
Kehidupan Alfandi dan Sukma begitulah setiap harinya. Berputar begitu saja, dan kehidupannya semakin mesra dan romantis.
Biarpun tahun-tahun terakhir ini banyak dugaannya, tidak sedikit wanita yang mengejar Alfandi tentunya mengincar harta atau kekayaan Alfandi yang semakin melimpah dengan karirnya yang semakin sukses.
Tetapi Alfandi tidak pernah goyah, semakin di dekati sama wanita-wanita lain! semakin gencar dia membawa Sukma untuk menemaninya di setiap acara! apapun itu.
Sukma pribadi pun berusaha untuk santai dalam menghadapi setiap dugaannya tentang wanita yang ingin memiliki Alfandi.
Hingga ada masanya seorang wanita yang mengaku-ngaku hamil dan itu anaknya Alfandi. akan tetapi itu benar-benar dibantah keras oleh Alfandi maupun Sukma sendiri karena Alfandi tidak pernah keluar rumah selain dengan Sukma.
Dan ujung-ujungnya wanita itu mengaku hanya akal-akalan saja untuk mendapatkan Alfandi dan juga hartanya.
...--------------...
Setelah beberapa tahun kemudian, Jihan selesai kuliah dan bekerja di sebuah perusahaan besar menjadi seorang manajer.
Sementara Firza sendiri sudah menjadi sarjana hukum dan kini menjadi pengacara muda, juga kini sedang mengenyam pendidikan PKPA untuk lebih mendalami tentang hukum.
Kini mereka sedang berkumpul di rumah Alfandi tengah menikmati minuman jeruk dan kue buatannya Sukma.
"Jujur sekarang Papa sangat bahagia, karena Firza sudah kelihatan hasil dari kuliahnya yaitu sudah menjadi pengacara muda. Walaupun masih mendalami untuk profesinya, dan kamu Jihan Abang sangat bangga karena kini kamu benar-benar sudah bisa mandiri dan membuktikan bahwa kamu bisa maju dan hidup lebih baik!" ujarnya Alfandi sembari menatap ke arah Jihan dan Firza bergantian.
"Iya, Pah. Ini semua atas dukungan papa dan Mommy juga." Jawabnya Firza yang melepaskan pandangan ke arah sang papa dan juga Sukma sebagai mommy nya.
"Iya benar! ini semua tak ada artinya jika tidak ada dukungan dan doa dari kalian berdua, aku bukan siapa-siapa dan tak akan pernah menjadi apa-apa tanpa adanya kalian berdua!" tambah nya Jihan sembari membenarkan kacamatanya.
Setelah 1 tahun dan hampir 1 tahun bekerja, Jihan sudah mempunyai rumah sendiri dan juga sebuah motor. Mobil pun ada tapi inventaris.
Sesuatu yang cukup membanggakan Sukma sebagai kakak, dia bahagia melihat kesuksesan adiknya. Bahkan Marwan pun dia lebih cepat lulus sehingga sekarang dia mulai berkecimpung di perusahaan arsitektur nya Alfandi.
"Kalau soal itu ... memang sudah kewajiban kita sebagai orang tua yang mendukung! membiayai dan mengarahkan kalian semua untuk menjadi seseorang yang sukses itulah kewajiban kita!" lirihnya pria yang sudah semakin matang itu namun tetap terlihat berwibawa dan tampan.
"Memang benar dan itu yang buat aku terima kasih juga sama Papa sama Mommy ... yang berusaha terus mendukung dan mengarahkan, tidak sama sekali mengatur harus begini harus begitu! lebih mengarahkan saja dan memberi kebebasan kepada kami untuk melakukan sesuatu yang menjadi harapan dan cita-cita kami!" sambungnya Firza.
"Intinya Papa dan juga mommy bahagia melihat kalian semua dan bisa dibilang tanggung jawab kami selesai, tinggal kalian masing-masing melanjutkan untuk lebih baik lagi! dan Papa pesan jangan mudah puas dengan apa yang kamu dapatkan saat ini teruslah belajar agar bisa lebih baik lagi dan juga bersyukur agar kita tidak lupa bahwa apa yang kita dapatkan sekarang penuh dengan perjuangan!" Alfandi menatap ke arah Firza.
"Mommy juga pesan buat Firza dan kamu Jihan, Kakak selalu mengingatkan. Jangan lupa bantu orang yang membutuhkan! karena dengan kita banyak membantu ... kita akan mendapatkan banyak doa yang terbaik dari orang lain, membuat orang tersenyum dan bahagia itu adalah ibadah dan kita mendapatkan doa dari mereka itu bonus! tentunya kita nggak akan mendapatkan bonus kalau kita tidak membuat sesuatu yang bermanfaat," Sukma menatap lekat pada Jihan dan Firza.
Jihan dan Firza mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti dengan apa yang sudah diuraikan oleh Sukma maupun Alfandi.
Kini Alfandi mengarahkan pandangannya ke arah Marwan. "Wan, gimana kamu kan baru berapa bulan di perusahaan! betah nggak? seandainya kamu nggak betah ... kamu ngomong aja mungkin kamu pengen pindah ke mana."
