Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Papa nackal



"Ada apa nih?" tanya Sukma dalam pelukan suaminya itu.


"Aku bahagia sayang, semua urusan ku sudah rampung di pengadilan. Dan aku yang memenangkannya, hak asuh anak-anak pun jatuh padaku!" balas Alfandi sambil terus merengkuh tubuh sang istri. Tidak perduli dengan orang-orang yang melintas dan memandangi ke arah mereka.


Hati Sukma terharu mendengarnya. Berarti kini dia menjadi istri Alfandi satu-satunya. "Aku turut bahagia."


Tangan Sukma mengusap punggung Alfandi dengan lembut. Hatinya ikut bahagia dengan kemenangan sang suami. Walau dalam lubuk hati yang paling dalam, merasa iba juga pada Vaula bagaimanapun dia seorang ibu.


"Tapi kasihan di rumah mamanya anak-anak, sudah hak asuhnya jatuh sama papanya. Anak-anak pun kurang bersahabat dengan dia!" Sukma bergumam demikian sesuai faktanya.


"Sudahlah sayang, tidak usah dipikirkan! karena siapa yang menanam dialah yang menuai, dikasihani pun percuma. Dia tetap merasa angkuh dalam kesalahan nya serta jurang dosa yang dia tempuh. Memang sih ... aku pun mendoakan semoga dia selalu dibukakan hatinya dan sadar! agar kembali ke jalan yang benar."


"Aamiin ya Allah ... aku tahu siapa yang menemani api? kemungkinan dia yang akan terbakar juga tetapi itu tidak selalu benar. Buktinya yang masak pakai api, dia nggak terbakar! justru menciptakan sebuah masakan yang enak lezat buat penikmatnya." Kata Sukma sembari mengulas senyumnya.


"Aku lapar. Bolehkah aku makan sebentar?" Sukma melepaskan diri dari pelukan sama suami.


"Kok, belum makan sayang?" tanya Alfandi menatap lekat ke arah istri.


Sukma menunjukkan senyumnya saya menggeleng. "Belum. Baru selesai ngikutin pelajaran dosen ini baru mau ganti!"


"Ya sudah, kita langsung pulang saja ya? makannya di restoran saja, oke?" ajak Alfandi sambil menuntun tangan sang istri untuk meninggalkan tempat tersebut.


Wanita muda yang mengenakan celana panjang bahan dan dress pendek itu, mengikuti langkah sang suami dengan senyuman yang begitu mengembang.


Mereka pun memasuki mobil dan mencari restoran terdekat. Cacing di perut Sukma sudah pada demo meminta makan.


Saat ini Alfandi dan Sukma sudah berada di rumah dan kedatangannya begitu dinantikan oleh Bu Puji dan suami atas kemenangan Alfandi di pengadilan.


"Ibu merasa tenang dan lega, akhirnya ... proses perceraian itu selesai juga dan kamu sudah resmi bercerai dari Vaula." Lirihnya Bu Puji sambil mengarahkan pandangan pada putranya.


Alfandi yang dengan kaki terbuka serta tanga direntangkan di bahu sofa. Di sampingnya sang istri yang duduk manis dan menyandarkan kepala di bahu Alfandi.


"Alhamdulillah, Bu ... semua berjalan terbilang lancar. Semuanya berkat doa kalian, kini aku pun merasa tenang dan ahc bebas ...."


"Tapi, aku merasa kasihan sama mamanya anak-anak--"


Alfandi langsung memotong perkataan dari sang istri. "Kenapa kasihan sayang? lebih kasihan aku dong! bertahun-tahun tidak dipedulikan. Kalau saja barang ku buatan manusia! sudah karatan nih, yang bertahun-tahun tidak diurus--"


Kalimat yang diucapkan oleh Alfandi tergantung dengan menempelnya telunjuk Sukma di bibirnya.


"Apaan sih, ngomongin itu? malu di dengar ibu dan bapak." Sukma mendelikkan matanya pada Alfandi yang malah nyengir menyunggingkan bibirnya.


"Ha ha haaa ... beneran kan sayang ... itu kenyataan!" balas Alfandi yang kian menggoda istrinya dengan cara menggigit jarinya.


"Iih, sakit. Jahat banget sih." Sukma menarik jadi telunjuknya tersebut sambil di tiup-tiup.


Pak Sardi dan istri menatap ke arah Sukma dan Alfandi sambil menunjukan senyumannya juga menggelengkan kepalanya.


Alfandi sedikit merubah posisinya menghadap ke arah sang istri cantiknya. "Aku sudah merencanakan, kalau bulan depan! kita akan meresmikan pernikahan kita. Jadi pernikahan kita akan di akui secara negara juga. Dan aku sudah daftarkan data-data kita ke KUA daerah sini."


Sukma merasa shock mendengarnya. Kok belum di bicarakan sebelumnya. Sementara kedua mertua nya ikut tersenyum bahagia mendengar itu.


Sejenak Sukma terdiam, namun dengan mata yang berkaca-kaca menatap ke arah sang suami. "Kok gak bilang dulu sih sama aku?"


