
"Kenapa kau tampak panas dingin? sakit?" tanya Rijal menatap intens pada Alfandi yang kelihatannya kurang sehat.
"Ahk, sialan! salah gue juga mengintip di saat waktu yang kurang tepat, sehingga gue menjadi begini," batin Alfandi, merutuki dirinya sendiri yang mengakibatkan tubuhnya panas dingin. Sebab singanya bangun dan meronta-ronta.
Alfandi berusaha mengontrol hasratnya dengan cara menghela nafas dalam-dalam, lalu ia hembuskan dengan panjang.
"Ehem, em ... nggak, ku baik-baik saja!" Alfandi berusaha menekan suara dan nafasnya yang memang terasa aneh.
"Tapi, ya sudahlah!" Rijal gak memperpanjang kecurigaannya itu, dan dia lantas menyerahkan map yang dia bawa untuk Alfandi tandatangani.
"Oke!" Alfandi menarik map tersebut dan membaca terlebih dahulu sebelum membubuhkan tandatangannya tersebut.
"Tadi kemana? tidak makan siang bareng? kita ramai-ramai makan bareng!" tanya Rijal, karena biasanya makan siang bersama.
"Saya ... makan di luar," Alfandi tanpa menoleh dan dia fokus membaca map-nya.
"Iya di luar, bukan di ruangan kantor ini kan?" Rijal mengernyitkan keningnya menatap ke arah Alfandi yang tetap fokus dengan map-nya.
"Ha ha ha ... iya di luar, di dekat kampus istri gue. Makan bersamanya." Alfandi menoleh sambil tertawa.
"Oh, iya lupa gue. Sekarang ada yang baru yang masih seger dan masih bisa di arahkan, ya-ya gue lupa." Rijal menepuk jidatnya sambil nyengir.
"Nah, itu. Pasti ngerti!" sambung Alfandi sambil menyodorkan map yang sudah dia tandatangani.
"Ngomong-ngomong, gimana?" tanya Rijal sambil menaik turunkan alisnya.
Alfandi memicingkan sebelah matanya pada Rijal, seolah tidak mengerti dengan yang dia maksud. "Apanya?"
"Ha ha ha ... suka pura-pura begitu, rasanya gimana? legit menggigit atau hambar? atau juga biasa saja! gimana?" tanya Rijal kembali sambil menatap penasaran pada Alfandi.
Alfandi mundurkan kursi kebesarannya sambil memainkan ballpoint di jarinya. "Oh ... itu, uh, legit banget. Menggigit sekali bikin gue menggigil keenakan! sampai-sampai gue jatuh bangun untuk membobol gawangnya yang teramat sulit gue taklukan! ha ha ha ...."
"Wieh, gila berarti masih disegel sebelumnya ya? wah-wah ... buka puasanya yang sangat nikmat sekali, dengan hidangan serba baru dan lumayan murah, hebat-hebat lah!" Rijal memuji Alfandi sampai bertepuk tangan segala.
"Wieh, estetis banget lah pokoknya bikin gagal mop one setiap waktunya. Ha ha ha ..." lagi-lagi Alfandi tertawa puas.
Setelah sedikit berbincang, Rijal pun pergi. Keluar dari ruangan Alfandi kemudian Alfandi sendiri kembali menyibukkan dirinya dengan lembaran kertas untuk menggambar.
...----...
Lagi-lagi Firza sedang menyelidiki sang bunda atas kecurigaannya itu, kecurigaan yang terus menghantui hati dan pikiran nya selama ini.
Di saat ini Virzha tengah berdiri tepat di depan studio yang waktu itu dia datangi, Setelah beberapa lama menunggu di sana. Kemudian netranya mendapatkan mobil sang Bunda yang baru saja datang ke tempat tersebut, dia bersama asisten pribadinya yang bernama Rosa mereka berdua memasuki studio tersebut.
Firza terus menajamkan pandangan seraya melangkahkan kedua kakinya, mengendap-endap mengikuti langkah mereka berdua.
"Besok, saya ada peragaan busana ke sana. Dan tolong siapkan semuanya?" ucap Vaula kepada Rosa yang berjalan di sampingnya itu.
"Baik bu akan saya siapkan semuanya, oh iya. Soal meeting besok gimana? mau diundur atau--"
"Di atur aja waktunya, nggak usah banyak nanya lagi! gimana caranya supaya tidak bertabrakan dengan acara saya yang lainnya, kan itu tugas kamu, gak perlu lagi banyak bertanya hanya bikin saya pusing," jawab Vaula dengan nada yang kurang mengenakan.
"Iya, baik bu. Saya akan atur semuanya, nanti malam juga ada pertemuan di restoran yang berada di jalan xx," sambungnya Rosa.
"Iya, saya ingat itu!" Vaula membalasnya sambil terus berjalan memasuki studio nya Yudi yang berada di lantai sekian.
Mereka berdua terus berjalan mendekati lift untuk melewati beberapa lantai, hingga akhirnya tiba di studio memilikinya Yudi.
"Sorry? saya terlambat!" ucapnya Vaula kepada Yudi yang tengah duduk di kursi pribadinya, menyambut dengan senyuman.
Yudi melirik ke arah jam tangan yang melingkar di tangan kanannya tersebut. "Tidak apa-apa, cuma berapa menit." yang terus menunjukkan senyum manisnya kepada Vaula.
"Ya ampun ... Rossa! pakaianku ketinggalan di kantor deh, kamu bawa nggak?" ucapnya Vaula dengan nada heboh sembari melihat ke arah Rosa yang membawa pakaiannya yang terbungkus rapi dalam kantong nya.
