Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Tambah bangun



Alfandi melanjutkan langkahnya ke kamar mandi. Untuk membersihkan diri yang terasa lengket sekali. Setelah sebelumnya menerima telepon dari seseorang.


Sementara Sukma sedang berbincang dengan mertuanya yang begitu welcome pada Sukma dan sangat berterima kasih atas kehadiran Sukma yang telah menyelamatkan Alfandi dari kejahatan syahwatnya.


"Ibu sangat berterima kasih kepada Neng Sukma yang mau menikahi putra Ibu." Kata Bu Puji sambil memegangi tangan Sukma.


"Sama-sama, Bu. Ya sudah, Ibu dan Bapak istirahat ya?" Sukma beranjak dan mengantar keduanya ke kamar tamu.


"Kau sudah lama di sini?" tanya Bu Puji.


"Baru beberapa bulan ini, Bu." Jawab Sukma.


"Ooh, setelah menikah ya?" sambung Bu Puji.


"Apa hadiah dari Alfandi?" selidik pak Sardi sambil memasuki kamar tersebut.


"Em ... iya, Pak. Bu!" Sukma mengangguk pelan.


Kemudian, mereka pun beristirahat dan Sukma meninggalkan kedua mertuanya.


Lanjut membawa langkahnya ke kamar pribadinya. Namun sebelum naik. Dia melihat anak-anak yang sedang bakar-bakat ikan yang tampak happy.


Bibir Sukma menyungging, menunjukan senyumnya dan lalu melanjutkan langkahnya ke atas, menaiki anak tangga.


Langkah Sukma yang teratur. Mendekati pintu kamarnya dan setelah di membuka pintu, manik matanya mendapati Alfandi sedang duduk di sofa dengan membuka laptop di pangkuan.


"Sayang. Ibu dan bapak, sudah istirahat?" sapa Alfandi ketika melihat sang istri masuk.


"Sudah. Berada di kamar nya." Jawabnya Sukma sambil mendekati pintu kamar mandi setelah mengambil pakaian tidurnya.


Alfandi mengangguk. Dan kembali menajamkan pandangannya ke layar laptop. Sesekali melamun dan memikirkan perceraiannya dengan Vaula.


Tidak lama kemudian. Sukma kembali dan mendapati sang suami yang sedang melamun.


"Sayang, besok mau masuk kerja bukan?" tanya Sukma sambil mendekati cermin dan handbody lotion dan parfum.


Saking anteng nya melamun. Alfandi sampai-sampai tidak mendengar pertanyaan dari sang istri dan boro-boro menjawab.


Sukma menoleh pada sang suami yang tidak menjawab pertanyaan nya. Setelah memakai wewangian di tubuhnya, Sukma beranjak lagi serta berjalan mendekati Alfandi.


"Al. Melamun! mikirin apa sih?" Sukma menyentuh tangan Alfandi dengan lembut.


"Hem. Apa sayang? tanya apa tadi?" Alfandi tersadar dan menoleh pada sang istri seraya memegang tangannya.


"Dari tadi aku bicara tidak di dengarkan." Sukma menggeser duduknya menuangkan air ke dalam gelas untuk dirinya minum.


Alfandi menutup laptop nya, lalu menarik pinggang Sukma agar berdekatan dengan dirinya. "Sayang. Cuph!" mengecup bahu Sukma dengan lama ... sekali.


"Hem ... bobo yu? ngantuk!" ajak Sukma setelah meneguk minumnya.


"Bentar ahc, masih sore." Tolak Alfandi sembari mencium pipi Sukma.


"Ya, udah. Aku duluan ya? ngantuk banget nih," Sukma mengalungkan tangan satunya di pundak Alfandi dengan tatapan yang lembut.


Alfandi membalas tatapan dari sang istri. Dan kemudian menyatukan bibirnya dalam beberapa saat.


"Oke, aku mau tidur duluan ya?" Sukma beranjak namun sebelumnya memberikan kecupan di pipi Alfandi.


"Iya, sayang. Aku masih ada yang harus aku kerjakan." Alfandi mencium tangan Sukma dan membiarkannya tidur duluan.


Waktu sudah menunjukan pukul Sepuluh malam, Alfandi masih betah dengan laptop di pangkuan dan sesekali melirik ke arah sang istri yang tampak Sudak tidur dengan nyenyak.


Selanjutnya Alfandi menutup laptop, serta mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Sudah terasa lelah sekali, setelah menyimpan barangnya Alfandi pun berjalan sambil membuka kaosnya mendekati tempat tidur.


Setelah berada di samping sang istri. Alfandi berbaring satu selimut dengan istrinya yang tampak lelap itu. Beberapa kali kecupan mendarat di pipi juga kening sang istri dengan sangat lembut.


