
Setibanya di depan kamar Firza. Sukma berdiri sesaat lalu mengetuk pintu tersebut. "Firza ... boleh aku masuk?" suara Sukma dengan lembutnya.
Untuk beberapa saat, tidak ada sahutan lain dalam kamarnya Firza. Namun lama-lama terdengarlah derap langkah dari dalam yang mendekati daun pintu.
"Masuk saja?" suara Firza setelah membukakan pintu, lalu dia lebih dulu kembali ke tempat tidur dan duduk di sana.
Sukma mengayunkan langkahnya dan memasuki kamar tersebut, sembari mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan. Damana kamar yang terdapat dua tempat tidur tersebut tampak rapi dan wangi.
"Aku bawakan minuman hangat buat kamu, diminum ya? kau pasti kedinginan! takutnya nanti kamu masuk angin." ucap Sukma sembari menyimpan gelas tersebut di atas nakas.
Firza tidak menjawab dia malah tiduran dan selimutan, Sukma menghela nafas panjang. Lalu mengambil kembali gelas tersebut yang dia simpan tadi.
"Diminum dulu? mumpung masih hangat! aku nggak mau lho ... nanti kamu di sini sakit, yang disalahkan itu siapa? yang tentunya aku juga." Sukma menyerahkan jelas itu kepada Firza.
Firza mengarahkan pandangan ke arah gelas yang Sukma pegang, dan tidak bergerak sebelum tangannya mengambil gelas tersebut.
"Kau tahu? ini masih panas sekali." Pekik Firza setelah menyentuh sedikit badan gelas yang berada di tangan Sukma. Masih terasa panas.
Sukma tersenyum. "Ini bukan panas! ini hangat, coba deh diminum dulu sedikit saja? untuk menghangatkan tubuhmu. Aku tidak mau ya! kamu sakit atau masuk angin gara-gara berendam di kolam magrib-magrib," ucap Sukma sambil menatap lekat ke arah anak itu.
Kemudian, Sukma sendiri yang meminum kan gelas tersebut pada Firza yang mengangkat kepalanya. "Pelan-pelan?" pinta Sukma sembari menatap anak itu yang meneguk minuman dari tangan Sukma.
Memang benar, Firza merasakan tubuhnya menghangat setelah minum, minuman tersebut. Sesekali dia melihat ke arah Sukma yang sedang menyimpan galas di atas nakas.
"Kau sudah salat magrib?" tanya Sukma sambil merindukan dirinya di tepi tempat tidur samping Firza.
Firza hanya terdiam, dia tidak menjawab yang dipertanyakan oleh Sukma. Dia hanya tiduran dan selimutan saja, kembali terbayang di pelupuk mata gimana kejadian tadi, tentang sang Bunda yang sedang bercumbu dengan laki-laki lain.
Membuat Firza kembali dihinggapi rasa kecewa, sedih dan terluka. Dia menutupi wajahnya dengan selimut. Ingin rasanya dia menangis dan menceritakan ini semua pada seseorang! namun entah harus pada siapa? karena rasanya nggak mungkin juga jika dia harus bercerita langsung pada sang ayah.
Sukma memandangi wajah Firza yang ditutupi dengan selimut, kemudian dia beranjak dari duduknya hendak keluar dari kamar tersebut. Namun ponselnya Sukma tiba-tiba berdering.
"Siapa yang telepon?" gumamnya Sukma sembari merogoh sakunya mengambil ponsel tersebut, ketika ia lihat panggilan itu dari Alfandi yang lantas dengan cepat Sukma menerimanya.
^^^Sukma: "Halo?"^^^
^^^Alfandi: "Sayang, tadinya aku mau ke sana malam ini, Fikri merengek-rengek pengen kesana ketemu mommy nya. Tapi karena Firza belum pulang jug, mana tidak membawa ponsel lagi. Aku harus mencari nya dulu."^^^
suaranya Alfandi terdengar cemas dan dapat disimpulkan kalau dia sedang mencari tanya putranya, Firza.
^^^Sukma: "Firza? dia ada bersama ku kok."^^^
^^^Alfandi: "Apa? beneran sayang? Firza ada di sana? dari kapan?"^^^
^^^Sukma: "I-iya, kalau gak percaya ... bicara saja sama orangnya."^^^
Firza yang sejak mendengar percakapan Sukma dengan seseorang di telepon, langsung mengibaskan selimutnya yang menutupi wajah, menatap dengan lekat ke arah Sukma yang memunggunginya.
Lalu kemudian Sukma berbalik ke arah Firza sembari memberikan ponselnya. "Ini papamu telepon, katanya dia sedang mencari dirimu! emangnya kau tidak bilang kalau mau main ke sini?"
Lagi-lagi Firza tidak menjawab, dia hanya bangun lantas duduk dengan tegak dan meraih ponsel dari tangannya Sukma.
^^^Firza: "Pah?"^^^
^^^Alfandi: "Kenapa nggak bilang kalau kamu ke tempat Mommy? pasti papa nggak akan cemas dan mencari dirimu!"^^^
^^^Firza : "Bilang gimana? kan aku nggak bawa ponsel, aku juga nggak ada niat kok ke sini. Cuman ... entah kenapa tiba-tiba terdampar di sini."^^^
Firza, setelah sebentar berbincang dengan sang ayah, dia memberikan kembali ponselnya kepada Sukma.
