
Tok ....
Tok ....
Tok ....
"Permisi, Pah? aku ingin bicara sama Papa!" Firza pun langsung masuk ke dalam ruangan kerja sang ayah, dimana Sukma pun berada di sana menemani sang ayah yang sedang menggambar.
"Iya ada apa, Firza?" tanya sang ayah yang langsung menoleh akan kedatangan si sulung.
Begitupun dengan Sukma, dia menyambut kedatangan Firza dengan sebuah senyuman yang ramah.
Lantas Firza duduk di sofa tepat di depan sang ayah, dan tidak jauh dari Sukma terduduk melihat suaminya bekerja.
"Apa benar kata Fikri? katanya Papa akan pindah ke sini selama-lamanya! dan barang-barang kami pun akan dipindahkan ke sini?"
Selidik anak itu dengan tatapan yang sangat tajam ke arah papa nya yang langsung mengangkat kepala.
"Iya kenapa? apakah Firza nggak suka tinggal di sini?" Alfandi balik bertanya pada si sulung dan ingin tahu isi hatinya.
"Em ... Bu-bukan gak suka. Tapi, kenapa harus pindah total?" Firza menatap dengan penuh penasaran.
Alfandi menghela nafas dalam-dalam, sebelum menjelaskan yang seharusnya anak-anak tahu. "He'em ... Papa harap kau dapat mengerti dan tidak menyalahkan siapa pun."
"Maksud Papa? aku semakin nggak mengerti?" Firza menggelengkan kepalanya berulang-ulang.
"Em ... seperti yang yang kau tahu. Hubungan Papa dan Mama itu sudah lama ... sekali kurang sehat. Dan pastinya kau merasakan perubahan Mama serat itu juga Papa menikahi mommy." Ujar Alfandi sesaat menjeda perkataannya.
"To the point saja lah Pah, nggak usah bertele-tele. apakah Papa sama Mama berpisah, iya? kalian berpisah?" gejala langsung menyangka seperti itu karena dia pikir pasti seperti itu adanya.
Alfandi dan Sukma saling bertukar pandangan kemudian apanya mengganggu. "Iya, itu benar! Papa dan mama memutuskan berpisah, daripada menjalani hubungan yang tidak sehat."
Firza benar-benar tersentak dan lalu tertegun, tidak menyangka kalau dugaannya yang mendadak itu adalah benar adanya. Tatapannya kosong dan dia sungguh setengah tidak percaya.
Kemudian netra nya menoleh pada Sukma yang sedang merasa was-was kalau Firza akan menyalahkannya.
"Kenapa, Papa ceraikan Mama? apakah mentang-mentang Papa sudah dapat pengganti?" suara Firza bergetar menahan tangis yang sudah mulai menyesakkan dada.
Firza merasa kalau papanya sudah tahu kebenaran, kalau mamanya selingkuh di luaran sana.
"Papa harap, Firza tidak menyalahkan siapa pun termasuk mommy. Karena dia sama sekali tidak bersalah dalam hal ini. Kalau Firza mau menyalahkan seseorang! Papa lah yang seharusnya Firza salahkan," sambung Alfandi dengan jelas pada putra sulungnya tersebut.
Firza mengalihkan pandangannya pada sang ayah. "Apakah ... Papa mengetahui sesuatu tentang mama?"
"Sesuatu apa?" Alfandi penasaran.
Tangan Firza mengusap hidungnya yang mulai berair. "Aku tahu sesuatu tentang mama di luaran sana! lebih dari satu kali melihat mama dengan--"
Refleks Alfandi mendekat dan memeluk Firza. "Papa tahu, baru-baru ini. Sudah, jangan di teruskan dan lupakan semuanya itu. Lupakan! jangan diingat lagi, biar itu urusan mama sendiri."
Alfandi memeluk Firza yang tampak sedih. Dan sesekali tersedu dan menghirup ingusnya yang terus turun.
"Aku bingung! aku nggak tahu harus cerita sama siapa waktu itu? aku hanya bisa memendam sendiri dan aku kecewa, kenapa mama melakukannya? dalam hatiku ini bertanya-tanya salah siapa dan siapa yang duluan? Mama yang begitu atau Papa yang nikah lagi?" ucap Firza seraya memberi jarak dengan sang ayah.
