Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Season 2



Kini Alfandi dan keluarga sudah berada di sebuah Bandara yaitu untuk acara berlibur ke Bali.


Masing-masing membawa tas punggungnya yang berisi pakaian. Kecuali Alfandi yang membawa koper karena pakaian bertiga disatukan menjadi satu. Dan Syakila di dudukkan di atas koper yang didorong oleh sang ayah.


"Setelah sekian lama baru kali ini menginjakkan kaki di bandara lagi!" gumamnya Marwan.


"Bener Kak, berapa tahun ya kita nggak main ke bandara lagi. Apa lagi untuk liburan!" simpannya Fikri sambalnya berjalan.


"Entah aku juga lupa!" jawabnya Marwan.


"Cowok kamu nggak diajak jalan, atau sekedar mengantar gitu?" gumamnya Firza sambil melirik sekilas dengan ujung matanya ke arah Jihan.


"Kamu sendiri kenapa cewek kamu nggak diajak?" Jihan tanpa menoleh ke arah Firza.


"Nggak ada cewek sekarang, alias jomblo. Lagi malas terikat!" jawabnya Firza sambil terus berjalan.


Sejenak Jihan menghentikan langkahnya seraya berpikir! apa benar sekarang Firza tidak ada pacar, termasuk Puspa yang sudah diputuskan?


"Kenapa Puspa kamu putuskan? dia kan baik perhatian sama kamu, apa yang kurang dari dia? cantik, menarik. Baik!" Jihan menyusul langkahnya Firza dan yang lain sudah berada lebih depan.


"Buat apa dipertahankan? dia sendiri yang maunya kayak gitu kok!" jawabnya Firza dengan nada dingin.


"Bukan gara-gara aku kan kalian putus? bukan karena kamu sering nemenin aku kan?" selidiknya Jihan.


"Entahlah aku nggak tahu, sudahlah enggak usah bahas lagi." Firza langsung menarik tangannya Jihan ketika dia naik lift.


Jihan hanya menatap tangannya yang sedang digenggam oleh Firza. Dan jantungnya berdegup sangat kencang dan melebihi dari normal.


Sementara yang lain berada di depan mereka berdua. Sehingga tidak melihat kalau Firza menggandeng tangannya Jihan.


Saat ini mereka sudah berada di dalam pesawat, Alfandi duduk berdampingan dengan kursi yang Sukma tempati juga Syakila.


Marwan pendampingan dengan Fikri. Jihan sendiri duduk di dekat jendela dan di sampingnya yaitu Firza.


Sesekali mereka saling tatap dan senyuman yang entah mengandung arti apa, yang jelas keduanya berasa ada debaran yang sulit di artikan.


Pesawat mulai merayap dan lepas landas di ketinggian beberapa ribu kaki. Mulanya bikin merinding dan jantung berhenti berdetak ketika melihat dari ketinggian.


"Kenapa, kamu takut ketinggian?" tanya Firza dengan suara pelan.


Jihan hanya menggeleng serta menunjukkan wajah cemasnya wajah yang tampak pucat.


Sukma pun menoleh ke arah belakang di mana sang adik duduk di belakangnya bersama Firza. "Jangan kuatir Jihan tenang kan banyak-banyak berdoa!"


Lagi-lagi Jihan mengangguk sambil di arahkan pada sang kakak. "Iya, Kak!" memejamkan manik matanya kuat-kuat dan berdoa dalam hati.


Firza memperhatikan gadis itu yang mulai kembali wajahnya bercahaya. Tidak sepucat tadi di awal.


Bibir Jihan komat kamit dan sempat memegangi tangan Firza dengan sangat kuat.


Setelah melewati jarak tempuh sekitar kurang lebih 2 jam akhirnya pesawat pun landing di bandar udara internasional Gusti Ngurah Rai Bali.


Dan setelah pemeriksaan data-data. Mereka pun langsung mendatangi hotel yang sudah dipesan sebelumnya.


Yang pertama didatangi adalah kamar masuknya dan juga sekecil Syakila. Lalu kemudian tunjukkan kamar buat Jihan karena perempuan satu-satunya Jihan di kamu sendirian.


Sementara yang lain Marwan satu kamar bersama Fikri dan Firza sendiri.


"Nah ... Fikri kalian sudah mendapatkan kamar masing-masing. Jadi silakan istirahat dulu nanti sore kita jalan-jalan ke pantai!" ucapnya Sukma lalu keluar dari kamarnya Jihan.


Jihan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang kamar hotel tersebut. Berjalan mendekati jendela besar yang menunjukan pemandangan pantai yang terbentang indah.


"Masya Allah cantik nya." Gumam nya Jihan sambil tersenyum mengembang melihat pemandangan laut.