^^^Alfandi: "Kenapa nggak bilang dari tadi sayang? kalau Fikri berada di sana! mungkin aku nggak akan kelimpungan mencari dia kemana-mana!"^^^
^^^Sukma: "Maaf! aku nggak tahu kalau dia ada di sini, aku baru saja bangun tidur. Tiba-tiba aku dengar ribut-ribut dan pas aku lihat, Firza sama Marwan sedang bermain air di kolam, Jadi sebelumnya aku nggak tahu kalau Firza datang ke sini!"^^^
^^^Alfandi: "Baiklah kalau begitu aku akan ke sana membawa Fikri juga, kebetulan dia merengek-rengek ingin ke sana sedari tadi."^^^
^^^Alfandi: "Aku sedang berada di jalan, mencari Firza, Kata bibi Firza belum pulang sekolah, nggak pulang-pulang ke rumah katanya, dan ponsel Firza ada di rumah. Makanya aku mencari dia! ya sudah aku mau balik dulu untuk menjemput Fikri, sampai nanti kita ketemu."^^^
Sambungan telepon pun terputus, dan Sukma menoleh ke arah anak itu, setelah menyimpan ponselnya di tempat semula.
Wajahnya tampak pucat dan dia memejamkan kedua matanya, Sukma mendekat dan menempelkan punggung tangannya di bawah pelipis Firza yang terasa sedikit hangat.
"Firza, diminum lagi ya minumannya!" ucap Sukma sembari siap memberikan minuman yang tadi kepada Firza.
Lantas Firza sudah terpejam pun, membuka matanya kembali dan mengangkat kepalanya, sukma meminumkan minuman tersebut sampai habis dengan sikap yang tulus.
"Habisin ya? kita makan malam sekalian sama papa ke sini sama Fikri," ucap Sukma sembari menyimpan gelasnya di atas nakas.
"Emang Papa dan Fikri mau ke sini?" selidik Firza dengan tatapan dingin.
Sukma menggerakkan matanya seraya berkata. "Papa mau sedang berada di jalan mencari-cari kamu, sekarang dia mau pulang dulu sembari menjemput Fikri untuk diajak ke sini."
Firza lagi-lagi terdiam dengan tatapan yang entah ke mana dan juga tampak kosong.
"Ya sudah, aku mau turun dulu ya? mau menyiapkan makan malam, kau istirahat saja di sini dan tubuhmu agak panas, biar aku suruh Jihan untuk membelikan obat ke warung terdekat." Setelah itu Sukma pun berlalu membawa nampan yang diisi dengan gelas kosong.
Firza menatapi kepergian Sukma yang berjalan menuju daun pintu, kini hatinya dihinggapi rasa dilema! lebih baik kah papanya menikahi Sukma yang tampak lebih lembut dan penyayang.
Firza pandangi Sukma sampai daun pintu tertutup dan Sukma menghilang dibalik pintu tersebut.
"Bi, aku mau masak sup, buat Firza sepertinya agak hangat badannya. Oya Jihan? Marwan gimana, gak kenapa-napa, kan?" Sukma melirik kan pandangannya peda Jihan yang kini sedang duduk di kursi meja makan.
"Marwan baik-baik saja kok, Kak. Barusan dia sedang belajar! itu orangnya muncul," Jihan menunjuk pada Marwan keluar dari kamarnya, sambil berjalan membawa buku ke ruangan televisi dan tampak segar juga tidak bermasalah apapun.
"Minuman jahenya sudah diminum, Wan?" tanya Sukma yang ditunjukkan kepada Marwan.
Marwan menoleh ke arah sang kakak. "Sudah, Kak. Sudah ku minum semuanya."
Sukma menganggukkan kepalanya, lalu dia berjalan mendekati lemari pendingin, untuk mencari bahan-bahan buatnya masak. Dan Sukma akan membuatkan nasi goreng kesukaan Alfandi dan Fikri.
"Tuan mau pulang ke sini?" tanya bibi yang sudah curiga karena Sukma mau menambahkan lagi masakannya.
Lagi-lagi, Sukma menganggukkan kepalanya. "Katanya sih seperti itu, Bi. Katanya Fikri merengek-rengek pengen ke sini."
"Yang merengek-rengek itu Fikri apa papanya? he he he ..." goda bi Lasmi sambil tersenyum.
Sukma senyum simpul. "Bibi ... bisa saja! mungkin iya kali." Sukma menggelengkan kepalanya sembari terus mesem.
"Tapi tidak apa-apa kok kalaupun papanya yang merengek-rengek? itu kan sah-sah saja. Kalau kangen sama istrinya," goda lagi bi Lasmi sambil terus tersenyum merekah.
"Jihan mana ya?" manik matanya Sukma mencari keberadaan Jihan, yang kini sedang berada di ruangan televisi bersama Marwan.
"Firza sepertinya meriang nih atau mungkin masuk angin, kira-kira bila dikasih obat warung nggak pa-pa ya?" tanya Sukma pada bibi.
"Kalau obat warung ... jangan dulu, Non. Namanya juga orang kaya suka manja, nanti saja sama papanya! yang penting kan barusan sudah dikasih minuman jahe, nanti juga kalau sudah dikasih makan! kayaknya lebih baik. Takutnya kenapa-napa kalau dikasih obat warung," ujarnya bibi.
"Iya, Bi." Sukma mengangguk setuju.
Sukma pun melanjutkan aktifitasnya. Untuk membuatkan sup hangat dan nasi goreng buat Alfandi juga Fikri.
Grung! Grung! Grung, suara mesin mobil terdengar jelas dari arah depan, yaitu di halaman rumah tersebut ....
.
.
...Bersambung!...