"Emangnya kenapa sayang? emangnya kau tidak setuju? kalau pernikahan kita di resmikan, juga mengadakan resepsi hem?" Alfandi berkata lirih dan punggung jarinya mengusap sudut mata sang istri dengan lembut karena di sana ada buliran bening yang menggenang di sana.


"Setuju, seneng juga!" Sukma tidak mampu lagi untuk mengungkapkan perasaan nya dengan kata-kata!" dia langsung memeluk sang suami dengan sangat erat dan menyembunyikan wajahnya di sana.


Sukma menangis terharu, tidak pernah terbesit dalam pikirannya untuk mengadakan resepsi ataupun menikah ulang, dengan seperti ini pun Sukma sudah merasa sangat bersyukur.


Disayang suami, anak-anak. keuangan normal, di tambah lagi perhatian dan kasih sayang dari mertua, sungguh nikmat yang tidak terhingga bagi seorang Sukma.


"Hei ... kok nangis? apa kau tidak bahagia hidup dengan ku hem? atau masih kurang, atau kau tidak mencintai ku?" suara Alfandi pelan sambil membalas pelukan serta mengusap punggung nya sang istri.


"Terus kenapa menangis? aku tidak faham sayang ..." Alfandi mencium pucuk kepalanya Sukma dengan mesra.


"Mungkin, Neng. Terharu Fandi ... mungkin bagi Neng. Apa yang dia dapatkan itu cukup bagi dia!" tutur Bu Puji mengungkapkan yang Sukma rasakan.


Kepala Sukma yang berada di dada Alfandi pun mengangguk pelan, karena apa yang di katakan oleh ibu mertuanya sedikit menyampaikan yang ada pada dirinya.


"Sudah ah, jangan menangis." Alfandi menjauhkan kedua bahu Sukma sehingga memberikan jarak di antara keduanya.


Dengan begitu. Alfandi dapat memandangi wajah sang istri dengan sempurna. Mengusap wajahnya yang banjir dengan air mata.


"Mommy kenapa menangis? Papa nackal ya sama Mommy? sehingga Mommy menangis!" Fikri yang baru datang habis berenang, menatap heran melihat wajah mommy yang kebanjiran.


Semua menoleh pada Fikri yang basah kuyup dan air pun menetes ke bawah.


"Sayang ... ma-mandi dulu, itu air nya turun ke lantai. Kasihan bibi membersihkannya." Sukma melihat ke arah air yang terus menetes dari celana Fikri.


"Tapi, Mommy. Mommy kenapa menangis?" ulang Fikri yang masih penasaran, karena apa yang dia pertanyakan tidak mendapat jawaban.


"Mommy, menangis. Karena bahagia bukan karena sedih atau papa nakal." Alfandi menggeleng.


Fikri malah mendekat ke arah Sukma. "Bohong, Papa pasti sudah bikin mommy menangis. Papa jangan nakal dong ... kasihan mommy nya! Mommy kan yatim piatu, tidak punya ibu dan ayah."


Sukma kembali menangis, sehingga bahunya bergoyang merasa haru mendengar perkataan Fikri yang mengatakan mommy kan anak yatim piatu.


"Tuh, kan ... kata Fikri juga aku ini anak yatim piatu, papa bikin mommy nangis!" Sukma memeluk Fikri dengan erat.


"Sayang ... apaan sih?" Alfandi lagi-lagi menggelengkan kepalanya.


Selanjutnya Sukma memudarkan rangkulannya. "Fikri sayang bukan sama Mommy?" tanya Sukma sambil menatap anak itu yang masih tampak polos itu.


"Abang, Mommy. Panggil Fikri Abang!"


Yang berada di sana hanya mesem-mesem melihat tingkah Fikri yang ingin di panggil Abang.


"Oke, Abang Fikri ... sayang ya sama Mommy?" kata Sukma sembari mengusap wajahnya yang sudah mulai mengering.


"Sayang dong ... Mommy kan Mommy nya Abang!" jawabnya Fikri dengan memperlihat wajahnya tulus.


"Tapi Papa gak sayang Mommy kali ya?" canda Sukma sembari melirik ke arah Alfandi yang menatap dirinya.


"Mana ada, Papa gak sayang Mommy. Ini rekayasa dan manipulasi nih!" timpal Alfandi kembali.


"Lu cari apa, membuka kulkas?" tanya Jihan pada Firza.


"Mencari keadilan gue!" jawabnya nyeleneh.


"Kok bisa? tapi. Biasanya yang mencari keadilan itu yang di bawah tuh!" tambah Jihan.


"Ya sudah!" Firza menutup pintu kulkas bagian atas.


"Kok di tutup lagi? tanpa mengambil apapun?" selidik Jihan kembali.


"Di tutup karena ingin mengalihkan isu!" Firza membukan pintu bagian bawah dan mengambil sebotol minuman.


Dari luar terdengar suara derungsn mobil dan berhenti di halaman rumah ....


.


...Bersambung!...