Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Merindukan mu



Pada akhirnya mereka bertiga berbaring di tempat yang sama. Fikri sudah tampak tidur sangat pulas dengan belayan tangan Sukma di rambut atas telinganya.


Sementara si papa masih saja tampak grasak-grusuk di balik selimut tebalnya.


Tangan Alfandi masih saja tidak mau diam dan jalan-jalan bergerilya ke mana-mana, padahal sang empu sudah ngantuk berat.


"Al ... aku ngantuk berat nih!" Sukma menyingkirkan tangan Alfandi dari bagian tertentu milik nya.


"Apa sayang? aku juga sama nih, ngantuk." Alfandi memberi kecupan kecil di bahunya.


"Ngantuk kok, tangannya gak mau diem banget sih ... diem dong?" suara Sukma pelan sambil menoleh ke belakang sesaat.


"Aku juga diem sayang ... entah kenapa tangan ku jalan sendiri, nakal ya?" balas Alfandi sambil mesem dan kedua netranya terpejam.


"Em ..." lagi-lagi Sukma memindahkan tangan Alfandi ke perutnya dari bagian atas.


Lama-lama tiada suara lagi. Sehingga suasana begitu hening mengantar para penghuni di kamar tersebut pada alam mimpinya masing-masing.


Malam terus berlalu dan cuacanya kian malam kian dingin saja, membungkus tubuh menyelinap ke dalam kulit, menembus ke ke sela-sela tulang.


Membuat yang tidur mencari pelukan. Begitupun Alfandi semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh Sukma, kian menempel saja tubuh mereka. Satu sama lain saling saling mengeratkan pelukan.


Kepala Sukma kian menyusup ke dalam dada Alfandi yang bidang tersebut. Padahal AC pun sudah di matikan.


Fikri pun memeluk punggung Sukma sembari bergumam. "Mommy, matikan AC nya. Peluk aku kedinginan."


Netra nya Alfandi terbuka mendengar suara Fikri. Begitupun dengan Sukma. Perlahan memicingkan matanya menoleh ke arah anak itu, lalu mendongak pada Alfandi dan kedua pasang mata pun bertemu saling menatap dengan lembut.


Tangan Alfandi yang panjang itu merapikan selimut Fikri menutupi sampai dadanya. Lalu kembali memeluk tubuh sang istri dengan sangat erat, namun sebelumnya sedikit menarik tubuh itu. Agar dengan mudah bisa menjangkau wajahnya.


Kecupan kecil, menghujani Setiap inci wajah Sukma, hangatnya nafas Alfandi pun begitu terasa menyapu kulit yang terasa dingin itu.


Dan pada akhirnya kecupan itu berakhir di bibir, memberi sensasi hangat yang menjalar ke seluruh tubuh yang seakan mulai membeku itu.


Saling menyapu permukaan benda kecil itu dan saling me**e*a* dan *e*um** penuh gairah, menikmati satu sama lain sampai kehangatan itu mereka dapatkan.


Tentunya dengan hati-hati agar tidak sampai ketahuan oleh Fikri dengan cara menutupi tubuh mereka berdua dengan selimut sampai kepala. Pokonya jangan sampai terlihat, bisa bahaya kalau sampai anak itu menyaksikan.


Walaupun hanya sekedar bermesraan, atau bercumbu tetap saja akan malu bila sampai ketahuan.


Setelah puas dengan aktifitasnya yang dilakukannya, Alfandi kembali mengeratkan pelukan dan mengajak Sukma untuk melanjutkan tidurnya. Lumayan masih ada waktu dua jam untuk berlayar di alam mimpi.


Waktu terus berputar, membawa malam ke suatu pagi. Hingga pada akhirnya terdengar suara adzan yang begitu mengalun indah. Membangunkan Sukma dan Alfandi.


Keduanya menggeliat nikmat dengan wajah dihiasi dengan senyuman yang merekah, karena mendapatkan tidur yang sempurna. Terutama layanan yang nyaris sempurna menghangatkan tubuh dan menggairahkan. Menambah semangat dalam menjalankan hari-hari nya.


"Selamat pagi sayang?" suara parang Alfandi terdengar dan cuph! kecupan hangat di pagi buta mendarat di keningnya Sukma.


Bibir Sukma komat-kamit membaca doa. Lalu membalas. "Pagi juga!" suara Sukma tak kalah parau nya khas bangun tidur.


"Bersih-bersih bareng yu?" ajak Alfandi seraya menarik tangan sang istri.


"Em ... duluan saja, lagian aku kan gak ikutan subuh." Tolak Sukma sembari mengusap wajahnya.


