Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Season 2



Setelah beberapa jauh, akhirnya kedua netral mata Firza menemukan keberadaan mobil milik Excel yang terparkir cantik di depan sebuah restoran mewah di jalan xx.


"Oh di sini rupanya dia nongkrong, eh nongkrong. Makan." biaya pun bergegas turun dari motornya membuka helm, mengenakan kacamata hitam dan menutupi kepalanya dengan penutup kepala dari hoodie nya yang berwarna hitam.


Lantas berjalan memasuki restoran tersebut dan tetap mencari-cari keberadaan Jihan dan Excel.


"Di mana dia? masa mobilnya terparkir di depan restoran mewah, tapi orangnya berada di warung! kan nggak mungkin ha ha ha ..." gumamnya Firza sambil tersenyum kecut.


Sehingga pada akhirnya dia temukan juga orang-orang yang sedang dia cari, lalu dia duduk di sebuah kursi yang agak sepi dan terhalang beberapa pelanggan. Yang penting netra matanya bisa mengawasi Jihan dan Excel yang terlihat sedang menikmati makan malamnya dengan sangat romantis.


"Seperti yang kamu tahu ... aku sangat cinta sama kamu Jihan. Kamu sangat cantik dan sempurna di mataku!" ucapan Excel penuh rayuan.


Wanita yang tengah mengenakan kerudung berwarna coklat muda dan setelan senada itu tersipu malu. "Aku tahu, karena ucapan itu sudah sering dengar dari bibir kamu!"


"Ha ha ha ... Oh ya! sudah sering kau dengar ya? berarti aku selalu lupa kalau sudah mengatakan itu padamu!" Excel terkekeh sendiri.


Kemudian dia merogoh sakunya mengambil sebuah kotak perhiasan yang berwarna merah kemudian ia buka.


Jihan ikut melihat setiap pergerakan tangan Excel yang membuka kotak perhiasan warna merah tersebut, dan ternyata di dalamnya sebuah cincin yang bermata merah. Sebagai perempuan normal, tentunya suka keindahan begitupun dengan Jihan. Merasa terpukau dengan keindahan cincin tersebut.


"Masya Allah ... cantiknya, seandainya aku bisa membeli itu! sabar ... nanti jika kamu sudah sukses apapun bisa kamu beli. Untuk sekarang kamu hanya bisa sabar!" gumamnya Jihan dalam hati.


Lagi-lagi Excel melemparkan senyumnya kepada Jihan seraya berkata. "Apa kau suka dengan cincin ini? tapi ... kalau feeling aku sih, kamu pasti suka dan tidak ayal menginginkannya bukan?"


Jihan mengatupkan bibirnya seraya mengarahkan pandangan ke arah cincin tersebut! dalam hati dia bergejolak. "Aku rasa setiap wanita pun pasti menyukai keindahannya perhiasan! begitupun dengan diriku suka? iya, menginginkannya itu wajar! tapi kok, aku merasa ... nada bicara kamu menyinggung karena aku gadis yang gak punya!"


"Kok kamu terdiam? bicaralah apa kamu menyukainya!" Excel kembali bertanya seraya menautkan kedua alisnya, kemudian dia meneguk minuman buah yang berada di tangannya tersebut.


"Em ... aku rasa setiap wanita pun pasti menyukai keindahannya dan tak ayal ingin memilikinya! tapi aku tidak akan menginginkan sesuatu yang bukan milikku," Jihan sedikit menggelengkan kepalanya.


Excel menatap begitu lekat ke arah wajah cantiknya Jihan! yang tampak teduh, menenangkan dan sejuk di pandang mata.


"Seandainya nih menjadi milik mu bagaimana?" selidiknya Excel sambil menggerakkan matanya melihat ke arah cincin yang berada di dalam kotak dan juga Jihan bergantian.


"Tapi rasanya tuh ... tidak mungkin dan ... pokoknya tidak mungkin aja!" Jihan kembali menyuapkan makanan ke mulutnya, sebuah potongan daging disertai sayuran.


"Ehem. Aku kan belum meresmikan hubungan kita, kita itu sudah pacaran dan saat ini aku ingin lebih memiliki mu--"


"Memiliki gimana? bukannya memiliki itu sebuah hubungan yang lebih intens? seperti suami istri! sementara kita masih pacaran, lagian aku belum siap untuk sejauh itu. Aku masih ingin kuliah yang baru seumur jagung ini, aku ingin menjadi seorang yang sukses!" ujarnya Jihan dengan nada yang insecure.


