Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Season 2



Kini Jihan sudah berada di dalam kosannya dan temannya yang bernama Sri yang tadi ia titipkan paper bag belanjaannya, Sri langsung menghampiri.


"Ji, ini belanjaan! lho ini belanjaan apa lagi? kok banyak banget dan sepertinya mahal-mahal hebat kamu, apakah nggak Sayang uang hasil jualan online mu di belanjakan seperti itu?" Sri menatap belanjanya Jihan dan juga orangnya bergantian.


Sri bengong, apalagi ketika melihat cincin baru di jari Jihan, bertambah membelalak aja tuh pasang matanya gadis manis berambut ikal tersebut.


Belum juga yang tadi Jihan jawab. Sudah diajukan kembali rentetan pertanyaan dari Sri. "Sebentar-sebentar! itu cincinnya baru lagi ya? perasaan Minggu kemarin deh cincin mu baru, sekarang sudah baru lagi! apakah yang kemarin dijual digantikan sama yang sekarang atau beli baru lagi?"


"Sebenarnya mana sih yang mau kamu tanyakan? aku bingung jawabnya!" kata Jihan sembari mendudukan dirinya dan membuka kerudung yang menutupi kepalanya.


"Ya ... semuanya dijawab! kan aku bertanya dan ingin tahu!" tambahnya Sri sembari Ia pun mendudukan dirinya di dekat Jihan.


"Oke! aku jawab ya ... aku beli semua ini bukan uangku, tapi dibelikan sama Excel! ditolak nggak enak malah dia tersinggung kan ... cincin ini juga sama, dia yang belikan sebagai hadiah atau apalah. Sebenarnya sih aku nggak enak terimanya ini semua, nanti dikira aku matre lagi tapi gimana ya? sudah rezeki kali!" jawabnya Jihan sembari menggerakan tangannya mengarah pada semua belanjaan dan juga cincin yang ada di jarinya tersebut.


"Aish ... baik banget nih si Excel, sudah kaya! baik lagi. Masih banyak nggak ya pria kayak gitu? aku pengen satu aja, nggak banyak-banyak sih!" tambahnya Sri seraya membayangkan seandainya dia mempunyai kekasih yang sebaik Excel.


"Ya ... siapa yang bisa menduga, bila besok atau lusa kamu akan mendapat pria macam dia." Kata Jihan sambil mengeluarkan belanjaannya.


"Aamiin-Aamiin ... doain ya! doain aku?" Sri menyatukan kedua tangannya di depan dada.


"Iya aku doain, semoga kamu dapatkan pria yang lebih baik! yang sayang sama kamu, membahagiakan kamu tapi kalau untuk menikah jangan dulu kali ya? kan masih kuliah!" sambungnya Jihan.


"Iya dong ... kalau soal menikah masih lama lah orang kita itu harus sarjana dulu harus kerja dulu!" Sri mengangguk.


Tidak lama kemudian Sri pun berpamitan, karena sudah ngantuk katanya. Begitupun dengan Jihan.


...----------------...


Suatu hari Sukma mengantar Fikri ke rumahnya Vaula, atas permintaan Vaula yang ingin bertemu dengan Fikri.


"Kenapa sih Mama nyuruh kita ke sini, bukannya datang aja ke rumah Mommy. Malas aku ke sini nya!" Fikri sedikit menggerutu sambil menginjakkan kakinya di teras rumah mewah miliknya Vaula.


"Mungkin Mama juga males ke rumah kita jadinya menyuruh kita ke sini," balasnya Sukma sembari menuntun Syakila.


"Yang butuh siapa sih? masa yang butuh ingin di datangi, nggak ada dari sananya! di mana-mana yang butuh itu yang mendatangi yang dibutuhkan--"


"Shutttt ... jangan banyak bicara nanti kedengaran sama mama, nggak enak. Mungkin Mama kangen sama Fikri--"


"Tapi nggak kangen sama Kak Firza ya?" Rendy memotong kalimat dari Sang mommy.


"Mungkin sama Kak Firza sudah ketemu kali!" Sukma tidak ingin berpikir buruk dan positif aja.


Fikri menekan tombol bell. Dan tidak lama kemudian pintu pun ada yang membukanya yaitu bibi.


"Eh Aden sama Nyonya, silakan masuk?" sambutnya bibi yang membuka pintu dengan lebarnya.


"Terima kasih Bi ... apakah Nyonya ada?" Sukma mengayunkan langkahnya mengikuti langkah Fikri yang lebih dulu memasuki ruangan tersebut.


Bibi yang masih berdiri di sana mengangguk dan berkata. "Nyonya ada dan sedang menunggu kalian!"


Kemudian mereka pun sampai di sebuah ruangan di mana Vaula sedang duduk bersantai. Melihat kedatangan putranya dia langsung berdiri menyambut ramah dan memeluk Putra bungsunya tersebut.


"Hai ... putra bungsu Mama ... Mama kangen deh!" Vaula memeluk Fikri setelah anak itu mencium tangannya. Sangat erat.


Sementara Fikri tidak mengeluarkan suaranya sedikitpun.


"Em ... Mama kangen banget sama kamu Nak ... dan nggak kerasa sebentar lagi kamu masuk SMP ya? sudah besar putra Mama ini!" Vaula mengusap punggungnya Fikri yang hanya tersenyum tipis.


