
"Apa Nyonya sudah pulang?" tanya Alfandi pada bibi.
"Belum, Tuan. Em ... maaf Tuan, tadi Aden Fikri pulang di antar ibu gurunya. Katanya Aden Fikri membuat ulah, berantem sama teman sekelasnya, Tuan." Bibi berkata sembari mengangguk.
Alfandi menghela napas dalam-dalam lalu ia buang dengan sangat kasar. "Sekarang ibu gurunya di mana?"
"Ibu gurunya sudah pulang, Tuan!" sahut Bu Nunung."
"Fikri nya sekarang di mana?" tanya lagi Alfandi sambil mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan.
"Aden Fikri ada di kamarnya." Sahutnya lagi Bu Nunung.
"Bibi siapkan makan siang buat saya?" teriak Firza dari atas tangga.
"Iya, Den sebentar!" balas bibi buru-buru hendak ke dapur.
"Sekalian buat saya juga ya, Bi? saya mau menemui Fikri dulu." Alfandi membawa langkahnya ke kamar putra bungsunya.
Derap langkah terdengar begitu cepat, sebab dengan langkah yang lebar. Sehingga dalam waktu singkat Alfandi sudah berada di depan pintu kamar Fikri.
Handle pintu Alfandi dorong namun terkunci dari dalam. "Huuh." Alfandi membuang napas dari mulutnya.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
Daun pintu Alfandi ketuk dengan teratur. "Fikri, buka pintunya? Papa ingin bicara!"
Heningh!
Tidak ada sahutan dari dalam jangankan suara anak itu. Suara cicak pun tak terdengar di telinga Alfandi saat itu.
"Sayang, Papa mau bicara! buka pintunya? Papa yakin kalau anak Papa ini tidak tidur. Jadi pintunya buka, cepetan?" Pekik Alfandi dari balik pintu.
Fikri yang di dalam sedang bermain games pura-pura tidak mendengar perkataan papanya.
Membuat Alfandi merasa jengkel dan berputus asa untuk membujuk anak bungsunya itu. Beberapa kali tangan Alfandi memutar handle namun tetap sama terkunci.
"Fikri, dengerin kata Papa, kalau dalam hitungan ke tiga tidak di buka juga ini pintu. Papa gak segan-segan akan mendobraknya." Alfandi kembali memekik.
Alfandi mulai menghitung dari satu sampai tiga. "Satu, Dua. Ti--"
Ceklek. Handle pintu di putar dan pintu terbuka sedikit. Dan langsung Alfandi buka lebar-lebar. Tampak Fikri berdiri dengan kepala menunduk dalam. Lalu Alfandi mengajaknya masuk dan duduk di atas tempat tidur.
Sebelum bicara, Alfandi menghela napas lebih dulu dan berusaha mengontrol emosinya, yang sedari tadi maunya meledak-ledak. Ini kesekian kalinya harus berurusan dengan tingkah nakal sang putra.
Alfandi tatap anak itu yang terus menunduk dan mungkin Merasa bersalah, yang sudah ketara dari sikapnya juga. "Kata Bibi, tadi Fikri pulang sama ibu guru dan katanya Fikri berantem sama teman-teman, apa benar?"
Anak itu bungkam sementara, tidak sekilas pun menatap atau menolah ke arah sang ayah.
Jari telunjuk Alfandi mengangkat dagu Fikri supaya melihat ke arahnya. "Pandang Papa! dan jawab kenapa harus berantem yang kesekian kalinya? Fikri, Papa masukan sekolah. Sebab biar Fikri pinter, bersosial dengan baik. Mencari teman yang banyak bukan musuh."
Netra nya Fikri bergerak melihat ke arah wajah Alfandi yang tampak marah namun tertahan. "Maaf, Pah." Cuma itu saja yang keluar dari mulut Fikri kemudian menunduk kembali.
Alfandi kebingungan harus berkata apa lagi, kepalanya berasa mau pecah. Tangan Alfandi mengusap kepala si bungsu. "Ya sudah, besok minta maaf ya sama kawannya dan janji sama Papa. Bahwa Fikri tidak akan mengulanginya lagi."
Anak itu mengangguk pelan. Hatinya sedih, kenapa yang lebih ada dan memperhatikan anak-anak itu papanya? bukan sang bunda yang seharusnya lebih-lebih selalu ada buat anak-anaknya.
"Belum makan kan? yu makan sama Papa," Alfandi menarik tangan anak itu untuk makan.
