Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Demam



Sudah beberapa hari ini di tempat berlibur, dan rencananya itu besok akan pulang! namun anak-anak masih betah dan belum ingin pulang.


Kebetulan cuaca sedang diperkirakan agak buruk jadi mendingan suam aja dulu di sana perpanjang waktu liburan. Bukan tidak ingin lebih lama berlibur, namun Alfandi harus masuk kerja banyak tugas yang dia tinggalkan.


Alfandi sedang tiduran. Setelah makan siang tadi dan Sukma berjalan-jalan dengan anak-anak.


Sukma berjalan mendekati tempat tidur, dan naik ke atas lantas berbaring di samping sang suami yang tampak lelap. Kepalanya bergerak bangun dia tatapi wajah tampan Alfandi dengan seksama.


Wajah Sukma mendekat dan lantas mengecup pipinya dengan lembut. Namun setelah mengecupnya! Sukma merasa aneh. Wajah Alfandi tampak pucat dan suhu tubuhnya sang suami sangat panas, tampak keringat dingin pun keluar dari pelipisnya.


"Kau demam? ya Allah ... suami ku demam!" Sukma menempelkan punggung tangan di bawah pipi dan kening Alfandi yang benar panas tersebut. Tubuhnya pun menggigil.


Sukma buru-baru ke kamar mandi dan mengambil air keran, dengan handuk kecil yang ada di sana.


Sukma lap tubuhnya dan di ganti bajunya. Kemudian di kompres keningnya, menjadikan Sukma harus bolak-balik ke kamar mandi.


Dikarenakan tidak ada wadah satupun termasuk gayung. Dengan hati cemas dan berusaha tenang, dia merawat Alfandi dengan ikhlas.


Firza dan Fikri menatap sedih pada sang ayah yang terkulai lemas.


"Kalian jangan khawatir ya? papa pasti sembuh kok. Papa cuma demam, kata dokter juga." Sukma mencoba menenangkan anak-anak.


"Papa pasti sembuhkan, Mommy?" Fikri mendongak pada Sukma yang merangkul bahu Fikri dan Firza.


Sukma mengulas senyumnya. "Iya, sayang ... papa pasti sembuh lah. Dan biar mommy yang jagain papa, kalian kalau mau jalan-jalan! sama pak luky ya?"


Kepala Sukma menoleh ke arah dekat pintu, dimana pak Luky berdiri dan di sebelahnya Jihan dan Marwan duduk di sofa. "Pak Luky, tolong jagain anak-anak ya?"


"Iya, Non. Biar anak-anak sama saya dan Tuan biar istirahat!" pak Luky mengangguk hormat ke arah Sukma lantas mengajak anak-anak untuk berjalan-jalan sore,


"Oya, jangan terlalu jauh juga ya? takut cuaca buruk karena langit tampak sedikit mendung." Pesan Sukma sambil mengantar Fikri dan Firza ke depan pintu.


Sukma tidak mau melihat anak-anak itu murung dan merasa sedih karena Alfandi sakit.


Sukma kembali ke tempat tidur setelah menutup rapat daun pintu kamar tersebut. Tangannya membelai rambut Alfandi dengan halus.


"Al ... cepat sembuh ya? jangan lama-lama demamnya! aku gak punya siapa-siapa lagi, kecuali dirimu dan anak-anak." Gumamnya Sukma pelan.


Setiap beberapa jam sekali di ganti kompresnya. "Bismillah ... ya Allah ... sehatkan suami ku!"


Sukma terus mengurus Alfandi tanpa henti dan ikhlas. Dan terus mengganti kompres nya, sesekali dia memeluknya agar memberi kehangatan.


"Em ... dingin sayang!" gumamnya Alfandi yang baru saja terdengar suaranya setelah sekian lama tidak mengeluarkan suara.


Dangan mata yang tetap terpejam. Alfandi minta dipeluk oleh Sukma, tubuhnya bergetar kedinginan. Sukma memeluk erat sang suami dari balik selimut yang tebal.


"Allahumma sholli sholatan kamilatan wasalim salaman taman ala sayyidina muhammad dinilladzi." Sukma bersenandung lirih dengan bacaan sholawat.


Manik matanya berkaca-kaca menatap wajah sang suami, sedih rasanya, baru lihat seperti ini saja hatinya sudah gelisah.


Khawatir, was-was. Takut, cemas bercampur aduk menjadi satu. Semalam, Sukma kurang tidur karena menjaga Alfandi dan mengganti kompres nya.


Sesekali Sukma mengecek suhu dari tubuh Alfandi yang Alhamdulillah ... panasnya dah turun.


"Alhamdulillah ... turun panasnya ya Allah." Gumamnya Sukma sembari menempelkan punggung tangannya di pelipis Alfandi.


Alfandi pun terbangun dan membuka matanya. "Sayang?"


"Hem ... aku lap dulu ya tubuh mu, biar gak lengket!" ucap nya Sukma sembari hendak turun.


Geph.


Tangan Alfandi menangkap tangan Sukma. Sukma pun menoleh dan menatap ke arah Alfandi sembari menyampingkan rambut indahnya.


"Makasih ya sayang, kau sudah merawat ku. Menjaga ku?" lirihnya Alfandi dengan tatapan yang begitu lekat.


Sukma mengangguk pelan. "Sama-sama."


Anak-anak dimana?" tanya Alfandi mengingat pada kedua putranya yang tidak nampak di sana. "Pakah mereka tahu kalau aku demam?"