"Aku betah, Bang untuk saat ini aku happy di sana, lagian kan aku masih harus banyak belajar untuk mengembangkan diri. Rasanya baru kemarin ya! aku pergi ke Bandung untuk kuliah dan sekarang sudah lulus dan sudah mulai bekerja! rasanya hidup ini terasa singkat banget," Marwan menghela nafas serta tetapan yang lepas menerawang, mengenang yang sudah terjadi beberapa tahun silam.
Sukma pun menghela nafas dalam-dalam, Sukma ikut mengenang ke masa lalu. Memang benar rasanya baru kemarin Marwan pergi untuk kuliah di Bandung dan Fikri mondok di Sukabumi. Sehingga sekarang Marwan sudah lulus kuliah dan sudah mulai bekerja.
Sementara Fikri sudah memasuki pendidikan SMA sederajat dan tetap masih mondok. Juga alhamdulillah dengan keseriusannya mendalami agama, anak itu sudah mulai belajar berdakwah. Bila ada kesempatan.
"Wa'alaikum salam ... warahmatullahi wabarakatuh." jawab semuanya dengan serempak.
"Wih, pak ustad Fikri. Apa kabar pak ustadz! lama sudah ana tidak bertemu ente Kaifa jaluk?" sambutnya Marwan kepada Fikri.
"Bikhoir, walhamdulillah!" jawabnya Fikri, lanjut keduanya saling berpelukan.
"Aku pulang, apakah disediakan makanan yang berapa tahun ini aku jarang makan?" Fikri malah celingukan menanyakan makanan.
"Oh ... makanan, sudah siap dong ... Mommy kan sudah siapkan semua makanan kesukaan kalian, sudah siap dan kita tinggal makan aja nanti!" jawabnya Sukma dengan cepat.
Kemudian Fikri mengarahkan pandangan kepada Sukma. "Mommy aku kangen!" lantas Fikri memeluk bahunya Sukma.
"Waduh lebay nya ... sudah macam bapak-apak masih bilang kangen sama mommy, dasar anak mommy!" Marwan menggeleng sambil mencibir Fikri.
"Yey ... Kak Wawan. Sirik aja deh ... biarpun aku sudah seperti bapak-bapak ... tapi aku tetap aja kan anak-anak! orang usia aku masih kecil kok, iya kan Moms?" Fikri menjulurkan lidahnya ke arah Marwan.
"Marwan sih benar, kamu itu sudah kayak bapak-bapak tapi malah manja gitu sama mommy! nggak malu apa! Syakila aja sudah gak manja," celetuknya Firza yang ditujukan kepada sang adik, Fikri.
"Iih biarin. Aku mau manja kek orang sama mommy dan bukan sama wanita lain. Aku sama mommy kan muhrim." Fikri tidak peduli dengan cibiran Marwan maupun Firza.
"Gimana mondok nya betah kan?" tanya Sukma sambil mengusap bahunya Fikri yang duduk dekat dengan dirinya.
"Alhamdulillah! makanya sampai sekarang aku masih di sana tidak minta dipindahin, teman-teman dan para guru semuanya baik-baik dan suasana keluarga itu ada di sana!"
"Syukurlah kalau Fikri betah di sana dan tentunya selama belajar di sana Fikri harus banyak mendapatkan ilmu yang bermanfaat!" Alfandi tersenyum pada putranya itu.
"Insya Allah, Pah ... aku akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan berguna untuk semua orang!" Fikri menganggukkan kepalanya.
"Kalau melihat dari penampilannya sekarang sih ... Fikri tentunya sudah banyak berubah, dan menurut kak Jihan nih ya ... Fikri lebih tampan, di tambah penampilannya yang bersahaja, nyantri banget. Pasti banyak gadis yang terpesona, ayo ngaku ... di pesantren pasti banyak yang suka kan?" godanya Jihan pada Fikri yang langsung tersipu malu.
"Ach Kak Jihan bisa aja, nggak lah Kak. Aku nggak bisa deket sama gadis manapun karena aku ingin serius belajar!" jawabnya pikir meyakinkan.
"Tapi nantak yang naksir kan? dan kamu juga pasti naksir seseorang!" Jihan menunjuk hidungnya Fikri.
"Nggak ... aku ingin fokus belajar, wanita mah gampang Kak ... ilmu yang susah!" tambahnya Fikri.
"Cieh ... kata-kata nya itu lho ... wanita gampang, ilmu yang susah!" Marwan bertepuk tangan.
"Iya dong ... bener kan?" Fikri mengembangkan hidungnya.
Lanjut kemudian, karena sudah terdengar adzan maghrib Mereka pun salat berjamaah. Setelahnya makan malam yang sudah disiapkan oleh Sukma dan bibi sebelumnya, beberapa menu yang menjadi kesukaan mereka masing-masing pun tersedia di meja ....
.
Apa kabar reader ku semua ... semoga kabar baik semua ya yang sedang sakit disegerakan sembuhnya! yang sedang dalam kesulitan diberikan jalan kemudahan. Aamiin