
"Aku tidak tahu harus berkata apa lagi, selain ucapan terima kasih sebanyak-banyaknya. Atas kebaikan pada kami semua," ungkap Sukma menunduk dalam.
"Sama-sama." Balasnya Alfandi sambil menatap ke arah Sukma yang tampak lelah dan capek.
Sukma mengangguk pelan dengan senyuman tipisnya yang ia tunjukan pada Alfandi.
"Iya sudah, sekarang kita pulang. Kau tampak capek," sambungnya sambil ngeloyor keluar dari ruangan tersebut.
Sukma tertegun. "Iya aku lelah, capek tapi bukan karena mengurus atau menjaga Marwan. Aku capek, tapi karena ... kehilangan pekerjaan ku." Batinnya Sukma tanpa dia katakan kepada Alfandi.
Mimy yang sudah lebih dulu mendorong kursi Marwan keluar.
Sukma berjalan keluar dari ruang VIP yang beberapa hari ini Marwan tinggali. Dia berjalan gontai sembari menunduk dalam sehingga keningnya membentur benda yang lumayan keras.
"Aduh," gumamnya Sukma sembari memegangi keningnya dan mendongak.
Ternyata dia bertabrakan dengan dada Alfandi yang kini berdiri tegak, menghadap ke arah Sukma yang menatapnya tajam.
"Maafkan?" gumamnya Sukma pelan.
"Kenapa? melamun?" Alfandi menatap heran pada gadis itu yang tampak melamun.
"Ahk, Tidak. Biasa saja kok." Sukma melanjutkan langkahnya melintasi Alfandi yang masih berdiri di tempat.
Alfandi pun mengikuti Sukma yang berjalan menyusul Mimy dan Marwan yang sudah sampai di depan.
Keduanya berjalan menyusuri lorong rumah sakit tersebut yang tampak sepi dan hany terlihat beberapa perawat yang hilir mudik.
"Apa ada masalah? sehingga kau melamun begitu?" tanya Alfandi sambil melirik ke arah Sukma yang memang tampak aneh.
"Hem?" Sukma melirik sekilas. "Aku nggak kenapa-napa."
"Tetapi kau tampak aneh! apa kau sakit juga?" dengan refleks tangan Alfandi menyentuh keningnya Sukma.
Bibir Sukma mengulas senyum nya kepada Alfandi yang berdiri di depannya. "Aku baik-baik saja, kan?"
Kemudian mereka berdua melanjutkan langkahnya untuk menyusul Mimy dan Marwan.
Langkah Sukma semakin lebar mendekati Mimy dan Marwan yang menunggui dirinya serta Alfandi.
Alfandi langsung mengambil mobilnya dari parkiran. Lantas membukakan pintu buat Marwan, dan Sukma juga Mimy.
"Sudah terlalu malam, sebaiknya kita cepat-cepat pulang?" Alfandi bergegas menyetir mobilnya, melajukan dengan sangat cepat.
Sukma mengangguk pelan dan mengiyakan perkataan dari Alfandi. Sementara Mimy mengajak Marwan mengobrol.
"Aku sudah seminggu lebih ya? tidak masuk sekolah, pasti ketinggalan lagi pelajaran nih," keluh Marwan sambil melepas pandangan keluar jendela.
"Gampang, Wan ... yang penting bisa masuk ke otak, Jangan khawatir soal itu, Marwan." Timpal Alfandi yang sedang fokus menyetir.
"Ia sih, Om." Marwan mengangguk.
"Yang penting sekarang ... Marwan sehat, dan nanti-nanti jaga kesehatannya baik-baik." pesannya Alfandi kembali.
"iya, Om. Makasih atas perhatiannya? berasa punya Bapak lagi aku he he he," sambungnya Marwan.
"Emang mau, punya Papa seperti saya?" tanya Alfandi sambil tersenyum merekah.
"Waah ... siapa yang nggak mau tuh, Wan. Sudah cakep, kayak. Baik lagi," Mimy menyahut dengan cepat sambil melihat ke arah Marwan yang duduk di dekatnya.
"Iya, yang penting, Om itu baik. Perhatian dan penuh kasih sayang," sahutnya Marwan mengangguk.
Sementara Sukma hanya terdiam seribu kata. Tatapannya begitu kosong mengarah keluar jendela yang ada hanya gelap dan terangnya hanya dari sinar lampu jalan dan dari kendaraan yang lewat. Seolah tidak mendengar obrolan dari yang lainnya.
"Kamu nggak mau ngomong apa-apa, Ma?" tanya Mimy sambil melirik pada Sukma yang tampak melamun itu.