"Setahu Papa, mama sudah bertahun dengan pria itu. Astagfirullah ... Sudahlah, jangan bahas itu lagi. Papa mohon!" pinta Alfandi yang tidak ingin bercerita tentang itu lagi, sebab hanya kanenorehkan luka dalam hati.
Sukma mengusap bahunya Firza dengan lembut. "Baiknya. Jangan ingat lagi ya? lupakan saja, karena hanya akan menimbulkan rasa kecewa dan sedih. Anggap saja semuanya tidak pernah ada masalah apapun, agar semua berjalan dengan baik!"
"Kau, laki-laki jagoan Papa. Harus kuat dan siap menghadapi kenyataan dan Papa akan bangga bila kau tidak menyalahkan siapapun!" Alfandi menepuk-nepuk bahu Firza.
"Sesungguhnya, alangkah baiknya kalian memaafkan kesalahan dari mama nya Firza. Sebesar apapun dan tidak perlu kesalahannya itu diumbar apalagi sampai ke media, sebisa mungkin kalian tutupi itu. Karena itu juga untuk kebaikan kalian semua dan terutama mamanya Firza." Saran Sukma.
Alfandi menatap ke arah Sukma yang dianggap kata-katanya itu cukup bijak dan ada benarnya, tetapi dia sendiri tidak bisa semudah itu memutuskan untuk berbuat yang sama. Karena menyangkut dengan dua keluarga yang akan membedakan pandangan akan keputusan dirinya.
"Sayang benar, tapi akan sulit untuk ku melakukannya. Sebab ini menyangkut dua keluarga yang kan menentang keputusan ku," ucap Alfandi yang di tujukan kepada Sukma.
Firza menoleh pada Alfandi dan Sukma bergantian. Dia memang kurang mengerti akan maksud papanya itu.
"Za. Besok. Papa mau ke tempat Oma di luar kota. Kau tunggu di sini sama Fikri, Oya kalau kalian mau ke rumah mama? boleh papa gak akan melarang kok." Pesan Alfandi pada Firza.
"Papa ke sana sama--"
"Tidak. Papa ke sananya sendiri dan itu nggak akan lama! karena Papa meninggalkan pekerjaan yang banyak dan belum waktunya mommy bertemu dengan opa dan Oma di sana." Jawab Alfandi memotong pertanyaan dari Firza.
Kemudian, Alfandi kembali menoleh ke arah sang istri. "Sayang, besok suruh Bibi untuk membereskan kamar yang satu lagi yang sebelah, karena akan menjadi kamarnya Firza. Jadi mereka kamarnya terpisah."
"Baiklah, akan aku suruh bibi untuk membereskannya dan sekaligus untuk mengecatnya kan? Firza sendiri mau cat warna apa atau di dekornya gimana?" ucapnya Sukma kepada sang suami dan bersambungnya silih berganti.
"Papa tahu kamar aku seperti apa dan kayak gimana?" jawabnya Firza dengan nada dingin. Lalu dia membuat langkahnya mendekati pintu, keluar dari ruangan tersebut.
Kini di ruang kerja tersebut, tinggallah seperti semula yaitu Alfandi yang mulai kembali untuk menggambar. Dan Sukma yang terus menemaninya.
Setelah makan malam. Sukma dan Alfandi memilih untuk masuk kamarnya, apalagi sehabis perjalanan, jadi mereka berdua merasa capek.
Namun secapek apapun. Alfandi pasti meminta jatah terlebih dahulu pada sang istri, sebelum dia beranjak tidur karena jika tidak? dia akan terjaga sepanjang malam.
"Ayo dong sayang?" bisik Alfandi sambil menarik tali kimono sang istri dan di seretnya ke tempat tidur.
"Jangan ada lagi gigitan serangga, gak mau. Ini saja baru berangsur menghilang nih ... itupun memakai salepnya." Suara Sukma tidak kalah pelan dari suara Alfandi yang mulai mengungkung tubuh nya.
"Iya, sayang. Iya," Alfandi mulai mencumbu sang istri untuk menaikan mood nya dan kali ini dia membuat gigitan serangga nya di area dada yang sekiranya tertutupi dengan pakaian.
Dengan nakal, Alfandi naik dan mau menggigit di bagian leher.. Dengan cepat Sukma menjambak rambutnya. Alfandi malah ketawa karena dia pun cuma menggoda saja, tidak lebih.
Lanjut mengecup bibir dengan lembut dan mesra. Alfandi lakukan agar sang empu merasa dimanja ....
.
.
...Bersambung!...