Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Mencari bukti



Vaula dan Yudi berjalan mendatangi taksi yang sudah mereka pesan sebelumnya.


"Jadi, kita jadinya di studio saja ya?" tanya Yudi sambil mendudukkan dirinya di samping Vaula, dalam taksi tersebut.


"Iya, jalan Pak? jln xx." Vaula mengarahkan pandangan pada supir taksi yang langsung terlihat mengangguk.


Taksi tersebut langsung melaju menuju jalan yang Vaula sebutkan. Dan kedua penumpangnya tampak hening.


Keduanya sok jaim, cuek. Sibuk dengan pemikirannya masing-masing, namun tangannya yang tak tampak bermain juga di atas pangkuan Vaula.


Setibanya di suatu ruangan studio. Keduanya tak buang-buang waktu buat bersenang-senang, karena ketika di luar Negeri pun mereka tidak ada waktu karena terhalang pekerjaan dan asisten Vaula yang notabene nya kekasih Yudi.


"Beb, aku cemburu bila kamu dekat dengan Rosa. Putuskan saja dia sayang?" ucap Vaula yang kini duduk di pangkuan Yudi yang duduk di sofa ruangan tersebut.


"Emangnya kau pikir aku tidak cemburu kalau kau sedang berdua dengan suami mu?" timpal Yudi sambil menciumi leher jenjang Vaula.


"Eeh, kau tahu kalau aku sudah tidak pernah berhubungan lagi dengan suami ku yang letoy itu," jawabnya Vaula gak ragu-ragu bilang seperti itu pada Yudi.


"Ah masa? kalau saja ketika kau tidur di datanginya?" tuduh Yudi menatap curiga.


"Aduh sayang ... suami ku itu jangankan memaksa aku tanpa setahu ku. Aku kasih sambil marah-marah saja, gak berani dia! apalagi nyuri?" kekehnya Vaula yang menurut dia, Alfandi itu tidak berani memaksakan kehendak.


"Benarkah? jadi kau hanya aku saja yang sentuh?" selidik Yudi kembali sambil terus mencumbu wanita tersebut dengan penuh gairah.


"Itu benar dan aku bisa menjamin. Kalau hanya dengan mu aku melakukannya. Jangan-jangan kau sendiri yang sering melakukannya dengan Rosa, ahk


... aku cemburu!" Vaula memajukan bibir bawahnya sembari menatap lekat pemuda tersebut.


"Sumpah, sayang ... aku cuma melakukannya dengan mu saja, gak ada minat lah sama wanita lain!" akunya Yuda meyakinkan.


"Hem ... masa sih ... sama Rosa tidak minat? bohong ahk. Nggak percaya sama mulut laki-laki kaya kamu." Vaula mencubit gemas hidung pemuda tersebut.


"Ahk, masa bodo lah yang penting sekarang ini bis bersenang-senang dengan mu baby." Yuda semakin menggencarkan aksinya dalam mencumbu lawan mainnya tersebut.


Vaula sangat menikmati hubungannya yang terlarang tersebut.


Dari balik tirai. Ada seseorang yang mengintip, rupanya dia masuk ke studio tersebut lebih duluan dari keduanya sehingga Yuda maupun Vaula tidak menyimpan curiga sedikitpun kalau di sana ada orang lain selain mereka berdua.


Dia seorang wanita yang berpenampilan rapi dan seksi, yaitu Rosa asistennya Vaula, dia sudah menyimpan curiga atas kedekatan sang kekasih dengan bosnya itu. Sehingga kali ini dia nekad untuk membuktikannya sendiri untuk meyakinkan hati apakah ini cuma kecurigaan atau memang ke buktiannya seperti itu.


Sesak yang di rasakan Rosa begitu menyiksa, dia berusaha untuk menahan diri supaya tidak menampakan diri di hadapan mereka berdua. Dia ingin masih mencari bukti-bukti lainnya meskipun ini sudah cukup untuk dijadikan bukti perselingkuhan mereka tersebut.


Air mata yang berjatuhan ia biarkan begitu saja dan kedua tangannya menangkup mulutnya supaya tidak bersuara. Tetapi sungguh sangat disayangkan ponsel Rosa berdering padahal baru saja ia masukan ke dalam tas setelah merekam adegan tersebut.