"Hah? ngomong apa?" Sukma malah bertanya.
"Iih ... melamun, nih anak! itu tentang om yang baik?" sambungnya Mimy seraya menggeleng.
"Apa ya?" ucapan terima kasih aja rasanya tidak cukup, My. Pak Alfandi sudah terlalu baik pada ku dan adik-adik ku." Ucapnya Sukma lirih.
Tidak terasa di jalan, mobil pun sudah sampai di depan kontrakannya Sukma.Tampak Jihan menyambut kedatangan mereka dan langsung memeluk Marwan ketika dia sudah turun dari mobil.
"Kamu sudah sembuh, kan?" Jihan memeluk sang adik tampak sangat menyayanginya.
"Sudahlah, Kak ... kalau belum sembuh mah nggak mungkin aku pulang." Sahutnya Marwan sambil berjalan agak pelan masuk ke dalam rumah.
"Iih ... kamu ini, orang nanya serius juga." Jihan cemberut.
"Emangnya Kakak pikir, aku-aku nggak serius jawabnya. Serius lah Kak ... alhamdulillah sudah sembuh dan ini, tidak jauh dari kebaikan, Om Al." Marwan melirik arah Alfandi.
Setelah itu, mereka makan bersama dengan makanan yang Alfandi pesankan, sebenarnya dia kangen masakan dari Sukma. Namun kondisi tidak memungkinkan itu.
"Sebenarnya ya? saya kangen masakan kamu, tapi sikon nya gak memungkinkan. Lagian kasian kamu nya tampak capek sekali," ucap Alfandi pelan pada Sukma yang kebetulan duduknya tidak jauh dirinya.
Alfandi bicara seperti itu ketika yang lain begitu asik menikmati makan malam nya masing-masing.
Sukma mengadakan pandangannya pada yang lain lanjut pada Affandi seraya berkata. "Iya, memang nggak memungkinkan orang sudah pada lapar, tapi kalau saja emang nggak ada paketan kayak gini, ya ... terpaksa aku masak seadanya di dapur," sahutnya Sukma tidak kalah pelannya dari suara Alfandi.
"Terus kapan saya bisa dimasakin lagi? saya nggak minta macam-macam kok, cuman minta dimasakin nasi goreng," bisik kembali Affandi, namun matanya bergerak melihat ke arah yang lain.
Sukma menarik senyumnya sambil menggeleng, dia tidak lagi menjawab melainkan meneruskan makannya yang sempat tertunda.
"Alhamdulillah ... nikmatnya makan! apa lagi gratis seperti ini," ucap Mimy sambil mengangkat wajahnya yang tadi menunduk pada makanan.
"Beneran Kak Mimy. Setiap makanan yang dibawa oleh Om Alfandi selalu enak dan bikin ketagihan," tambahnya Jihan sambil mengedarkan pandangan pada Mimy dan Alfandi.
"Semoga rejeki, Om Al. Semakin melimpah ya?" timpal Marwan penuh doa.
"Aamiin ..." suara mereka begitu serempak.
"Makasih ya, Wan? atas doa nya! yang penting juga sehat, Om nya agar bis beraktifitas apa pun." Sorot netra Alfandi tertuju pada anak ABG tersebut.
Selesai makan, Alfandi pun bergegas berpamitan. Kebetulan waktu sudah menunjukan malam.
"Tunggu?" panggil Sukma pada Alfandi yang tangannya sudah memegangi dan menarik handle pintu mobil.
Alfandi menoleh ke sumber suara, dimana Sukma berjalan menghampiri, menenteng jas miliknya yang mungkin ketinggalan tadi di dalam.
"Ini jas nya ketinggalan!" Sukma menyerahkan jas tersebut ke pemiliknya.
"Terima kasih ya?" Alfandi mengambil jas itu sambil tersenyum. Sejenak netra mereka berdua saling bertukar pandangan seiring suasana hati yang tidak karuan.
"Em ... ya sudah, aku masuk dulu ya? oya hati-hati?" Sukma berbalik hendak melangkah kembali masuk ke dalam rumah.
Namun tangan Alfandi meraih pergelangan tangan Sukma, sehingga menghentikan langkah Sukma dan dengan refleks berbalik.
Kedua manik mata Sukma bergerak mengarah pada Alfandi lantas turun ke arah tangan Alfandi yang memegang tangannya.
Lantas Alfandi pun gegas menarik tangan dari tangan Sukma. "Maaf?" Alfandi menjadi salah tingkah.