"Tahu. Dan meraka sangat khawatir padamu, mungkin sekarang mereka sedang sarapan. Kerena aku sudah menyuruh pak Luky untuk mengajak mereka untuk sarapan." Balasnya Sukma dengan pelan.


"Ooh, aku cuma demam kok, lagian sekarang saja aku dah mulai sembuh." Lanjut Alfandi sembari meletakkan kepala di pangkuan nya Sukma.


"Maaf aku mengambil uang kes dari dompet mu untuk mereka Firza dan Fikri jajan. Kalau Jihan dan Marwan sih pegang uang sendiri. Aku belum sempat ke ATM. Ke dokter dan makan malam pun aku transfer aja. Apa kau kirim aku uang? sehingga saldo ku bertambah." Sukma mengelus rambut sang suami.


"Em ... aku kirim kamu sewaktu masih di rumah. Gak pa-pa kalau ada perlu dan uang kes nya ada, ambil saja." Kemudian Alfandi bangun dan berbaring kembali di bantal.


"Pah? Papa ... sudah sembuh belum?" suara Fikri sambil membuka pintu dan menyumbulkan kepalanya celingukan ke dalam.


Alfandi yang sedang di lap oleh sang istri melihat ke Tah pintu yang terbuka.


"Masuk, Fikri. Papa dah agak baikan berkat suster Papa nih!" ucapnya. Alfandi sambil mengulas senyumnya.


Fikri berlari mendekati papanya. "Suster?" anak itu mengerutkan keningnya.


"Iya, Mommy kan calon suster. Iya kan sayang?" Alfandi melihat ke arah Fikri dan Sukma bergantian.


Sukma hanya memmbutuk senyuman di bibirnya, sambil menggantikan pakaian Alfandi.


"Oh, Mommy calaon suster! kapan jadi susternya emang?" tanya Fikri menatap ke arah papa dan mommy nya.


"Berapa tahun lagi masih, tapi sekarang saja mommy sudah menjadi suster, Papa. Jadinya Papa lebih cepat sembuhnya." Ungkap Alfandi merasa senang.


"Oya, mana bubur buat papa nya?" tanya Sukma pada Fikri.


"Bubur? Oh, iya di pak Luky. Aku ambil dulu ya?" sebelum mendapat balasan. Fikri sudah berlari kembali keluar kamar.


"Jangan lari-lari lho?" pekik Sukma sambil membawa baju kotor ke kamar mandi dan langsung mencucinya.


Tidak lama kemudian, Fikri kembali membawa bubur buat papanya.


"Ini, Pah. Buburnya, Mommy mana?" Fikri celingukan mencari keberadaan Sukma yang tidak ada di kamar.


"Mommy di kamar mandi. Kak Firza mana dan kalian sudah sarapannya?" Alfandi mengusap pucuk kepala Fikri.


"Sudah, Pah. Kakak ... sedang sama kak Wawan dan kak Jihan." Jawabnya Fikri sambil duduk di atas tempat tidur.


Sukma kembali dengan tangan basah. Melihat Fikri sudah ada dan duduk manis di samping sang ayah.


Lantas Sukma menyauapi Alfandi dengan bubur. "Biar cepat sehat."


?Mommy? mau dong bubur?" Fikri menatap ke arah bubur yang Sukma pegang dan menyuapi sang ayah.


Sukma tersenyum dan lalu menyuapi Fikri juga. Bergantian dengan papanya.


"Hem ... bukanya Fikri sudah sarapan?" suara Alfandi yang di arahkan pada Fikri yang begitu lahap makan bubur.


"Ha he he ... iya, tapi tergoda di suapi Mommya. Papa juga di suapi sama Mommy." Akunya anak itu.


"Sayang ... papa kan sakit." Sukma berkata sambil menyuapi Fikri dan Alfandi.


"Fikri juga sakit--"


"Sakit apa?" selidik Sukma sambil menatap lekat anak itu.


"Em ... sakit mata, gak mampu ingin di suapi sama Mommy. He he he ...."


Sukma menunjukan senyumnya dan Alfandi pun ikut tersenyum.


Beberapa hari kemudian. Kesehatan Alfandi sudah benar-benar pulih dan sekarang bersiap-siap untuk pulang. Semua barang sudah masuk ke dalam mobil.


Sukma mencari keberadaan Alfandi yang belum masuk mobil, sementara yang lain sudah duduk cantik dan menunggu.


Lalu Sukma mendekati Alfandi yang sedang bicara di telepon.


"Nanti sepulang dari sini aku akan ke sana, Mah. Dan aku akan jelaskan semuanya! soal perceraian itu sudah di urus pengara ku dan tidak bisa di ganggu gugat lagi, sebab itu sudah menjadi keputusan terakhir ku!" suara Alfandi di ujung telepon.


Detik kemudian Alfandi menutup sambungan telepon dengan mengucap salam. Menoleh pada Sukma yang berdiri di hadapannya.


"Mama, mama yang telepon. Sepertinya Vaula bilang yang tidak-tidak sama keluarga ku," ungkap Alfandi tanpa menunggu Sukma bertanya.


Sukma terdiam dan entah apa yang dia pikirkan, lantas tangannya di tuntun Alfandi untuk memasuki mobil ....


.


...Bersambung!...


Mana nih, like komen dan dukungan lainnya. Yang baca banyak tapi jangan pelit jempolnya ya🙏


Terima kasih