Karena sesungguhnya Fikri itu malas-malasan untuk datang menemui mamanya, tapi atas bujukan Sukma akhirnya dia mau dan itu pun harus diantar.


Syakila yang tampak lucu dengan rambut di kepang dua, wajah yang oval. Pipi yang chuby. Mata yang bulat dan mengenakan setelah overall pendek. Mendongak pada mommy nya sesaat.


Kemudian Vaula mengarahkan pandangannya pada Sukma lalu berkata seraya mendudukkan dirinya. "Silakan duduk! jangan berdiri saja, anggap saja rumah sendiri."


"Oh iya makasih, apa kabar?" sebelumnya Sukma mengeluarkan tangan kepada Vaula.


"Baik, kalian cuman bertiga ke sini?" tanya Vaula seraya menyambut tangannya Sukma.


"Iya, kami bertiga saja." Sukma pun mendudukan dirinya dan juga Putri kecilnya di atas sofa, dan kebetulan kalau rumah orang lain Syakila tidak terlalu bawel juga aktif lebih banyak diam.


"Bi, bawakan makanan dan minuman ya?" pekiknya Vaula pada sang asisten.


"Sayang Mama punya hadiah deh buat kamu!" Vaula melirik pada putranya, Fikri yang tampak melamun sembari menyisir pandangan ke setiap sudut ruang tersebut.


"Oh hadiah apa?" tanya Fikri dengan ekspresi wajah yang biasa saja tak ada antusias nya..


"Mama punya ... iPad keluaran baru, Fikri pasti suka dan ... untuk menunjang belajarnya Fikri." Sambung sang bunda.


"Ah, yang kemarin juga masih ada kok dan masih bagus!" jawabnya Fikri dengan ringannya.


Membuat Vaula melirik ke arah Sukma yang juga melihat ke arah dirinya dengan pikirannya masing-masing.


"Lagian ... Mama buat apa sih, beli hadiah yang sekiranya aku nggak butuh!" gumamnya Fikri seraya sedikit menggelengkan kepalanya.


"Tapi Mama pikir kamu butuh untuk menunjang belajar kamu! apalagi sebentar lagi kamu masuk SMP--"


"Iya memang, bentar lagi aku mau masuk SMP. Tapi kan iPad yang kemarin juga masih bagus Mah, dan Mama tidak perlu membeli sesuatu yang tidak aku butuhkan. Cuman buang-buang duit saja! kecuali ... kalau Mama mau ngasih sama orang lain yang lebih membutuhkan--"


"Abang ... nada bicara jangan gitu ah, Mommy nggak pernah ngajarin bicara seperti itu deh. Kalau Abang enggak suka ya ... nggak suka aja nggak usah banyak bicara apalagi dengan nada tinggi!" potongnya Sukma, dia merasa nggak enak sama Vaula. Nanti dikira dia lagi yang ngajarin putra sambungnya untuk bertakwa kasar dan menolak pemberian dari mama kandungnya.


"Tapi kan, Mommy ngajarin aku untuk jujur dan aku sudah jujur kalau aku belum butuh!" Fikri menoleh pada sang mommy.


"Iya, tapi!" Sukma menggeleng sedikit kepalanya.


"Kenapa sih Fikri nggak bersyukur? Mama sudah bela-belain membeli barang itu untuk kamu dan memberikan nya sebagai hadiah, itu hadiah ulang tahun lho. Seminggu lagi kamu ulang tahun dan Mama sudah memberikan kado untukmu." Vaula tampak kecewa dengan penolakan yang diberikan oleh Fikri.


"Makasih ya Bi ... Makasih banyak!" ucap Sukma kepada asisten yang menyuguhkan minuman dan makanan di meja.


"Bi, tolong ambilkan kado di atas nakas kamar saya!" titahnya Vaula pada sang asisten.


Sang asisten pun langsung mengundur diri dan berjalan ke kamarnya Vaula untuk mengambil barang sesuai permintaan majikan.


"Mama juga membelikan laptop Apple buat kak Firza dan Mama sudah menyuruh Kak Firza untuk mengambilnya tapi belum juga datang." Kata Vaula sambil menatap putra bungsunya tersebut.


"Firza sibuk dan dia juga mengisi waktunya dengan magang! sehingga untuk pulang pun jarang," timpalnya Sukma yang ditujukan kepada Vaula.


Vaula mengalihkan pandangan kepada Sukma. "Apa, magang. Firza magang?"


"Iya, selesai kuliah dia magang. Berniaga dan itu maunya sendiri, bukan permintaan dari siapapun karena kami hanya mengarahkan dia kuliah dan jika memang dia mampu membagi waktu ya ... why not?" tambahnya Sukma.


"Memalukan! kayak orang kekurangan duit saja!" gumamnya Vaula dengan suara pelan.


"Sudah aku bilang ... kalau itu keinginannya sendiri, sebab semuanya sudah terpenuhi kok." Timpal lagi Sukma yang tidak ingin di sudutkan tentang mandirinya Firza.


"Apa sih yang dia mau? kalau butuh sesuatu dia cukup bilang! akan saya penuhi apa pun itu." Vaula tampak kurang setuju dengan kemandirian putranya.


Tidak lama kemudian, Bibi membawa sebuah kado yang tipis yang isinya yaitu sebuah iPad yang sudah ditolak mentah-mentah oleh Fikri ....