Dan anak itu menurut, mengikuti langkah sang ayah yang terus memegang tangannya sampai berhenti di depan meja, Dimana Firza sudah berada dan menikmati makan siangnya.
Alfandi sebelum menarik kursinya, membuka jas terlebih dahulu. Lalu langsung menyantap makannya dengan lahap. Sesekali melirik kedua putranya yang sedang makan itu.
Firza dan Fikri hanya diam tanpa menyahut perkataan sang ayah. Tatapan matanya penuh sorot dingin kurang bersahabat.
"Papa mau bertanya. Kalian suka kegiatan apa? musik atau olahraga? atau mau les apa? nanti Papa dukung dan daftarkan." Tambah Alfandi kembali.
"Les musik dan olah raga." Firza singkat.
"Oke, besok Papa daftarkan ke tempat les terdekat. Kegiatan olahraga ada di sekolah seperti basket atau--"
"Basket." Firza bergumam dengan cepat memotong perkataan sang ayah.
"Boleh, Papa setuju. Fikri maunya apa? les bahasa Inggris atau apa hem?" Alfandi kembali bertanya pada putra bungsunya di sela-sela mengunyahnya.
"Fikri mau ... les musik gambus," sahut anak itu.
Alfandi tercengang mendengar putra bungsunya ingin les musik gambus. "Musik gambus? tidak salah, em maksud Papa ... Fikri yakin ingin belajar itu?"
Anak itu menunjukan dua kali anggukan, sebagai jawaban kalau dia ingin belajar yang tadi dia ucapkan.
"Baiklah, akan Papa carikan tempat nya ya? sekarang ... ayo habiskan makannya." Menunjuk makanannya masing-masing.
Saat ini waktu sudah menunjukan pukul 22.30 wib. Alfandi menunggu kepulangan sang istri yang belum pulang juga.
Alfandi duduk di sofa ruang tengah sambil menonton televisi. Sesekali matanya bergerak melihat ke arah pintu utama yang senagaja masih terbuka.
Sesaat kemudian. Terdengar suara mesin mobil Vaula memasuki garasi. Tidak lama kemudian terlihat Vaula berjalan dengan gontai memasuki rumah mewah tersebut.
"Kok pintu terbuka sih? malam tau ... banyak nyamuk." Suara Vaula sambil menutup pintu dan menguncinya.
Lantas berjalan menghampiri sang suami yang menatapnya tajam.
"Kenapa baru pulang, jam berapa nih?" menunjuk jam yang berada di tangannya itu.
"Baru selesai pemotretan. Kenapa? bukankah emang biasanya seperti ini?" Vaula menatap angkuh.
"Kamu harus ingat. Punya anak dan suami yang perlukan perhatian, jangan kerjaan dan kerjaan terus yang kamu utamakan." Alfandi dengan nada dingin.
"Aku kerja, bukan main-main gak jelas." Vaula menegakkan duduknya berhadapan dengan Alfandi.
"Aku gak bilang kamu main-main, aku cuma bilang! tidak harus selalu kerjaan yang kamu perhatikan. Anak-anak juga butuh perhatian, Mah." Suara Alfandi meninggi.
"Mereka sudah besar-besar. Bukan anak kecil lagi yang harus diperhatikan setiap waktu Pah." Suara Vaula tidak kalah tingginya.
"Tau gak? hari ini anak-anak membuat ulah di sekolah, ada yang berkelahi. Ada yang merokok di kelas, menentang pelajaran dari guru. Tau gak? se--"
"Oo! itu yang mau kamu bilang? ngomong aja langsung gak harus muter-muter dulu." Vaula tampak angkuh dan tampak menentang suaminya.
"Kau tau kenapa ha? karena kurangnya perhatian dari seorang ibu. Memang mereka sudah besar, tapi mereka juga tetap membutuhkan perhatian dari orang tuanya," ungkap Alfandi.
"Aku sibuk, dan suatu saat mereka juga akan mengerti kok!" balas Vaula.
"Suatu, saat. Bukan sekarang! mereka protes kalau mereka ingin perhatian dari ibunya." Tambah Alfandi lagi.
"Kan ada kamu yang menggantikan ku? kenapa harus ribut sih?" Vaula berdiri dan berlalu begitu saja. "Aku capek."
"Mah? aku belum selesai bicara!" ucap Alfandi sembari menatap kepergian sang istri yang menaiki anak tangga ....
.
.
...Bersambung!...