam gelas. “Bi tolong dibereskan ya semuanya, nanti di bantu oleh Jihan beres-beresnya.”
“Oh, siap. Non ... lagian ini sudah tugas Bibi kok, Non harus banyak istirahat. Menjaga kesehatan, karena, Non sekarang sedang berbadan dua,” balas bi Lasmi sambil merapikan belanjaan yang baru saja pak Luky bawakan.
“Heran deh, semua orang menjadi protektif. Padahal yang aku kerjakan bukan hal yang berat-berat lho, ini gak boleh dan itu jangan. Lama-lama aku bosan lah Bi, padahal nih perut masih rata, gimana kalau sudah besar?” rajuk sukma.
Bu Puji dan bi Lasmi tersenyum ke arah sukma dan pak Sardi menyentuh bahu nya Sukma seraya berkata.
“Itu tandanya banyak yang sayang sama Neng sukma. Syukuri saja ... kerena itu kebaikan untuk Neng juga,” ucap pak Sardi.
“Hi hi hi ... iya sih Pak ...” lalu Sukma menuang air juce untuk kedua mertuanya dan Fikri pun ingin beberapa gelas buat yang lain juga.
Setelah beberapa saat sukma beristirahat. Alfandi pulang terdengar suaranya yang berbincang dengan orang tua nya di bawah. Sukma yang berdiri di atas tangga hanya melihat dengan senyuman.
Alfandi menoleh ke lantai atas dimana sang istri menyambutnya dengan senyuman. Kemudian Alfandi bergegas menghampiri. “Assalamu’alaikum, sayang ... aku merindukan mu!”
‘Wa’alaikumus salam ...” jawab Sukma sambil meraih tangan Alfandi lantas menciumnya.
Lalu Alfandi memeluk tubuh Sukma dan di kecupnya pipi kanan dan kiri lantas kening. Lanjut mau mengecup bibir, namun Sukma menghindar sembari melihat ke bawah dimana sang mertua tersenyum ke arah mereka berdua.
“Apaan sih? tidak tahu tempat ih, malu itu dilihat Ibu,” ucap Sukma sambil berusaha melepaskan diri dari rangkulan sang suami.
“He he he ... lupa, yo kita ke kamar?” tangan Alfandi menuntun tangan sang istri, di ajaknya ke dalam kamar.
Ceklek!
Alfandi langsung memeluk sang istri dengan sangat erat. Sukma pun menyembunyikan wajahnya di dada Alfandi yang bidang tersebut dan mencari kenyamanan di sana.
“Aku kangen kamu sayang,” Alfandi semakin mengeratkan rangkulan nya.
“Em ... mau mandi dulu? nanti keburu sore perginya,” suara Sukma yang menyembunyikan wajahnya di dada Alfandi.
“Iya nanti sayang ... masih ingin memeluk istri ku yang cantik ini.” Alfandi mencium pucuk kepala sang istri dengan mesra.
“Sayang?” panggil Sukma dengan lirih.
“Apa sayang? ada apa hem?” jemari Alfandi membelai rambut Sukma yang dibawah bahu dan bergelombang.
Sukma mendongak dan memberi jarak di antara mereka berdua, di tatapnya sang suami begitu lekat.
Telunjuk Alfandi menyentuh dagu sang istri sedikit mengunci agar tetap di posisinya, dan Alfandi mengecup bibir sang istri yang tampak ranum natural dan selalu menjadi candu untuk dirinya.
Sukma memejamkan kedua manik matanya yang indah, tangannya menyentuh dada sang suami yang semakin merapatkan tubuhnya.
Tak ayal tangannya bergerilya ke mana-man membuat bibir Sukma mengeluarkan suara yang terdengar begitu sangat indah memenuhi gendang telinga Alfandi.
Kemudian Alfandi menatap lembut ke arah wajah Sukma yang juga menatap penuh cinta dan tangannya merangkul pundak Alfandi. Pandangan mereka bertemu dan saling menyelami hati masing-masing.
Ketika Alfandi berniat mau menumpahkan rasa rindu terlebih dahulu dan membuang sesuatu yang sudah mendesak ke ujung tanduk. Alfandi membungkuk dan menggendong tubuh sang istri ke tempat tidur.
Dan merebahkannya dengan perlahan di atas bantal yang empuk tersebut. Lantas Alfandi berlutut di atas tubuh Sukma membuka kemejanya.
Sukma hanya menatap pasrah dan memandangi gerak geriknya sang suami yang sepertinya sudah tidak sabar. Dan merasakan detak jantungnya yang tidak beraturan tersebut.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
Daun pintu di ketuk dari luar seraya terdengar suara Fikri yang memanggil sang ayah dan mommy nya.
“Mommy? Papa ... kapan mau berangka nya, jadi gak? nanti keburu sore lho ...” panggil Fikri sambil terus mengetuk pintu kamar tersebut.
Membuat Alfandi dan Sukma yang sedang bercumbu terkesiap, dan sontak terhenti lantas melihat ke arah pintu. Lalu saling bertukar pandangan.
Karena tidak terdengar jawaban dari dalam kamar. “Papa ... Mommy? Kalian sedang apa sih? jadi gak perginya? kita dah siapa nih,” pekikan Fikri semakin keras.
Alfandi menjatuhkan tubuhnya di samping sang istri dengan lemas, yang tadinya mau olah raga sebentar saja sebelum bersih-bersih eh ... harus urung dengan suara Fikri yang membuyarkan semangatnya.
Sukma menoleh pada sang suami yang tampak lesu karena hasratnya harus tertunda, jemari Sukma membelai rahang yang ada bulu halusnya itu. Terus Sukma bergerak meletakkan dagunya di dada Alfandi ditatapnya dengan sangat lekat, serta menggerakan jarinya menari-nari di dada sang suami. “Sabar ya ...”
Alfandi menoleh, menggerakkan kedua netra nya seraya mengangguk pelan. Walau hati merasa kecewa dan kepala terasa pusing bila harus menunda yang sudah menjadi kesenangannya tersebut ....
.
...Bersambung!...