"Oh, Iya. Ya sudah! aku mandi dulu ya? tolong siapkan bajuku?" ucap Alfandi sembari menurunkan kedua kakinya dari tempat tidur. Namun sebelumnya lagi-lagi mendaratkan kecupan mesra di pipinya Sukma.


Sukma menunjukkan senyumnya memandangi punggung Affandi yang bergegas ke kamar mandi. lantas Sukma melirik ke arah Fikri dan bangunkannya dengan lambat.


"Fikri bangun Sayang? udah subuh?" Sukma mengusap kepala anak itu, dan sedikit menepuk pipinya.


Namun anak itu mungkin karena terlalu pulas sehingga tidak bergerak, tidak merespon perkataan dari Sukma.


Sukma kembali bangunkannya lagi. "Fikri Sayang ... bangun? Sudah subuh nih!" kali ini Sukma mencium kening Fikri dengan hidungnya.


Barulah ada pergerakan dari tubuh Fikri, lantas menggeliat dengan panjang dan tampak nikmat. "Em ..."


Detik kemudian Fikri membuka dan memicingkan matanya melihat ke arah Sukma. "Mommy sudah bangun?"


"Iya dong sayang. Sudah bangun, kalau belum bangun! terus siapa yang bangunin Fikri? bangun gih? sudah subuh nih, cepetan mandi jangan lupa juga salat nya? mau nggak Mommy bikinin Energen ya! mau?" tawarnya Sukma sambil menarik selimut yang menutupi dada Fikri.


"Iya, mau-mau!" Fikri menganggukkan kepalanya hingga beberapa kali, lalu dia mengibaskan selimutnya turun dari tempat tidur tersebut.


"Jangan lupa mandi terus salat ya? nanti mommy bikinkan energen nya, setelah mommy beres-beres kamar dulu bentar." pekiknya Sukma.


Anak itu hanya mengangguk sembari berjalan, membuka pintu terus keluar dari kamar papa dan maminya itu.


Sukma mengulas senyumnya sembari menurunkan kedua kaki berpijak di lantai, mengayunkan langkahnya mendekati gorden untuk membuka-bukanya.


Tidak lupa menyiapkan baju ganti untuk Alfandi yang ia simpan di atas tempat tidur, yang sebelumnya ia rapikan terlebih dahulu.


Setelah itu, Sukma bergegas mendekati pintu namun ia balik lagi dengan cepat mengambil sarung dan peci baut Alfandi salat.


Lanjut turun dan mendapati bibi dan Mimy sedang bersih-bersih, Bibi menyapu dan Mimy mengepel dengan alat sambil berdiri.


"Pagi semua?" sapa Sukma sambil berjalan menuju dapur.


"Pagi, Non! tumben udah turun nih? mentang-mentang ada pangerannya!" balas Mimy sambil tersenyum.


"Iddih, fitnah aja lu, nanti dikira beneran lagi, gak pernah turun pagi! jahat lu?" sahut Sukma sambil membuka lemari kecil dan mengambil Energen juga menyiapkan tiga gelas untuk Fikri, Firza dan Alfandi.


"Iih, jahat!" Sukma menggeleng.


Bibi hanya tersenyum mendengar celotehan Mimy dan Sukma.


Sukma menuangkan air panas ke dalam gelas yang sudah berisi Energen rasa kacang hijau, coklat dan rasa jahe untuk Alfandi.


"Sayang ... sini dong? kok gak ada kaos dalaman ya?" pekik Alfandi dari ujung tangga.


"I-iya, sebentar?" balas Sukma. Menyimpan dua gelas buat Fikri dan Firza dan yang buat Alfandi dia bawa ke atas.


"Bi, yang dua gelas itu buat anak-anak dua ya? sebab mereka mau pulang pagi-pagi." Pesan Sukma pada Bi Lasmi.


"Oh, iya Non." Bibi Lasmi mengangguk.


Kalau sarpan buat yang lainnya itu agak siangan, dan bibi akan masak.


"Buat aku mana ya, Nyonya? aku kan sudah bekerja? capek nih!" goda Mimy.


"Aahk ..." Sukma mengibaskan tangannya di udara. Lalu berjalan menaiki anak tangga.


"Oya, Mbak Mimy. Setelah kerjakan itu, tolong ini pegangan tangga berdebu, di bersihkan ya? sampai bersih?" canda Sukma kepada Mimy.


Mimy menoleh. "Sial, lu. Sekalian ku hilangkan ya pegangannya biar bersih? wkwkwk, ha ha ha ...."