Apalagi Sukma yang merasakan jantung dag-dig-dug bagai bedug yang ditabuh. Bagai melompat-lompat, sulit ia kendalikan.
"Em ... maukah menjadi istri saya?" pertanyaan dari Alfandi bagaikan bak suara geledek yang dengan tiba-tiba membuat yang mendengarnya merasa kaget.
Mulut Sukma menganga, matanya terbelalak dengan sempurna ke arah Alfandi, sungguh dia tidak menyangka kalau akan mengatakan demikian. Dia kira kalau kata-kata istri itu hanya candaan.
"Kau, tidak perlu menjawab sekarang. Sudah malam, saya mau pulang dulu! Assalamu'alaikum?" tanpa menunggu jawaban, Alfandi langsung memasuki mobilnya dan langsung menyalakan mesinnya.
Sukma yang masih mematung di tempat, matanya seakan tidak berkedip menatap kosong ke arah bekas mobil Alfandi.
Mimy yang keluar dari kontrakan Sukma, merasa heran melihat sahabatnya itu mematung di tempat.
"Ma? kau kenapa?" tanya Mimy yang tidak mendapatkan respon dari Sukma.
Sukma hanya diam tak bergeming, bagai jiwa yang kosong.
"Ma ... kau kenapa? kesurupan apa sih lu, Ma ..." Mimy menggoyangkan bahu Sukma.
Mimy tampak cemas melihat sahabatnya seperti itu, hampir saja dia berteriak memanggil Jihan dan Marwan.
Namun Mimy urungkan niat itu, seiring bergeraknya kepala Sukma menoleh ke arah dirinya. "Ma? lu kenapa, Ma? jangan bikin panik gue dong ...."
"Emang gue kenapa? kok kamu panik banget sih, My?" Sukma mengulas senyumnya yang tipis.
"Ya Tuhan ... gue panik setengah mati begini, lu masih bertanya? lu, yang kenapa?" Mimy mengelus dadanya yang tampak shock.
"Aku tidak kenapa-kenapa kok, aku baik-baik saja! emangnya kenapa? aneh deh." Sukma berjalan menuju pintu.
Mimy menyusul sampai pintu. "Beneran kau tidak kenapa-kenapa, Ma? Ama? yakin kau tidak kenapa-kenapa? selidik Mimy.
Sukma membalikan tubuhnya menghadap ke arah Mimy sambil tersenyum lebar. "Aku baik-baik saja!"
Sejenak Mimy menatap lekat ke arah Sukma seakan ingin menyelami dalamnya hati Sukma. Lalu dia pun berlalu pulang.
Sukma masuk sambil menghela napasnya yang terasa sesak itu. Ia hembuskan lalu ia menghirup lagi sebanyak-banyaknya. Kepalanya menggeleng pelan seraya bergumam.
"Ya Allah ... apa dia serius? gimana ini. Dia itu suami orang! berdosa kah bila aku mengangumi nya?" tubuh Sukma merosot ke lantai tepat depan pintu yang sudah dia kunci.
Sukma menyadari kalau dia sudah menyimpan rasa pada pria yang sudah beristri itu. "Ya Allah ... buangkan perasaan terlarang ini dari hatiku. Jangan biarkan aku menjadi pengganggu rumah tangga orang."
Sukma menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Dia menangis, hatinya terasa sakit mengingat dia. Sakit? bukan karena benci, melainkan dia sudah memendam rasa.
...---...
Di dalam mobil, Alfandi melamun memikirkan gadis itu yang bikin hatinya selalu bergetar. Alfandi tahu kalau dia sudah beristri dan memiliki anak! namun ia memantapkan hati untuk menikahi gadis itu dan akan berusaha berbuat adil dalam segala hal.
"Gadis itu selalu buat hati ku bergetar, aku menyayanginya. Aku akan menikahi mu agar kebaikan yang ke berikan itu semakin jelas karena akan menjadi kewajiban." Gumamnya Alfandi sambil memutar setirnya.
Dan bila Sukma sudah menjadi istrinya. Gak mungkin dia menolak segala kebaikan yang Alfandi berikan padanya, Alfandi ingin gadis itu kembali kuliah untuk menggapai cita-cita nya menjadi perawat.
Alfandi pun sudah menyiapkan sebuah rumah dari kemarin-kemarin untuk Sukma dan adik-adiknya di kawasan yang tidak jauh dari sekolahan nya Jihan dan Marwan.
Namun belum Alfandi bicarakan dengan serius, sebab dia tahu kalau Sukma akan menolaknya. Seperti mau di beri ponsel dan kartu ATM pun gadis itu tolak. apalagi ini rumah?