Membuka lebar gorden dan ternyata ada pasang mata yang memandangi ke arah Jihan.


Yaitu pasang mata Firza yang melihat ke arah Jihan. Dengan debaran yang tidak menentu, pandangannya begitu lekat dan dalam.


Firza menghirup udara sebanyak-banyaknya dari sekitar lalu menggercapkan netra mata nya seakan tidak ingin mengalihkan pandangan sedikitpun.


Kemudian dia masuk membawa langkahnya mendekati tempat tidur menjatuhkan tubuhnya di sana.


Sukma yang sedang menidurkan Syakila menepuk-nepuk pinggulnya. "Bobo ya. Nanti sore kita jalan-jalan ke pantai."


"Syakila dah bobo?" Al menoleh pada sang istri yang baru saja mendudukan dirinya di samping menemaninya duduk.


"Hem ..." Sukma menyenderkan kepalanya di bahu Alfandi.


Tangan Alfandi mengusap kepala nya Sukma sesaat. "Kenapa? istirahat lah sayang, capek."


"Ya sudah aku mau istirahat dulu ya. Emang kamu nggak capek?" Sukma balik bertanya.


"Capek, tapi kalau capek begini pengennya olah raga--"


"Oh, ya sudah kalau mau olah raga." Sukma mengangkat bokongnya dari atas sofa.


"Kan olah raga nya harus berdua sayang, gak bisa sendirian." Alfandi memainkan mata nakalnya.


"Iih, capek!" Sukma mengayunkan langkahnya ke tempat tidur.


Hari sudah menjelang sore dan Sukma sudah mandi dan juga Syakila sudah lari-lari dan merengek ingin segera keluar.


"Mommy, ayo jalan ke pantai." Rengek Syakila sambil menarik tangan Sukma.


"Sebentar sayang ... tungguin papa dulu masih mandi." Sukma sembari meyiapkan pakaian Alfandi.


"Iih, lama ... papa lelet. iih," Syakila menghentakkan kakinya.


"Ya sudah, mommy antar Syakila ke kamar Tante Jihan ya, dan tunggu di sana." Sukma berjongkok dan memegangi tangan Syakila.


"Mau-mau. Aku mau ke sana, tempat nya Tante." Syakila sangat antusias dan berjingkrak.


Lalu Sukma mengantarkan Syakila ke kamarnya Jihan. Keduanya berjalan dan Sukma menuntun tangan kecil Syakila hingga langkahnya terhenti di depan kamar Jihan.


Brugh.


Brugh.


Syakila menggedor daun pintu kamar Jihan. "Tante ... Tante Ji ... lagi apa?"


Bibir Sukma tersenyum melihat ke arah putrinya yang terus menggedor pintu hingga pintu tersebut terbuka.


"Hi ... anak cantik bikin gemes." Jihan langsung berjongkok dan mencubit kedua pipi Syakila yang chubby.


"Jihan, titip dulu sebentar ya, Kakak mau nungguin dulu Abang, Syakira sudah tidak sabar ingin segera keluar. Adan bawa saja keluar akak yang lain." Sukma pada Jihan yang langsung mengangguk.


Kemudian Sukma berjalan meninggalkan Jihan dan putri kecilnya, lalu Jihan membawa Syakila menuju kamar Marwan dan Fikri.


"Apang, om Wawan ... ayo ... kita jalan ke pantai." Teriaknya Syakila sambil di tuntun Jihan.


"Iya bentar Abang lagi pup ..." suara Marwan dari dalam dan tidak lama kemudian pintu pun terbuka.


"Om, ayo ... kita main ke pantai!" ajaknya Syakila sambil menatap ke arah Marwan.


"Iya bentar, kan Abang masih di toilet." Sahutnya Marwan sambil menoleh ke dalam.


"Alah ... tinggalin saja Anang nya gak usah di tungguin," suara Firza dari arah belakang Jihan.


Jihan menoleh pada sumber suara. Menatap ke arah Firza yang mengenakan outfit kaos hitam pendek dan celana pendek banyak saku nya. Topi Dior hitam.


"Kenapa, terpesona ya!" Firza dengan nada dingin.


"Apaan sih, naksir? gak salah apa?" Jihan tidak kalah ketusnya dan mendelik.


"Sudah, jangan bertengkar. nanti jodoh." Wawan melipir di antara mereka berdua.


"Nggak mungkin!" suara Jihan dan Firza berbarengan.


Namun dalam hati berkata lain dengan perasaan yang merasakan yang sama. Sejenak mereka saling tatap dengan dalam.


Syakila berlari mengejar Marwan yang lebih dulu keluar dari area tersebut ....


.


Bersambung.