"Maksud aku ... biar lebih resmi aja gitu pacarannya," Excel meralat perkataannya barusan. Kemudian mengeluarkan cincin itu dan meminta jari kelingkingnya Jihan.


Jihan mengarahkan pandangan pada tangannya yang dia tarik menjauh dari tangannya Excel.


"Mana jarimu, sini aku pakaikan cincinnya?" Excel meminta jemarinya Jihan yang ditarik begitu saja.


Karena dalam pikirannya Jihan, pacaran itu pasti akan menuntut lebih, yang di antaranya ... seperti menikah, sementara dia belum siap menikah sampai dia benar-benar menjadi orang yang sukses nanti.


"Lho ... kenapa say? aku tuh sayang sama kamu tulus. Dan aku nggak akan berharap lebih, kita cukup jalani saja hubungan kita dengan baik! dan berkomitmen bahwa kita akan saling setia!" ujarnya Excel dengan perasaan herannya.


"I-iya aku tahu kita pacaran dan jalani dengan baik, saling setia! saling percaya dan menjaga, tapi untuk menerima cincin itu rasanya aku kurang percaya diri!" Jihan menunjukkan barisan gigi putih sayang tampak sangat rapi disertai dengan perasaan yang tidak menentu.


"Terus, kamu tidak mau menerima cincin pemberian dariku. Aku ikhlas kok memberikannya untuk kamu dan ... kecewa sekali jika kamu menolaknya! sama aja kamu memutuskan hubungan kita--"


"Kok kamu bicara seperti itu, apa hubungannya?" Jihan langsung memotong perkataan dari Excel.


"Ya ... karena kamu tidak mau menerima cincin dariku, sebagai tanda aku lebih serius sama kamu. Sebagai bukti aku sayang sama kamu!" Excel terlihat kecewa.


"Bukan-bukan begitu maksud aku--"


"Apa mungkin kamu menyerah kalau cincin ini palsu? tidaklah ini cincin asli lho ... nggak mungkin aku memberi kamu cincin yang palsu. Kalau kamu nggak percaya silakan aja dicek keasliannya!" Excel khawatir dikira cincinnya palsu.


"Ooh, aku percaya kok." Jihan sedikit menggeleng. Merasa tidak enak.


Detik kemudian mereka berdua terdiam. Tidak ada kata yang terucap selain sesekali saling berinteraksi dengan pandangan mata. Dengan bermacam perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.


Jihan menyatukan kedua tangannya di atas pangkuan yang terasa berkeringat dingin dan dia kelimpungan merasa tidak enak sama Excel, diterima takut dikira cewek matre. Nggak diterima orangnya nanti kecewa.


Dan pada akhirnya Jihan berusaha mengangkat wajahnya yang tertunduk sementara waktu, kemudian dia berkata. "Kalau begitu ... baiklah aku terima cincin itu!"


"Serius. Kamu menerimanya? wah terima kasih ya say. Aku semakin cinta deh sama kamu!" raut wajahnya Excel berubah menjadi sumringah dan tampak bahagia mendengar ucapan dari Jihan yang menerima cincin pemberiannya itu.


Jihan pun mengangguk kan kepalanya seraya melepas pandangannya ke arah sekitar, dan tiba-tiba manik matanya melihat sosok seseorang yang merasa sangat dia kenal.


"Itu kan. Firza ... ngapain dia di sini? jangan-jangan memata-matai ku!" gumamnya Jihan dalam hati sembari celingukan mencari-cari. Siapa tahu Firza itu bersama teman-temannya! tapi nggak ada segelintir orang pun yang dia kenal.


"Kenapa Sayang, ada apa?" sedikit Excel semuanya melihat ke arah yang Jihan pandangi.


"Och tidak, tidak apa-apa kok ... Oya, kamu mau memberi aku cincin bukan?" Jihan mengalihkan pembicaraan.


"Buat apa sih? di kulkas ke sini? jangan bilang kamu itu ngikutin aku ya, awas!" lagi-lagi Jihan bermonolog dalam hati.


Firza memang sedari tadi memperhatikan Jihan dengan intens. Sambil bergumam sendiri. "Aku lihat mau sampai kapan sih kamu bertahan sama dia. Tajir iya ... tapi kau belum tahu aja siapa dia yang sebenarnya."


Firza meneguk minumnya lalu langsung membuang muka nya saat Jihan menoleh ke arah dirinya ....


.


Mohon like dan komen ya ... agar aku tambah semangat. Makasih