Kemudian Rosa mengecek pakaian yang dia bawa. "Yang ini, saya bawa!" menunjuk pada beberapa pakaian dia bawa tersebut.
"Bukan! yang itu ... yang warna gold, gaun yang satunya. Yang ketinggalan tuh, itu lah yang mau dipakai pemotretan sekarang." Kepala Vaula menggeleng karena bukan itu yang dia maksudkan.
"Ya sudah, kalau begitu saya ambil dulu ke kantor!" Rosa segera menggantungkan pakaian yang masih di kantong tersebut ke gantungan.
"Iya ambil dulu sana? tadi saya lupa mengingatkan kamu! lagian yang lain kamu bawa, sementara yang lebih saya butuhkan? tidak kamu bawa! gimana sih gak ngeh banget." Gumamnya Vaula dengan nada sedikit menggerutu.
"Iya maaf, Bu? sekarang saya ambil ke kantor siapa tahu ada ketinggalan di mobil," Rossa menganggukkan kepalanya.
Lalu Rosa membawa langkahnya, pergi meninggalkan Vaula dan Yudi di sana, karena asisten Yudi pun tidak terlihat berada di tempat tersebut.
Setelah memastikan Rosa pergi dan sudah jauh, Vaula dan Yudi saling berpandangan dengan bibir yang tersenyum merekah.
Kemudian Yudi pun mendekat ke arah Vaula. "Ooh Sayang! bisa saja kau mencari alasan? agar kita bisa berdua seperti ini." Yudi merangkul pinggang Vaula dan mereka pun kini saling berhadapan.
"Bukan alasan beb ... memang aku butuhkan itu, dan memang sengaja sih, tadi aku tinggalkan dan dia pun bego sampai lupa segalanya hehe he ..." jawabnya Vaula sambil mengalungkan kedua tangan di pundak nya Yudi.
"Itu sama aja, tetap aja kan alasannya agar dia pergi dari hadapan kita berdua," sambungnya Yudi sambil merekatkan rangkulannya. Cuph! cuph! beberapa kecupan kecil mendarat di bibir Vaula yang menggoda itu.
"Iih ... kau nakal! kau memang suka kan kita berduaan kayak gini? Hem ... ngaku lah!" suara Vaula dengan nada sangat manja.
"Iya dong ... senang, bahagia sekali. Apalagi berapa hari ini kita nggak bisa menikmati waktu seperti ini, kita sama-sama sibuk." Jawabnya Yudi sembari kembali mengecup bibir sang kekasih dengan lembut.
"Heleh ... orang kemarin lusa kita ketemu di sini juga, kan?" ucap Vaula sembari menepuk bahu Yudi.
"Iya sih ... tapi kan pengennya setiap hari. Kita bertemu dan pasti nya menikmati waktu bersama kayak gini, kan enak," sambungnya Yudi.
"Hem ..." Vaula menyandarkan kepalanya di bahu Yudi, Vaula terlihat sangat manja sekali sikapnya terhadap Yudi.
Sesaat kemudian, Yudi menyeret Vaula ke dekat meja dan mereka bercumbu di sana.
Pemandangan itu, tak ayal dilihat oleh Firza dari balik pintu yang kebetulan tempat tersebut cukup sepi. Betapa terkejutnya Firza melihat pemandangan itu, sama sekali tidak menyangka kalau sang Bunda dengan beraninya berbuat seperti itu. Dan itu bukan adegan akting yang dikelilingi dengan kamera! tapi ini real adanya.
Dada Firza terasa sakit dan sesak dan ingin rasanya berteriak panggil ibundanya, dan menghentikan perbuatannya tersebut. Namun niat itu ia urung karena dia masih ingin menyelidikinya lebih dalam, ingin mengetahui sejak kapan mereka ada hubungan seperti itu.
Agar Firza yang meyakini siapa yang salah antara papanya atau ibundanya? mana yang membuat kesalahan duluan? papanya menikah lagi atau ibunya yang selingkuh? tapi Firza yakin kalau apa yang dilakukan sang bunda tidak diketahui oleh sang ayah.
Dia menggigit bibir bawahnya agar tidak bersuara sedikitpun, dan sesekali matanya melihat ke arah sekitar agar tidak dicurigai orang-orang.
"Aku nggak menyangka, Mama tega melakukan ini? sementara Mama bersuami kan Papa, aku harus tahu siapa yang salah dalam masalah ini. Apakah papa yang menikah lagi atau Mama yang duluan selingkuh? sehingga bertahun-tahun sikapnya berubah!" gejolak suara dalam hati Firza.
Pandangannya mulai nanar dan rasanya tidak sanggup lagi untuk melihat adegan seperti itu di depan matanya, apalagi yang sedang berperan itu adalah mamanya sendiri. Firza mengusap wajahnya dengan kasar lalu langkah demi langkah kakinya mundur dari tempat tersebut.
Kini bukan hanya hatinya yang menangis, tapi keduanya netranya pun mengalirkan air bening yang membasahi sudut pipinya.
"Jangan-jangan, Mama emang dari lama ada skandal dengan pria itu? sehingga Mama bisa dingin sama papa dan bahkan tidak peduli dengan kami anaknya." Gumamnya Firza pelan.
Kemudian dia berdiri di sudut dinding lalu merosot turun berjongkok menempelkan punggungnya pada dinding tersebut. Tepatnya dekat tanaman hias yang agak rimbun ....
.
.
...Bersambung!...