"Selamat bobo sayang ku, bidadari ku!" Gumamnya Alfandi seraya berbisik. Lantas menempelkan kepalanya di bantal.


Waktu sudah menunjukan pukul sebelas tiga puluh dan Alfandi masih terjaga. Gelisah menyapanya, walau mata terasa lelah. Namun tidak juga dpat pejam.


Sukma bergerak dan berbalik, menghadap ke tubuh Alfandi dengan cara meletakan kepala di bahunya. Serta tangan memeluk perut pria yang tampak gelisah tersebut.


Cuph! Alfandi mengecup kening Sukma yang tetep terpejam. Tangannya bergerak ke perut bawah, entah sadar atau tidak! yang jelas Sukma tetap memejamkan kedua nya. Alfandi panik dan menangkap tangan Sukma yang terus bergeser turun.


"Jangan di sentuh sayang? nanti tambah bangun!" gumamnya Alfandi sembari menatap tangan Sukma yang bergerak-gerak. Sudah ia pindahkan ke atas, turun lagi ke bawah dan akhirnya berhenti di titik belalai gajah yang sedari tadi gelisah.


Mungkin minta di belai. Sama sang istri. "Kan? kan! sudah ku bilang. Jangan ke sana sayang ... nanti tambah bangun!" suara Alfandi pelan sambil mengecup lagi kening sang istri.


Dengan mata yang terpejam. tangan Sukma bergerak membelai di area sana. Membuat sang empu hingga merem melek dibuatnya.


"Ooh ... sayang!" Alfandi menempelkan bibirnya di kening sang istri.


Semakin lama pergerakan itu, membuat belalai gajah kian meronta ingin keluar. Dan meminta belaian yang lebih.


Alfandi yang tidak bisa menahan nafsunya yang sudah membuncah itu, langsung mendatangi sang istri membukanya sendiri dan tidak lupa mencumbunya terlebih dahulu. Walaupun Sukma tetap tertidur, dan hanya sesekali bergumam saja.


Ketika selesai pun, Alfandi sendiri yang menutupnya lagi walaupun tidak Serapi yang punya. Sukma melanjutkan tidurnya yang nyenyak, begitupun dengan Alfandi kini dia baru bisa tidur dengan nyaman setelah memberikan muntahan di tempat yang seharusnya.


"Ahc ... lega." gumamnya Alfandi sambil tersenyum dan mata terpejam.


Detik kemudian. Alfandi sudah tidur nyenyak dan bahkan sudah memasuki alam mimpi.


Menjelang subuh. Sukma bangun duluan. Namun sebelum turun dari tepat tidur, dia celingukan sambil menyentuh dua balon milik nya yang terasa sakit. Dan tidak memakai kaca mata.


"Semalam, aku pakai kok, kenapa sekarang nggak?" Sukma merasa heran.


Lantas manik matanya mengarah ke arah sang suami yang masih begitu pulas, lalu mengintip tubuhnya dari balik selimut. Tidak memakai apa-apa. Sukma bengong sembari berpikir.


"Apakah salam kita melakukannya?" Sukma terus berpikir dan mengingat-ingat yang terjadi semalam.


Namun tetap dia tidak mengingatnya dengan jelas. Berasa samar-samar, kalau mereka berdua melakukannya semalam.


Namun kendati bimbang, Sukma akan membersihkan dirinya terlebih dahulu. Ketika mau turun, tangan Sukma di tangkap dan di tarik oleh Alfandi yang baru saja Sukma lihat masih tidur pulas.


Namun kini Alfandi malah menarik Sukma ke dalam pelukan nya. "Sayang sebentar ya? nanti kita mandi bersama! suara Alfandi dengan suara parau khas bangun tidur.


Sukma bengong, memang belum subuh sih. Tanpa menunggu jawaban, Alfandi mengecup dan mencumbu sang istri. Dengan suasana yang terasa syahdu ini.


Tangan Alfandi menyusup ke dalam piyama Sukma dan bermain dengan balon yang selalu kencang itu, biarpun dia remas, dai isap dan dia gigit kecil. Tetap saja tidak mengurangi teksturnya, juga tidak kempes atau berkurang sedikitpun.


Pagi-pagi buta, Alfandi sudah menikmati sesuatu yang mengasyikan dan benar-benar menjadi candu buat dirinya.


Begitupun dengan Sukma ikut terhanyut dengan suasana nan dingin serta mendapatkan kehangatan yang hakiki dari sentuhan dan belaian dari tubuh Alfandi lebar dan kekar ....


.


...Bersambung!...