Yudi dan Vaula yang tengah asyik-asyiknya bercocok tanam kaget bukan main sehingga aktifitasnya terhenti namun belum juga beranjak. Hanya saling celingukan mencari sumber dari suara tersebut.


"Ahk ... beb, mungkin itu suara notif dari ponsel kamu atau punya ku!" gumamnya Yuda lalu kembali melanjutkan aksinya tersebut.


"Pelan-pelan beb, jangan terlalu bersemangat begitu santai saja napa?" suara Vaula yang tertahan.


Prok-prok. Rosa bertepuk tangan. "Hebat! ini yang kalian lakukan di belakang ku? ini skandal yang tersembunyi. Saya tidak menyangka kalau kau itu pria yang sangat aku percaya ternyata di belakang ku kau lebih dari sekedar main gila. Tetapi lebih dari itu, kamu tega."


Vaula dan Yudi begitu terkaget-kaget melihat kedatangan Rosa dari balik tirai.


"Kau?" suara Yudi dan Vaula berbarengan dengan pandangan mengarah pada Rosa.


Sungguh mereka berdua tidak menyangka kalau Rosa akan memergoki mereka berdua yang sedang asyik-asyiknya.


"Ka-kau? kenapa berada di sini? sejak kapan? dan ngapain? bu-bukankah kau itu ta-tadi mau pulang?" Vaula gelagapan dan mendorong dada Yudi.


Begitupun dengan Yudi yang gegas menghentikan aktifitasnya yang sedang tanggung-tanggung nya itu. Dengan cepat Yudi mengenakan pakaiannya.


Dengan tenang! Yudi berkata. "Apa kau sesungguhnya tidak pulang? melainkan ke sini untuk memata-matai ku hem?"


"Iya, kalian tega sama gue yang begitu percaya sama kalian sebagai kekasih dan bos." Rosa melihat juga ke arah Vaula yang kini sudah mengenakan pakaiannya dengan lengkap.


"Ha ha ha ... terus sekarang kau sudah tahu kalau kekasih mu itu ternyata lebih mencintai ku! ketimbang dirimu?" timpal Vaula mengarahkan pandangannya yang tajam itu kepada Rosa dan kini dia berusaha tenang.


"Saya tidak menyangka kalau kalian berbuat ini pada saya mengkhianati saya!" pekiknya Rosa sembari mendekati Yudi dan memukul dada pemuda tersebut.


"Ha? saya lebih memilih bos mu, karena dia bisa memberikan saya kepuasan tersendiri dan memberikan setiap yang saya mau! tidak seperti dirimu yang--"


Plak! Plak! tangan Rosa menampar pipi Yudi. "Dasar keparat? brengsek kau! kurang ajar, ternyata kau penjahat kelamin. Dibalik kerjaan mu itu penjahat?" teriak Rosa kembali.


Tangan Yudi meraih tangan rosa dan menghempaskan nya. "Kau pikir kau siapa ha? kau hanya kekasih yang sesungguhnya aku tidak pernah mencintaimu."


"Saya akan bongkar semua nya pada semua orang! termasuk suami mu," ucap Rosa dengan mata yang berkaca-kaca dan suara yang bergetar.


"Oya? kau lupa, kau makan dari mana? kau lupa bila selama ini kau hidup dari saya?" Vaula menatap tajam pada Rosa yang mematung di tempat, gadis berambut pendek tampak sangat terluka dengan kenyataan ini.


"Saya tahu itu, tapi Ibu juga harus sadar! kalau Ibu itu punya anak dan suami? apa pantas bila seorang seperti anda. Berbuat yang tidak sebaiknya di lakukan?" Rosa seolah menantang pada bos nya itu.


"Saya harap kau jangan macam-macam bila ingin hidup aman? saya tahu siapa dirimu dan keluarga mu, adikmu yang sakit-sakitan itu siapa yang menjamin? jadi jangan macam-macam dengan saya! kecuali kau siap dengan akibatnya," jelas Vaula penuh ancaman.


Rosa menatap dengan dada yang semakin sesak bagai berada di ruang yang sempit tiada udara sedikitpun.


"Apa yang kau akan katakan? Meraka tidak akan percaya dengan omongan mu itu, sebab mereka pasti hanya menganggap kau itu pansos. Ingin tenar dari bos mu ini? lihat saja bila kau mengeluarkan statemen sepatah kata pun!" ancam kembali Vaula ....


.


.


...Bersambung!...


.


Mana nih komen, like dan hadiahnya?