"Huuh ..." Alfandi membuang napasnya itu. Lalu memasukan mobilnya ke dalam pekarangan yang sudah di bukakan oleh scurity.
Alfandi bergegas masuk ke dalam kamarnya, namun sebelumnya mengecek kedua putranya yang sudah tampak tidur lelap sebab memang malam sudah larut. Mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan kamarnya yang masih tampak sepi dari kehadiran sang istri.
Setelah membersihkan dirinya, Alfandi langsung berbaring meluruskan tubuh nya di atas tempat tidur. Menatap langit dengan pikiran melayang, yang terbayang adalah wajah cantik Sukma yang bertubuh mungil. Beda dengan tubuh sang istri yang body gold.
Cklek. Pintu di dorong dari luar, terlihat Vaula datang menjinjing tas nya, berjalan gontai mendekati kaca rias. Melirik sekilas ke arah Alfandi yang terbangun dari baringnya.
Alfandi turun lantas menghampiri sang istri. "Baru pulang sayang? sudah jam berapa nih?
"Ya ... namanya juga sibuk, Pah ..." sahutnya Vaula.
"Terus kapan gak sibuk nya? setidaknya luangkan buat anak-anak, dia ingin liburan sama mamanya." Alfandi mengusap lembut bahunya sang istri lalu mencium kepalanya.
"Kan bisa liburan sama kamu, Pah. Jangan dibikin ribet deh? lagian Minggu ini aku akan ada seminar di Eropa," ungkap Vaula sambil membuka aksesoris yang dia pakai.
Alfandi tidak lagi bicara, melainkan dia kembali ke tempat tidur kembali berbaring, sementara Vaula beranjak ke kamar mandi.
Tidak lama kemudian Vaula kembali dengan pakaian malamnya yang menggoda iman. Begitupun dengan Alfandi yang menginginkan sang istri yang lama tidak ia datangi.
"Mah?" panggil Alfandi sambil mendekati sang istri yang sedang menarik selimutnya.
Alfandi menyentuh pipinya dengan lembut dan mengecupnya sangat mesra. Lalu berpindah ke pipi kiri dan kening dan berakhir di bibir yang lama tidak pernah dia sentuh. Perlahan turun ke leher.
Vaula hanya diam dan tidak merasakan apapun kecuali rasa geli yang menjalar ke tubuhnya. Tidak ada nafsu atau hasrat yang menguasai. Benar-benar sudah mati rasa.
Melihat sang istri yang tidak merespon atau bagaikan pohon pisang yang tak bernyawa. Membuat Alfandi menghentikan aksinya yang padahal sudah kebelet dan menguasai dirinya saat ini.
"Sayang, apa kau tidak mengerti kalau aku menginginkan mu, selalu merindukan mu." Bisik Alfandi tepat di telinga Vaula.
"Aku capek!" ucap Vaula begitu singkat dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal.
Alfandi melongo. Dan tangannya meremas bantal dengan kuat, kesal, marah. Kecewa dengan sikap sang istri yang selalu dingin padanya, berkali-kali Alfandi menelan saliva nya. Dia harus menahan hasratnya yang sudah naik ke ubun-ubun serat sangat menyiksa dirinya.
"Buat apa kau berpenampilan menggoda kalau kau tidak mau bertanggung jawab? mana kewajiban mu sebagai seorang istri? aku bukan patung yang tidak mempunyai nafsu. Aku orang hidup dan aku adalah pria normal yang butuh belai kasih sayang." Alfandi bangkit lalu turun dari tempat tidur meninggalkan kamar tersebut.
Vaula mengeluarkan kepalanya sebentar melihat ke arah punggung Alfandi yang berlalu pergi. Namun dia tidak perduli pada suaminya itu.
Alfandi masuk ke ruang kerjanya dan di sana ada sofa panjang. Dia duduk di sana mengusap wajahnya kasar mengacak rambutnya, tampak frustasi. Dia menangis yang tertahan, dadanya terasa begitu sesak, dia tersiksa dengan hasratnya yang teramat menggebu. Namun tak dapat ia lampiaskan pada tempat yang seharusnya dan akhirnya sangat menyiksa diri.
Alfandi melempar bantal sofa hingga di ruangan sangat berantakan. Tubuhnya bergetar dan menggigil, perasaan ini sungguh menyiksa dirinya.
Sesaat kemudian Alfandi membawa langkahnya meninggalkan tempat tersebut. Melarikan mobilnya dengan kecepatan tinggi entah kemana tujuannya itu ....
.
.
...Bersambung!...