Sukma menunjukan gigi putihnya sambil terus berjalan, rupanya Alfandi menunggu di ujung tangga.


"Hati-hati? jangan terburu-buru! nanti tumpah gelasnya dan pecah kan sayang." Kata Alfandi sambil mesem melihat yang Sukma bawa.


"Em ... jadi kau lebih khawatirkan gelasnya ketimbang diriku? aahk ... sedih." Gumamnya Sukma sambil terus berjalan menuju kamar.


"Nggak lah sayang, aku khawatir sama kamu kok." Alfandi mencubit pipi Sukma setelah dia menyimpan gelas di atas meja.


"Iih sakit?" Sukma mengusap pipinya yang terasa panas itu. "Diminum dulu Energen nya yang rasa jahe untuk menghangatkan tubuh mu!"


"Hem, untuk menghangatkan tubuh ku? cukup ada kamu saja sayang!" Alfandi merangkul pinggang Sukma dan bibirnya nyosor hendak mencium pipinya Sukma.


Tangan Sukma mendorong pelan dada Alfandi yang masih telanjang itu. "Aku mau mencari under shirt buat kamu!"


"Iya, sebentar sayang? mau itu dulu!" Alfandi tidak melepaskan pelukannya, melainkan berusaha menjangkau yang dia inginkan.


"Aihs ... lapas, aku belum sikat gigi, bau!" Sukma terus menghindar sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan.


"Nggak pa-pa, sekali ... aja! ya sudah, gak aku lepas nih Pelukannya?" ancam Alfandi sambil mesem.


"Ya terserah, berarti kau kesiangan pulangnya." Sukma tak kalah mengancam.


"Biar saja, yang penting tidak terlambat ke sekolah, anak-anak. Lagian suruh aja mereka berangkat dengan Jihan dan Marwan kan lebih dekat. Hayo mau apa? aku gak masalah gini terus!" ungkap Alfandi sambil mengarahkan pandangannya ke lain arah.


Sukma mendelik kan matanya pada Alfandi yang keras kepala, lalu ia menjauhkan tangannya dari mulut. Alfandi kembali mengarahkan wajahnya dengan bibir merekah.


"Cuph! mmmm ..." Alfandi menyesap bibir Sukma dengan penuh semangat.


Membuat panas dingin tubuh sang empu dan bikin senang Alfandi. Beberapa saat kemudian, Alfandi menjauhkan wajah dan memudarkan rangkulannya di barengi senyuman puas dari bibir nya Alfandi.


"Sudah, sana Carikan kaos ku, sudah kesiangan nih?" ucap Alfandi sambil mengibaskan telapak tangannya.


"Dasar!" gumamnya Sukma sembari mengusap bibirnya yang lembab dan nafas pun menjadi terengah-engah.


Di depan lemari, Sukma berusaha mengontrol nafasnya dan dada yang naik turun.


Baru saja tangannya mendapatkan kaos. Sudah ada yang bergerak lagi yaitu tangan Alfandi di perut Sukma.


"Aku akan merindukan mu sayang?" ucap Alfandi menempelkan dagunya di bahunya Sukma.


Sejenak Sukma terdiam dan dapat menghirup baunya rambut Alfandi yang baru saja keramas. Dia juga harus mengakui kalau dirinya pun sudah mulai mempunyai rasa pada suaminya ini, bukan cuma karena ikatan suami istri saja.


Perlahan Sukma menyentuh tangan Alfandi seraya berkata dengan tutur yang lembut. "Nanti istri mu bertanya, kemana kau dan anak-anak semalam?"


"Dia ... belum tentu bertanya!" sahutnya Alfandi, lalu meraih under shirt yang di tangan Sukma.


Selesai itu, Sukma memberikan minuman Energen pada Alfandi agar dia teguk terlebih dahulu mumpung masih hangat.


"Makasih sayang?" setelah Alfandi meneguknya. "Oke, aku pergi dulu ya?"


Tangan Alfandi mengelus pipinya Sukma dengan lembut. Kedua pasang mata keduanya bertemu dan saling tatap dalam-dalam. Kemudian di kecupnya dengan sangat mesra kedua pipi Sukma.


Lalu Sukma pun mengangguk. "Hati-hati?"


Tangan Alfandi meraih pergelangan Sukma, di tuntunnya turun ke lantai bawah, namun drett ... drett ... ponsel Alfandi bergetar.


Sontak dada Sukma berdebar dan jantung berdegup kencang. Tatapannya penuh kecemasan. Was-was, siapa tahu yang telepon suaminya itu istri pertamanya ...


.


.


...Bersambung!...